Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Tenggelam dalam Lautan Cinta

|

Penulis : Ferry Hadary


Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam bukunya "Rijalun min Al-Tarikh" mengajak pembacanya untuk merenungi sejenak tentang kisah seorang pemuda kaya-raya yang karena tenggelam dalam lautan cinta, akhirnya justru menjadi sengsara.

Pemuda sukses yang saudagar itu pada mulanya seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk berdagang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan mimpinya sendiri hanyalah soal dagang. Di luar dunia dagang, ia nyaris tidak memperhatikannya. Orangtuanya mulai gundah, sebab sang putera sudah cukup umur untuk menikah, sementara ketertarikannya kepada wanita nyaris tidak ada. Berkali-kali ditawari menikah, ia menolaknya.

Kedua orangtua pemuda itu tak putus asa. Hampir setiap hari keduanya mendatangkan wanita-wanita cantik nan terhormat di rumahnya, dengan harapan agar anaknya tertarik dan memilih salah satunya untuk dijadikan istri. Bujuk rayu orangtuanya tidak berhasil mencuri perhatian sang putera. Tak satu pun wanita-wanita cantik itu yang menarik perhatiannya.

Namun yang mengejutkan, tiba-tiba pada suatu hari, sang pemuda pergi ke pasar budak. Di pasar itu, ia menjumpai seorang budak wanita, lalu ia jatuh cinta kepada budak wanita tersebut. Setelah dibelinya, budak itu lalu dibawanya pulang dan diperistrinya.

Sejak saat itu, berubahlah seluruh dimensi kehidupannya. Sang pemuda yang biasanya setiap pagi sudah pergi ke pasar dan baru larut malam ia kembali pulang, kini tidak seperti itu lagi. Ia tidak lagi mau pergi ke pasar, mengurus perdagangan dan meraup keuntungan. Ia kini hanya menyibukkan diri untuk mencintai sang isteri. Siang malam ia hanya bercumbu dengan isterinya, sampai akhirnya ia lupa segala-galanya.

Kejadian ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari dan pekan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun terus bergerak, tapi pola kehidupan pasangan itu tidak berubah. Hingga sampai pada saatnya seluruh kekayaannya habis, bahkan perabot rumah tangga pun sudah mulai digadai.

Ketika orang-orang sekitarnya mengingatkan agar ia kembali berdagang, ia berkomentar sederhana, "Tujuan dagang itu untuk apa? Mengejar keuntungan. Lalu jika keuntungan itu sudah diperoleh, digunakan untuk apa? Untuk memperoleh ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Ketahuilah, ketiganya kini telah kudapatkan pada isteriku, lalu untuk apa aku berdagang lagi?"

Sampai akhirnya ketika sudah tidak ada lagi miliknya yang bisa dijual, kecuali rumahnya yang tinggal tiang, dinding, dan atapnya saja, ia mulai menyadari. Kesadaran yang terlambat itupun datangnya bersamaan dengan saat-saat kritis menjelang kelahiran bayi pertamanya. Ketika sang istri akan melakukan persalinan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi, hanya ke dukun bayi sekalipun ia tak mampu membayarnya.

Saat itulah sang isteri meminta dengan iba agar suaminya pergi mencari minyak dan peralatan persalinan. Atas permintaan itu, sang suami ke luar rumah, tapi sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang dikenali.

Demi keselamatan sang isteri dan bayi yang akan lahir, ia terus berjalan, namun ia sudah lupa bagaimana cara mendapatkan setetes minyak dan peralatan persalinan lainnya. Lelaki itu hampir saja putus asa. Sekiranya ia tak segera sadar bahwa agama melarangnya untuk bunuh diri, tentu ia sudah mencebur ke sungai atau melemparkan badannya di tengah jalan ramai.

Lelaki itu terus berjalan dan semakin menjauhi rumah dan tempat sang isteri akan melakukan persalinan. Meskipun demikian, bayangan isterinya yang menangis dengan mengiba-iba agar sang suami pergi mencari minyak dan peralatan persalinan tak bisa hilang dari pikiran dan perasaannya. Justru bayangan itu mendorongnya untuk semakin jauh berjalan menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.

***

Cinta itu memang indah, ibarat taman yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Ada orang yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, menghirup udara segarnya, dan kemudian pulang untuk suatu saat kembali lagi. Akan tetapi ada juga orang yang sekali datang ke tempat itu, menikmati keindahannya, kemudian tak mau pergi lagi. Ia ingin menguasai taman itu, sekalipun banyak orang yang juga ingin menikmatinya.

Cinta itu kadang berubah menjadi semacam alkohol yang memabukkan. Sekali mencoba, ingin terus mengulangi, hingga sampai pada titik tertentu ia kemudian mencandu. Jika sudah pada tingkatan ini, maka dari hari ke hari, kadar alkoholnya semakin dinaikkan, dosisnya semakin tinggi, sampai pada saatnya orang tersebut sakit dan mati justru oleh sesuatu "yang dicintai".

Jika cinta kepada manusia bisa seperti itu akibatnya, bagaimana dengan cinta kepada Allah? Dalam kaitan ini, banyak kaum sufi berpendapat bahwa cinta itu bahasa universal, berlaku pada siapa saja dan untuk apa saja. Berlaku universal untuk semua subyek dan obyek.

Cinta kepada Allah yang dilakukan dengan cara yang salah, bisa juga menyengsarakan, bahkan mematikan, sebagaimana kisah di atas. Untuk itu, para sufi berpesan, terutama kepada para pemula agar lebih hati-hati. Jika cinta kepada Ilahi itu diibaratkan samudera, maka orang yang selamat adalah mereka yang berenang. Adapun orang yang tenggelam dalam "lautan cinta" itu, justru tak akan pernah sampai ke tepi.

Apa bedanya orang yang berenang di lautan cinta Ilahi dengan mereka yang tenggelam di dalamnya? Orang yang berenang sadar bahwa ia sedang menuju kepada Allah. Ia menikmati segala karunia yang disediakan Allah sambil terus berenang agar bisa sampai ke tujuan (Allah SWT). Adapun orang-orang yang tenggelam itu merasa dirinya sudah sampai kepada Allah. Ia tidak perlu lagi berenang, sebab tujuannya telah sampai. Ia tidak perlu lagi bersusah payah, karenanya ia menenggelamkan diri.

Kini, apakah kita termasuk kelompok perenang atau orang yang tenggelam?

Referensi : Tulisan Abu Zifora - Suara Hidayatullah 01/XVI/2003.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/05/26/tenggelam-dalam-lautan-cinta

Cinta yang Maha Mencintai

|

Penulis : Ilham Muhammad


Suatu hari, seorang laki-laki bertanya kepada temannya. Ia bertanya tentang satu hal yan telah menjadikan setiap detik dalam hidup ini begitu berharga. Ya, laki-laki itu bertanya tentang hakikat cinta yang sebenarnya. Dan, temannya itu pun menjawab,

"Cinta itu bukan sebuah kata biasa, ia tidak dapat terdefinisikan oleh kata yang lain. Namun, yang aku tahu, cinta itu adalah sebuah dorongan memberi yang sangat kuat tanpa sedikit pun rasa pamrih. Cinta tak dapat dilukiskan dengan kata, tapi kamu bisa merasakan keberadaannya.

Cinta itu ibarat sungai yang bermuara dari sebuah mata air, lalu ia mengalir dari hulu ke muara. Ia mengairi sawah-sawah petani, alirannya menjadi tenaga penggerak generator untuk menghasilkan listrik. Hingga akhirnya ia turun dan mengembara di samudera yang luas. Begitulah cinta, memberikan manfaat. Namun jika ia berlebihan, layaknya air yang membanjiri seisi kota dan menenggelamkan manusia ke dalamnya. Ia bisa sangat berbahaya.

Cinta itu seperti udara, kamu tak bisa hidup tanpanya. Ia tidak terlihat, tapi kamu bisa merasakan kehadirannya. Begitu bermakna ia di dalam setiap detik dalam hidupmu.

Cinta itu seperti langit, luas dan indah, dengan bintang-bintang, bulan, matahari, dan semua benda yang menghiasinya. Ketika kau memperhatikannya, maka kedamaian dan ketenangan akan menghampirimu. Kau tak bisa menyentuhnya, tapi kau akan merasa hatimu tersentuh dengan melihatnya dan seketika sadar betapa kecilnya engkau.

Cinta itu seperti matahari, sinarnya menyinari bumi. Hangatnyalah yang membuat manusia bisa tumbuh berkembang, tumbuhan bisa berfotosintesis. Cahayanya yang terang menjadi pelita bagi kehidupan di bumi.

Namun, tidaklah sempurna cinta seseorang, jika cintanya itu bukan berasal dari Yang Maha Mencintai. Perasaan cinta yang lahir sebagai bentuk interpretasi dari cinta yang diberikan oleh Yang Maha Mencintai, itulah cinta yang hakiki. Sebuah bentuk cinta yang di dalamnya akan memunculkan kasih dan sayang, karena ia memang berasal dari Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itulah cinta yang diberkahi. Itulah cinta para penghuni surga.

Akan tetapi, sangatlah hina perasaan cinta yang dimiliki seseorang jika cintanya itu hanya merupakan gumpalan hawa nafsu yang ia balut dengan kain ketulusan cinta. Sungguh merugi orang yang seperti itu. Cinta yang ia rasakan bukannya mendekatkan ia dengan Yang Mahadekat, namun malah mendekatkan ia dengan azab yang dekat. Dan itulah seburuk-buruk cinta. Cinta seorang penghuni neraka.

Tidak jarang seseorang mengatakan kepada orang yang ia cintai, bahwa ia tulus mencintainya. Namun apa artinya sebuah cinta yang tulus, jika semua itu hanya omong kosong belaka? Apa arti cinta yang tulus, jika itu tidak membawamu ke surga?

Sadarlah!!! Sesungguhnya saat ini sedang menanti suatu Dzat yang Maha Pencemburu dan Maha Menyayangi, yang dengan sabar menanti sebuah kata cinta yang engkau panjatkan di selepas kegiatanmu. Sesungguhnya saat ini Ia menunggumu. Menunggu ucapan syukur darimu atas kehidupan yang Ia beri untukmu. Sebenarnya Ia tak rela jika engkau mencintai selain dariNya. Karena memang, Dia-lah yang telah menciptakan bumi dan langit serta apa yang ada di antara keduanya dengan cinta.

Maka, cintailah Ia, kemudian Ia akan memasukkanmu ke dalam surganya di akhirat nanti. Dan memberikanmu suatu tempat yang mulia di sisiNya, serta kenikmatan yang matamu tak pernah melihatnya, telingamu tak pernah mendengarnya, dan tak akan pernah terbayangkan olehmu wujudnya.

Sekarang, akan ke manakah pilihan cinta itu akan jatuh? Apakah ke dalam cinta yang hakiki atau cinta yang membuat kita jatuh ke dalam api? Semua itu ditentukan oleh hatimu sendiri."

Dan, laki-laki itu pun mengangguk sebagai tanda memahami apa yang didengarkannya.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/05/19/cinta-yang-maha-mencintai

Sabar Ketika Disakiti

|

Penulis : Eko Prasetyo


Sebaik-baik teladan adalah Rasulullah SAW. Karena itu, dalam setiap shalat, kaum muslimin selalu mengucapkan shalawat kepada Rasulullah. Kepribadian Nabi Muhammad SAW yang jujur dan lembut membuat beliau digelari Al-Amin atau yang dapat dipercaya. Terlahir sebagai yatim piatu, Rasulullah dikenal sebagai sosok yang mulia serta sangat menyayangi kaum dhuafa dan anak-anak yatim piatu. Sikapnya yang santun dan bijaksana membuat beliau sangat disegani oleh kaumnya, sebelum akhirnya wahyu Allah datang kepada beliau. Yakni, perintah membawa risalah Islam kepada seluruh manusia.

Tak ada yang tak indah pada kepribadian kekasih Allah tersebut. Sebuah sikap Rasulullah SAW yang amat mengagumkan adalah kesabaran. Perbuatan itu memang selalu beliau anjurkan, baik kepada kaumnya yang terdahulu maupun kita, pengikutnya sebagai umat akhir zaman. Pada awal-awal masa dakwah kenabiannya, sungguh berat penderitaan yang diterima beliau. Caci maki dan siksaan dari kaum kafir Quraisy menjadi hal sehari-hari yang beliau terima. Malah, sepeninggal paman beliau, Abu Thalib, siksaan kaum Quraisy semakin menjadi-jadi. Adalah kesabaran yang luar biasa beliau tunjukkan menghadapi masa-masa berat itu.

