“Aku tidak pernah melihat seseorang lebih faqih dalam wara’nya, dan lebih wara’ dalam fiqihnya” (Muriq Al-’Ijly)
Sirin telah ber’azam (bertekad kuat) untuk melengkapi separuh agamanya (alias menikah) setelah Anas bin Malik RA., memerdekakannya dan setelah jobnya sudah bisa menghasilkan banyak keuntungan dan harta yang berlimpah.
Sirin adalah seorang pandai besi yang mahir dan piawai dalam membuat panci.
Pilihannya telah jatuh pada seorang budak wanita Amirul Mukminin, Abu Bakar as-Shiddiq RA., yang bernama Shofiyyah untuk menjadi istrinya.
Shofiyyah adaah budak wanita yang masih muda belia, wajahnya bercahaya, akalnya cerdas, mulia tabiatnya, luhur akhlaknya dan dicintai oleh setiap wanita Madinah yang mengenalnya.
Tidak ada bedanya dalam hal itu antara remaja-remaja putri yang seusia dengannya dan antara ibu-ibu yang sudah berumur namun menganggapnya selevel dengan mereka dalam hal kecerdasan akal dan keluhuran akhlak.
Di antara wanita-wanita yang paling mengasihinya adalah istri-istri Rasul SAW terlebih lagi Sayyidah Aisyah RA.
Sirin datang menghadap Amirul mu’minin, lalu melamar budak wanitanya, shofiyyah.
Sementara Abu Bakar ash-Shiddiq RA segera mencari tahu tentang agama dan akhlak si pelamar layaknya seorang ayah yang amat mengasihi saat mencari tahu kondisi si pelamar anak perempuannya.
Dan itu tidaklah aneh, sebab Shofiyyah bagi dirinya sama posisinya dengan posisi seorang anak bagi ayahnya. Di samping itu, dia adalah amanat yang Allah titipkan di pundaknya.
Lalu Abu Bakar mulai meneliti dengan sangat cermat kondisi Sirin dan menelusuri secara detail riwayat hidupnya.
Karena itu, orang pertama yang beliau tanyai mengenai siapa dirinya adalah Anas bin Malik RA.
Maka Anaspun berkata kepadanya,
“Nikahkanlah Shofiyyah dengannya wahai Amirul Mukminin, dan engkau jangan khawatir dia akan bertindak kasar terhadapnya. Yang aku ketahui darinya hanyalah orang yang benar agamanya, mengesankan akhlaqnya dan sempurna maruah dan kelelakiannya.
Dia sudah terbina dengan pendidikanku sejak ditawan oleh Khalid bin Al-Walid pada perang “’Ain at-Tamr” [Sebuah kawasan yang terletak bagian selatan Kufah, berhasil ditaklukkan Khalid bin al-Walid pada masa kekhilafahan Abu Bakar] bersama empat puluh orang anak-anak lainnya, lalu dia membawa mereka ke Madinah. Kebetulan, Sirin adalah bagianku dan aku merasa beruntung mendapatkannya.”
Akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq RA setuju atas pernikahan Shofiyyah dengan Sirin dan bertekad untuk memperlakukannya secara baik sebagaimana perlakuan baik seorang ayah terhadap anak yang paling dikasihinya. Karena itu, dia mengadakan pesta perkawinan yang meriah, yang amat jarang ada wanita-wanita Madinah kala itu yang bernasib baik seperti ini.
Hadir sebagai undangan pesta pernikahan itu sejumlah besar para pembesar shahabat. Di antara mereka ada sebanyak 18 orang Ahli Badar. Juga turut mendoakannya, penulis wahyu Rasulullah, Ubay bin Ka’b dan diamini doanya oleh para undangan.
Bukan itu saja, bahkan tiga orang Ummahatul Mukminin turut menempelkan wewangian ke badannya dan meriasnya ketika akan dipersandingkan dengan calon suami.
Sebagai buah dari pernikahan yang diberkahi tersebut, lahirlah dari kedua orangtua tersebut seorang anak yang sepanjang 20 tahun menjadi salah satu dari bintang para Tabi’in dan tokoh tiada duanya dari kalangan kaum Muslimin pada masanya. Dia lah Muhammad bin Sirin.
Mari kita mulai kisah kehidupan seorang Tabi’i yang agung ini dari mula pertama.
Muhammad bin Sirin dilahirkan dua tahun menjelang berakhirnya kekhilafahan, Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan RA.
Dididik di sebuah rumah yang dipenuhi oleh sifat wara’ dan taqwa dari segala sudutnya.
Dan ketika sudah menginjak usia baligh, si anak yang baik pekerti dan cerdas ini mendapatkan masjid Rasulullah SAW., disesaki oleh sisa-sisa para shahabat yang mulia dan para senior kalangan Tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, ‘Imran al-Hushain, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin az-Zubair dan Abu Hurairah.
Maka dia pun menyongsong mereka layaknya orang yang haus menyongsong sumber air yang demikian bening. Menimba ilmu Kitabullah, Fiqhuddin (memahami agama) dan periwayatan hadits dari mereka, sehingga hal itu dapat mengisi akalnya dengan hikmah dan ilmu serta memerisai dirina dengan keshalihan dan kelurusan (berpetunjuk).
Kemudian keluarganya membawa pemuda yang langka ini pindah ke Bashrah, untuk kemudian menjadi tempat menetap mereka. Ketika itu, Bashrah masih merupakan kota yang baru dibuka. Kaum Muslimin berhasil membukanya pada akhir-akhir kekhilafahan ‘Umar, al-Faruq, RA.
Pada masa itu, Bashrah masih merupakan kota yang mewakili karakteristik umat Islam. Ia merupakan pangkalan militer tentara kaum Muslimin yang berperang di jalan Allah. Ia merupakan pusat pengajaran dan penyuluhan bagi orang-orang dari penduduk Iraq dan Persia yang masuk Islam. Ia adalah potret masyarakat Islam yang bekerja keras di dalam beramal untuk dunia seakan hidup selama-lamanya dan beramal untuk akhirat seakan-akan kematian menjelang esok hari.
Di dalam menempuh hidupnya yang baru di Bashrah, Muhammad bin Sirin mengambil dua cara yang berimbang dan transparan: pertama, memfokuskan pada separuh harinya untuk menimba ilmu dan beribadah. Kedua, memperuntukkan sebagiannya lagi untuk mencari rizki dan berbisnis.
Bila fajar telah menyingsing dan dunia telah memancarkan cahaya Rabb-nya, beliau berangkat ke masjid untuk mengajar dan belajar hingga bila matahari sudah naik, beliau beranjak dari masjid menuju pasar untuk berjual-beli.
Bilamana malam telah tiba dan sudah mengibar tabir untuk menyelimuti alam semesta, beliau berbaris di Mihrab rumahnya, merundukkan tulang punggung guna mengulang juz-juz al-Qur’an dan menangis karena takut kepada Allah dengan linangan air mata kedua mata dan hatinya. Sampai-sampai keluarga dan para tetangga dekatnya merasa kasihan terhadapnya lantaran seringnya mereka mendengar tangisanya yang seakan memutus urat nadi hati.
Sekalipun biasa berkeliling ke pasar pada siang hari untuk berjual-beli, namun beliau senantiasa mengingatkan manusia akan akhirat dan membuka mata mereka akan fitnah dunia. Beliau biasa bercerita kepada mereka dengan cerita menarik dan membimbing mereka kepada hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah serta memutuskan perkara yang diperselisihkan di antara mereka.
Terkadang dalam satu dan lain kesempatan, beliau bercerita kepada mereka dengan cerita yang enak didengar sehingga mampu menghapuskan keburaman jiwa mereka tanpa harus mengurangi kewibawaan dan keagungan citra beliau di sisi mereka.
Allah telah menganugerahi beliau sebagai sosok penuntun dan geliat Ahli kebajikan serta mengaruniai beliau sebagai orang yang dapat diterima dan punya pengaruh.
Manakala orang-orang yang tengah tenggelam dalam suasana dan lalai kebetulan melihat beliau di pasar, mereka jadi tersadar lantas mengingat Allah, bertahlil dan bertakbir.
Riwayat hidup yang beliau praktikkan merupakan tuntuan yang baik bagi manusia. Tiadalah dua hal yang dihadapinya di dalam perniagaannya kecuali beliau akan mengambil mana di antara keduanya yang lebih menambat dirinya dengan agamanya sekalipun mengakibatkan kerugian duniawi bagi dirinya.
Pemahamannya yang detail terhadap rahasia-rahasia agama dan kebenaran pandangannya terhadap hal mana yang halal dan haram terkadang mendorongnya untuk mengambil sebagian sikap yang tampaknya aneh bagi manusia.
Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang menuduhnya punya hutang kepadanya sebanyak dua dirham secara dusta, namun beliau menolak untuk memberikannya.
Lalu laki-laki itu berkata kepadanya, “Anda bersedia untuk bersumpah.?” Sementara orang itu mengira bahwa beliau tidak akan bersumpah karena hanya uang dua dirham saja.
“Ya, aku bersedia.” Jawabnya sembari bersumpah setelah itu.
Maka orang-orang pun berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar! Apakah kamu akan bersumpah juga untuk uang yang hanya dua dirham itu.?”
