Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

PLIS DONG, AKH!

|

“Assalamu‘alaikum, Ukhti!” suara melengking itu spontan membuatku mendongak. Tommy terlihat sumringah saat melihatku. 

“Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!” 

Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. Masalahnya lagi, baru lima menit yang lalu aku mengisi mentoring tentang manajemen hati dan sikap. Nah, kalau sekarang aku disapa Tommy seperti itu kan jadi rumit. Bisa-bisa dikira aku punya skandal dengan ikhwan yang satu ini. 

  “Iya, liburan kemana aja, Ukh? Cerita-cerita dong!” Tommy masih nyerocos tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara itu aku senin-kamis menahan malu sambil menghindari tatapan adik-adik mentorku yang sesekali tersenyum nakal dan berdehem-dehem. Mungkin saat itu mukaku sudah berubah menjadi traffic light, merah kuning hijau. Tapi dia tetap saja cuek dan pasang innocent face.

  Tommy adalah teman sekelas SD-ku. Enam tahun sekelas dengan nomor absen yang berurutan membuat kami lumayan akrab. Sering ngobrol, sering kerja kelompok, sering merancang ide-ide konyol, tapi sering bertengkar juga. Pokoknya dulu bisa dikatakan kami berteman baik deh. Waktu lulus SD, dia pindah ke luar kota. Tidak pernah ada kabar sampai tiba-tiba dia sudah satu jurusan, bahkan sekelas denganku di universitas. Tapi tentu saja semua sudah berubah. Paling tidak sekarang aku sedikit-sedikit juga tahu adab bergaul dengan lawan jenis. 

  Tapi, entahlah bagaimana dengan Tommy. Dia memang terbuka, suka bergaul, bercanda, dan ngobrol dengan siapa saja. Sepertinya sekarang dia juga sudah cukup paham. Sekarang kami sama-sama bergabung di rohis fakultas. Tommy sering juga ikut kajian umum di fakultas, sering terlihat kumpul bareng ikhwan-ikhwan mushala, sering ikut dalam kepanitian SKI, dan juga cukup sering menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan pengetahuan Islamnya cukup terakreditasi. Tapi untuk masalah ‘centilnya’ ini, ah entahlah....

  “Kok diem terus sih, Van! Ngomong dong! Ngomong...!” Disuruh ngomong aku malah semakin kikuk. Apa lagi kalau mengingat nada suaranya yang mirip-mirip iklan operator telepon selular yang beberapa waktu lalu sempat populer, “Ngomong dong, sayang..!” Weeit...!

  “Iya, ya, liburanku biasa-biasa aja kok. Pulang cuma seminggu, belum hilang kangennya sama orang rumah. Kemari... nggak jadi deh!” aku nyaris saja keterusan bicara. Tadinya aku mau cerita kalau kemarin aku ketemu sama Dela, teman kami dalam hal gila-gilaan waktu di SD dulu. Wah, kalau tadi aku cerita, pasti obrolan nostalgia SD akan jadi panjang.

  “Kemarin kenapa? Cerita dong... aku jadi penasaran nih.” 

“Nggak usah, nggak penting kok! Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa” 

“Uh... dari dulu kamu nggak berubah. Bikin orang penasaran.” 

Aku cuma ngiyem mendengarnya. 

 “Eh, Van, Van. Kamu liat akhwat itu nggak?” Kali ini Tommy mengalihkan pembicaraan. Matanya mengarah pada seorang akhwat yang berbaju abu-abu di seberang. “Emangnya kenapa?” Aku terpancing ingin tahu.

  “Itu tuh, bajunya kok nggak match ya. Liat tuh, bajunya abu-abu, bawahannya hijau, jilbabnya item, eh... tasnya merah. Bagusan kan kalo roknya item dan tasnya apa gitu kek, yang penting jangan merah. Trus kaos kakinya itu lho, kok kuning. Aduh...!” Tommy sok-sok memberikan penilaian bak seorang desainer sambil memukul-mukulkan telapak tangan ke jidatnya. “Payah ah, penampilannya! Kalau kamu hari ini sudah cukup match kok, Van. Bagus, bagus!” Tommy memandangi sekilas setelan biru yang kupakai. 

Aku sudah tidak tahan mendengar komentar-komentarnya tadi. Siapa yang butuh komentar darinya? Kalau saja kami masih jadi anak SD, sudah kutonjok dia dari tadi. Hiiihhh!

  “Plis dong, Akh! Penting nggak sih buat kamu? Kasian lagi kalau beliaunya denger kamu ngomongin dia kaya gitu. Bisa kehilangan pede. Lagian harusnya kan antum jaga pandangan dong!” jawabku ketus disertai tampang bete. Khusus kalau sedang bicara dengan Tommy kata-kataku jadi campur aduk, tergantung mood. Kadang pakai istilah akhi, antum, afwan, atau istilah-istilah Arab lain. Tapi kadang juga keluar aku, kamu, kasian deh lu, dan bahasa-bahasa gaul lainnya yang dulu biasa kami pakai.

  “Emang nggak boleh ya komentar kaya gitu? Kalau aku malah seneng kalo ada yang ngeritik. Ah, wanita memang susah dimengerti.” 

Aku menahan diri untuk tidak berkomentar sambil mengepal-kepalkan telapak tanganku di samping baju. Rasanya darahku sudah mendidih sampai ke otak. Melawan kata-katanya hanya akan memicu perdebatan yang sulit diramalkan endingnya.