Satu hikmah lewat kisah mengharukan saat beliau memasuki Kota Thaif untuk berdakwah kiranya dapat kita ambil sebagai teladan dari kesabaran Rasulullah SAW. Di kota tersebut, siksaan yang Rasulullah terima sangat hebat. Sepanjang jalan, Rasulullah dilempari kotoran. Tidak hanya itu, tubuhnya pun dilempari batu hingga wajah beliau berdarah-darah. Namun, tindakan biadab tersebut tidak menjadikan Rasulullah kendur dalam mendakwahkan Islam. Bahkan, Malaikat Jibril pun menawari Rasulullah SAW untuk membalas perlakuan kaum kafir yang sudah di luar batas kemanusiaan itu.

Namun apa jawab Nabi? "Mereka (kaum kafir itu) berbuat demikian karena mereka tidak tahu," kata baginda Rasulullah. Beliau bahkan mendo'akan kaum kafir tersebut agar diberi hidayah oleh Allah SWT. Sungguh indah tindakan Nabi. Dalam diri beliau begitu tertanam cinta kasih yang luar biasa. Keburukan dibalas dengan kebaikan. Perlakuan tidak menyenangkan dibalas dengan mendo'akan untuk kebaikan. Penganiayaan yang beliau terima tidak dibalas dengan emosi.

Ketika Islam sudah bergema di seluruh penjuru jazirah Arab, sikap hidup Rasulullah tidak berubah, yakni sabar dan sederhana. Itu beliau tunjukkan saat hendak mengikuti salah satu shalat Subuh berjama'ah bersama para sahabat. Perut beliau yang kurus dibebati kain yang berisi batu untuk menahan lapar. Salah seorang sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shidiq RA, yang mengetahui hal itu menangis melihat keadaan Rasulullah. Padahal, jika Rasulullah mau, harta, kekayaan, dan makanan lezat siap tersaji. Tapi, tidak. Rasulullah tidak melakukannya. Pribadi yang mulia dan arif menjadikan Rasulullah menjadi contoh bagi seluruh manusia. Bahkan, Siti Aisyah RA menyebut suaminya tersebut sebagai Al-Qur'an yang berjalan. Benar! Sikap dan perbuatan Nabi Muhammad SAW merupakan amalan yang menjadikannya teladan sesuai petunjuk Al-Qur'an.

***

Terkadang, kita mudah berputus asa saat menerima cobaan dari Ar-Rahman. Berkeluh kesah dan kurang sabar dalam menghadapi persoalan hidup. Hidup pada zaman sekarang, di mana semua serba sulit serta kemiskinan yang meningkat, membuat emosi manusia sering tak terkendali. Tersinggung sedikit, darah bisa tertumpah. Kriminalitas yang timbul karena kesulitan ekonomi bahkan dapat mengakibatkan manusia gelap mata dan tak lagi mengindahkan hati nuraninya. Kesabaran pun sulit terjamah. Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan sikap sabar. Sabar menerima cobaan. Sabar ketika disakiti sekalipun.

Kesabaranlah yang menjadi kunci keberhasilan Rasulullah dalam mensyiarkan Islam hingga dikenal di seluruh penjuru dunia seperti sekarang ini. Sabar menerima cobaan dan hidup sederhana merupakan salah satu perbuatan yang beliau contohkan. Sabar memang harus diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan sehari-hari. Sebab, itulah yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Implementasi kesabaran yang diajarkan oleh Rasulullah adalah syukur nikmat. Yakni, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Ar-Rahman.

Jika kesabaran telah merangkup di kalbu, jika ibadah dilakukan semata karena Allah, maka tidak ada balasan yang setimpal kecuali pahala berlipat ganda telah menanti. Bukankah hidup itu bukan hanya urusan perut dan dunia semata? Kampung akhirat jauh lebih menjanjikan kebahagiaan dan inilah janji Allah kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Baginda Rasulullah pun telah mewariskan kepada umatNya, Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup, yang jika diimplementasikan, maka hidup manusia tidak akan tersesat. Kami merindukanmu, ya Rasulullah.

"Allahumma shali 'alaa Muhammad, wa 'ala alii Muhammad..."


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/05/12/sabar-ketika-disakiti

Tak Ada Alasan untuk Tidak Selalu Bersyukur

|

Penulis : Setta SS


Syahdan, seorang saudagar tua keluar dari rumahnya yang megah bak istana. Tampak seorang anak muda duduk murung di depan rumahnya. Sebentar-sebentar menghela nafas panjang. Si saudagar menghampiri dan bertanya, “Anak muda, kenapa mukamu begitu murung, apakah kamu sedang ditimpa kemalangan?”

Sambil menggelengkan kepala, dia menjawab, “Aku orang miskin, nasibku jelek, tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, dan sering kelaparan. Bagaimana aku tidak murung?”

“Haha, seharusnya kamu gembira karena sebenarnya kamu kaya raya.”

“Tolong, Pak Tua, jangan permainkan aku. Aku tidak sedang bergaurau,” kata si pemuda dengan kesal.

“Baiklah, aku ingin bertanya. Jika aku membayar 10 keping emas, maukah kamu menukarkan kesehatan badanmu, dan besok kamu menderita sakit?”

“Tidak mau!” jawab pemuda itu.

“Jika aku bayar lagi 20 keping emas, maukah kamu menukarkan keremajaanmu, dan besok kamu berubah menjadi kakek-kakek?”

“Tidak mau!”

“Aku tambahkan lagi 30 keping emas. Maukah kamu menukarkan kecakapanmu, dan besok kamu berubah bermuka jelek menyeramkan?”

“Tidak mau!”

“Sekarang, aku bayar 40 keping emas. Maukah kamu menukarkan kebijaksanaanmu, dan besok berubah menjadi orang bodoh dan idiot? Dan terakhir, aku tambah lagi 50 keping emas, maukah kamu menukarkan nuranimu, dan besok kamu boleh mulai menipu dan membunuh orang?”

“Tidak mau!”

“Nah, aku sudah menawarkan kepadamu total 150 keping emas. Tetapi, tidak bisa membeli apa pun dari dirimu. Berarti apa yang tidak mau kamu jual pasti tidak ternilai harganya. Sesungguhnya kekayaan yang melekat pada dirimu berharga jauh melebihi 150 keping emas. Itulah modalmu.

Maka, berusahalah. Dibandingkan dengan apa pun, dirimu dan kehidupan yang kamu miliki saat ini adalah jauh lebih berharga. Karena selama kamu masih mempunyai kehidupan, apa pun yang kamu inginkan, asalkan mau berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, suatu hari pasti akan menjadi lebih kaya dari hari ini.”

Mendengar kata-kata si kakek, si anak muda seketika tersadar. Dia pun segera bangkit berucap, “Kakek, terima kasih atas penawaran kebijakanmu. Berapa pun yang ditawarkan, aku tidak akan menukar dengan apa pun yang aku miliki. Aku sungguh malu dan menyesal telah menyia-nyiakan masa mudaku dengan selalu murung, menyesali nasib, dan malas berusaha.

Sekarang aku sadar, ternyata aku bukanlah orang miskin. Aku punya modal yang cukup. Aku berjanji mulai saat ini tidak akan mengeluh dan rajin berusaha untuk menambah kekayaaan yang telah aku miliki.”

Dan, pemuda itu pun bergegas pergi untuk memulai lembaran hidup barunya. (*)

***

Masihkah Anda merasa kurang beruntung hari ini dibandingkan orang lain?

Dua mata yang masih bisa melihat dengan normal, lidah yang tidak bisu, dua tangan dengan jari-jari utuh, telinga yang tidak tuli, dan dua kaki yang sempurna.

Apakah Anda harus berjalan ke sana ke mari dengan menggunakan kruk karena kaki Anda buntung satu? Apakah kulit tubuh Anda mengelupas mengerikan karena terserang penyakit lepra? Sudahkah Anda dengar atau baca berita hari ini tentang kematian si A, sementara Anda masih diberi kesempatan hidup olehNya?

Tahukah Anda ‘Atha’ bin Rabah, orang yang paling alim pada zamannya itu adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting? Ahnaf bin Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya, dan lemah postur tubuhnya? Atau Al-A’masy, ahli hadits kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya, mantan seorang budak yang fakir, compang-camping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya?

Acapkali kita memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal kita masih memegang kunci kebahagiaan yang sesungguhnya.

Maka, mari pikirkan dan renungkan kembali apa yang ada pada diri dan apa saja yang tersedia di sekeliling kita. Dan belajar untuk lebih mensyukurinya.



Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/05/05/tak-ada-alasan-untuk-tidak-selalu-bersyukur

Menasihati dengan Penuh Kasih Sayang

|

Penulis : Mumtahah Annisa


Diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsuary Rahimahullah bahwa Abu Dzar RA berdiri di sisi Ka'bah seraya berkata, "Wahai Manusia, saya adalah Jundab Al-Ghifary Sahabat Rasulullah SAW, kemarilah kalian untuk menemui saudara kalian yang menasehati dengan penuh kasih sayang."

Maka tatkala mereka berkumpul di sekelilingnya, Abu Dzar bertanya, "Bukankah kalian tahu bahwa jika salah satu di antara kalian ingin berpergian, maka dia akan mempersiapkan bekal yang layak baginya dan menyampaikannya ke tempat yang ia tuju?"

Mereka menjawab, "Benar, memang demikian seharusnya wahai Abu Dzar."

Abu Dzar pun berkata, "Jika demikian, ketahuilah bahwa perjalanan di hari kiamat lebih jauh dari apa yang kalian tuju di dunia ini, maka ambillah bekal yang dapat menyelamatkan kalian."

Mereka bertanya, "Apakah bekal yang layak kami persiapkan untuk perjalanan tersebut wahai sahabat Rasulullah SAW?"

Beliau menjawab, "Berhajilah kalian untuk menghadapi urusan yang agung, shaumlah kalian di hari yang panas untuk menghadapi lamanya berdiri di padang Mahsyar, dan shalatlah dua rakaat di kegelapan malam karena kubur itu menakutkan."

Mereka berkata, "Semoga Allah membalas kebaikanmu wahai Abu Dzar, tambahkanlah nasihat anda untuk kami."

Lalu beliau menambahkan, "Berkatalah dengan ucapan yang baik dan jangan tanggapi ucapan buruk untuk menghadapi saat sendiri di padang Mahsyar, bersedekalah dengan hartamu, agar kalian selamat dari kesusahan di hari itu."

Mereka berkata, "Alangkah bagusnya nasehat anda wahai sahabat Rasulullah, teruskanlah nasihat ini!"

Beliau melanjutkan, "Jadikan dunia untuk majelis dua hal, majelis untuk memburu akhirat dan majelis untuk mencari yang halal, selain itu akan mendatangkan kemadharatan dan tiada memberikan manfaat bagimu. Jadikan harta milikmu menjadi dua bagian. Bagian pertama sebagai nafkah yang halal bagi keluargamu dan bagian kedua untuk bekal akhiratmu, selain itu akan mendatangkan madharat bagimu dan tidak akan memberikan manfaat padamu. Wahai manusia, bisa jadi rasa tamak dapat membunuhmu sedangkan kamu tak mampu mencegahnya."
***

Sahabat yang agung ini telah menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya, mengutarakan dengan tegas kalimat yang benar di mana pun beliau berada. Dalam nasihatnya, beliau mengaitkan antara ibadah dengan akhlak. Beliau menyalurkan harta pada tempat yang tepat, ikut andil dalam memperbaiki masyarakat, memenuhi kebutuhannya, dan melarang kebakhilan, menumpuk harta, serta mengabdi kepada harta.

Sudah semestinya pendapatan itu berasal dari yang halal, kemudian digunakan untuk nafkah yang wajib atau sedekah jariyah demi terealisasinya takaful (bahu-membahu) dan keseimbangan dalam masyarakat muslim. Sedangkan selain harta yang demikian itu, maka akan mendatangkan madharat dan tiada manfaat, sebagaimana firman Allah SWT, "Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri dan Allah-lah yang Mahakaya, sedangkan kamulah orang yang berkehendak (kepadaNya)." (QS. Muhammad : 38).