“Ya, aku akan bersumpah. Sebab, aku tidak ingin memakan hal yang haram sementara aku tahu bahwa ia haram.” Katanya.
Majlis yang diisi oleh Ibn Sirin adalah majlis kebajikan dan penuh dengan wejangan. Bila disinggung nama seseorang yang berbuat kejahatan di sisinya, beliau langsung mengingatkan orang itu dengan penyelesaian yang dia tahu itu adalah terbaik baginya.
Bahkan, suatu ketika beliau mendengar ada salah seorang yang mencaci maki al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafy, salah seorang penguasa Bani Umayyah yang amat tirani. Para sejarawan banyak memuat kisah kebengisan, kekejaman dan kebiadabannya) sepeninggalnya, maka dia menyongsong orang tersebut sembari berkata kepadanya,
“Diam, wahai saudaraku!!!. Sebab al-Hajjaj sudah berpulang ke Rabb-nya. Sesungguhnya dosa paling hina yang engkau lakukan akan engkau dapatkan ketika menghadap Tuhanmu lebih berat bagimu ketimbang dosa paling besar yang dilakukan al-Hajjaj. Masing-masing kalian akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketahuilah, wahai anak saudaraku, bahwa Allah pasti akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan al-Hajjaj untuk orang-orang yang pernah dizhaliminya. Demikian pula, Dia akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan oleh mereka untuknya. Jadi, janganlah sekali-kali engkau menyibukkan dirimu dengan mencaci-maki siapapun.”
Bila ada orang yang berpamitan kepadanya untuk suatu perjalanan bisnis, beliau selalu berpesan kepadanya,
“Bertakwalah kepada Allah, wahai anak saudaraku! Carilah rizki ditakdirkan kepadamu dengan cara yang halal. Ketahuilah bahwa jika engkau mencarinya tanpa cara yang halal, niscaya kamu tidak akan mendapatkannya lebih banyak dari apa yang telah ditakdirkan kepadamu.”
Muhammad bin Sirin memiliki catatan sejarah yang dapat dibuktikan dan amat masyhur di dalam menghadapi penguasa Bani Umayyah dimana beliau berani mengucapkan kebenaran dan dengan ikhlash memberikan nasehat bagi Allah, Rasul-Nya serta para pemimpin kaum Muslimin.
Di antara contohnya, kisah ‘Umar bin Hubairah al-Fazary, salah seorang tokoh besar Bani Umayyah dan penguasa kawasan Iraq yang mengirimkan surat untuk mengundangya berkunjung kepadanya. Maka, beliaupun datang menjumpainya bersama anak saudaranya.
Tatkala beliau datang, sang penguasa ini menyambungnya dengan hangat, memberikan penghormatan untuk kedatangannya, meninggikan tempat duduknya serta menanyakannya seputar beberapa masalah agama dan dien, kemudian berkata kepadanya,
“Bagaimana kondisi penduduk negerimu saat engkau meninggalkannya, wahai Abu Bakar?.”
“Aku tinggalkan mereka dalam kondisi kezhaliman meraja lela terhadap mereka dan kamu lalai terhadap mereka.” Katanya. Karena ucapan ini, anak saudaranya memberikan isyarat dengan pundaknya. Lalu beliau menoleh ke arahnya sembari berkata, “Engkau bukanlah orang yang kelak akan dipertanyakan tentang mereka tetapi akulah orang yang akan dipertanyakan itu. Ini adalah persaksian, siapa yang menyembunyikannya, maka hatinya berdosa.” (dengan mengutip untaian ayat 283 surat al-Baqarah)
Ketika pertemuan itu bubar, ‘Umar bin Hubairah mengucapkan selamat berpisah kepadanya dengan perlakuan yang sama saat menyambutnya, yaitu dengan penuh kehangatan dan penghormatan.
Bahkan dia memberikannya sebuah kantong berisi uang 3000 dinar, namun Ibn Sirin tidak mengambilnya.
Karena penolakan itu, anak saudaranya berkata kepadanya,
“Apa sih yang menyebabkanmu tidak mau menerima pemberian Amir?.”
“Dia memberiku karena baik sangkanya terhadapku. Jika aku benar termasuk orang-orang yang baik sebagaimana sangkaannya, maka tidaklah pantas bagiku untuk menerimanya. Bila aku tidak seperti yang disangkanya itu, maka adalah lebih pantas lagi bagiku untuk tidak membolehkan menerima itu.”
Sudah menjadi kehendak Allah untuk menguji ketulusan dan kesabaran Muhammad bin Sirin. Karena itu, Dia mengujinya dengan ujian yang biasa dihadapi oleh orang-orang beriman.
Di antaranya, bahwa suatu hari beliau membeli minyak secara kredit dengan harga 40.000 dinar. Tatkala dia membuka salah satu tutupan wadah minyak yang terbuat dari kulit itu, dia mendapatkan seekor tikur yang mati dan sudah membusuk. Beliau berkata di dalam hatinya, “Sesungguhnya semua minyak ini berasal dari satu tempat penyaringan. Najis yang ada bukan hanya ada di dalam satu wadah ini saja. Jika, aku kembalikan kepada si penjual karena alasan ada aibnya, barangkali saja dia akan menjualnya lagi kepada orang lain.” Kemudian beliau menumpahkan semuanya.
Hal itu terjadi di saat beliau mengalami kerugian besar sehingga dililit hutang. Ketika pemilik minyak itu menagih uangnya, beliau tidak dapat mengembalikannya.
Maka, masalah itupun diadukan kepada penguasa di sana yang lalu memerintahkan agar mengurung beliau hingga mampu membayar hutang tersebut.
Ketika berada di penjara dan mendekam di situ beberapa lama, sipir penjaga penjara merasa kasihan terhadapnya karena mengetahui betapa kemapanan ilmu agamanya, kewara’annya yang amat berlebihan serta ibadahnya yang demikian panjang. Maka berkatalah sipir itu kepadanya,
“Wahai tuan guru, bilamana sudah malam, silahkan engkau kembali ke keluargamu dan bermalamlah bersama mereka. Bila sudah pagi, maka kembalilah ke sini. Teruslah demikian hingga engkau dibebaskan.”
Beliau menjawab,
“Demi Allah, hal ini tidak akan pernah aku lakukan.”
“Kenapa? Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.” Tanya sipir
“Yah, hingga aku tidak terlibat dalam bertolong-tolong atas pengkhiatan terhadap penguasa negeri ini.”
Ketika Anas bin Malik RA., dekat ajalnya, dia berwasiat agar yang memandikan dan mengimami shalat atasnya adalah Muhammad bin Sirin yang saat itu masih di penjara.
Tatkala Anas wafat, orang-orang mendatangi penguasa itu dan memberitakannya perihal wasiat shahabat Rasulullah SAW., dan Khadim-nya tersebut, lalu mereka meminta izinnya agar membiarkan Muhammad bin Sirin ikuat bersama mereka untuk merealisasikan wasiat itu, maka sang penguasa pun mengizinkannya.
Lantas berkatalah Muhammad bin Sirin kepada mereka,
“Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara hanya karena ada hutang yang aku harus bayar kepadanya.” Maka si tukang minyakpun mengizinkannya juga.
Ketika itulah, beliau keluar dari penjara, kemudian memandikan dan mengkafani Anas RA. Setelah itu, dia kembali ke penjara sebagaimana biasanya dan tidak sempat menjenguk keluarganya sendiri.
Muhammad bin Sirin mencapai usia 77 tahun. Tatkala kematian menjemputnya, dia mendapatkan dirinya sudah enteng karena tidak memikul beban duniawi lagi namun memiliki bekal yang banyak untuk kehidupan setelah kematian.
Hafshoh bintu Rasyid yang merupakan salah seorang wanita ahli ‘ibadah bercerita,
“Adalah Marwan al-Mahmaly tetangga kami. Dia seorang ahli ibadah dan pegiat dalam berbuat ta’at. Ketika dia wafat, kami sedih luar biasa. Di dalam tidur aku bermimpi melihatnya, lalu aku bertanya kepadanya,
‘Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang diperbuat Rabbmu terhadapmu.?’
‘Dia telah memasukkanku ke dalam surga.’jawabnya
‘Lalu apa lagi?.’ Tanyaku
‘Lalu aku dinaikkan untuk bertemu Ash-habul Yamin (Golongan kanan, ahli surga).’jawabnya lagi
‘Kemudian apa lagi.?’ Tanyaku lagi
‘Kemudian aku dinaikkan lagi untuk bertemu al-Muqarrabun (Generasi awal).’ Jawabnya lagi
‘Siapa saja yang engkau lihat ada di sana.?’ Tanyaku lagi
‘Ada al-Hasan al-Bashary dan Muhammad bin Sirin…’ Jawabnya.
Muhammad Bin Sirin
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMAIyas Bin Mu’awiyah Al-Muzani
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMA(Sosok Yang Dijadikan Icon Kecerdasan)
“Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas.”(Abu Tammam)
Semalaman Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz, tidak dapat tidur, matanya susah terpejam dan beliau diliputi kegelisahan yang amat sangat. Pada malam yang dingin saat keberadaannya di Damaskus, beliau sedang sibuk memikirkan siapa yang bakal dipilih menjadi Qadli (hakim) untuk kawasan Bashrah (suatu kota yang dibangun oleh kaum muslimin setelah Irak ditaklukkan mereka.) yang kelak akan menegakkan keadilan di tengah masyarakat, memberikan putusan sesuai dengan hukum Allah dan dalam menegakkan al-Haq, dia tidak sedikitpun takut baik di saat senang ataupun ketakutan.