  “Eh, udah deh, aku pergi dulu ya.” 

Tiba-tiba rongga dadaku terasa lega mendengar kalimat terakhirnya itu. Lega. 

“Tapi Ukh, sebelumnya tolong liatin muka saya ada tip-exnya nggak?”

Saking gembiranya, aku langsung menuruti persyaratan untuk membuatnya menghilang dari hadapanku. Aku mendongak menatap wajah yang ditumbuhi sehelai jenggot itu. “Nggak ada, kok,” jawabku. 

“Makasih ya, Ukh! Tapi bukannya kita nggak boleh memandang wajah lawan jenis? Sudah ya, wassalamu’alaikum...!” 

Tinggal aku yang bengong dan gondok habis. Ugh... kena deh! Awas ya!

  

***

 

“Assalamu‘alaikum...” Sosok Tommy sudah muncul di depan kostku. Aku celingukan mencari teman yang mungkin dibawanya serta. Nihil.

“Waalaikum salam warahmatullah.. Sendirian aja, Tom? Nggak bawa temen?” Aku jadi kikuk. Serba salah. Setahuku kalau ada dua orang laki-laki dan perempuan maka ketiganya ada setan. Hiyy. Di sini ada setan dong!

Tommy sudah empat kali berkunjung ke kostku. Aku juga sudah selalu berpesan kalau dia harus mengajak seorang teman biar kami nggak ngobrol berdua. Tapi sampai sekarang dia masih suka nekat datang sendirian. Dan aku juga belum bisa mengusirnya dengan tegas. Nggak tega.

“Afwan, tadi cuma mampir karena habis beli jus dekat sini. Udah bikin tugas analisis konflik dan perdamaian, Ukh?” 

“Udah, baru aja selesai.” Aku berusaha menghemat kata-kataku.  

“Aku bingung nih, masalahnya gimana sih? Bisa minta tolong dijelasin nggak?” 

Pertanyaannya bikin aku garuk-garuk kepala. Memaksaku untuk menjawab panjang lebar. “Bisa nggak kalo nanya di kampus aja?” 

“Tapi aku kan mau ngerjain nanti malem. Besok kita juga nggak ketemu di kampus. Padahal lusa harus dikumpulin.” Suaranya bernada kecewa.

“Emang nggak bisa nanya ke yang lain?!”

“Eh, kok ketus banget sih, Van! Aku kan udah bilang, mampir ke sini karena kebetulan habis beli jus di samping kostmu, trus inget kalau ada tugas yang aku nggak ngerti. Jadi sekalian nanya. Malu bertanya sesat di jalan. Kita kan nggak boleh menyembunyikan ilmu yang kita miliki. Ya udah kalau nggak boleh.”

Tiba-tiba hatiku meluluh. Kena jebakan kata-katanya. “Emang mau nanya apa sih?”

Tommy nyengir. “Nah, gitu dong!” 

Akhirnya terjadilah diskusi kecil kami selama hampir setengah jam.

“Makasih banyak, Vanti! Entar namamu kucantumin di daftar pustaka deh.” Tommy berusaha melucu. 

Tapi bagiku yang udah bete banget jadi enggak lucu sama sekali. Plis dong, Akh!

“Pulang dulu ya. Sampai jumpa. Mimpi indah ya!Bu bye..”

Gleg. “Kok sampai jumpa sih? Pake bubye pula.”

“Eh, iya, afwan. Assalamu‘alaikum...”

“Alaikum salam warahmatullah.”

 

***

 

Sepertinya belakangan ini Tommy menjadi sebuah masalah bagiku. Dan entah kenapa banyak kebetulan-kebetulan yang menyebabkan aku harus bersama dengannya. Misalnya pernah waktu jalan tiba-tiba kebetulan dia juga sedang jalan kaki dan tanpa sungkan-sungkan langsung mengajak ngobrol. Waktu beli makanan di kantin juga ketemu. Tiga kali ketemu di ke toko buku. Ke perpustakaan juga ketemu. Di luar kebetulan-kebetulan itu, Tommy juga sering sekali mengirim sms, menelepon, dan menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Suka curi-curi pandang, suka memujiku, dan hal-hal lain yang menurutku sangat menjengkelkan. Rasanya aku ingin beberapa hari cuti jadi orang yang mengenalnya, biar kalau ketemu lagi aku tidak perlu merasa begitu bosan seperti sekarang.

“Jangan-jangan kalian jodoh” Aku hampir tersedak waktu Ika tiba-tiba mengucapkan hal itu. Memecahkan keasyikanku menikmati makan siang di kantin Yu Jum.

“Uhuk... uhuk... hari gini ngomongin jodoh?!” aku buru-buru minum karena tenggorokanku tercekat. 

“Emangnya nggak boleh? Kuliah sudah semester lima, umur sudah kepala dua. Kalau memang jodoh kan bisa segera...” Ika cengar-cengir melihatku.

“Astaghfirullah, ngapain sih ngomong kaya gitu, Ka? Jodoh itu rahasia Allah, dengan siapa dan kapan itu rahasia Allah. Nggak usah dipikirin pun toh kalau sudah tiba waktunya akan datang sendiri. Nggak bisa diundur dan nggak bisa dipercepat.”