Demikianlah nasehat dari saudara yang menasehati dengan penuh kasih sayang sebagaimana yang digambarkan Abu Dzar sendiri. Beliau menasihati mereka untuk berbekal taqwa dan amal shalih. Lalu beliau memberikan rincian bekal yang bermanfaat bagi mereka, yakni ibadah yang khusyu' dan tulus, menjauhi bencana lisan, mengarahkan semangat untuk mendapatkan yang halal, atau beramal untuk akhirat. Sungguh tidak ada lagi kejujuran, nasehat, dan kasih sayang yang lebih besar dari itu.

Referensi : Kitab Haakadza Tahaddatsas Salaf, Dr. Musthafa Abdul Wahid.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/04/28/menasihati-dengan-penuh-kasih-sayang

Berhenti Mencoba

|

Penulis : Erwin Arianto


Suatu saat, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin tersebut bisa kehilangan kepercayaan.

Sebuah kotak yang tidak terlalu besar diisi air. Kemudian, di tengah kotak tersebut diberi pembatas sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Sedangkan di sisi lainnya, dimasukan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar.

Melihat hadirnya ikan-ikan kecil yang biasa menjadi mangsanya itu, ikan besar langsung menjadi beringas. Dengan penuh semangat ia berenang ke arah ikan-ikan kecil berada. Apa yang terjadi? Kita semua sudah dapat menduganya. Setiap kali ikan besar berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.

Rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan, menyerahlah si ikan besar.

Percobaan dilanjutkan, kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah kotak air tersebut diambil. Sekarang apa yang yang terjadi?

Ajaib! Dengan leluasa ikan-ikan kecil dapat berenang, bahkan sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang ikan besar yang tetap diam dan tak bergerak sedikit pun. Bisa saja sebenarnya si Ikan besar melahap ikan-ikan kecil, tapi ia diam saja.

Ikan besar telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia mempunyai kesempatan.

Kisah ini ada persamaannya dengan kita saat menjalankan pekerjaan sehari-hari. Banyak orang yang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan tidak mungkin dapat teratasi.

Di sisi lain, dia juga tidak berbuat apapun untuk mengatasinya sehingga menghasilkan sikap peduli amat (i don't care), sama seperti ikan besar dalam cerita di atas yang akhirnya menyerah, pasrah.

Manusia pesimistis, seperti si ikan besar, sering membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Banyak hal sebenarnya yang dapat kita lakukan agar pekerjaan menjadi lebih menarik, menantang, dan memuaskan. Kita juga dapat menganalisa metode-metode atau teknik-teknik apa yang cocok untuk meningkatkan hasil kerja kita. Sejuta cara dapat kita coba dan lakukan terus untuk mencapai target kita. Jauh lebih memuaskan daripada sekedar mengkritik tanpa sedikit pun melakukan tindakan positif.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/04/21/berhenti-mencoba

Antara Mencari dan Kehilangan

|

Penulis : Ekky Hidayati


Suatu malam, Nasrudin Hoja kehilangan sebuah benda. Benda yang menurutnya sangat berharga itu tak lain adalah jarum tangan. Tanpa jarum tangan, Nasrudin tidak bisa melakukan pekerjaan favoritnya, menyulam. Hal itu membuatnya manyun sepanjang malam.

Pagi buta, dirinya memutuskan untuk mencari si jarum tangan. Dia mencari dengan penuh harap di depan pekarangan rumah mungilnya. Menjelang siang, jarum itu belum juga ditemukan. Sampai akhirnya, seorang tetangga bersimpati kepadanya. Tetangga yang baik hati itu menghampiri Nasrudin dan bertanya, "Nasrudin, apa yang sedang kau cari?" Nasrudin menjawab, "Aku sedang mencari jarum tanganku, jarum satu-satunya yang aku punya itu hilang, dan sampai sekarang aku belum bisa menemukannya." Mendengar jawaban Nasrudin, sang tetangga menjadi iba, "Baiklah, aku akan membantumu mencari jarum tangan itu," katanya.

Akhirnya, mereka berdua mencari si jarum. Tetapi hingga menjelang sore, benda mungil itu belum juga ditemukan. Dengan peluh di sekujur ubun-ubun, sang tetangga bertanya kepada Nasrudin, "Sebenarnya di mana kau kehilangan jarummu itu? Sudah seharian kita mencari, tapi belum juga menemukannya." Tanpa berdosa, Nasrudin menjawab, "Aku kehilangan jarumku di dalam rumah." Dengan muka memerah, sang tetangga menimpali, "Lalu kita mencarinya di pekarangan?" Nasrudin menyahut dengan polosnya, "Ya, karena di dalam rumah gelap, jadi aku mencarinya di luar."

Itulah Nasrudin, dia kehilangan sesuatu di dalam rumah, namun malah mencarinya di pekarangan. Konyol bukan? Bisa jadi, kita juga pernah bahkan sedang melakukan kekonyolan yang sama dengan Nasrusin. Kita sering kehilangan sesuatu dari dalam diri kita sendiri, namun justru mencari "ganti" dari luar. Kehilangan motivasi, percaya diri, dan kebahagiaan dari dalam diri sendiri, tetapi justru meminta lingkungan "menyelamatkan" kita.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/04/07/antara-mencari-dan-kehilangan

Ikhlas dan Kemenangan

|

Penulis : Muhammad Rizqon


Di sebuah mejelis bernama Darun Nadwah, para pemimpin Quraisy berkumpul guna menentukan sikap terhadap Rasulullah SAW.

“Sudah berkali-kali kita membicarakan kepergian Muhammad dan pengikutnya ke Yatsrib, tetapi sampai saat ini tidak ada satu pun tindakan yang bisa kita lakukan!” ujar seseorang.

“Betul, padahal persoalan ini begitu gawat buat kita. Sadarilah oleh kalian, jika Muhammad dan pengikutnya berkumpul di Yatsrib, suatu saat bisa saja mereka datang ke sini dan menyerang kita!”

“Dan kafilah-kafilah dagang kita harus melalui daerah penggiran Yatsrib untuk bisa sampai ke Syam! Apa jadinya jika perdagangan kita mereka tutup? Kita akan kelaparan dan menderita! Persis seperti kita mengurung Muhammad dan keluarganya selama beberapa tahun di Syi’ib Abu Thalib!” jerit yang lain.

Mereka terpaku ngeri membayangkan kemungkinan itu. Sejenak tidak seorang pun tahu harus berkata apa. Sampai akhirnya, seseorang memecahkan keheningan, “Kita harus bertindak! Kemukakan usul kalian tentang apa yang harus kita lakukan!”

“Masukkan dia dalam kurungan besi dan tutup pintunya rapat-rapat, kemudian kita awasi biar dia mengalami nasib seperti penyair-penyair semacamnya sebelum dia!”

Namun pendapat ini tidak mendapat dukungan yang lain.

“Kita usir dia! Buang saja dia ke luar Mekah!”
“Namun, nanti dia bisa bergabung dengan pengikutnya di Yatsrib!”

Akhirnya, mereka menyetujui usul Abu Jahal yang sangat kejam, “Kita ambil seorang anak muda yang tangguh dan terpandang dari setiap suku. Kemudian, suruh mereka menusuk Muhammad bersama-sama dengan pedang yang telah diasah setajam mungkin. Bani Abdi Manaf dan Bani Hasyim tidak akan bisa membalas kematian Muhammad karena seluruh suku di sini terlibat dalam pembunuhan itu! Paling-paling kita hanya harus membayar ganti rugi yang bisa kita tanggung bersama-sama!”

Pada hari dilaksanakannya rapat untuk membunuh Nabi SAW, Jibril AS turun dan menyampaikan firman Allah yang membongkar rencana Quraisy tersebut. Setelah itu, Jibril berkata, “Ya Rasulullah! Janganlah Anda tidur malam ini di atas tempat tidur yang biasa, sesungguhnya Allah menyuruh Anda agar berangkat hijrah ke Madinah.”

Jibril juga menyampaikan bahwa kawan hijrah Rasulullah adalah Abu Bakar. Setelah mendengar perintah tersebut, tanpa membuang waktu lagi, Rasulullah SAW pergi ke rumah Abu Bakar. Saat itu sedang tengah hari. Panas matahari terasa membakar kepala. Begitu tiba di depan rumah Abu Bakar, beliau segera memanggil-manggil sahabatnya itu.

Abu Bakar terkejut. Tegesa-gesa Abu Bakar menyambut Rasulullah dan menyilahkan beliau masuk. Rasulullah SAW duduk dan berkata, “Allah telah mengizinkan aku keluar dan hijrah.”

Dengan hati berdebar penuh harap, Abu Bakar bertanya, “Berkawan dengan saya, ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW tersenyum, “Ya, dengan izin Allah.”

Saat itu juga, Abu Bakar menangis karena begitu bahagia. Sudah berbulan-bulan lamanya ia berharap agar Allah memberinya kehormatan untuk menemani hijrah Rasulullah. Dan saat ini, impiannya itu menjadi kenyataan.

Abu Bakar bangkit dan menunjukkan dua ekor unta yang sangat bagus, “Ya Rasulullah, ambillah satu dari kedua ekor unta ini untuk menjadi kendaraan Tuan.”

Rasulullah kemudian memilih seekor unta dan beliau namakan Al-Qushwa. Abu Bakar segera berkemas-kemas. Beliau memerintahkan kedua putrinya, yaitu Aisyah dan Asma, untuk membantu menyiapkan bekal.

Rasulullah cepat-cepat kembali ke rumah dan memanggil Ali bin Abi Thalib. Beliau berpesan agar Ali mengembalikan semua barang yang tadinya dititipkan orang-orang kepada Rasulullah SAW.

Abu Bakar berpesan kepada putranya, Abdullah, agar setiap hari mendengarkan rencana-rencana Quraisy saat mereka tahu Nabi SAW telah berangkat hijrah, “Abdullah, setiap petang datanglah ke Gua Tsur tempat Rasulullah dan aku bersembunyi. Ajaklah adikmu, Asma. Suruh ia membawa makanan untuk kami.”

Abu Bakar juga menugasi pembantunya, Amir bin Fuhaira, agar menggembalakan kambing-kambingnya di dekat Gua Tsur selama Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di situ. Amir bertugas memerah susu kambing untuk minum Rasulullah dan Abu Bakar, sekaligus memberi peringatan jika orang-orang Quraisy itu mendekat.

Malam pun tiba. Nabi SAW telah bersiap-siap. Beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di atas tempat tidur beliau dan menggunakan selimut yang biasa beliau kenakan. Kemudian, datanglah para pembunuh ke rumah Nabi. Mereka adalah para pemuda kekar yang berasal dari berbagai kabilah.

Pembunuh-pembunuh itu bersenjata lengkap dan mengepung rumah Rasulullah dari segala penjuru; depan, belakang, dan samping. Disertai para ketua kabilah, jumlah semuanya hampir seratus orang. Tampaknya tak ada celah sedikit pun untuk meloloskan diri.

Menurut sebuah riwayat, salah seorang dari mereka mengintai ke dalam rumah Nabi SAW dengan cara memanjat. Para pembunuh terus berusaha mengintai untuk memastikan apakah Nabi SAW masih berada di dalam rumah atau tidak. Ketika melihat Ali bin Thalib yang tidur dengan selimut, mereka menyangka itu adalah Nabi. Dengan demikian, tenanglah mereka.

Bagaimana cara Rasulullah SAW meloloskan diri dari kepungan yang sangat rapat itu? Ketika saatnya tiba, Rasulullah SAW keluar rumah dengan sangat perlahan. Beliau mengambil segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala para pengepung sambil membaca do'a. Dengan pertolongan Allah, para pengepung itu tidak dapat melihat Nabi SAW keluar rumah. Bahkan semuanya jadi mengantuk dan tertidur. Nabi pun pergi.

Tidak lama kemudian, Abu Bakar datang. Setelah tahu apa yang terjadi, Abu Bakar segera menyusul Nabi dan berhasil menemui beliau di tengah perjalanan menuju Gua Tsur.

Pagi hampir tiba ketika tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua yang tidak seorang pun pernah melihatnya. Orang itu berseru nyaring untuk membangunkan para pengepung, “Hai orang banyak! Kamu semua di sini sedang menunggu apa? Mengapa kalian tertidur demikian pulas?”

“Kami sedang menunggu Muhammad! Bukankah ia masih tidur di dalam?”