Pilihannya hanya tertuju pada dua orang yang sama-sama kredibel, memiliki pemahaman agama yang baik, tegar di dalam menegakkan kebenaran, memiliki pemikiran yang bercahaya dan jeli di dalam memandang sesuatu.
Setiap kali beliau mendapatkan kelebihan pada salah satunya dalam satu sisi, beliau juga menemukan kelebihan itu ada pada yang satunya lagi dalam sisi yang lain.
Pada pagi harinya, beliau memanggil gubernur untuk Irak, ‘Adiy bin Artha‘ah -yang ketika sedang berada di sisinya di Damaskus- seraya berkata kepadanya,
“Wahai ‘Adiy, pertemukanlah antara Iyas bin Muawiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Berbicaralah kepada keduanya mengenai peradilan Bashrah dan pilihlah salah satu dari keduanya sebagai Qadli.”
Adiy berkata,
“Sam’an wa tha’atan, (mendengar dan patuh) terhadap titahmu, wahai Amirul mu’minin.”
Akhirnya, Adiy bin Artha‘ah mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim seraya berkata,
“Sesungguhnya Amirul mu’minin- mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya- menyuruhku supaya mengangkat salah satu dari anda berdua untuk menjadi Qadli di Bashrah, bagaimana pendapat kalian?”
Maka masing-masing mereka berbicara tentang kawannya, bahwa dia lebih berhak daripada dirinya dengan jabatan ini dan menyinggung keutamaan, ilmu dan fiqihnya serta hal-hal lainnya.
Adiy berkata,
“Kalian berdua tidak boleh meningalkan majlisku ini kecuali bila telah kalian selesaikan urusan ini.”
Lalu Iyas berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, ‘Tanyakanlah kepada dua orang ahli fiqih Irak; al-Hasan al-Bashri (sudah dibahas tentangnya pada kajian sebelumnya-red.,) dan Muhammad bin Sirin (juga telah dibahas-red.,) tentang saya dan al-Qasim, karena keduanya adalah orang yang paling bisa membedakan antara kami berdua.”
Pada waktu sebelumnya, al-Qasim banyak mengunjungi kedua ahli fiqih tersebut, sedangkan Iyas tidak ada hubungan sama sekali dengan keduanya. Maka tahulah al-Qasim bahwa Iyas sebenarnya ingin melibatkannya (sehingga menjadi Qadli dimana mereka berdua saling menolaknya-red.,).
Demikian juga, bila sang Amir (gubernur) meminta pendapat kepada keduanya, maka keduanya selalu menunjuk ke dirinya bukan orang yang bersamanya (Iyas).
Maka, dia langsung menoleh ke arah gubernur seraya berkata,
“Wahai Amir, jangan tanyakan lagi kepada siapa pun tentangku dan dia.!
Demi Allah Yang tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, sesungguhnya Iyas adalah orang yang lebih faham tentang agama Allah dan lebih mengerti tentang peradilan daripadaku.
Jika aku berdusta di dalam sumpahku ini, maka engkau tidak boleh menunjukku sebagi Qadli, karena sudah saya melakukan kebohongan.
Dan jika aku berkata jujur, maka engkau juga tidak boleh menunjuk orang yang kurang keutamaannya padahal ada orang yang lebih utama darinya!.”
Maka Iyas menoleh ke arah gubernur dan berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, sesungguhnya telah menghadirkan seseorang untuk engkau jadikan sebagai Qadli, namun engkau menghentikannya di pinggir neraka Jahannam, lalu dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsunya yang senantiasa dia mohonkan agar Allah mengampuninya dan dia dapat selamat dari apa yang dia takutkan.”
Adiy berkata kepadanya,
“Seungguhnya orang yang memiliki pemahaman sepertimu ini amat pantas untuk dijadikan Qadli.” Kemudian dia menunjuknya sebagai Qadli di Bashrah.
Siapakah orang yang telah dipilih Khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz sebagai Qadli di Bashrah ini?
Siapakah dia orang yang karena kecerdasan, kecerdikan dan kecepatan pemahamannya itu dijadikan perumpamaan sebagaimana terjadi terhadap Hatim ath-Tha‘iy karena kedermawanannya, atau al-Ahnaf bin Qais karena kelemahlembutannya dan ‘Amr bin Mu’dikarib karena keberaniannya?.
Sehingga membuat Abu Tammam menguntai syair saat memuji Ahmad bin al-Mu’tashim,
Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim
Ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas
Marilah kita mulai riwayat hidup tokoh kita ini dari awal. Tokoh ini memiliki riwayat hidup yang amat mengesankan dan tiadaduanya dalam rangkaian riwayat-riwayat hidup yang ada.
Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzani dilahirkan pada tahun 46 H di kawasan Yamamah, Najd. Lalu pindah bersama keluarganya ke Bashrah yang kemudian di sana dia besar dan belajar.
Pada masa kecilnya dia sudah bolak-balik ke Damaskus dan menimba ilmu kepada para sahabat agung yang masih hidup dan para pemuka Tabi’in.
Anak ini sejak kecil telah menampakkan tanda-tanda kecerdikan dan kecerdasannya. Orang-orang mulai menjadikannya buah bibir dalam berita-berita dan hal-hal langka yang ada padanya padahal dia masih anak kecil.
Diriwayatkan bahwa dia pernah belajar ilmu hisab di sekolahan milik orang Yahudi dari golongan dzimmi. Lalu berkumpulllah orang-orang Yahudi di sisi sang guru.
Mereka kemudian berbincang-bincang seputar masalah agama, sedangkan Iyas mendengarkan mereka dengan seksama tanpa disadari oleh mereka. Guru itu berkata kepada sahabat-sahabatnya (orang-orang Yahudi tersebut),
“Apakah kalian tidak merasa heran terhadap orang-orang Islam yang mengklaim mereka bisa makan di surga tanpa membuang hajat (kotoran)!!
Lalu Iyas menoleh kepadanya sembari berkata,
“Apakah anda mengizinkanku, wahai guru, untuk berbicara tentang apa yang kalian perbincangkan barusan.?”
Guru itu berkata, “Ya, silahkan.”
Maka anak muda ini berkata,
“Apakah setiap apa yang dimakan di dunia keluar menjadi kotoran?”
Guru berkata, “Tidak.”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu ke mana perginya makanan yang tidak ke luar itu.?” Guru itu berkata,
“Pergi (hilang) dan menjadi makanan badan (gizi).”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu apa alasan pengingkaran kalian terhadap sebagian apa yang kita makan di dunia pergi (hilang) dan menjadi makanan badan (gizi) bahwa kelak di surga semuanya menjadi makanan badan?”
Lalu guru itu mengangkat tangannya dan berkata kepadanya,
“Sungguh engkau ini anak yang luar biasa!”
Usia anak muda ini semakin bertambah dari tahun ke tahun dan kecerdasannya terus mengalami kemajuan sehingga beritanya sampai kemana pun dia berada.
Diriwayatkan, bahwa saat memasuki Damaskus dia masih anak kecil (belum mencapai usia baligh), lalu terjadi perselisihan pendapat antara dirinya dan seorang tua, penduduk Damaskus mengenai suatu hak. Ketika dia tidak bisa meyakinkan orangtua tersebut dengan hujjah, maka diapun mengajaknya ke pengadilan.
Ketika keduanya telah berada di hadapan Qadli (hakim), Iyas bersikap keras dan mengeraskan suaranya terhadap lawannya tersebut. Lalu Qadli berkata kepadanya, “Rendahkan suaramu! wahai anak muda sebab lawanmu ini adalah seorang yang tua umur dan kedudukannya.”
Lalu Iyas berkata,
“Akan tetapi, haq (kebenaran) lebih besar (tua) daripada dia.”
Maka Qadli marah kepadanya dan berkata, “Diam!”
Anak muda itu berkata,
“Lalu siapa yang menyampaikan argumentasiku jika aku diam?!”
Maka Qadli semakin marah, dan berkata,
“Sejak masuk majlis peradilan, Aku tidak melihatmu kecuali selalu mengucapkan kebatilan.”
Lalu Iyas berkata,
“ Lâ ilâha illallah wahdahu lâ syarîkalah, apakah ini haq atau batil?”
Qadli terdiam dan berkata,
"Haq, demi Tuhan Ka’bah, itu adalah haq.”
Anak muda al-Muzanni ini kemudian rajin menekuni ilmu dan menimbanya dengan sepuas-puasnya hingga sampai kepada derajat yang menjadikan para syaikh tunduk kepadanya, mengikuti dan berguru di depannya, meskipun dia masih berusia muda.
Pada suatu tahun, Abdul Malik bin Marwan mengadakan kunjungan ke Bashrah sebelum dia menjadi khalifah, lalu dia melihat Iyas yang waktu itu masih seorang pemuda belia dan belum lagi tumbuh kumisnya.