“Iya, tapi kan kalau memang sudah siap maka makruh hukumnya menunda-nunda pernikahan.” Kali ini Ika mengedip-ngedipkan matanya centil. Membuatku serasa semakin ingin menghilang. 

“Yee, siapa yang bilang sudah siap nikah?”

“Lho, kamu belum tahu ya? Tommy kan mau nikah muda! Jadi... jangan-jangan dia sudah punya calon. Siapa tahu...! Inget lho, kalau sudah ketemu jodoh dan mampu, maka makruh hukumnya menunda pernikahan.” Ika kelihatan bersemangat sekali membuatku jengkel. 

“Udah ah... kamu bikin aku kehilangan nafsu makan aja, Ka! Kalau kamu berminat, bungkus deh buat kamu!” Ika hanya terkekeh mendengarnya.

 

***

 

Entah kenapa tanpa kusadari, obrolan dengan Ika itu menghantui pikiranku. “Iya, jangan-jangan, jangan-jangan... oh tidak! Paling hanya aku yang ke-geer-an.

New sms! Handphoneku tiba-tiba mengoceh sendiri. 

Ups, dari Tommy! 

Vanti yang baik, tolong ya siapin surat izin pinjam tempat buat syura besok. Plizz, you are my only hope =)  

Ih, apa-apaan sih ini kok minta tolong saja merayunya sampai maut begini. Nggak menghargai banget, masa ngomong sama akhwat masih tetap gombal-gambel kaya gini sih. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada perkataan Ika siang tadi. Jangan-jangan.... Kadang sikapnya memang suka aneh sih, suka ngajak ngobrol lama-lama, suka memuji, suka sok kebetulan mampir dengan alasan beli jus. Padahal di dekat kostnya pasti juga ada yang jual jus, ngapain juga jauh-jauh beli jus sampai ke sini. SMS yang model begitu juga bukan barang baru lagi. Ihh.

 

* * *

   

“Hati-hati lho, Van!”

“Kenapa?” alis mataku terangkat refleks.

“Hati-hati lah... sama ikhwan kaya gitu!” tukas Evi, tetangga kamarku.

“Tahu nggak, kemarin Tommy ke sini lagi lho...”

“O ya?” kini mataku yang terbelalak.

“Hati-hati sama hatimu sendiri. Kan kamu sendiri yang bilang apa tuh... witing tresna jalaran suka kulina. Nah, kalau kamu tiba-tiba jadi suka sama dia gara-gara dia sering ke sini gimana?” Evi menatapku serius.

“Apalagi kalian udah kenal sejak kecil kan?” pertanyaannya semakin menusukku.

“So what gitu lho...”

“Ya silakan ditafsirkan sendiri... aku cuma mengingatkan, setan itu cerdik bin lihai lho...” 

Aku manggut-manggut

“Harus bisa tegas!” tambah Evi lagi.

“Tegas? Maksudnya, kalau dia dateng lagi aku harus apa? Kalau dia sms nggak usah dibales gitu?”

“Iyalah... kalau dia dateng tuh, nggak usah dibukain pintu! Kalau sms nggak usah dibales. Kalau becanda nggak usah diladeni, pokoknya bersikaplah dingin!”

“O... gitu ya?”

 

***

 

  Ternyata saran Evi cukup jitu. Tommy tidak lagi menjadi masalah bagiku dalam tiga minggu terakhir. Senangnya....

  “New sms!” 

  Kuraih handphoneku.

  Tommy!

  Ass. Van, tidak saya kira, anti juga bisa bersikap tegas dan cool. Cocok dengan kriteria saya. Jadi, kapan anti siap menikah?

  Pliss dong, Akh!

  Tiba-tiba mataku memanas. Aku tidak sanggup bernapas lagi.***



 [Naskah ini dimuat di Annida no 02/XVI/Oktober 2006]
Karya : Nova Ayu Maulita 

Refund yang No Fund

|

Mata itu berbinar-binar. “Jam tujuh, Jeng!”

  Ajeng tak bergerak dari telungkupnya. Matanya setia mengikuti huruf demi huruf jurnal komunikasi di depannya. Dua hari lagi dia harus mengirimkan bab tiga ke supervisor.

  Karin menyodok Ajeng. “Denger nggak?” 

  Ugh. Dari kemarin omongan Karin nggak lepas dari sale! Sale Topshop, Fcuk, Zara. Sekarang Next. Esok Next mulai sale. Dia naksir blazer hitam Next.

  Bukannya Ajeng nggak naksir!

  “Iya.” Ajeng menjawab datar. 

  Karin tertawa bahagia. “Sale winter lalu aku nggak bisa belanja, Jeng. Soalnya uang kepake tur Eropa. Aku tadi cek account. Kiriman dari Bapak sudah masuk.” Dia tidak punya fasilitas overdraft.

  Mulut Ajeng mengerucut. “Bukannya kamu masih ngutang sama Mbak Ira?” Mereka berdua membayar sewa rumah pada Mbak Ira, karena rumah disewa atas nama Mbak Ira. Tiap bulan mereka berbagi bill. Mbak Ira membayar paling banyak, karena kamarnya paling besar. Lalu Karin. Sedang Ajeng menempati kamar singel yang terkecil. Cuman muat kasur, lemari dan meja kecil. Ada sisa ruang sedikit untuk sholat.