Orang tua itu menggeleng-geleng, “Kasihan, kasihan, kasihan sekali kalian! Muhammad sudah pergi dari tadi setelah menaburkan pasir di kepala kalian!”

Para pemuda gagah itu bangkit sambil membersihkan pasir di kepala mereka, “Aduh, pasir di kepala kita! Sungguh keterlaluan! Keterlaluan!”

Salah seorang dengan gemas menggedor-gedor pintu rumah Nabi SAW, “Muhammad! Muhammad! Muhammad!" Kemudian mereka menyerbu masuk dengan pedang terhunus. Hanya dalam waktu beberapa detik, mereka mengelilingi tempat tidur Nabi. Dengan kasar, selimut ditarik dan pedang-pedang terangkat siap untuk dihujamkan. Namun, Ali bin Abi Thalib yang tidur di tempat Nabi itu segera melompat bangun dan siap menghadapi maut.

Wajah para pemuda itu membeku pucat melihat bukan Nabi yang barusan berbaring.

“Mana Muhammad?” hardik mereka kasar.
“Aku tidak tahu!” jawab Ali bin Abi Thalib.

Para pemuda itu kemudian menggiring Ali bin Abi Thalib ke dekat Ka’bah. Di sana mereka memukuli, menendang, dan menampar wajah beliau. Namun, Ali lebih baik mati daripada mengatakan di mana Nabi berada. Dengan putus asa, mereka pun melepaskan Ali bin Abi Thalib yang telah bertahan demikian berani.

Saat itu, Rasulullah SAW dan Abu Bakar tiba di Gua Tsur. Abu Bakar meminta Rasulullah menunggu sebentar di luar. Abu Bakar tahu Gua Tsur banyak dihuni binatang-binatang liar, buas, dan berbisa seperti ular dan kalajengking. Tidak seorang pun berani masuk ke dalamnya.

Abu Bakar masuk dan membersihkan gua tanpa menghiraukan bahaya yang mengancam. Ia merobek pakaiannya secarik demi secarik untuk menyumpal semua lubang yang terlihat. Setelah itu, dengan pakaian terkoyak-koyak, ia menyingkirkan batu-batu. Mendadak seekor ular yang bersembunyi di balik bebatuan itu menggigit kakinya dengan keras. Sakit bekas gigitan itu seperti hendak meledakkan kepala.

Namun Abu Bakar menahan rasa sakit itu dan terus bekerja tanpa bersuara. Setelah selesai, Rasulullah SAW pun masuk. Demikan lelahnya beliau hingga tertidur dengan meletakkan kepala di pangkuan Abu Bakar. Saat itu, rasa sakit bekas gigitan ular semakin terasa menyengat sampai-sampai air mata Abu Bakar menetes-netes. Setitik air mata itu menetes ke muka Nabi. Beliau bangun dengan terkejut.

“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?”
“Saya digigit ular, ya Rasulullah.”
“Oh, mengapa tidak engkau katakan dari tadi?”
“Saya takut membangunkan engkau.”

Rasulullah memeriksa luka Abu Bakar dan mengusapnya. Seketika itu juga, bengkak dan rasa sakitnya lenyap. Kemudian Rasulullah bertanya, “Ke mana pakaianmu?”

Abu Bakar menceritakan semua yang terjadi. Rasulullah SAW terharu. Beliau pun berdo'a, “Ya Allah, jadikan Abu Bakar kelak di Hari Kiamat pada derajatku!”

Di Mekah, musyrikin Quraisy tampak panik. Para pembesar berkumpul sepagi mungkin. Dengan segera, pasukan berkuda disebar ke beberapa perkampungan seputar Mekah untuk mencari Nabi SAW.

“Mengapa Muhammad bisa lolos? Bukankah kita telah mengepungnya begitu rapat sampai tak seekor ular gurun pun dapat lolos?” jerit seorang pembesar.

Semua orang terdiam. Mereka berusaha mencari jawabannya. Namun, tak seorang pun bisa menjelaskan apa yang terjadi.

“Sudahlah, itu tidak penting!” akhirnya seseorang berseru. “Sekarang yang paling mendesak adalah menemukan Muhammad secepat mungkin! Ada yang punya usul?”

“Panggil pencari jejak yang paling ahli! Suruh dia melacak jejak Muhammad!”

Usul itu segera dijalankan. Pencari jejak yang amat ahli itu mengikuti jejak yang ditinggalkan Rasulullah SAW. Pasukan bersenjata lengkap mengikuti di belakangnya dengan wajah tak sabar. Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang semalam ditugaskan menyergap Rasulullah.

Setelah bekerja dengan teliti, pencari jejak itu menarik napas sambil menggeleng, “Jejaknya sudah terhapus oleh orang yang lalu lalang tadi pagi!”
“Gawat!” gemas seseorang.
“Apa kau punya usul lain, pencari jejak?”
“Siapa sahabatnya? Kita bisa bertanya kepada sahabat Muhammad yang paling dekat!”

Orang Quraisy saling pandang dan serempak bergumam, “Abu Bakar!”

Dipimpin Abu Jahal, pasukan pencari itu tiba di rumah Abu Bakar. Asma binti Abu Bakar-lah yang keluar membukakan pintu.
“Di mana ayahmu?” bentak Abu Jahal.
“Dia pergi dan saya tidak tahu ke mana perginya,” jawab Asma dengan berani.
“Jangan berdusta, katakan ke mana perginya?”
“Saya tidak tahu! Di rumah hanya ada ibu dan saudari saya.”
“Ah, terlalu!” sambil bersungut begitu, Abu Jahal menampar wajah Asma keras-keras.

Ketika mereka keluar kota dan menjajaki beberapa jalan, sang pencari jejak menemukan jejak mencurigakan. Kemudian, satu kelompok pasukan berkuda mengikuti jejak itu sampai tiba di kaki Gunung Tsur. Namun, di situ jejak terputus. Mereka kebingungan.

“Ke mana arah kita? Ke kanan atau ke kiri?” tanya komandan pasukan. “Apakah Muhammad masuk ke dalam gua itu terus mendaki ke puncak?”

“Aku tidak tahu,” geleng si Pencari Jejak. Namun lewatlah seorang gembala dan mereka menanyainya. “Mungkin saja mereka masuk ke dalam gua itu,” jawab sang gembala. “Tapi aku tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”

Di dalam gua, keringat dingin Abu Bakar mengalir mendengarnya, “Bagaimana kalau mereka sampai masuk ke sini? Bukan keselamatanku yang kukhawatirkan, melainkan keselamatan Rasulullah!” kata Abu Bakar dalam hati.

Beberapa pemuda naik dan melongok-longok ke mulut gua. Jantung Abu Bakar hampir lepas. Ia berbisik, “Ya Rasulullah, kalau ada yang menengok ke bawah, pasti kita akan terlihat.”

Nabi menjawab mantap, “Jangan takut Abu Bakar, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Para pemuda itu turun, kembali ke pasukannya.
“Mengapa kalian tidak masuk ke dalam gua?” tanya komandan mereka dingin.
“Gua itu tertutup sarang laba-laba! Tidak mungkin Muhammad masuk ke dalam tanpa merusaknya!”
“Lagi pula ada dua ekor burung merpati hutan bersarang tepat di mulut gua!” lapor yang lain. “Jika Muhammad masuk ke dalam, sarang itu juga pasti akan rusak.”

Komandan pasukan mengalihkan mukanya ke arah lain sambil menghela napas, “Baiklah, naik kudamu! Kita cari ke arah lain!”

Pasukan pun menjauh. Sarang laba-laba dan burung merpati yang menutupi gua adalah pertolongan yang diberikan Allah SWT. Padahal, sebelum Nabi SAW dan Abu Bakar masuk, tak ada laba-laba dan burung merpati yang bersarang.

Tiga hari tiga malam lamanya Rasulullah SAW dan Abu Bakar tinggal di Gua Tsur. Selama tiga hari itu pula, musyrikin Quraisy kelabakan. Abdullah bin Abu Bakar menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap hari ia memata-matai pembicaraan orang Quraisy dan menyampaikannya ke Gua Tsur ketika petang tiba. Asma bin Abu Bakar setiap sore selalu mengantarkan makanan bersama Abdullah. Sedangkan Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing di luar Gua Tsur selalu memerah susu kambing agar Rasulullah SAW dan Abu Bakar tidak kehausan sekaligus memberi tahu jika ada orang mendekat.

***

Banyak ibrah yang bisa dipetik dari sepenggal episode perjuangan Nabi SAW tersebut, baik bagi individu maupun organisasi dakwah. Kata-kata kunci yang bisa kita petik adalah bahwa kemenangan itu adalah semata-mata karena pertolongan Allah. Namun demikian, berikhtiar dan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi rintangan adalah kewajiban yang harus ditunaikan secara maksimal.

Betapa banyak orang yang mengharapkan pertolongan Allah namun tidak melakukan ikhtiar yang maksimal dan betapa banyak orang yang keras dalam berikhtiar tetapi tidak menggantungkan hasil akhirnya pada Allah SWT. Dalam kisah tersebut, Ikhtiar yang optimal tercermin antara lain dari tindakan berani Ali bin Abi Thalib yang tidur di tempat tidur Rasulullah, tindakan Rasulullah yang keluar di waktu siang yang panas terik ke rumah Abu Bakar, keluarnya Rasulullah SAW dari rumah Abu Bakar melalui celah dinding, dan pembagian tugas yang rapi di antara kader-kader pendukung dakwah Muhammad SAW.

Bagaimana kita mengetahui bahwa upaya yang kita lakukan itu adalah sudah maksimal? Sebab seringkali seseorang beranggapan bahwa upaya yang dilakukannya adalah sudah maksimal, sementara menurut pendapat orang lain tidaklah demikian.

Antara pertolongan Allah dan upaya yang maksimal adalah ibarat sebuah fungsi yang berbanding lurus. Seberapa besar pertolongan Allah yang kita peroleh adalah sebanding dengan kuantitas dan kualitas upaya yang kita lakukan. Dengan demikian, jika kita merasa belum mendapat pertolongan Allah, maka berarti upaya yang kita lakukan adalah belum maksimal, baik sisi kuantitasnya maupun kualitasnya. Pandangan ini cukup bermanfaat agar kita selalu bermuhasabah dan selalu terpacu menuju kondisi lebih baik.

Setiap diri atau organisasi mendambakan sebuah kemenangan. Dan kemenangan itu ditentukan oleh seberapa maksimal upaya kita, baik dari sisi keikhlasan niat, kesungguhan, dan metode (strategi) dalam meraih kemenangan itu. Dan yang patut kita waspadai bahwa kemenangan yang diperoleh itu terkadang bukanlah kemenangan yang sesungguhnya, melainkan sebentuk ujian dari Allah SWT. Hanya orang-orang yang terjaga kebersihan niatnya (ikhlas) sajalah yang akan meraih kemenangan yang sesungguhnya.

Keihklasan itu sangat tercermin dari kebersihan hati Nabi SAW selaku pemimpin, sertakesetiaan dan ketaatan Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Asma, dan lainnya selaku kader dakwah.

Semoga kita bisa mengambil ibrah yang besar dari kisah tersebut sebagai bekal untuk kemenangan di masa depan. Amin.

Wallahu a'lam bishshawab.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/03/30/ikhlas-dan-kemenangan

Kejujuran itu Lebih Manis Rasanya

|

Penulis : Meyla Farid


Suatu hari, seorang murid mendapat giliran piket membersihkan kelas. Pagi-pagi ketika semua temannya belum tiba di sekolah, dia sudah berada di dalam kelas untuk melaksanakan tugasnya. Ketika sedang menyapu di dalam kelas itulah dia tidak sengaja menyenggol vas bunga di meja gurunya hingga vas itu jatuh ke lantai dan pecah berantakan. Karena takut dimarahi oleh gurunya, anak tersebut cepat-cepat membersihkan pecahan-pecahan vas lalu membuang dan menyembunyikannya ke dalam tong sampah di belakang sekolah.

Saat jam pelajaran dimulai, guru yang bersangkutan pun datang. Guru itu pun kaget menemukan mejanya yang kosong. Satu per satu anak-anak didiknya ditanya. Tapi tentu saja, tidak ada seorang pun yang mengakui di mana keberadaan vas bunga kesayangan guru tersebut. Hanya seorang anak saja, yang piket hari itu, yang mengetahui semuanya, tapi dia pun tidak mau terus terang karena takut dimarahi dan diberi hukuman oleh gurunya.