Abdul Malik melihat di belakangnya ada empat orang Qurra‘ (ahli baca al-Qur’an) yang berjenggot dan mengenakan pakaian hijau mereka (pakaian kebesaran orang alim) sementara Iyas ada di hadapan mereka. Lantas, Abdul Malik berkata,
“Percuma dengan orang-orang berjenggot ini. Apakah di antara mereka tidak ada syaikh yang mengetuai mereka.? Maka merekapun menyodorkan anak muda ini.
Kemudian Abdul Malik menoleh kepada Iyas seraya berkata,
"Berapa umurmu wahai anak muda.?”
“Umurku -mudah-mudahan Allah memanjangkan umur Amir (yang menjabat saat itu-red.,)- seusia dengan umur Usamah bin Zaid ketika Rasulullah SAW., mengangkatnya sebagai panglima perang yang di dalamnya ikut serta Abu Bakar dan Umar (Waktu itu umur Usamah belum sampai dua puluh tahun)” Katanya.
Abdul Malik berkata,
“Maju…Majulah wahai anak muda, semoga Allah memberkati kamu.”
Dan pada suatu tahun yang lain, orang-orang sedang ke luar untuk melihat bulan sabit awal Ramadlan dan yang memimpin mereka adalah seorang sahabat agung, Anas bin Malik al-Anshari yang pada waktu itu sudah lanjut usia mendekati seratus tahun.
Orang-orang melihat ke langit dan mereka tidak melihat tanda apa-apa.
Akan tetapi, Anas bin Malik mulai mengamati langit dan berkata,
“Aku sungguh melihat bulan…nah itu dia.” sembari menunjuk ke arah bulan sabit teresbut dengan tangannya namun orang-orang tidak melihat apa-apa.
Ketika itu Iyas melihat Anas bin Malik RA, ternyata ada sehelai rambut panjang menempel di alisnya dan menggantung di depan matanya. Maka Iyas pun dengan soapn minta permisi dan mengulurkan tangannya ke arah sehelai rambut tersebut, lalu mengusapnya dan meratakannya, kemudian berkata kepada Anas,
“Apakah anda masih melihat bulan sabit itu sekarang wahai shahabat Rasulullah?”
Lalu Anas melihat-lihat lagi seraya berkata,
“Tidak, aku tidak melihatnya lagi, aku tidak melihatnya lagi.”
Berita kecerdasan Iyas semakin santer dan menyebar, maka orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru dan menumpahkan segala permasalahan mereka yang berkenaan dengan ilmu dan agama kepadanya.
Sebagian mereka memang ingin mencari ilmu dan sebagian yang lain hanya ingin menjatuhkan dan mengajaknya berdebat kusir secara batil.
Di antara kisah itu, dikisahkan bahwa ada seorang pejabat besar suatu kawasan datang ke majlisnya, lalu berkata,
“Wahai Abu Wâ‘ilah, apa pendapatmu tentang minuman keras?”
Iyas menjawab, “Haram”
Pejabat itu berkata,
“Apa alasan keharamannya padahal ia hanyalah berupa buah-buahan dan air yang dimasak di atas api dan semua itu adalah boleh-boleh saja, tidak apa-apa.”
Iyas berkata,
“Apakah sudah selesai bicaramu, wahai sang pejabat atau masih ada yang nantinya ingin kau utarakan?”
Pejabat itu berkata, “Ya, sudah itu saja.”
Lalu Iyas berkata,
“Seandainya aku mengambil segenggam air lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu?”
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam pasir lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” Katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam lumpur, lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil pasir lalu aku lapisi dengan lumpur lalu aku siram air, lalu aku aduk-aduk, kemudian aku jemur kumpulan adukan itu di bawah terik panas matahari hingga kering, kemudian aku pukulkan itu ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Kalau itu, ya, bahkan bisa membunuhku!.”
Lalu Iyas berkata,
“Begitulah dengan khamar; ketika bahan-bahannya disatukan dan diragikan, maka haram hukumnya.”
Ketika Iyas menjabat sebagai Qadli, banyak tampak jelaslah beberapa sikapnya yang menunjukkan kecerdasanya yang memang demikian berlebihan, keluasan wawasannya dan kemampuannya yang luar biasa di dalam menyingkap kenyataan.
Di antara contohnya, bahwa ada dua orang laki-laki yang berhakim kepadanya. Salah satunya mengklaim telah menitipkan uang kepada sahabatnya itu namun ketika dia memintanya, sahabatnya itu mungkir. Lalu Iyas bertanya kepada si tertuduh (terdakwa) tentang titipan itu tetapi orang itu pun mengingkarinya seraya berkata,
“Bila sahabatku yang menuduhku itu memiliki bukti, maka silahkan dia menghadirkannya. Bila tidak, berarti aku tinggal bersumpah saja.”
Manakala Iyas khawatir orang itu memakan harta dengan sumpahnya, maka dia menoleh ke arah orang yang menitpkan (si pendakwa) sembari berkata kepadanya,
“Di mana anda menitipkan uang kepadanya?”
Orang itu menjawab, “Di tempat anu.”
Iyas berkata, “Benda apa yang ada di tempat itu?”
Orang itu menjawab, “Pohon besar, waktu itu kami duduk-duduk di bawahnya dan makan-makan bersama di bawah naungannya. Ketika kami ingin pulang, aku menyerahkan uang itu kepadanya.”
Iyas berkata lagi kepadanya,
“Pergilah ke tempat yang ada pohonnya itu, barangkali jika kamu telah sampai di sana, kamu akan teringat di mana kamu menaruh uang dan apa yang kamu lakukan dengannya. Kemudian temui aku lagi untuk menyampaikan apa yang kamu lihat.”
Maka orang itu berangkat menuju tempat tersebut sedangkan Iyas berkata kepada si terdakwa,
“Duduklah, sampai temanmu itu datang.”
Lalu orang itu pun duduk. Kemudian Iyas menoleh ke arah orang-orang lain yang memiliki perkara, dan mulai memutuskan perkara mereka sambil melirik secara diam-diam ke arah si terdakwa itu. Hingga ketika dia melihatnya sudah dalam kondisi diam dan tenang, dia menoleh ke arahnya seraya bertanya kepadanya lagi dengan secara tiba-tiba,
“Menurut perkiraanmu, sahabatmu itu telah sampai ke tempat dia menyerahkan uang kepadamu itu atau belum.?” Maka orang itu menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu, “Tentu belum sebab tempat itu amat jauh dari sini.” jawabnya tanpa berpikir panjang.
Ketika itu, Iyas berkata kepadanya,
“Hai musuh Allah, kamu mengingkari telah menyimpan harta itu padahal mengetahui dimana kamu mengambil uang itu? Demi Allah, sungguh kamu ini seorang pengkhianat.!”
Orang itupun bungkam dan mengaku pengkhianatan yang telah dilakukannya. Lalu Iyas menahannya sampai pemiliknya itu datang dan menyuruhnya supaya mengembalikan titipan tersebut kepada pemiliknya.
Contoh lainnya, diriwayatkan bahwa ada dua orang laki-laki saling berselisih kepadanya mengenai dua potong bahan beludru yang yang biasa dipasang ke atas kepala dan disampirkan ke kedua pundak. Salah satunya berwarna hijau, baru dan mahal dan yang satu lagi berwarna merah namun lusuh.
Si pendakwa (penuduh) berkata,
“Pada waktu itu, aku pergi ke telaga untuk mandi, lalu aku meletakkan beludru hijauku bersama pakaianku di pinggir kolam, lalu datanglah orang ini dan meletakkan beledrunya yang berwarna merah di samping milikku, kemudian dia juga turun ke telaga dan ke luar sebelumku. Dia mengenakan pakaiannya dan mengambil beledru milikku lalu mengenakannya ke kepala dan kedua pundaknya. Setelah itu, dia pergi membawanya. Selanjutnya, aku keluar juga dan menyusulnya seraya meminta beledru milikku itu. Akan tetapi, dia malah mengklaim bahwa itu adalah miliknya.”
Lalu Iyas berkata kepada si tersangka,
“Apa jawabmu?”
Orang itu berkata, “Ini adalah beledru milikku dan sudah berada di tanganku.”
Iyas berkata kepada si pendakwa,
“Apakah kamu memiliki bukti?”
Orang itu menjawab, “Tidak.”
Lalu Iyas berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Ambilkan sisir untukku.!”
Lalu sisir dihadirkan untuknya, kemudian Iyas menyisir rambut kedua orang itu, maka keluarlah dari kepala salah satunya bulu (serbuk) berwarna merah dari rontokan bulu bahan beledru, dan dari kepada yang lainnya keluar bulu (serbuk) berwarna hijau. Setelah itu, Iyas memutuskan bahwa beledru berwarna merah untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) merah itu dan beledru hijau untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) hijau. (mengingat biasanya serbuk dari bahan itu suka menempel-red.,)
Contoh lain dari kisah kecerdikannya, bahwa di Kufah ada orang yang berlagak jadi orang lurus, wara’ dan takwa di hadapan orang-orang, sehingga banyak orang yang memujinya. Sebagian mereka malah menaruh kepercayaan kepadanya dengan menitipkan harta jika mereka sedang pergi. Bahkan, ada juga yang mengangkatnya sebagai pemegang wasiat mewakili anak-anak mereka ketika merasakan bahwa ajal mereka telah dekat.