Karin belum bayar kopi Costa pada Ajeng. Pekan lalu juga utang ongkos ke car boot sale Whitley Bay. Memang nggak banyak sih. Enam pound. Cuma, segitu bisa makan tiga hari. Ajeng menggerutu dalam hati.

Karin seperti tak mendengar.

“Sewa rumah bulan lalu?”

  Karin seperti tersengat. “Aku akan bayar.” Dia menggerutu panjang pendek. Sale nggak ada tiap hari, begitu isi gerutunya .

  Ajeng menutup dua telinga. Dia perlu kosentrasi. 

  Karin begitu itu. Anak orang kaya. Hobinya jalan-jalan dan belanja. Liburan akhir tahun main ski ke Austria. Punya mobil dan HP. Tapi sering ngutang. Sedihnya utangnya dilupakan. 

  Ajeng sering apes. Kalo jalan sama Karin, misal minum kopi, Karin minta dibayarin dulu. Alasannya belum ambil uang ke ATM. Minum kopi ya paling sepound lebih dikit. Cuma, bisa dipastikan Karin lupa sama utangnya. Pernah Ajeng mencatat, sebulan utang-utang kecil Karin sampai pada jumlah 23 pound! Mulai dari beli minum, ongkos, bayar kartu fotokopi, sampai... beli pembalut. 

  Ubun-ubun Ajeng rasanya sudah berasap. Uang segitu buat Emak di rumah bisa buat belanja dua pekan! Bukan apa-apa. Ajeng kan miskin. Ke sini juga disekolahkan orang. Nggak seperti Karin. Bapaknya kayak yang punya bank saja. Kapan saja, berapa saja Karin minta, selalu ada. Mbak Ira juga bukan orang kaya. Supaya bisa meneruskan sekolahnya, dia kerja serabutan ke mana-mana.

  “Blazernya buat Agustusan. Mas Agung pasti datang. Dia panitia.”

  Ajeng membuka tangan di telinganya, melongo. Dia lupa dengan jurnalnya.

  “Mas Agung?” Dia tak percaya.

  “Agung Haryanto.” Wajah itu melamun.

  Ajeng memukul Karin dengan jurnalnya. “Bangun ooi!”

  Karin kembali ke bumi, manyun. “Napa?”

  “Mas Agung udah tua, Karin!”

  “Paling baru 26, beda 7 tahun saja.”

  Ajeng menatap temannya takjub. “Orang kayak dia biasanya udah nikah lagi umur segitu!” Jenggotan, baju koko.

  “Nggak ada istrinya.”

  “Kali ditinggal.”

  “Kalo nggak ada di sini, lebih mudah kan.”

  “Ampuun deh. Waras dikit napa sih Karin!” Semprot Ajeng. Ajeng mengemasi bukunya. Kekesalannya bertambah-tambah. Selain hobi belanja, dia juga senang melakukan pendekatan pada makhluk-makhluk. 

Karin sebenarnya manis, asal dia mengurangi make upnya. Dia cukup menarik kalau pakai bajunya proper. Pernah, pergi mengunjungi kapal Dewaruci--bertambat di Quayside dalam lomba tallship--dia datang dengan baju skimpi, celana jins yang robeknya sampai pangkal paha dan melorot rendah sekali. Asli, Ajeng nggak mau dekat-dekat dengan Karin. Dia tidak mau melihat bagaimana teman serumahnya dinikmati pelaut yang sudah lama tidak lihat perempuan itu.Eh, ndilalah. Dengan bahagianya Karin cerita dia diajak ngobrol banyak awak kapal. 

  Asli, Ajeng geleng-geleng. Ada ya makhluk seajaib Karin?

  Lha, mau mendekati Mas Agung? Yang ustadz itu?

***

  Pagi Agustus yang segar dan ramah. Cericit burung saling meningkahi. Di Jakarta, Ajeng tak pernah mendengar suara burung pagi-pagi. Dulu, ketika baru sampai di sini, bangun pagi hari, Ajeng takjub mendengar kicauan burung. Di sini memang begitu. Penduduk banyak menyediakan makanan burung di halamannya. Di danau buatan, roti bertaburan seperti pasir di pantai. Merpati dan bebek di Leazes Park sampai tak bisa menghabiskan ‘sumbangan’ makanan itu. Mereka makmur dan gendut. Menembak burung liar bisa kena penjara. Makanya burung di sini berkembang biak. Ajeng sempat berfantasi menangkap bebek di sana dan memasak bebek hijau a la Tante Ayu dari Padang. Fantasi saja. Ajeng masih takut polisi.

“Jeng, sudah siap belum?” Suara melengking Karin. Ia minta ditemani belanja.

  Agak malas Ajeng keluar kamar. 

  “Ayo!” Karin tidak sabar, menuruni tangga.

  “Biasanya jam segini, kamu masih ngorok,” Ajeng misuh-misuh.

  Karin pura-pura tidak mendengar. Dia menyambar jilbab dari gantungan baju dan melemparkan kepada Ajeng. “Aku tunggu di mobil.” Lalu dia melesat keluar.

  Nona ini kalau ada maunya... Padahal pakai mobil dia ke city centre nggak sampai enam menit.

  “Aku naksir blazer hitamnya, Jeng. Kemarin, sebelum sale masih 100 pound. Katanya, hari ini bisa jadi 60 persen. Bisa dapat 40 pound. Di Jakarta nggak dapat segitu. Boro-boro. Sepotong Next bisa dua juta. Ada sepatu yang cantik temannya. Aku lihat masih ada ukuranku. Mungkin bisa dapet 15 pound.”