Berhari-hari anak tersebut menyembunyikan rahasianya. Dia menjadi sering gugup di depan gurunya, bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran di dalam kelas. Rasa bersalah terus mendera hatinya. Kalau malam tiba, dia menjadi tidak nyenyak tidur, makan pun dia menjadi tidak berselera. Hingga pada akhirnya anak itu pun memutuskan untuk berterus terang kepada gurunya.

Apa yang terjadi ketika anak itu terus terang? Guru itu memang kecewa dengan pengakuan terlambat dari sang anak. Guru itu memarahi muridnya tentu saja, lalu dihukum berdiri di luar kelas satu hari penuh. Namun ternyata anak itu menjalani hukumannya dengan perasaan lega. Sejak hukuman itu, dia bisa nyenyak tidur dan bisa menikmati makan dengan enak. Dia merasakan sebuah beban yang sangat berat yang berhari-hari menghimpit dadanya sudah hilang.

Ternyata, kejujuran itu lebih manis rasanya. Jika kita melakukan sebuah kesalahan yang menuntut untuk dikatakan, maka kejujuran adalah yang terbaik. Jangan takut dengan hukuman, karena itu memang sudah menjadi konsekuensi dari setiap kesalahan yang kita perbuat. Jalani saja, dan nikmati proses pendewasaan diri dari setiap kesalahan dan hukuman tersebut. Karena hidup memang penuh dengan aral melintang, semak belukar, dan kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang kelak akan menjadi pelajaran sangat berharga bagi diri kita.

Wallahu a'lam.


Sumber :

http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/03/14/kejujuran-itu-lebih-manis-rasanya

Rapat Tikus

|

Penulis : Temmie Iswanto


Seekor kucing jadi gara-gara! Hampir saban waktu dia mengendap, mengintip, menyergap, menangkap, mempermainkan, atau memangsa tikus. Pokoknya, kucing itu melakukan semua tindakan yang menjadikan semua tikus dilanda ketakutan luar biasa. Sudah banyak korban jatuh di kalangan tikus. Itu benar-benar teror yang mengerikan bagi para tikus.

Keadaan ini tentu saja tidak boleh berlangsung terus! Oleh karena itu, mesti ada cara jitu agar tikus-tikus ke luar dari bencana; mesti ada solusi dan jalan ke luar dari malapetaka ini. Tapi bagaimana caranya? Untuk itu, tikus-tikus mengadakan rapat. Waktu dan tempatnya mereka rahasiakan.

Rapat dibuka. Pimpinan rapat memberi kesempatan kepada tikus-tikus untuk melaporkan semua bentuk kerugian yang mereka alami. Tidak dinyana, betapa pilu dan miris mendengar laporan mereka yang kehilangan sanak saudara. Bahkan ketika 'ibu' tikus menceritakan kronologis penyiksaan anaknya di depan mata kepalanya sendiri, hampir semua tikus meneteskan air matanya. Tidak itu saja, dada para hadirin menjadi sesak dengan emosi yang menggelora. Maka, ketika seekor tikus berterikak, "Bunuh kucing keparat!", serta merta semua tikus menyambutnya. Suara tikus membahana mengulang-ulang seruan itu.

Ketika secara perlahan keadaan menjadi tenang kembali, tikus-tikus mulai berpikir keras. Kebencian dan dendam membangkitkan imaginasi yang bervariasi akan cara-cara untuk melampiaskannya. Tentu saja banyak pilihan yang mungkin dilakukan oleh tikus. Dan karena ini tanggung jawab yang besar, maka setiap tikus memikirkan cara terbaik untuk membunuh sang teroris.

Rapat dilanjutkan. Pimpinan sidang menerima kesepakatan para hadirin. Kucing itu harus dibunuh! Pimpinan sidang membuka termin usulan. Satu per satu hadirin mengajukan usul-usul terbaik mereka. Luar biasa, sebanyak kepala tikus, hampir sebanyak itu pula usulan yang diajukan. Dari cara yang sederhana sampai cara yang canggih. Dari cara yang rasional sampai yang berbau klenik. Semua usulan berujung pada kebinasaan sang teroris. Maka ketika pimpinan sidang meneriakkan, "Mampus kucing!", para hadirin menyambutnya dengan, "Hidup tikus! Hidup tikus! Hidup tikus!"

Termin pembahasan berjalan dengan seru. Membunuh kucing dengan senjata api sangat mudah, tapi masalahnya adalah tidak ada seekor tikus pun yang punya tangan sebesar tangan manusia. Membunuh kucing dengan menjatuhkan batu besar dari ketinggian juga tidak mungkin. Meminta manusia membunuh kucing juga tidak mungkin berhasil; Bukan karena itu tidak bisa dilakukan, tetapi lebih karena loby tikus tidak sebaik loby kucing kepada manusia. Setiap usulan dibahas dengan seksama, tapi cepat dan lancar.

Dari semua itu, maka yang paling mungkin adalah memberi kucing racun dengan cara memangsa tikus yang sudah dilumuri racun. Pimpinan sidang menetapkan dan memutuskan, memberi mangsa kucing dengan tikus yang dilumuri racun! Bagi rapat tikus, ini adalah keputusan excellent! Dan tentu saja keputusan ini paling baik dari rapat paling baik yang pernah dilakukan para tikus.

"Mampus kucing, hidup tikus!" Semua tikus sepakat, "Mampus kucing, hidup tikus!" Semua tikus senang, "Mampus kucing, hidup tikus!"

Pimpinan sidang mendiamkan para hadirin, "Jadi, saudara sekalian, kita sepakat untuk meracuni kucing! Mampus kucing, hidup tikus!"

Para hadirin, "Akuuurrr! Setujuuuu! Mampus kucing, hidup tikus! Mampus kucing, hidup tikus! Mampus kucing, hidup tikus!"

Pimpinan sidang, "Sekarang, siapa yang bersedia dimangsa kucing?"

Lalu, satu per satu tikus mulai meninggalkan sidang. Tidak ada seekor tikus pun yang bersemangat untuk menyambut seruan itu. Keadaan berubah, tidak ada lagi emosi, tidak ada lagi greget. Tidak ada seekor tikus pun yang berapi-api. Tidak ada lagi gairah yang berkobar-kobar sebagaimana saat mereka meneriakan yel-yel sebelumnya, "Mampus kucing, hidup tikus!" Tidak ada! Ternyata, tidak ada seekor tikus pun yang bersedia menjadi mangsa kucing.

***

Apakah kita sama dengan tikus-tikus tersebut, dimana kita selalu pandai bicara, tapi tidak ada aksi atau tindakan yang kita lakukan?


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/03/06/rapat-tikus

Sabar dan Pemaaf

|

Penulis : Arda Dinata


Ketika di Mekkah dinilai kurang memberi harapan dalam berdakwah, Rasulullah sempat menyampaikan dakwahnya ke daerah Thaif. Namun apa yang terjadi? Ketika baru sampai diperbatasan kota Thaif, Rasulullah disambut dengan lemparan-lemparan batu dan potongan-potongan besi. Akibatnya, Nabi SAW mengalami luka parah.

Dan pada saat Nabi SAW masih dihujani batu dan potongan besi, beliau masih sempat berdo'a, "Ya Allah, jangan Kau turunkan siksa kepada mereka yang melempariku. Sebab mereka bukan orang yang jahat, tapi mereka orang yang belum tahu bahwa aku adalah RasulMu. Tunjukkan mereka kepada jalanMu yang benar dan ampunilah mereka serta sayangi mereka."

Demikian juga, kejadian yang serupa pernah terjadi pada waktu perang Uhud. Di mana beliau terlemparkan kepada suatu lembah yang cukup dalam. Dan dengan secara kejam, seorang lawan melemparkan tombaknya yang tajam ke muka Rasulullah SAW. Pada waktu itulah gigi Nabi patah dan dari mulutnya menyembur darah. Beliau tersunggur ke pasir dengan muka yang penuh darah.

Melihat kejadian itu, seorang sahabat menjerit menangis, karena mengetahui pemimpin yang dicintainya disiksa secara kejam. Dan sahabat itu menjerit, "Ya Rasulullah, do'akan saja orang yang jahat dan kejam itu supaya disiksa oleh Allah, sebab do'amu pasti akan dipenuhi oleh Allah."

Namun, apa yang dilakukan Nabi SAW? Pada saat itu, Nabi SAW masih sempat berdo'a, "Tuhan, jangan Kau turunkan siksa kepada orang yang menombak aku. Tunjukkanlah ia kepada jalanMu yang benar dan sayangi dia serta ampuni kesalahannya."

Sungguh luar biasa ajaran beliau. Bahasa tingkah lakunya mencerminkan akhlak mulia. Artinya, ajaran Nabi SAW (Islam), tidak mengenal dendam. Dendam ini sejatinya merupakan musuh iman. Aktualisasinya, pada saat seseorang memiliki iman, ia akan mengenal dendam. Sehingga dalam pikirnya akan terucap, "Antara dendam dan iman tidak mungkin bersatu dalam satu diri."

Bagi orang beriman yang mampu menerapkan bahasa keteladanan Nabi SAW itu, Allah menjanjikan pahala yang besar. "Dan balasan kejahatan adalah dengan kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan membalas dengan kebaikan, pahalanya (yang besar) di tanggung oleh Allah." (QS. Asy–Syuura : 40).

Pada ayat yang lain, Allah SWT memerintahkan, jika kamu disiksa ,silahkan kamu balas dengan adil, tetapi kalau kamu bersabar, maka langkah sabar adalah yang terbaik (QS. An–Nahl : 126). Lagipula, bukankah orang yang sabar dan yang memaafkan itu adalah termasuk hal-hal yang diutamakan? (QS. Asy–Syuura : 43).

Wallahu a'lam.


Sumber :
http://kotasantri.com/pelangi/cermin/2009/02/26/sabar-dan-pemaaf

Penguasa Anti-Korupsi Zaman Islam

|

Semasa Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Khalifah, tak satu pun makhluk di negerinya kelaparan. Tak ada pengemis dan tak ada penerima zakat

Oleh: Nurhadi*

UMAR bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin dambaan umat. Sifatnya yang adil, jujur, sederhana, dan bijaksana, merupakan khas kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ”khalifah kelima” yang bergelar “Amirul Mukminin”, setelah Khulafa ar Rasyidin.

Jika dirunut, Umar bin Abdul Aziz masih mempunyai garis keturunan Umat bin khatab. Khalifah ar Rasyidin yang kedua setelah khalifah Abu Bakar as Sidiq. Dari sini, Rasulullah pernah bersabda agar dimasukan dua nama Umar sebagai penegak kejayaan Islam, yakni Umar Bin al Khatab dan yang satunya Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada masa dinasti Bani Umayyah di akhir abad pertama Hijriyah. Pada saat itu, dinasti ini sedang mengalami konflik internal para pejabatnya. Gaya kehidupan yang serba mewah, bermegah-megahan, korup, borju, dan hedon. Umar sendiri merupakan bagian dari simbol gaya hidup dinasti Bani Umayyah. Sepeninggal wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, putra Khalifah Abdul Malik bin Marwah yang juga telah wafat, pihak keluarga kerajaan meminta agar ia menggantikan posisi sebagai Khalifah.

Kekuasaan di Mata Umar

Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta itu dianugerahkan kepadanya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar. Ia sadar bahwa kekuasaan mengandung konsekuensi yang sangat berat, terutama menyangkut bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan sendi-sendi keadilan dalam pemerintahannya di akhirat kelak.

Ketika Umar diangkat menjadi khalifah dia mengatakan, “Wahai manusia sekalian, barang siapa yang taat kepada Allah sungguh ketaatannya sudah bagus, dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah maka janganlah mentaatinya. Ikutilah saya selagi saya taat kepada Allah. Apabila saya bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kalian mentaatiku!”

Dikisahkan pula, semasa Umar menjabat sebagai Khalifah, walaupun hanya 2,5 tahun, rakyat menjadi makmur dan negara menjadi benar-benar surplus. Tak satu pun makhluk di negerinya menderita kelaparan. Tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Penjara tak ada penghuninya, kosong. Bahkan serigala pun enggan mencuri ternak penduduk kota, karena begitu menghormati keadilan Umar.