Lalu ada seseorang datang kepadanya dan menitipkan harta. Ketika orang tersebut membutuhkan uangnya, dia memintanya namun orang itu mengingkarinya.
Kemudian si korban itu pergi menghadap Iyas dan melaporkan perihal orang tersebut.
Maka Iyas berkata kepada si pelapor yang menjadi korban ini,
“Apakah orang itu mengetahui kalau kamu datang kemari?” Orang itu menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata, “Pergilah dan kembalilah menemuiku besok.!”
Kemudian Iyas mengutus seseorang untuk menemui orang yang diserahi amanat (yang berpenampilan lurus itu) agar menghadapnya. Ketika orang itu datang, Iyas berkata kepadanya,
“Di tanganku terkumpul banyak harta milik anak-anak yatim yang tidak memiliki penanggungjawab. Aku melihat engkaulah orang yang pantas untuk dititipi dan mengangkatmu sebagai penanggungjawab mereka. Apakah rumahmu aman dan waktumu luang untuk hal itu?”
Orang itu berkata, “Ya, wahai Qadli.”
Iyas berkata lagi,
“Kemarilah kamu besok lusa, siapkan tempat untuk harta tersebut serta bawalah bersamamu para tukang panggul untuk memanggulnya.”
Pada hari berikutnya, datanglah orang yang melapor. Maka Iyas berkata kepadanya, “Pergilah kamu kepada temanmu dan mintalah harta darinya. Jika dia ingkar, maka katakanlah kepadanya, “Aku akan laporkan kamu kepada Qadli.”
Lalu orang itu datang kepada temannya tersebut dan meminta hartanya, tetapi dia menolak memberikannya dan mengingkarinya.
Maka orang itu berkata, “Kalau begitu akan aku laporkan kamu kepada Qadli.!”
Ketika mendengar ancaman itu, dia segera menyerahkan hartanya dan menenangkan hatinya.
Kemudian orang itu kembali kepada Iyas dan berkata kepadanya, “Temanku itu telah mengembalikan hartaku dan mudah-mudahan Allah membalas kebaikan tuan.”
Selanjutnya, orang yang diserahi amanat itu datang menghadap Iyas pada hari yang telah dijanjikan dan dia membawa serta para tukang panggul.
Namun yang terjadi, Iyas justeru menghardik dan membongkar kebobrokannya sembari berkata kepadanya,
“Kamu adalah orang yang paling jahat, hai musuh Allah, kamu telah menjadikan agama sebagai umpan dunia.”
Akan tetapi, sekalipun Iyas dikenal sangat cerdas, memilik daya fikir yang kuat dan sangat cepat daya tangkapnya, namun hujjahnya suatu ketika pernah berhadapan dengan seorang yang mampu mementahkan hujjahnya dan memangkas ucapannya serta membungkamnya.
Mengenai hal itu, dia menceritakan,
“Tidak ada orang yang dapat mengalahkanku kecuali seorang saja, yaitu ketika aku berada di majlis persidangan di kota Bashrah. Saat itu, seseorang menemuiku dan bersaksi di sisiku bahwa kebun “anu” adalah milik si fulan, lalu dia menyebutkan letak geografisnya kepadaku.”
Saat itu, aku ingin menguji kesaksiannya seraya bertanya kepadanya,
“Berapa jumlah pohon yang ada di kebun tersebut?”
Lalu orang itu menunduk sebentar, kemudian mengangkat kepalanya dan balik bertanya,
“Sudah berapa lama tuan menjadi Qadli di sini?”
“Sejak sekian tahun,” jawabku.
Lalu orang itu bertanya lagi,
“Berapa jumlah kayu atap tempat (majlsi) ini?”
Namun karena tidak tahu, aku berkata kepadanya,
“Kebenaran berada di pihakmu.!” Kemudian aku menerima kesaksiannya.
Ketika Iyas telah berumur tujuh puluh enam tahun, dia melihat di dalam mimpinya bahwa dirinya dan ayahnya masing-masing menunggangi kuda, lalu keduanya berbalapan, namun anehnya dia tidak bisa membalap ayahnya dan ayahnya juga tidak bisa membalapnya. Saat meninggal dunia dulu, ayahnya berumur tujuh puluh enam tahun.
Pada suatu malam, Iyas rebahan di atas tempat tidurnya dan berkata kepada keluarganya,
“Tahukah kalian malam apa ini?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata,
“Pada malam ini, ayahku melengkapi umurnya (wafat).”
Dan pada pagi harinya, mereka menemukannya telah wafat.
Mudah-mudahan Allah merahmati Iyas, sang Qadli. Sungguh dia adalah orang langka dan tanda keajaiban zaman dalam hal kecerdikan, kecerdasan, mencari kebenaran dan menggapainya.
‘Urwah Bin Az-Zubair
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMA(Kakinya Dibuntung Dengan Gergaji tanpa menggunakan Khamar Dan Bius)
"Barangsiapa ingin melihat seseorang dari ahli Surga, hendaklah ia melihat 'Urwah bin az-Zubair" (Abdul Malik bin Marwan)
Baru saja matahari sore itu memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa yang bening untuk mengunjungi buminya yang suci tatkala sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW dan para pembesar tabi'in mulai berthawaf di sekeliling Ka'bah, mengharumkan suasana dengan pekikan tahlil dan takbir dan memenuhi hamparan dengan do'a-do'a kebaikan.
Dan tatkala orang-orang membuat lingkaran per-kelompok di sekitar Ka'bah nan agung, yang berdiri kokoh di tengah Baitul Haram dalam kondisi yang berwibawa dan agung. Mereka memenuhi pandangan dengan keindahannya yang memikat, dan memoderator pembicaraan-pembicaraan di antara mereka tanpa keisengan dan perkataan dosa.
Di dekat Rukun Yamani, duduklah empat orang pemuda yang masih remaja dan terhormat nasabnya serta berbaju harum seakan-akan mereka bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju mengkilat dan membuat hati jinak karenanya.
Mereka itu adalah 'Abdullah bin az-Zubair, saudaranya; Mus'ab bin az-Zubair, saudara mereka berdua; Urwah bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.
Terjadi perbincangan ringan dan sejuk di antara anak-anak muda ini, lalu tidak lama kemudian salah seorang di antara mereka berkata,
"Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia cita-citakan."
Maka khayalan mereka terbang ke alam ghaib nan luas, angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman harapan nan hijau, kemudian Abdullah bin az-Zubair berkata,
"Cita-citaku, aku ingin menguasai Hijaz dan memegang khilafah."
Saudaranya, Mus'ab berkata,
"Kalau aku, aku ingin menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku."
Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata,
"Jika anda berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka aku tidak akan puas kecuali menguasai dunia semuanya dan aku ingin memegang kekhilifahan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan."
Sementara 'Urwah bin az-Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,
"Apa yang kamu cita-citakan wahai Urwah?"
Dia menjawab, "Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang 'alim yang 'Amil (Mengamalkan ilmunya), orang-orang belajar Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya."
Kemudian waktu pun berjalan begitu cepat, sehingga memang kemudian Abdullah bin az-Zubair dibai'at menjadi Khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah Bani Umayyah), dan dia pun menguasai kawasan Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Iraq. Kemudian dia dibunuh di sisi Ka'bah tidak jauh dari tempat dimana dia pernah bercita-cita tentang hal itu.
Dan ternyata Mus'ab bin Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, 'Abdullah namun dia juga dibunuh di dalam mempertahankan kekuasaannya tersebut.
Demikian pula, Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat, dan di tangannya kaum Muslim bersatu setelah pembunuhan terhadap 'Abdullah bin az-Zubair dan saudaranya, Mus'ab di tangan pasukan-pasukannya. Kemudian dia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamannya.
Lalu bagaimana dengan 'Urwah bin Az-Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari pertama.
'Urwah bin az-Zubair dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhilafahan Umar al-Faruq, di dalam keluarga paling terpandang dan terhormat kedudukannya dari sekian banyak keluarga-keluarga kaum muslimin.
Ayahnya adalah az-Zubair bin al-'Awwam, sahabat dekat dan pendukung Rasulullah SAW, orang pertama yang menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.
Ibunya bernama Asma` binti Abu Bakar yang bergelar berjuluk "Dzatun Nithaqain" (Pemilik dua ikat pinggang. Hal ini karena dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua pada saat hijrah, salah satunya dia gunakan untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan yang satu lagi dia gunakan untuk mengikat bekal makanannya).
Kakeknya pancar (dari pihak) ibunya tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah SAW dan sahabatnya ketika berada di dalam goa (Tsur). Neneknya pancar (dari pihak) ayahnya bernama Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah SAW sedangkan bibinya adalah Ummul Mukminin 'Aisyah RA. Pada saat jenazah 'Aisyah dikubur, 'Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua tangannya.
Apakah anda mengira bahwa setelah kedudukan ini, ada kedudukan lain dan bahwa di atas kemuliaan ini, ada kemuliaan lain selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?