  Sepatu Ajeng dibawa dari Indonesia.

  “Uang segitu bisa bayar kamar lhoo.”

  Bibir itu manyun.

  “Aku akan bayar. Denger nggak sih?”

  “Habis, masih ada utang, udah maruk mau belanja. Kasihan Mbak Ira. Kerja banting tulang gitu.”

  “Aku kan bilang,” seru Karin melengking. “Aku akan bayar. Aku cuma mau pake bajunya untuk tujuh belasan. Trus direfund.”

  W H A T?!

  Ajeng menatap temannya horor.

  “Maksudmu?”

  “Aku beli dulu, trus dibalikin. Uangnya kan dapat lagi.”

  “Setelah bajunya kamu pake?”

  Karin nampak gelisah. “Ya.” Suaranya kecil.

  N O!

  “Rugi amat yang beli baju setelah kamu pake.” Ajeng ketus.

  “Why?” Suara itu penuh ancaman.

  “Bau!” 

  Karin mengumpat. “Aku nggak pernah bau lagi! Kamu tuh.”

  Hening. 

  “Kan boleh gitu, Jeng. Kalo nggak puas, nggak suka barangnya, ada masa 14 hari untuk refund. Banyak yang kayak gitu.”

  “Baju?”

  “Ya, macam-macam. Kemarin Mas Han beli digital cam untuk graduationnya. Pas udah dipake, kameranya dibalikin. Uangnya dapat lagi. Daripada nyewa kamera.”  

Ajeng berdiam diri. Dia tetap merasa apa yang akan dilakukan Karin salah. 

  “Tahu nggak? Next juga jualan scarf lho. Beli deh. Aku mau nyari yang pake nama Nextnya. Aku mau pakai jilbab esok...”

  Ajeng memutar bola matanya.

  Sejak kapan si seksi ini kepikiran pake jilbab?

  “Mas Agung,” Karin terkikik.

  Ajeng tersegat lebah. “Napa?”

  “Pasti nggak pernah liat anak jilbab modis.”

  Hidup di jaman kapan sih kamu, Karin? “Di Indonesia dah banyak lagi anak jilbab gaya kamu,” tukas Ajeng datar.

  “Eh?” Wajah itu tidak percaya.

  “Sudah banyak yang jilbabnya mini, nampak udel. Banyak juga yang jilbab cekek, nampak big boobs. Jadi, kayak kamu mah dah pasaran,” dengus Ajeng.

  “Kan nggak ada yang secantik aku.” Suara itu bahagia.

  Ajeng mau muntah. “Cantik tapi...”

  “Sirik tanda tak mampu.”

  Hoek.

  Karin parkir di dalam kampus. Tak menunggu langkah kecil Ajeng, Karin setengah berlari menyeberang. Ajeng sengaja memperlambat langkahnya. 

  “Jeeeng, aku tunggu di depan pintu ya?” pekik Karin.

  Ajeng meleletkan lidah.

  Pagi Sabtu, jalanan sepi. Kampus pun hampir kosong. Gedung pustaka Robinson menjulang dari jauh, seakan mempunyai magnet yang amat kuat. Di saku jaket Ajeng ada kartu mahasiswa. Walau kampus sedang libur, Ajeng bisa membuka gedung dengan kartunya. 

  Pergi? Tidak?

  Wajah murka Karin membayang.

  Menghela napas, Ajeng menekan tombol lampu penyeberang di depan St. Mary. 

  Wuih. Di depan Next antrian sudah mengular... sampai ke Superdrug. Ada ibu-ibu dengan pushchair juga. Semangat amat sih.

  “Hallo, Ajeng. Ngesale juga nih,” Beberapa ibu-ibu Indonesia, bergerombol di barisan agak ke depan.

  Ajeng meringis. “Nunggu sejak jam berapa, Bu?”

  “Hampir jam lima. Tapi, kan kita hampir paling depan.” Mereka tertawa riang.

  Ajeng tertawa terpaksa. Dia lalu pamit, menuju ujung antrian.

  Jalan Northumberland mulai hidup. Karin thumps up melihat Ajeng. Mereka terpisah lima orang.

  “Assalamu’alaikum. Ajeng? Karin? Apa kabar?”

  Satu suara membuat Ajeng melongokkan kepala. Mbak Onny. Yang membina pengajian putri Newcastle. Muka Ajeng memanas. Dia merasa tertangkap basah melakukan sesuatu yang kurang pantas. Ajeng keluar dari antrian dan menyalami Mbak Onny.

  “Pulang kerja Mbak?”

  Mbak Onny cleaner. Suaminya Ph.D. Belum selesai, beasiswa sudah habis. Mbak Onny yang juga dosen di Jogja mencari penghasilan dengan menjadi petugas kebersihan.

  “Baru akan berangkat. Besok datang?”

  Kerongkongan Ajeng kering. Dia mengangguk lemah.

  Mbak Onny tersenyum tipis. “Jangan lupa sisihkan uang untuk Pangandaran, Jogja dan yang lain ya?” Mata itu begitu damai.

  Ajeng tunduk. Coba tadi ke kampus saja. 

  “Sendirinya belum tentu ngirim ke Pangandaran,” Karin menyong, menatap punggung Mbak Onny yang hampir hilang.