Inilah adalah langkah-langkah pembaharuan Umar bin Abdul Aziz yang diterapkan di dalam sistem pemerintahannya:

Pertama, ia memulai dari diri sendiri, keluarga, dan istana.

Umar rela beserta seluruh keluarganya hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya ke Baitulmal (kas negara) begitu selesai ia dilantik, termasuk pakaiannya yang mewah seharga 800 dirham, yang menjadi simbol kemewahan hidup sebelumnya. Berbagai fasilitas negara ditolaknya. Ia memilih tinggal di rumahnya dan menolak hidup di istana. Kehidupannya berubah drastis, dari seorang cinta kemapanan dunia, menjadi orang yang zuhud terhadap dunia.

Selanjutnya, Umar kepada istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, memberikan pilihan, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas Negara, atau kita cerai”.

“Demi Allah,” kata Fatimah, “Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.” Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Ketika anak-anaknya menanyakan, mengapa kita tidak lagi menikmati kemewahan sebagaimana kita menikmatinya sebelumnya? Umar justru menangis dan berkata kepada anak-anaknya, “Saya beri kalian makanan yang lezat dan enak tapi kalian rela memasukkan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita masuk surga bersama?”

Setelah berhasil mengajak keluarganya, Umar melangkah ke luar istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang mewah yang ada di istana dan mencabut seluruh fasilitas kemewahan yang ada pada keluarga istana, serta mengembalikannya ke kas Negara. Sebagian mereka protes terhadap kebijakan tersebut. Hingga suatu saat mereka memberanikan diri untuk mengutus bibinya agar dapat bersikap lembut mencabut kebijakannya.

Umar yang tahu maksud kedatangan bibinya, ia mengambil uang logam lalu dipanaskan dalam bara api. Setelahnya, ia meletakan sekerat daging di atas uang logam yang telah memerah. Umar lalu berkata kepada bibinya

“Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memenuhi kesenangan kalian? Berhentilah merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan pembaharuan ini.”

Adakah pemerintah dan penguasa seperti ini di zaman sekarang?

Dari sini Umar menunjukan pentingnya bagaimana jujur dalam mengembang amanah kekuasaan. Ia tak melampiaskan nafsu kekuasaannya hanya untuk kesenangan sesaat, mencuri atau melakukan tindak pidana korupsi layaknya kasus-kasus yang sedang disorot masyarakat atas pejabat-pejabat kita hari ini.

Pengelolaan Uang Negara

Umar menunjukkan pada kita, bagaimana harus pemberdayaan zakat atau sedekah yang disimpan di Baitulmal dan dikelola Negara. Ia mulai dari diri sendiri, keluarga, dan pejabat istananya, sekaligus memperlihatkatkan upaya sungguh pembersihan diri dari gaya hidup yang mewah dan korup.

Langkah kedua, kampaye penghematan. Umar melakukan pembaharuan penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara, biasanya terdapat pada struktur negara yang gemuk, birokasi yang rumit, dan administrasi semrawut. Umar selalu mengkampanyekan penghematan, terutama gaya hidup para pejabat negaranya. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara dari pejabat yang korup, memangkas birokasi yang rumit, dan menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara tersebut, Umar telah menghemat uang belanja negara menjadi lebih surplus. Pada saat yang sama Umar juga mensosialisasikan semangat berbisnis dan berwirausaha kepada masyarakat.

Langkah selanjutnya, penataan ulang distribusi zakat. Dalam konsep ini, penetapan delapan objek mustahik zakat adalah bentuk subsidi langsung yang diberikan kepada rakyat.

Zakat dinilai akan mampu berdampak terhadap pemberdayaan masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli masyarakat, secara langsung zakat merangsang tumbuhnya permintaan dari masyarakat. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan naik. Jadi pendistribusian zakat yang tepat selain mengurangi kemiskinan juga faktor penentu pertumbuhan di tingkat makro.

Demikian kondisi saat itu jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang. Sehingga wajar jika amil zakat pada waktu itu tidak menemukan orang yang mau menerima zakat.

Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, ‘'Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai orang miskin seorangpun."

Karena begitu makmurnya rakyat waktu itu, negara pun mengalihkan distribusi zakat ini ke pembayaran orang yang dililit utang-utang pribadi. Lagi-lagi kas Negara masih lebih dari cukup dan memerintahnya lagi untuk memberikan biaya-biaya bagi rakyat yang ingin menikah, yang sebenarnya bukan tanggungan dari pemerintah.

Selain itu, kebijakan Umar lainnya membangun dan memperbaiki berbagai layanan publik untuk masyarakat. Sektor pertanian terus dikembangkan melalui perbaikan lahan dan saluran irigasi. Masyarakat yang sakit disediakan pengobatan gratis. Sarana ibadah seperti masjid diperbanyak dan diperindah. Untuk memuliakan tamu dan para musafir, dibangunlah bebeberapa buah penginapan. Ia juga memperbaiki pelayanan di dinas pos, sehingga aktivitas korespondesi berlangsung lancar.

Begitu kondusifnya kondisi saat itu, kelompok Khawarij dan Syiah yang di era sebelumnya kerap memberontak, berubah menjadi lunak. Di wilayah-wilayah yang ditaklukkan Khalifah Umar juga mengubah kebijakan. Ia mengganti peperangan dengan gerakan dakwah Islam. Pendekatan ini mengundang simpati dari pemeluk agama lain. Secara sadar dan ikhlas banyak raja yang berbondong-bondong memilih Islam sebagai agama terbaik.

Bisakah, kita temukan hari ini, sosok pemimpin pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz yang mengedepankannya tanggung jawab secara penuh. Yang tidak pernah tidur siang karena takut melalaikan hak-hak dari rakyatnya? Mudah-mudahan Allah menghadirkan kepada kita pemimpin sekualitas Umar bin Abdul Aziz. Amin! [Nurhadi, mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIL Hidayatullah Surabaya/hidayatullah.com]

Referensi :

Khalid, Muhammad Khalid, Kehidupan para khilafah Teladan, (Pustaka Amani : Jakarta, 1995).
Syayid, Abdul Aziz, Umar bin Abdul Aziz Khalifah Zuhud yang Memenuhi Dunia dengan Keadilan, (Samara: Jakarta, 2009).

Mental Budak, Bencananya Dibawa Mati

|

Kekerdilan jiwa inilah yang menjadikan manusia memilih hidup sebagai budak daripada majikan

KAUM mustadh’afin di mana-mana nasibnya mengenaskan. Tidak saja sekarang ketika manusia hanya dinilai dari segi materi, tapi sejak dulu ketika kekuasaan di tangan para raja dan diktator.

Golongan tertindas ini adalah mereka yang hidup di dunia dalam keadaan sempit. Mereka gantungkan nasibnya kepada orang lain yang dianggapnya bisa memberi perlindungan, kehidupan dan keselamatan. Mereka serahkan agamanya, ideologinya, aspirasi politiknya, saluran hobinya kepada orang lain.

Orang lain itu bisa berupa individu atau kelompok yang sedang berkuasa, bos yang kaya raya, pemimpin yang kharismatis, sistem kekuasaan yang otoriter, atau apa saja yang dianggap mampu memberikan kehidupan, mulai dari soal rejeki, keamanan, harga diri, dan sebagainya.

Musthad’afin adalah golongan manusia yang bermental kerdil. Mereka memandang dirinya terlalu lemah untuk bisa mandiri. Karenanya mereka memilih hidup bergantung kepada orang lain. Golongan ini tak ubahnya seperti sapi yang menyerahkan diri untuk dicocok hidungnya. Mereka mau berbuat atau melakukan apa saja, sesuai dengan kemauan majikannya. Mereka tetap tunduk pada pemerintah majikannya walaupun perbuatan itu bertentangan dengan hati nuraninya. Mereka mampu meredam gejolak jiwanya demi pengabdiannya kepada majikan.

Mereka ini tidak beragama, kecuali sekadar mengikuti agama tuannya. Mereka tidak mempunyai ideologi, kecuali mengikuti ideologi tuannya. Mereka tidak berpartai, kecuali mengikuti partai pilihan majikannya. Bukan karena mereka tidak mempunyai pendirian, tapi itulah karakter mereka. Itulah jati diri mereka yang sebenarnya.

Bagi mereka dunia itu terasa sempit. Mereka tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti orang yang kepadanya mereka bergantung. Memilih yang lain, bagi mereka hampir sama dengan bunuh diri. Dunia ini, dalam pandangannya tidak memberi dua, tiga, atau sekian banyak alternatif. Yang ada hanya satu, bahwa dunia adalah pengabdian kepada yang sedang berkuasa.

Musttadh’afin di semua kurun waktu selalu ada, tidak pernah absen dalam menghiasi populasi dunia. Dari segi jumlah, mereka selalu mayoritas. Merekalah makanan empuk bagi para mutraf, para penggede negara. Di saat kampanye mereka dijadikan komoditi yang layak dijual, pada pemilu mereka diperebutkan, dan pada pasca pemilu mereka kembali dicampakkan.

Nasib buruknya di dunia tidak berakhir semasa hidupnya saja, tapi berlanjut ketika mereka di akhirat. Sangat disayangkan, kesengsaraan itu dibawa sampai menghadap Tuhan. Sebelum bertemu dengan-Nya, terlebih dahulu malaikat menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan. Rekaman pertanyaan itu dikutip al-Qur’an sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, adalah kami orang-orang yang tertindas di bumi. ‘Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa: 97)

Manusia diciptakan Allah di muka bumi ini bukan untuk dikuasai, tapi justru menguasai. Manusia adalah khalifah, subyek di muka bumi. Karenanya tidak layak bagi manusia untuk ditentukan orang lain hidupnya. Mereka harus bisa menentukan dirinya sendiri, mengatur, dan memastikan arah serta jalan hidupnya sendiri.

Agar manusia dapat menjadi subyek, pelaku dan penentu, Allah swt telah melengkapi mereka dengan perangkat yang cukup. Bentuk fisik yang sempurna, akal sehat, dan hati nurani. Tidak hanya itu, alam seluruhnya ditundukkan Allah agar mau melayani kebutuhan manusia.

Tidak ada yang kurang bagi manusia untuk mengaktualisasikan diri sebagai khalifah.

Yang menjadikan mereka tertindas, menjadi obyek yang ditentukan orang lain, adalah karena kekerdilan jiwanya. Mereka kerdil memandang potensinya. Kurang yakin terhadap karunia yang diberikan Allah kepadanya. Mereka takut mencoba sesuatu yang baru. Apa yang diterimanya sudah dianggap sebagai jatahnya. Sementara jatahnya yang lain, yang jumlahnya jauh lebih besar tidak dilirik dan dimanfaatkannya.

Kekerdilan jiwa inilah yang menjadikan mereka memilih hidup sebagai budak daripada majikan. Itulah pilihan yang paling mudah, sebab tanpa risiko, tanpa beban tanggung jawab, tanpa harus menghadapi tantangan. Bagi mereka “menggaruk” itu lebih mudah daripada “menggeleng”.

Jiwa yang kerdil mengantarkan manusia pada sikap takut. Takut menghadapi realitas, takut menghadapi kehidupan, takut menghadapi tantangan dan ancaman, takut menghadapi perubahan, takut kepada kekuasaan, takut kepada orang.

Alam pikiran dan perasaannya telah diselimuti ketakutan yang luar biasa. Lebih disayangkan lagi bahwa mereka bukan takut kepada yang menciptakan ketakutan, tapi kepada manusia yang sama-sama mempunyai rasa takut, sedikit ataupun banyak. Sayang, mereka tidak takut kepada Allah yang menciptakan kehidupan, membuat perubahan, menentukan jatah rejeki dan mendistribusikannya sesuai dengan kemauan-Nya.

Karenanya, Allah menasihati kita agar takut hanya kepada-Nya saja. Jangan sampai kita terjebak perasaan takut kepada manusia, sebab manusia tidak bisa memberi rasa aman sedikit pun. Allah berfirman:

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maaidah: 44)

Sebagai khalifah hendaknya kita menghindar rasa takut kepada manusia. Betapapun besarnya kekuasaan yang dimiliki seseorang, mereka tetap manusia. Jika anggota Dewan tidak ada yang menurunkan kekuasaannya, Allah sendiri yang akan bertindak dengan caranya sendiri. Paling mudah adalah mencabut kesehatannya. Jika masih belum cukup, bila perlu mencabut nyawanya, Apa susahnya?