Untuk merealisasikan cita-cita yang telah diharapkannya perkenaan Allah atasnya saat di sisi Ka'bah itu, dia tekun di dalam mencari ilmu dan memfokuskan diri untuknya serta menggunakan kesempatan untuk menimba ilmu dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup.
Dia rajin mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian mereka, sehingga dia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa'id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Nu'man bin Basyir. Dia banyak sekali mentransfer riwayat dari bibinya, 'Aisyah Ummul Mukminin sehingga dia menjadi salah satu dari tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahâ` as-Sab'ah) yang menjadi rujukan kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.
Para pejabat yang shaleh meminta bantuan mereka di dalam mengemban tugas yang dilimpahkan Allah kepada mereka terhadap urusan umat dan negara.
Di antara contohnya adalah tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika datang ke Madinah sebagai gubernurnya atas mandat dari al-Walid bin Abdul Malik. Orang-orang datang kepadanya untuk menyampaikan salam.
Ketika selesai melaksanakan shalat dhuhur, dia memanggil sepuluh Ahli fiqih Madinah yang diketuai oleh 'Urwah bin Az-Zubair. Ketika mereka sudah berada di sisinya, dia menyambut mereka dengan sambutan hangat dan memuliakan tempat duduk mereka. Kemudian dia memuji Allah 'Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi-Nya, lalu berkata,
"Sesungguhnya aku memanggil kalian semua untuk sesuatu yang kiranya kalian semua diganjar pahala karenanya dan menjadi pendukung-pendukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua, atau pendapat orang yang hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakit orang lain, atau mendengar suatu kedzaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi Allah, aku meminta agar kalian melaporkannya kepadaku."
Maka 'Urwah bin az-Zubair mendo'akan kebaikan baginyanya dan memohon kepada Allah agar menganugerahinya ketepatan (dalam bertindak dan berbicara) dan mendapatkan petunjuk.
'Urwah bin az-Zubair benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap gulit, selalu membasahkan lisannya dengan dzikir kepada Allah Ta'ala.
Selain itu, dia selalu menyertai Kitab Allah 'Azza wa Jalla dan tekun membacanya. Setiap harinya, dia membaca seperempat al-Qur'an dengan melihat ke Mushafnya.
Kemudian dia membacanya di dalam shalat malam hari dengan hafalan.
Dia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya itu semenjak menginjak remaja hingga wafatnya, kecuali satu kali disebabkan adanya musibah yang menimpanya. Mengenai apa musibah itu, akan dihadirkan kepada pembaca nanti.
Sungguh 'Urwah bin az-Zubair mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia di dalam shalatnya, karenanya, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya dengan sempurna dan berlama-lama di dalamnya.
Diriwayatkan tentangnya bahwa dia pernah melihat seorang yang sedang melakukan shalat dengan ringan (cepat), maka ketika orang itu telah selesai shalat, dia memanggilnya dan berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, Apakah anda tidak mempunyai keperluan kepada Tuhanmu 'Azza wa Jalla?! Demi Allah sesungguhnya aku memohon kepada Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam."
'Urwah bin Az-Zubair adalah juga seorang dermawan, pema'af dan pemurah. Di antara contoh kedermawanannya, bahwa dia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindang dan kurma-kurmanya tinggi. Dia memagari kebunnya selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak. Dan, jika sudah datang waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang mudah untuk memasukinya.
Maka mereka pun memasukinya, datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Dan setiap kali dia memasuki kebunnya ini, dia mengulang-ulang firman Allah, "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu " MASYA ALLAH, LAA QUWWATA ILLA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)" (Q.,s.al-Kahfi:39)
Dan pada suatu tahun dari kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik (khalifah ke enam dari khalifah-khalifah Bani Umayyah, dan pada zamannya kekuasaan Islam mencapai puncaknya), Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk menguji 'Urwah bin az-Zubair dengan ujian yang berat, yang tidak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh dengan keimanan dan keyakinan.
Khalifah kaum muslimin mengundang 'Urwah bin az-Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus, lalu Urwah memenuhi undangan tersebut dan membawa serta putra tertuanya.
Dan ketika sudah datang, Khalifah menyambutnya dengan sambutan yang hangat dan memuliakannya dengan penuh keagungan. Namun saat di sana, Allah SWT berkehendak lain, tatkala putra 'Urwah memasuki kandang kuda al-Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, lalu salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga dia meninggal seketika.
Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.
Karena itu, Khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Akan tetapi, para dokter sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis 'Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak menerima kenyataan itu.
Ketika dokter bedah datang untuk memotong betis 'Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging serta gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada 'Urwah,
"Menurutku anda harus meminum sesuatu yang memabukkan supaya anda tidak merasa sakit ketika kaki anda dipotong."
Maka Urwah berkata,
"O..tidak, itu tidak mungkin! Aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang aku harapkan."
Maka dokter itu berkata lagi,
"Kalau begitu aku akan membius anda."
Urwah berkata,
"Aku tidak ingin, kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini."
Ketika dokter bedah itu mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada 'Urwah, maka 'Urwah pun berkata,
"Untuk apa mereka datang?."
Ada yang menjawab,
"Mereka didatangkan untuk memegang anda, barangkali anda merasakan sakit yang amat sangat, lalu anda menarik kaki anda dan akhirnya membahayakan anda sendiri."
Lalu 'Urwah berkata,
"Suruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan berharap kalian merasa cukup dengan dzikir dan tasbih yang aku ucapkan."
Kemudian dokter mendekatinya dan memotong dagingnya dengan alat bedah, dan ketika sampai kepada tulang, dia meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara 'Urwah membaca, "Lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar."
Dokter terus menggergaji, sedangkan 'Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga akhirnya kaki itu buntung.
Kemudian dipanaskanlah minyak di dalam bejana besi, lalu kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, 'Urwah pingsan sekian lama yang menghalanginya untuk membaca jatah membaca Kitab Allah pada hari itu. Dan itu adalah satu-satunya kebaikan (bacaan al-Qur'an) yang terlewati olehnya semenjak dia menginjak remaja. Dan ketika siuman, 'Urwah meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya berkata,
"Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa aku tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang haram."
Kemudian dia mengucapkan bait-bait sya'ir karya Ma'n bin Aus,
Demi Engkau, aku tidak pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan
Kakiku tidak pernah mengajakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah menggiringku kepadanya
Pendapatku dan akalku tidak pernah menunjuk kepadanya
Ketahuilah, sesungguhnya tidaklah musibah menimpaku sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku
Al-Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula, maka al-Walid tidak bosan-bosan menjenguknya dan mensugestinya untuk bersabar terhadap musibah yang dialaminya.
Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani 'Abs singgah di kediaman Khalifah, di antara mereka ada seorang buta, lalu al-Walid bertanya kepadanya perihal sebab kebutaannya, lalu orang itu mejawab,
"Wahai Amirul mukminin, di dalam komunitas Bani 'Abs tidak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku, lalu terjadi banjir besar yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang aku miliki; harta, keluarga dana anak. Yang tersisa hanyalah seekor onta dan bayi yang baru lahir. Sedangkan onta yang tersisa itu adalah onta yang binal sehingga lepas. Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar onta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempat ku hingga tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera menyongsongnya namun sayang aku tidak bisa menyelamatkannya, karena srigala telah membunuhnya. Lalu aku mengejar onta dan ketika aku berada di dekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendangan itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku di dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata."
Maka al-Walid berkata kepada pengawalnya,
"Ajaklah orang ini menemui tamu kita 'Urwah bin az-Zubair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supaya 'Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya."
Ketika 'Urwah diangkut ke Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, dia mendahului mereka dengan ucapan,
"Jangan kalian merasa ngeri terhadap apa yang kalian lihat. Allah 'Azza wa Jalla telahmenganugerahuiku empat orang anak, lalu mengambil satu di antara mereka dan masih menyisakan tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dan Dia memberiku empat anggota badan, kemudian Dia mengambil satu darinya dan menyisakan tiga untukku, maka segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang memiliki ujung (kedua tangan dan kedua kaki-red.,), lalu Dia mengambilnya satu dan menyisakan tiga buah lagi untukku. Dan demi Allah, Jika pun Dia telah mengambil sedikit dariku namun telah menyisakan banyak untukku. Dan jika pun Dia mengujiku satu kali namun Dia telah mengaruniaiku kesehatan berkali-kali."
Ketika penduduk Madinah mengetahui kedatangan imam dan orang 'alim mereka, 'Urwah bin az-Zubair, mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di antara untaian kata ta'ziah yang paling berkesan adalah perkataan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah kepadanya,
"Bergembiralah wahai Abu Abdillah! salah satu anggota badan dan anakmu telah mendahuluimu menuju surga dan yang keseluruhannya akan mengikuti yang sebagiannya itu, insya Allah Ta'ala. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu darimu untuk kami yang sangat kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqih dan pendapat anda. Mudah-mudahan Allah menjadikan hal itu bermanfaat bagimu dan kami. Allah lah Dzat Yang Maha menanggung pahala untukmu dan Yang menjamin balasan kebaikan amalmu."
'Urwah bin az-Zubair tetap menjadi menara hidayah, petunjuk kebahagiaan dan penyeru kebaikan bagi kaum muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, khususnya, dan anak-anak kaum muslimin lainnya, umumnya. Dia tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakannya untuk memberikan penyuluhan dan nasehat kepada mereka.