  “Sok tau lu.” Kepala Ajeng memanas.

  Untungnya pintu Next dibuka. Seperti ombak, manusia berduyun masuk ke toko. Karin mendesak maju. Ajeng membiarkan yang lain mendahului. Minatnya untuk lihat-lihat lenyap.Karin seperti orang demam. Pontang-panting meraup blazer yang dia idam-idamkan; sepatu, scarf. Dua-dua tangannya penuh dengan baju, rok dan lain-lain. Ajeng berdiri di tepi. Toko itu terlalu penuh untuk bisa jalan dengan tenang. Baju dan rok Ajeng masih banyak yang bagus.

***

  Kalau kemarin, Karin yang menunggu Ajeng di depan pintu, kali ini giliran Ajeng.

  “Lama amat sih dandannya?”

  Mbak Ira tidak di rumah. Menginap di rumah temannya.

  Ketika pintu itu terbuka pelan-pelan, Ajeng menahan tawa kuat-kuat. Menor beh. Jilbab cekek. Aduh, nggak Karin amat deh.

  “Aku belum selesai.” Karin mengacungkan tangannya. Kuku palsu!

  Karena takut pertahanan dirinya jebol—ngakak nggak habis-habisan—Ajeng mendahului Karin menuju Leazes Park. 

  Anak ajaib. Karin pernah mikir nggak sih nyambung di mana jilbab sama kuku palsu? Ajeng geleng-geleng kepala. Tapi, ya, masih mending berteman sama Karin. Undergrad yang lain pada hobi clubbing, atau kasinoing. Betul itu. Teman-teman, kalau week end, sering janjian di Monument, terus jalan ke club. Atau mereka suka ngumpul di kasino. Alasan anak gadis muslim yang lain, mereka sekadar duduk di lounge. Ada sandwich gratis. 

  “Kan nggak betting. Lumayan, free dinner.”

  Ajeng nggak deh.

  Walau Karin hobi berpakaian seksi, sejauh ini, dia nggak freely touchy, gitu loh. Exsesively flirty, iya. Anaknya kadang nyebelin. Tapi, dalamnya dia baik. 

  Setiap memasuki pagar Leazes, selalu Ajeng ingat Bang Rul. Bang Rul gila bola. Bulan pertama di sini, melulu pertanyaan Abang tentang Owen. Pohon kiri kanan yang merundukkan rimbunnya ke jalan, hmm, Ajeng suuuka. Sebentar lagi, Autumn. Daun-daunnya akan berguguran dan menghiasi jalan. Menguning seperti emas. Pohon tinggal ranting dan dahan saja. Dulu, waktu baca prospek Newcastle Uni, Ajeng jatuh cinta dengan danau ini. Baguuus sekali. Pulau kecil yang romantis. Kebayang nggak sih, kemping di pulau kecil, sendiri saja? Di sekitar angsa dan bebek liar? Menghidupkan api unggun? Yummy. 

Eh, pas melihat betulan. Asli, Ajeng terperangah. Ini mah kolam ikan! Bukan ‘lake’. Ketipu, sodara-sodara! Tapi, tetap cakep. Kolam ikan yang terawat dan bersih. Apalagi di kanannya, playground anak-anak baru saja dibangun. Lengkap dengan lantai warna warninya.

  Di kiri danau, hampir ke dekat St James Park, komunitas Indonesia mendirikan tenda makanan. Ibu-ibu berkumpul di tenda. Sebagian sibuk mengatur makanan, sebagian ngerumpi sambil icip-icip. Anak-anak berlarian. Warna kulit mereka beragam. Dari yang putih bule, putih Cina, sampai hitam Afrika. Teriakan mereka medok Geordie.

  “Let’s go to the wa’er!”

  “It’s not fun!” Fun dibaca dekat ke bunyi u, daripada a.

  Bapak mereka, ada yang bule, ada yang Afrika, bergerombol di satu sudut. Bapak-bapak PhD kumpulnya di sudut lain. Diskusinya melulu tentang perkembangan tesis. Anak muda-muda punya kesibukan lain. Ada yang menyiapkan tonggak untuk mengibarkan bendera. Ada yang menyiapkan perangkat games dadakan. Ada yang bungkus-bungkus kado hadiah. Ajeng pilih gabung ke sini. Menggunting kertas kado, menempelkannya ke kotak hadiah. Panitia menyiapkan puluhan hadiah. Sebagian untuk anak-anak seperti spidol, magic board.

  “Aku juga mau deh dapet hadiah ginian?” Ajeng membolak-balik kotak girl’s kit.

  “Masa kecil kurang bahagia lu,” Naning temannya membungkus kado berkomentar dengan cuek.

  Ajeng cengar-cengir.

  Waktu kecil—sekarang juga sih—mana ada dalam kamus keluarga Ajeng dibelikan mainan. Kalau mau punya mainan, ya dibuat sendiri. Boneka dijahit Emak. Pistol-pistolan dibuat dari pohon bambu. 

  “Eh, udah dipanggil upacara,” Naning menyenggol Ajeng. Di sekitar mereka bertumpuk kotak kado.

Ajeng buru-buru menggunting selotip. Merapihkan lipat kertas kado dan sigap menempelkan selotip.Yup. Sudah. Lagu Indonesia Raya sudah setengah jalan. Pelan Ajeng menggabungkan diri. Di depan komandan upacara, ketua PPI. Ada yang mengibarkan bendera, berdua. Komunitas Indonesia berdiri berjejer. Mungkin seratus lah.