Seberapa pun besar kekuasaan manusia, ia tidak akan pernah mampu menguasai diri kita sepenuhnya. Bisa saja mereka memenjarakan fisik kita, tapi apakah mereka bisa memenjarakan hati dan jiwa kita? Bisa saja mereka memaksa fisik kita berbuat ini dan itu, tapi hati kita siapa yang bisa menguasainya?

Bilal bin Rabah adalah contoh monumental yang diabadikan sejarah. Meskipun oleh majikannya ia disiksa dengan amat sadisnya, ia tetap menguasai dirinya. Secara fisik ia adalah budak majikannya, tapi jiwanya merdeka. Terik padang pasir yang memanggang kulitnya, batu besar yang menindih tubuhnya, cemeti yang menghajarnya, tetap tak bisa mengubah pendiriannya. Ia tetap berkata: Ahad, ahad, ahad.

Secara fisik Bilal adalah mustadh’afin, orang yang tertindas, tapi secara aqidah ia adalah manusia merdeka. Ia mampu membebaskan jiwanya dari belenggu majikannya walaupun secara fisik ketika itu ia menjadi budaknya. Bilal memang seorang budak, tapi memiliki jiwa merdeka. Sebaliknya, banyak orang yang secara fisik merdeka, tapi bermental budak. Mereka yang disebut terakhir itu termasuk mustadh’afin dalam aqidah.

Mustadh’afin jenis terakhir ini semakin banyak saja jumlahnya. Penampilan fisiknya bisa saja sangat meyakinkan. Pakaiannya parlente, bersepatu mengkilap dan berdasi, tapi sikap mentalnya jauh dari kemandirian. Tidak independen dalam menyalurkan aspirasi politiknya, tidak bebas dalam menentukan pilihan hidup. Dalam kesehariannya, ia mengambil sikap “apa kata bapak”. Yang baik bagi bapak, itu pula yang baik bagi saya. Pilihan bapak, itu juga pilihan saya.

Biasanya, orang bersikap demikian karena faktor ekonomi. Seseorang yang ekonominya bergantung kepada orang lain, cenderung bersikap dependen, tergantung, rela atau terpaksa, ia tunduk kepada orang lain. Untuk itu, Allah menganjurkan kepada kita agar melepaskan ketergantungan soal rezeki itu pada seseorang atau pada sekelompok orang. Jadilah orang yang mandiri dalam mencari rezeki. Dengan kemandirian itu kita dapat merdeka dalam bersikap, bebas dalam menentukan pilihan, dan tidak terikat dengan berbagai ketentuan yang bertentangan dengan hati nurani.

Lebih dari itu adalah sikap mental kita. Dalam soal rezeki, misalnya, kita harus yakin bahwa pemilik segala kekayaan ini adalah Allah. Dialah yang memberi jatah kepada makhluk-Nya, dan mendistribusikan secara adil sesuai dengan kemauan-Nya. Keyakinan ini tidak boleh hanya berhenti di hati, tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus dibarengi dengan usaha keras untuk mendapatkannya. Bukan disebut yakin jika hanya berdiam diri tanpa bekerja. Baru disebut yakin, jika seseorang berupaya keras untuk mendapatkannya.

Dalam mengais rezeki Allah ini juga ada sunnatullahnya. Artinya, Allah menentukan hukum-hukum ekonomi secara paten dan pasti. Siapa yang mengetahui dan menerapkan hukum itu, ada jaminan untuk mendapatkannya. Sunnatullah ini tak peduli mengenai siapa saja, muslim atau kafir terkena hukum-Nya.

Terakhir, ada baiknya jika kita simak hadits qudsi di bawah ini, “Allah telah berfirman kepada Daud, ‘Demi keagungan-Ku, setiap hamba yang menggantungkan diri kepada-Ku tanpa bergantung kepada makhluk-Ku (yang Kuketahui dari niatnya), lalu ia ditipu oleh siapapun yang ada di langit dan bumi, niscaya Aku beri jalan keluar dari tipu muslihat itu. Adapun setiap hamba yang menggantungkan diri kepada makhluk tanpa bergantung kepada-Ku (yang Ku-ketahui melalui niatnya), niscaya Aku putuskan sumber rezekinya dari langit serta Aku tetapkan kehancurannya. Dan setiap hamba yang taat kepada-Ku, niscaya Aku akan mengkaruniakannya sebelum meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan mengkanuriakannya sebelum meminta kepada-Ku, serta mengabulkan keinginannya sebelum berdo’a kepada-Ku, dan mengampuninya sebelum minta ampun kepada-Ku.” (HR. Ibnu Asakir dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik). [SAHID/www.hidayatullah.com]

Syaba’iyya dan Sejarah Kelam Perpecahan

|

Ibnu Saba' adalah penabur benih kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu dan perpecahan di tubuh umat

Oleh Arham*


AWAL munculnya iftiraq (perpecahan) dalam sejarah Islam bermula setelah Khalifah Utsman bin Affan dibunuh oleh sekelompok pemberontak yang menganggap Utsman tidak fair (adil) dalam mengambil kebijakan selama menjadi Khalifah. Ketika Ali bin Abi Thalib dilantik sebagai Khalifah untuk menggantikan Utsman, para pemberontak itu hadir dan mengadakan pendekatan kepada Ali dengan maksud mendukungnya, dipelopori oleh al-Gafiqi dari pemberontak Mesir sebagai kelompok terbesar, tapi Ali menolaknya. Namun justru yang mengherankan adalah mereka malah memusuhi Khalifah Ali bin Abi Thalib di kemudian hari.

Perkara ini kemudian menjadi penyebab utama perpecahan saat itu, umat Islam terbagi ke dalam dua kelompok, ada yang pro Ali dan ada yang kontra. Terus berlanjut dan menjadi fitnah besar, yang menyebabkan peperangan demi peperangan terjadi dalam tubuh umat Islam. Tapi yang perlu digaris bawahi bahwa munculnya seabrek tragedi/perpecahan sebelum dan sesudah pembunuhan Utsman, disebabkan masyarakat sudah terjangkit aqidah Saba'iyah (paham yang menimbulkan perpecahan itu) yang merupakan cikal bakal akidah Syi'ah dan Khawarij yang ditaburkan ke tengah-tengah kaum muslimin. Sebenarnya, masalah perpecahan (perselisihan), sudah pernah terjadi di kalangan para sahabat, tapi itu hanya berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Justru yang “menghebohkan” kaum muslimin dan membawa finah besar itu adalah aqidah Saba'iyah.

Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql, dalam kitabnya Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abu Ihsan Al-Atsari menjelaskan, aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil, dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama, dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka. Inilah keyakinan sesat yang pertama kali muncul kalau ditinjau dari kacamata aqidah dan keyakinan.

Adapun kelompok yang pertama kali memisahkan diri dari imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij.

Benih-benih Khawarij ini sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba'iyah. Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua kelompok utama, Khawarij dan Syi'ah. Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun dasar-dasar pemikirannya sama. Baik Khawarij maupun Syi'ah muncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Fitnah diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide, keyakinan, dan gerakannya. Dari situlah munculnya aqidah sesat, yaitu aqidah Syi'ah dan KhawarijI.

Perlu dipahami bahwa perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah sebenarnya direkayasa sedemikian rupa oleh tokoh-tokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba' dan konco-konconya menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum muslimin. Mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program, mereka munculkan babak permainan baru dengan istilah sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif, ekstrimisme, radikalisme, dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari sumber yang sama pula. Para pencetusnya itu-itu juga, demikian pula tujuannya. Hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara keseluruhan ini mencerminkan kuatnya kebatilan, kendati satu dama lain saling bermusuhan.

Akhirnya, bagi mereka yang masih dangkal imannya (tidak mendapat langsung bimbingan dari Nabi) pusing tujuh keliling menghadapi situasi saat itu. Mereka bingung, kelompok mana yang akan diikuti, sebab masing-masing membenarkan kelompoknya dan ekstrim, sementara ada pemerintah yang sah dan disetujui oleh kaum muslimin.

Dari sisi lain, kelompok ekstrim penuntut keadilan atas pembunuhan Khalifah Utsman (kelompok yang terjangkiti aqidah Saba'iya) terus mendesak Ali untuk ditindaklanjuti, mereka seenaknya membuat keputusan dan “mengadukan banding” kepada Khalifah.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam termasuk yang tegas menuntut balas atas kematian Utsman, bahkan pada saat Imam Ali mengirimkan surat agar Mu’awiyah mau membaiatnya, dia tetap bersikeras sebelum para pembunuh Utsman ditangkap dan dibunuh. Baju Utsman yang berlumuran darah menjadi senjata utamanya untuk menyemangati pengikutnya agar turut membantu. Kondisi umat Islam pun saat itu sangat kacau-balau dan berada pada puncak tragis yang nyaris membuat sejarah Islam “gulung tikar” dan akhirnya beralih pemerintahan dari Khalifah ke Kerajaan.

Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib harus menanggung kenyataan pahit yang diserahi amanah sebagai pemimpin umat ketika awal munculnya huru-hara itu. Setelah terbunuhnya Ustman, kekerasan di luar Madinah tak pernah berhenti, seperti yang terjadi di Basrah dan Kufa. Sebagian umat Islam pun telah mengalami penyimpangan dari ajaran agamanya. Pertama, hilangnya toleransi seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan oleh para sahabat dalam melihat perbedaan di luar ajaran aqidah dan syariat. Akhirnya lahir kaum garis keras yang merasa benar sendiri.

Kedua, para pendatang baru dalam Islam banyak yang terdiri dari orang yang belum menghayati ajaran Islam secara utuh dan belum pernah bertemu langsung denga Nabi atau sahabat-sahabat dekatnya. Ketiga, pemahaman mereka tentang agama sangat dangkal dan sempit, sehingga mereka salah memahami al-Qur’an, seperti yang pernah dikatakan Nabi, “mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak sampai pada tulang-tulang selangka mereka.” Akhirnya kerusuhan yang disebabkan perpecahan itu, berakhir dengan terbunuhnya Ali, yang disusul kemudian oleh kedua putranya, Hasan dan Husein dan berpindahnya sistem daulah Islam dari Khalifah menjadi Kerajaan.

Solidaritas para Sahabat

Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak kita temui para sahabat saling berpecah belah satu sama lain yang menyebabkan permusuhan. Yang terjadi di antara mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan dengan ijma' (kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat jama'ah serta tetap komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi di kalangan sahabat. Tidak ada seorang sahabat pun yang memisahkan diri dari jama'ah. Tidak ada satu pun di antara mereka yang melontarkan ucapan bid'ah atau mengada-ada perkara baru dalam agama.

Pada zaman Khalifah Abu Bakkar, ketika ada pembangkangan di sebagian daerah Semenanjung dalam hal pembayaran zakat, Abu Bakkar dan sebagian kecil sahabat berpendapat untuk memerangi mereka. Maka diadakanlah rapat dalam rangka membahas masalah ini. Banyak sahabat yang tidak setuju kalau terjadi perang, dengan alasan mereka tidak boleh diperangi karena mereka juga adalah orang-orang yang beriman. Umar termasuk salah satu dalam barisan ini.

Walaupun akhirnya keputusan jatuh pada suara minoritas yang dipelopori Abu Bakkar dengan berkata, “Demi Allah, orang yang keberatan menunaikan zakat kepadaku, yang dulu mereka lakukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallah akan aku perangi.” Maka terjadilah perang Riddah. Perdebatan ketika itu cukup sengit yang saling berlawanan dan berkepanjangan. Jangan dikira para sahabat hanya manggut-manggut ketika di hadapan pimpinan mereka. Umar bin Khattab membantah pendapat itu dengan keras sampai-sampai mukanya memerah. Tapi itulah sahabat, jiwa mereka sudah terdidik dan selalu menghindari perselisihan. Dengan kondisi yang memanas seperti itu mereka tetap menghargai Abu Bakkar sebagai pemegang tunggal pemerintahan saat itu.

Para sahabat merupakan imam dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satu pun dari kalangan sahabat yang pecah dari jama'ah. Dan tak satu pun ucapan mereka yang menjadi sumber bid'ah dan sumber perpecahan.

Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat adalah tidak benar. Hanyalah dusta dan kebohongan besar yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat keliru bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi'ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda' dituduh sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid'ah dan perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal.

Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Jangan dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini.

Jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan. [www.hidayatullah.com]

Memaafkan, atau Membalas Secukupnya

|

Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik

SUATU hari Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah saw, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan Assamu'alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapanAssamu'alaikum kepada Rasulullah.

Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkanAssamu'alaikum. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah. Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah yang celaka!

Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, Hai Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang?"

"Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?"

"Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa'alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup."

Manusia agung, Muhammad saw ini lagi-lagi memberikan pelajaran yag sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan. Begitu kokoh pemahaman dirinya, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa.

Sebagai istri, 'Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya menerima ucapan keji dan busuk, sebagaimana yang diucapkan oleh orang Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.

Apa yang dikatakan oleh 'Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar 'Aisyah mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan. Rasulullah berkata, Wa'alaikum, itu sudah cukup.'

Urusan salam ini nampaknya sederhana, tapi dalam Islam mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Salam merupakan pembuka kata dalam setiap perjumpaan, baik perjumpaan di udara maupun di darat (tatap muka). Salam bahkan menunjukkan kepribadian seseorang.

Orang yang secara tiba-tiba berkata-kata tanpa didahului oleh salam bisa dianggap kurang etis atau tidak sopan. Apalagi jika akan memasuki rumah orang. Bahkan nada suara, ekspresi wajah, dan gaya penampilan ketika mengucapkan salam menjadi perhatian yang sangat besar.

Lebih dari itu, orang bisa langsung mengetahui identitas agama seseorang dari salamnya. Jika ada penyiar televisi atau narasumber yang diwawancarai mengucapkan assalamualaikum, segera kita ketahui bahwa orang tersebut beragama Islam. Demikian juga bila menggunakan salam yang lain.

Masalahnya kemudian, bagaimana jika Assamu'alaikum sudah menjadi tradisi nasional, sehingga warga non-muslim juga mengucapkan hal yang sama? Banyak di antara kita yang kelagapan menerima ucapan Assamu'alaikum dari kawan atau kenalan yang nyata-nyata bukan muslim. Ada yang menjawab dengan wa'alaikum salam, tapi ada yang justru tidak menjawab sama sekali.

Urusan salam ternyata telah diajarkan oleh Islam sangat rinci sekali. Termasuk jika kita mendapatkan ucapan Assamu'alaikum dari orang non-muslim. Dalam hal ini kita cukup menjawab mereka dengan ucapan: wa'alaikum. Kenapa demikian?

Ada dua alasan. Yang pertama, menjaga hubungan baik dan kesopanan. Dengan ucapan waalaikum mereka merasa mendapatkan respon baik dari kita. Mereka tidak merasa diacuhkan. Sebaliknya mereka merasa dihormati dan diterima.

Alasan kedua, dengan hanya menjawab wa’alaikum, maka berarti kita tidak mendoakan kepada mereka. Sebab doa seorang muslim kepada non-muslim itu tidak diterima. Kecuali mendoakan agar mereka mengikuti jalan kebenaran, yaitu Islam. Dengan Islam mudah-mudahan mereka selamat di dunia dan di akhirat.

Nabi Ibrahim adalah seorang anak yang sangat mencintai dan menghormati ayahnya. Itulah sebabnya ia berdoa agar Allah menyelamatkan bapaknya. Akan tetapi perbuatan Ibrahim itu mendapat teguran dari Allah, karena bapaknya masih musyrik, menyembah berhala.

Demikian juga Nabi Muhammad saw, beliau sangat mencintai Abu Thalib, pamannya. Lewat perlindungan pamannya inilah jiwanya selamat dan misinya berhasil. Tapi karena sampai akhir hayatnya Abu Thalib belum juga menyatakan beriman kepada Allah, maka Muhammad saw terhalang mendoakannya.

Inilah adat kesopanan yang diajarkan Islam. Kepada orang yang tidak seagama, kita tetap harus berbuat baik. Apalagi jika orang tersebut telah berjasa kepada kita. Kepada orang tua yang non-muslim misalnya, kita harus berbuat baik. Termasuk jika mereka memerintahkan berbuat maksiat, kita harus tetap berbuat baik kepada mereka, walaupun perintahnya tidak kita jalankan.

Demikian juga kepada orang yang jelas-jelas menunjukkan permusuhannya, kita tidak boleh terpancing berbuat keji dan kotor. Sebisa mungkin kita mengendalikan diri. Jika kita berniat membalasnya, maka balasan itu hendaknya setimpal, tidak boleh berlebihan. Pilihlah kata-kata yang tegas, lugas, tapi tetap sopan.

Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik. Jika benar-benar kita ingin membalas, balasan itu hendaknya tidak lebih dari yang ia terima. Berlebih-lebihan dalam pembalasan merupakan tindak kezhaliman. Allah berfirman:

"Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangan terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa." (QS. al-Baqarah: 194)

Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa bila pipi kananmu dipukul berikan pipi kirimu. Bila jubahmu diminta berikan bajumu. Ajaran ini justru tidak manusiawi, sebab sangat memberatkan mereka yang dizhalimi. Islam mengajarkan agar seseorang bisa memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diterimanya. Meskipun demikian, memaafkan itu jauh lebih baik.

Seperti dalam kasus Aisyah di atas, jelas bahwa Aisyah sangat bisa membalas ucapan keji orang Yahudi. Apalagi saat itu Rasulullah bukan saja sebagai pemimpin ruhani, tapi sekaligus merupakan kepala negara yang berkuasa. Apa susahnya membalas orang yang menghinanya, sedang menjebloskan mereka ke tahanan saja itu merupakan haknya. Tapi Rasulullah sebagai manusia agung memilih untuk memberi balasan yang secukupnya.

Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda, "Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menahan marah bukan pekerjaan mudah. Menuntut perjuangan yang amat berat lagi susah, apalagi bagi mereka yang sedang mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk meluapkan kemarahannya. Akan tetapi justru di sinilah seseorang itu dinilai, apakah layak disebut ksatria atau tidak. Seorang ksatria adalah yang mampu menahan marahnya, akan tetapi jika kezhaliman itu sudah melampaui batas, ia mampu membalasnya, setimpal dengan perlakuan orang tersebut. Orang yang seperti ini akan mendapat jaminan dari Allah berupa kecintaan yang mendalam.

Rasulullah bersabda:

"Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya." (HR. Hakim).

Dalam menghadapi situasi yang cenderung memancing emosi, manusia dapat dibedakan dalam tiga tipe. Pertama, orang yang tidak merasa marah padahal penyebabnya ada. Kedua, orang yang merasa marah tetapi mampu menahan amarahnya dan mau memaafkan. Sedang ketiga, mereka yang merasa marah, mampu menahan marah, tapi tidak bisa memaafkannya. Dari ketiga kategori ini tentu saja golongan pertama yang lebih utama. Mereka disebut telah memiliki hilm, sifat sabar yang sangat besar. Sabar di atas sabar. Sifat ini telah dimiliki Rasulullah saw, dan telah dibuktikan dalam berbagai peristiwa.

Tentang sifat hilm ini Rasulullah bersabda, "Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, "Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu." (HR. Thabrani). [Sahid/www.hidayatullah.com]

Ulama yang Ditakuti Penguasa

|

Syeikh Izzudin dikenal sebagai ulama yang berwibawa di hadapan penguasa dan dicintai oleh rakyatnya. Adakah ulama seperti ini sekarang?

DALAM situasi yang demikian khidmat, Syeikh Izzuddin memanggil Sang Sultan dengan suara tinggi,”Wahai Ayub! Apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatakan kepadamu,’Bukankah kau telah Kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?’”

Sultan menjawab,”apa yang terjadi?”

”Iya, kedai fulan telah menjualnya dan menjual barang-barang haram yang lainnya, sedangkan kau lalai karena kenikmatan kekuasaan.” Jawab Izzuddin, dan pasukan yang mengelilingi sultan pun ikut terdiam tidak berkutik.

”Itu sudah ada sejak zaman ayah kami.” Sultan membalas.

”Engkau termasuk mereka yang berkata, “Sesungguhnya kami mendapati ayah-ayah kami mengikuti suatu ajaran.’” Jawab ulama yang bergelar Syaikh Al Islam ini.

Akhirnya, Sultan Shalih Najmuddin Ayub mengeluarkan perintah untuk menutup kedai tersebut.

Kabar ini tersiar di seluruh penjuru Mesir, hingga murid beliau Syaikh Abu Abdullah Muhammad An Nu’man mendengarnya, hingga ia bertanya, bagaimana gurunya itu berani melakukannya, tanpa ada rasa takut.

”Wahai anakku, aku melihat darinya ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka harus aku merendahkannya, agar kesombongannya tidak mencelakai dirinya sendiri” Dan Izzuddin juga menyampaikan bahwa Allah telah memberikan kepadanya kewibawaan, hingga para penguasa tidak berdaya di hadapannya.

Peristiwa selain itu, yang juga disebutkan dalam Thabaqat As Syafi’iyah (8/211-217), terulang kembali, setelah bangsa Tatar memporak-porandakan Baghdad, mereka hendak memasuki Syam yang berjarak tidak terlalu jauh dari Mesir. Saat itu, pasukan Mesir ketakutan, hingga kerajaan meminta saran dari Izzuddin.

Akhirnya, beliau menyampaikan sarannya,”Kalian harus keluar, saya jamin, kalian memperoleh kemenangan.”

”Uang anggaran kami sedikit, kami perlu berhutang kepada para pedagang.” Kata Sultan.

”Kau kumpulkan perhiasan dari para isterimu, demikian juga para pejabat, menyerahkan emas yang mereka miliki terlebih dahulu, baru jika itu tidak cukup, silahkan meminjam”, Jawab Izzuddin.

Akan tetapi, penguasa masih berlambat-lambat untuk melakukan penyerangan. Mereka menginginkan peperangan dilakukan setelah hari raya. Tapi, bukan Syeikh Izuddin kalau harus diam saja, beliau meminta secara tegas agar penyerangan dilakukan pada bulan Ramadhan. Hingga akhirnya, pasukan keluar Mesir di saat bulan suci berlangsung.

Akhirnya mereka bertemu pasukan Tatar di desa Ain Jalut, peperangan dasyat terjadi. Disanalah Tatar diporak-porandakan, sedangkan pemimpinnya dihukum pancung, dan ekspansi pasukan brutal itu berakhir di desa ini.

Ada lagi, peristiwa yang menunjukkan bahwa Syaikh Izzuddin lebih berkuasa daripada para sultan itu sendiri. Setelah Syaikh Izzuddin mengetehui bahwa beberapa pejabat ternyata masih berstatus budak, beliau mengeluarkan fatwa bahwa mereka harus dimerdekakan terlebih dahulu dengan harta baitul mal, sehingga mereka berhak untuk melakukan tugas. Kontan fatwa ini membuat mereka, apalagi Wakil Sultan, termasuk pihak yang disebutkan Izzuddin. Walhasil, mereka menolak mentah-mentah ajakan murid Hafidz Ibnu Asakir ini.

Mendengar kabar itu, Syeikh Izzuddin berencana keluar dari Mesir menuju Syam beserta keluarganya, dengan mengendarai beberapa ekor keledai. Akan tetapi semua penduduk mencegahnya, anak-anak, para wanita, serta para pedagang keluar, mereka menginginkan agar Syeikh Izzuddin tetap tinggal di Mesir.

Mendengar kabar demikian, Sultan dengan kendaraannya sendiri segera berangkat untuk menyusul Syaikh Izzuddin. ”Kalau dia sampai keluar Mesir, kekuasaanmu bisa segera jatuh!” Kata beberapa pihak kepada Sultan.

Akhirnya, Sultan sendiri memohon agar ulama Syafi’i ini tetap tinggal di Mesir. Selanjutnya, semua pajabat yang dipandang masih sebagai budak, dimerdekakan melalui ulama ini, dengan harta yang tidak sedikit dari baitul mal.

Walhasil, selama penulis kitab Qawaid Al Ahkam fi Mashalih Al Anam ini masih hidup, para penguasa tidak mampu berbuat apa-apa. Sehingga ketika beliau wafat dan jenazahnya diangkat melewati benteng, Sultan Dhahir Bebres mengatakan,”Hari ini aku mendapat kewenangan penuh atas kekuasaan, karena Syaikh ini, jika mengatakan kepada manusia,’Jangan mentaati dia!’ Maka kakuasaan benar-benar akan lepas dariku.” [thoriq/www.hidayatullah.com]

 

©2009 risma jatibening satu | Design by risma jatibening satu