Di antara contohnya, dia selalu mendorong anak-anaknya untuk menuntut ilmu ketika berkata kepada mereka,
"Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Karena, jika kamu sekarang ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudahan-mudahan saja berkat ilmu, Allah menjadikan kamu orang-orang besar."
Penuturan lainnya,
"Aduh betapa buruknya, apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih buruk daripada orang tua yang bodoh?."
Dia juga menyuruh mereka untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah 'Azza wa Jalla. Yaitu, dalam ucapannya,
"Wahai anakku, janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu mempersembahkan hadiah kepada Rabb-nya berupa sesuatu yang dia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Paling Mulia, dan Paling Dermawan serta Yang Paling Berhak untuk dipilihkan untuk-Nya."
Dia juga pernah memberikan pandangan kepada mereka (anak-anaknya) tentang tipikal manusia dan seakan mengajak mereka menembus langsung menuju siapa inti dari mereka itu,
"Wahai anakku, jika kamu melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya meskipun di mata orang lain, dia seorang jahat, karena kebaikan itu memiliki banyak saudara. Dan jika kamu melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya meskipun di mata orang lain, dia adalah orang baik, karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Dan ketahuilah bahwa kebaikan akan menunjukkan kepada saudara-saudaranya (jenis-jenisnya yang lain), demikian pula dengan keburukan."
Dia juga berwasiat kepada anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia berkata,
"Wahai anakku, sebagaimana tertulis di dalam hikmah, 'Hendaklah kamu berkata-kata baik dan berwajah ramah niscaya kamu akan lebih dicintai orang ketimbang cinta mereka kepada orang yang selalu memberikan mereka hadiah."
Bilamana dia melihat manusia cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, dia mengingatkan mereka akan kondisi Rasulullah SAW yang penuh dengan kesahajaan kehidupan dan kepapaan.
Di antara contohnya adalah sebagaimana yang diceritakan Muhammad bin al-Munkadir (seorang tabi'i dari penduduk Madinah, wafat pada tahun 130 H),
"Saat 'Urwah bin az-Zubair menemuiku dan memegang tanganku, dia berkata, 'Wahai Abu Abdullah.'
Lalu aku menjawab, "Labbaik."
Kemudian dia berkata,
"Saat aku menemui Ummul mukminin 'Aisyah RA, dia berkata, 'Wahai anakku.'
Lalu aku menjawab, 'Labbaik.'
Beliau berkata lagi, 'Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu pernah sampai selama empat puluh malam tidak menyalakan api di rumah Rasulullah SAW, baik untuk lentera ataupun yang lainnya.'
Lalu aku berkata, 'Wahai Ummi, bagaimana kalian semua dapat hidup?'
Beliau menjawab, 'Dengan dua benda hitam (Aswadân); kurma dan air.'
Selanjutnya 'Urwah bin az-Zubair hidup hingga mencapai usia 71 tahun, yang diisinya dengan kebaikan, kebajikan dan ketakwaan.
Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa, lalu keluarganya ngotot memintanyanya agar berbuka saja namun dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan bidadari.
Syuraih Al-Qadli
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMA(Sisi-Sisi Keadilan Islam Nan Membuat Air Mata Menitik Terharu)
"Ada orang yang bertanya kepada Syuraih, 'Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini?.' Dia menjawab, 'Dengan bermudzakarah bersama para ulama; Aku mengambil dari mereka dan mereka mengambil dariku" (Sufyan al-Ausi)
Amirul mu'minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dari seorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudian menaiki kudanya dan pergi.
Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segera kembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orang Badui tersebut,
"Ambillah kudamu, karena ia terluka."
Maka orang itu menjawab, "Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirul mu'minin- karena aku telah menjualnya kepada anda dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun."
Lalu Umar berkata, "Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramu dan aku."
Lalu orang itu berkata, "Yang akan menghakimi di antara kita adalah Syuraih bin al-Harits al-Kindi."
Lalu Umar berkata, "Baiklah, aku setuju."
Amirul mu'minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkan perkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orang Badui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata,
"Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul mu'minin?."
"Ya." Jawab 'Umar
Syuraih berkata, "Simpanlah apa yang anda beli- wahai Amirul mu'minin- atau kembalikanlah sebagaimana anda menerima."
Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata,
"Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusan yang adil. Pergilah anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagai hakim (Qadli) di sana."
Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlah seorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yang kedudukannya tidak terdeteksi oleh ulama dan Ahli Ra'yi dari kalangan para pembesar Sahabat dan Tabi'in.
Orang-orang besar dan generasi dahulu, telah mengetahui kecerdasan dan kecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia dan pengalaman hidupnya yang lama dan mendalam.
Dia adalah seorang berkebangsaan Yaman dan keturunan Kindah, mengalami hidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.
Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinar Islam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang-orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayah dan kebenaran.
Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dan keistimewaannya.
Mereka sangat menyayangkan dan bercita-cita andaikata dia ditakdirkan untuk datang ke Madinah lebih awal sehingga bertemu Rasulullah SAW sebelum beliau kembali kepada Tuhannya, dan mentransfer ilmu beliau yang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara dan supaya beruntung mendapatkan predikat "sahabat" setelah mengenyam nikmatnya iman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan.
Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Rasulullah.
Umar al-Faruq radliyallâhu 'anhu tidaklah tergesa-gesa, ketika menempatkan seorang Tabi'in pada posisi besar di peradilan, sekalipun pada waktu itu langit-langit Islam masih bersinar-sinar dengan bintang-bintang sahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam. Waktu telah membuktikan kebenaran firasat Umar dan ketepatan tindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaum muslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.
Pengakuan terhadap kapasitasnya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyallâhu 'anhum.
Begitu pula dia diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut.
Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.
Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang dengan sikap Syuraih yang menawan dan berkibar dengan ketundukan kalangan elit dan awam kaum Muslimin terhadap syari'at Allah yang ditegakkan Syuraih dan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya.
Buku-buku induk penuh dengan keunikan, berita, perkataan dan tindakan tokoh langka satu ini.
Di antara contohnya adalah, bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib RA kehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berharga baginya.
Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafir dzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah.
Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata,
"Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, i tempat anu."
Lalu kafir Dzimmi itu berkata, "Ini adalah baju besiku dan sekarang ada di tanganku, wahai Amirul mu'minin."
Lalu Ali berkata,
"Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu."
Lalu orang kafir itu berkata, "Mari kita putuskan melalui seorang Hakim kaum Muslimin."
Lalu Ali berkata, "Kamu benar, mari kita ke sana."
Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanya telah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali RA, "Ada apa wahai Amirul mu'minin?."
Lalu Ali menjawab, "Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu. Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah."
Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu, "Dan apa jawabmu, wahai orang laki-laki?."
Lalu dia menjawab, "Baju besi ini adalah milikku dan ia ada di tanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu'minin berdusta."
Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata,
"Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul mu'minin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang anda klaim tersebut."
Lalu Ali berkata, "Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akan bersaksi untukku."
Maka Syuraih berkata,
"Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirul mu'minin."
Lalu Ali berkata, "Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya!! Apakah anda tidak mendengar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemuda ahli surga."
Lalu Syuraih berkata, "Benar wahai Amirul mu'minin! namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya."
Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata,
"Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya."
Maka kafir Dzimmi itu berkata,
"Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul mu'minin."
Kemudian dia meneruskan perkataannya,
"Ya Allah! Kok ada Amirul mu'minin menggugatku di hadapan hakim yang diangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkaraku terhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah."
Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirul mu'minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin (Suatu daerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali dan Muawiyah RA) lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarna abu-abu, lalu memungutnya."
Maka Ali RA berkata kepadanya,
"Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu, dan aku memberimu juga seekor kuda."
Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukan mati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawah bendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalam berperang hingga dia mati syahid."
Di antara sikap menawan yang ditunjukkan juga oleh Syuraih adalah bahwa pernah suatu hari, putranya berkata kepadanya, "Wahai ayahku, sesungguhnya antara aku dan kaum kita ada perselisihan, maka telitilah perkaranya; jika kebenaran ada di pihakku, aku akan menggugat mereka ke pengadilan dan jika kebenaran ada di pihak mereka, aku akan mengajak mereka berdamai." Kemudian sang putra menuturkan kisahnya kepada ayahnya.
Lalu ayahnya berkata kepadanya, "Kalau begitu, pergilah dan ajukan mereka ke pengadilan."
Lalu putranya menemui lawannya dan mengajak mereka memperkarakannya ke pengadilan. Mereka pun menyetujuinya.
Dan ketika mereka telah berada di hadapan Syuraih, Syuraih memenangkan perkara mereka terhadap putranya.
Ketika syuraih dan putranya telah pulang ke rumah, sang putra berkata kepada ayahnya, "Engkau telah mempermalukanku, wahai ayahku!" Demi Allah seandainya aku tidak mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepadamu, tentu aku tidak akan mengecammu seperti ini."