  Aneh ya, upacara di negeri orang.

  Pembacaan puisi. Puisi ini terjemahan lagu Indonesia Raya. Tujuannya memberikan pemahaman lebih pada adik-adik kecil yang lahir dan besar di sini. Ini tugas Karin.

  Karin berjalan dari samping, menuju tengah lapangan. Wajah percaya dirinya penuh senyum. Satu kali matanya mengerling pada Mas Agung. Tapi yang dikerling tidak melepaskan pandang dari bendera merah putih. Percuma Karin!

  Karin berbalik.

  Alaaaamaaaak.

  Ajeng ingin berlari ke depan, menyambar lengan temannya dan mengajaknya minggir.

  Pada leher blazer Next hitamnya itu, yang di dalamnya ada jilbab cekek, bergelantungan dengan manis....

  Aduh, merek dan harga baju!

  Kertas itu menari-nari ditiup angin.

  Sebagian menahan tawa. Sebagian pura-pura tak tahu. Sebagian lagi berdiskusi, walau bisik-bisik.

  “Wah, lupa memotong mereknya ya.”

  “Mau direfund kali.” Cekikikan.

  Muka Ajeng memanas. Aduh, cepet dong Karin. 

  Karin menyelesaikan puisi dan dengan gerakan yang lebih gemulai dari biasa meninggalkan tengah lapangan. Ajeng menyelinap di antara badan-badan, menyelusuri belakang barisan dan menarik Karin. Karin berusaha menepiskan helaan Ajeng. Ajeng mengencangkan tarikannya sampai akhirnya Karin mengalah dan mundur.

  “Apaan sih?” Karin tak meleparkan pandangannya dari tempat Mas Agung berdiri.

  Ajeng menelan ludah. Hatinya kecut. “Ka... kamu...” Bagaimana Karin yang sangat peduli dengan penampilan menerima berita ini?

  “Apa sih?” Karin tidak sabar.

  “Lupa...” Ajeng membersihkan kerongkongannya. “Merek baju.”

  Muka Karin memucat. Tangannya gemetar merayapi punggungnya, menuju bawah tengkuk. Jarinya menyentuh merek itu. Mulut Karin terbuka dan tertutup tanpa suara. Matanya membelalak. Wajahnya penuh horror. Tanpa suara, dia membalikkan badan, membawa kakinya berlari, menjauh dari kerumunan orang.

  Jantung Ajeng jatuh sampai dasar perutnya. 

  Karin menerima berita ini lebih buruk yang dia duga.

  Biasanya, dia punya rasa humor. Setengah berlari Ajeng menyusul Karin. Ajeng belum sempat mencicipi gule Bu Faqih yang terkenal itu!

  Yaaaa.

Karin deh.***

   

Newcastle, 61 tahun kemerdekaan Bumi Pertiwi

 

Box:

Muthmainnah, alias Maimon Herawati adalah salah satu penulis favorit Annida (1997) dengan serial fenomenal Pingkan, yang telah diterbitkan dan hingga kini masih dicetak ulang. Selain Pingkan, Maimon juga menulis beberapa buku seperti Tembang di Padang, Rahasia Dua Hati dan Muara Kasih. Penulis kelahiran Sijunjung, 15 Mei 1974 ini sekarang tinggal di Newcastle, Inggris, menemani suami studi di sana. 

 
[Naskah ini pernah dimuat di Annida Nomor 01/XVI/September 2006]
Karya : Muthmainnah

Aksara Tanpa Kata

|

Jemari Andi tampak menari-nari di atas keyboard hitam komputernya. Matanya lurus menatap monitor. Bersamaan dengan tarian jarinya, muncul pula huruf-huruf di balik kaca monitor, satu per satu. Tulisannya sekarang sudah sekitar enam-tujuh halaman. Lumayan untuk dikirim ke media massa langganannya.

Andi Sulaiman Fahmi. Siapa yang tak kenal nama itu? Salah satu penulis yang sangat produktif saat ini. Tulisannya tersebar di berbagai media massa. Entah sudah berapa banyak judul tulisan hasil karangannya. Sulit untuk dihitung saking banyaknya.

Ia rentangkan kedua tangannya ke samping, sekadar menghilangkan pegal yang hinggap di badan. Sudah dua jam penuh ia duduk di depan komputer.

“Hoaaaeemm... akhirnya selesai juga,” ujarnya lirih menahan kantuk. Ia pandangi monitor komputer yang memampang tulisan terbarunya. Saat tiba-tiba... 

“Tok... tok... tok...”

“Tok... tok... tok...”

Terdengar ketukan beberapa kali pada pintu rumah. Andi memasang pendengaran kedua telinganya. Tak ada suara memanggil, betul-betul hanya ketukan.

“Siapa sih, malam-malam begini bertamu ke rumah orang?” komentar Andi dalam hati.

Ia melirik jam di tangan kirinya. Ha! Pukul 00.15. Siapa ya, pikirnya. Dengan langkah agak gontai karena rasa kantuk yang belum sepenuhnya pudar, dia berjalan menuju pintu rumahnya.

“Tok... tok... tok... ”

“Iya, ya, sabar dong!”

Sebelum membuka pintu, Andi mengintip dari lubang kunci di pintu agar tahu siapa gerangan tamunya. Dia tidak melihat siapa pun di situ. Rasa penasaran pun segera menggerayangi dirinya.