Maka syuraih berkata, "Wahai anakku, Sungguh engkau memang lebih aku cintai daripada bumi dan seisinya, akan tetapi Allah 'Azza wa Jalla lebih Mulia dan berharga bagiku daripada dirimu. Bila aku beritahukan kepadamu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, aku khawatir engkau akan mengajak mereka berdamai dimana hal ini akan menghilangkan sebagian hak mereka. Karenanya, aku mengatakan kepadamu seperti itu tadi."
Pernah terjadi bahwa anak Syuraih menjadi jaminan seseorang, dan Syuraih menerimanya, ternyata orang itu kabur dari pengadilan. Maka Syuraih memenjarakan anaknya sebagai ganti jaminan orang yang kabur itu.
Akhirinya, Syuraih sendiri yang mengirimi makanannya setiap hari ke penjara.
Terkadang, Syuraih meragukan sebagian saksi. Namun dia tidak mendapatkan jalan untuk menolak kesaksiannya, karena syarat keadilan telah mencukupi mereka, maka dia berkata kepada mereka sebelum mereka menyatakan kesaksiannya,
"Dengarkanlah aku -mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda semua- Sesungguhnya yang menghakimi orang ini adalah kalian sendiri. Dan sesungguhnya aku hanya menjaga diri dari api neraka melalui kalian. Karena itu, bila kalian sendiri yang berlindung darinya adalah lebih utama lagi."
Sekarang memungkinkan bagi kalian untuk tidak memberikan kesaksian dan berlalu.
Jika mereka bersikeras untuk bersaksi, Syuraih menoleh kepada orang yang mereka bersaksi untuknya, seraya berkata,
"Ketahuilah, wahai tuan, sesungguhnya aku mengadili anda melalui kesaksian mereka. Dan sesungguhnya aku melihat anda adalah orang yang dzalim. Akan tetapi aku tidak boleh memberikan putusan berdasarkan sangkaan, tetapi berdasarkan kesaksian para saksi. Dan sesungguhnya keputusanku, tidak menghalalkan sama sekali apa yang diharamkan Allah terhadapmu."
Dan ungkapan yang sering diulang-ulang oleh Syuraih di ruang sidangnya adalah perkataannya,
"Besok orang dzalim akan mengetahui siapa yang rugi. Sesungguhnya orang yang dzalim sedang menunggu siksa. Sedangkan orang yang teraniaya menunggu keadilan. Dan sesungguhnya aku bersumpah kepada Allah, bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla, kemudian dia merasa kehilangannya."
Syuraih bukan hanya sebagai penasehat karena Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya saja, akan tetapi dia juga penasehat untuk kalangan awam dan kalangan khusus kaum muslimin semua.
Salah seorang dari mereka meriwayatkan, "Syuraih memperdengarkan kepadaku suatu ucapan saat aku mengadukan sebagian sesuatu yang meresahkanku karena ulah seorang kawanku.
Lantas Syuraih memegang tanganku dan menarikku ke pinggir seraya berkata,
"Wahai anak saudaraku, janganlah kamu mengadu kepada selain Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya orang yang kamu mengadu kepadanya, bisa jadi dia adalah kawanmu atau musuhmu. Kalau dia kawan, berarti kamu akan membuatnya bersedih. Dan kalau dia musuh, maka kamu akan ditertawakannya."
Kemudian dia berkata, "Lihatlah mataku ini- dan dia menunjuk ke salah satu matanya- Demi Allah, aku tidak bisa melihat seseorang dan jalan karenanya sejak lima belas tahun lalu. Sekalipun demikian, aku tidak ceritakan kepada siapapun mengenainya, kecuali kepadamu sekarang ini. Tidakkah kamu mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh (yakni Nabi Ya'qub a.s), 'Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'(Yusuf:86). Maka jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tempat mengadu dan melampiaskan kesedihanmu setiap kali musibah menimpamu.
Karena Dia adalah Dzat Yang paling Dermawan dan Yang paling dekat untuk diseru."
Pada suatu hari, dia melihat ada seseorang sedang meminta sesuatu kepada orang lain, lalu dia berkata kepadanya,
"Wahai anak saudaraku, siapa yang memohon hajat kepada manusia, maka dia telah menjerumuskan dirinya ke dalam perbudakan. Jika orang yang diminta itu memberinya, maka dia telah menjadikannya budak karena pemberian itu.
Dan jika orang itu tidak memberinya, maka keduanya akan kembali dengan kehinaa. Yang satu, hina karena bakhil sedangkan yang satu lagi hina karena ditolak.
Maka jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah.
Dan ketahuilah, bahwa tidak ada upaya, kekuatan dan pertolongan kecuali dengan Allah.
Saat suatu ketika, di Kufah telah mewabah penyakit Tha'un, lalu salah seorang sahabat Syuraih kabur dari sana menuju ke Najef untuk menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, maka Syuraih mengirim surat kepadanya,
"Amma ba'du, Sesungguhnya daerah yang kamu tinggalkan tidak mendekatkan kematianmu dan tidak juga merampas hari-harimu.
Dan sesungguhnya daerah yang kamu pindah ke sana adalah berada dalam genggaman Dzat Yang tidak bisa dikalahkan dengan usaha dan tidak akan luput pelarian itu dari-Nya.
Dan sesungguhnya kami dan kamu juga berada di atas hamparan Raja Yang Satu.
Dan sesungguhnya Najef adalah sangat dekat dari Dzat Yang Maha Kuasa."
Di samping hal itu semua, Syuraih juga seorang penyair, mudah dicerna, manis penyampaiannya dan tema-temanya begitu memikat.
Menurut suatu riwayat, dia mempunyai seorang anak berumur sekitar sepuluh tahun, dan anak itu lebih suka meghabiskan waktu untuk bermain dan berhura-hura.
Pada suatu hari dia kehilangan anak itu, dan ternyata anak itu tidak masuk sekolah dan menggunakan wakut tersebut untuk melihat anjing-anjing.
Dan ketika anak itu pulang, dia bertanya kepadanya, Apakah kamu sudah shalat?
Maka anak itu menjawab, Belum.
Lalu Syuraih meminta kertas dan pena, lalu menulis surat kepada guru anak itu dalam untain berikut:
Anak ini meninggalkan shalat karena mencari anjing-anjing
Mengincar kejelekan bersama anak-anak nakal
Sungguh dia akan menemuimu besok membawa secarik lembaran
Dituliskan untuknya seperti lembaran pemohon (minta dieksekusi)
Jika dia datang kepadamu, maka obatilah dengan celaan
Atau nasehati dengan nasehat orang bijak lagi cerdik
Jika ingin memukulnya, maka pukullah dengan alat
Jika pukulan telah sampai tiga kali, maka hentikanlah
Ketahuilah bahwa anda tidak akan mendapatkan sepertinya
Apapun yang diperbuatnya, ia adalah jiwa yang paling berharga bagiku
Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.
Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yang hingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefiqihannya terhadap syariat Allah.
Berpetunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah.
Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat.
Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih aql-Qadhli.
Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluh tahun, tidak pernah berbuat dzalim terhadap siapapun, tidak pernah melenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara raja dan masyarakat biasa.
Al-Hasan Al-Bashri
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMA"Bagaimana mungkin suatu kaum bisa tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!" (Maslamah bin Abdul Malik)
Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya "Khairah" telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu'minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, "Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?"
Khairah menjawab, "Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai."
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, "Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah 'al-Hasan.'"
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan.
Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena "Yasar" ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.
Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.
Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.
Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.
Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu'minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu'minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.
Saking cintanya Ummul mu'minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan diam karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu'minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.
Hubungan Ummahat mu'minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.
Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.
Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu'minin dengan kedua tangannya sambil melompat.
Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu'minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.
Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu'minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.
Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.
Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.
Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang 'Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.
Sehingga dia menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.
Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal.
Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.
Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, "Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain."
Maka aku berkata, "Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya."
Maka dia berkata, "Coba ceritakanlah apa yang anda miliki."
Lalu aku berkata,
"Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma'ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki."
Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!"
Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.
Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo'akan keberkahan untuknya.
Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir'aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir'aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu.
Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya."
Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa'id! cukup.!"
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, "Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!"
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti."
Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.
Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh 'izzah seorang mu'min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da'i yang menyeru kepada Allah."
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, "Kemari wahai Abu Sa'id! Kemarilah!", Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!." Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.
Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, "Engkau adalah tuannya para ulama' wahai Abu Sa'id.!"
Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?"
Maka al-Hasan menjawab, "Aku telah membaca (artinya) 'Wahai Pembelaku ni'matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.'"
Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.
Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya.
Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.
Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.
Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya'bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya.
Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?"
Maka asy-Sya'bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur.
Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa'id?"
Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta'ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.
Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."
Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya'bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.
Maka asy-Sya'bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
"Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."
Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.
Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.
Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.
Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya,
"Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
"Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'"
Pada hari Jum'at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya.
Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum'at di masjid Jami' yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang 'alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami' Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.
Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.
Abdullah Bin Al-Mubarak
Labels: Mengenal Generasi Tabi'in | author: RISMAAbu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema "Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini."
Pertaubatan Abdullah bin Mubarak
Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan Shubuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat 'Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. "Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!". Katanya kepada dirinya sendiri. "Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah."
Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.
Setelah bertaubat itu Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad ia pergi ke Mekkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Pada masa itu sebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh. Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai toko yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.
Di kota ini ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.
Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: "Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya". Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.
Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. "Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!" "Abdullah berhentilah!", orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. " Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!", ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.