“Tok... tok... tok...”

Rasa itu semakin membuncah. Pintu pun akhirnya dibuka. Lalu tertangkap oleh kornea matanya sesosok hitam di samping pintu. Tiba-tiba, tanpa sepatah kata pun, sosok itu langsung masuk ke rumah. Andi kaget bukan main dibuatnya, hingga ia hanya mematung malihat semua itu terjadi. Mulutnya membentuk bulatan kecil, melongo.

“He! Apa-apaan ini?” serunya kemudian dari belakang sambil mengekori tamu tadi. Melalui lorong-lorong rumahnya, sosok tersebut langsung menuju ruang tamu. Tahu dari mana ia letak ruang tamu, pikir Andi.

Orang misterius itu kemudian duduk di atas sofa.

“Siapa Anda?” kejar Andi sembari mendaratkan berat badannya di sofa satu lagi, di depan ‘sang tamu’.

“Masa tidak kenal aku, Pak? Aku sudah akrab sekali dengan rumah ini.” Dia malah balik bertanya.

Jawaban itu membuat alis mata ‘tuan rumah’ terangkat, heran. Segera dibuka kembali halaman-halaman memori dalam otaknya. Dia periksa satu per satu, tapi ia tak kunjung menemukan sosok tersebut di dalamnya.

“Bahkan....” dia berhenti beberapa detik, sengaja membiarkan kalimatnya menggantung. “Aku lahir di sini!”

Rasa heran dalam diri Andi memuncak. 

“Namamu siapa? Perasaan aku tidak punya keluarga sepertimu.”

“Panggilanku Shofa, panjangnya Shof pun Makin merenggang. Kenal kan dengan nama itu?”

Andi segera ingat nama itu, salah satu judul dari sekian tulisannya. Pernah dimuat di salah satu majalah bulanan beberapa waktu yang lalu.

“Anda tulis dalam diriku bahwa shof-shof itu harus rapat, rapi dan tertib. Anda juga katakan bahwa shof-shof yang renggang akan diisi oleh setan., yang akan membuat salat kita tidak khusyuk. Lalu anda kutip ayat Al Qur’an juga hadist Nabi untuk menguatkan pendapat. Hasilnya... perfect!” dia mengacungkan kedua ibu jarinya, “Hingga salah satu media mau menerbitkan diriku.”

“Lalu apa maksudmu datang ke sini?”

Pelan tapi pasti, sorot matanya berubah tambah seram. Dari auranya sekarang, bisa dipastikan ia datang ke tempat ini dengan membawa sekelumit marah. Beberapa waktu suasana hening, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Hingga....

“Aku ke sini hendak menuntutmu!”

“Menuntutku, apa maksudmu?”

Senyum sinis mengembang di bibir Andi. Paling-paling hanya gertakan. Bukankah sebagai penulis, sudah sering ia menerima gertakan-gertakan seperti ini? Apalagi kalau sudah menulis masalah politik. Lha, ini kan cuma....

Mata sosok itu menerawang jauh ke depan.

“Sekarang semua orang telah melihat dan membaca pada diriku. Ada sebagaian dari mereka yang sadar dan segolongan yang lain tetap acuh tak acuh.”

Pak Andi mulai menyimak dengan serius. Sinisnya hilang seketika, entah kenapa. Serasa ada sebuah kekuatan yang telah membuat hatinya ciut. Sosok itu kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Anda tahu, golongan pertama tadi dulunya sering menyanjungku bahkan memuji-muji diriku karena telah membuat mereka sadar. Tapi sekarang, mereka berubah. Mereka mennolok-olok diriku. Katanya aku tak tahu diri! Aku bingung apa maksudnya. Setelah kuselidiki sebab-musababnya, akhirnya aku tahu. Pantesan mereka berkata begitu, wong penulisku saja masih enggan mengisi shof kosong di depannya.”

Sejenak sosok itu menatap Andi.

“Karena itu, aku datang kemari untuk meminta pertanggungjawaban anda. Aku tak tahan mendengar olok-olok mereka.”

Andi tertunduk malu. Ingat akan perbuatannya beberapa hari lalu di Masjid Nurul Iman.

“Tok... tok... tok...”

Ketukan pintu terdengar kembali. Kali ini diiringi tangis yang memilukan.

“Masuk,” sambut Andi.

Andi sedikit kaget, tapi ia segera bisa mengatasinya. Bukan apa-apa, karena yang datang kali ini sosok hitam lagi.

“Aku malu, hik... hik...” suara tangisnya semakin terdengar jelas.

“Siapa kamu dan apa yang membuat kamu malu?” tanya Andi lembut.

Terbersit rasa kasihan melihatnya begitu. ‘Sang tamu’ belum bisa juga mengatasi diri, air matanya terus saja mengalir.

“Jangan menangis. Kalau begini terus, gimana saya bisa tahu masalah adik,” Andi memakai istilah adik untuk mencairkan suasana.

“Hiks... aku si Sedek. Nama asliku Sedekah Membawa Berkah.”

Andi mengernyitkan dahi.

“Masa Kakak lupa?” tangisnya terdengar pelan, “Aku adalah tulisan yang Kakak kirim ke majalah Bintang tiga bulan yang lalu, dan baru dimuat sebulan kemudian.”

Yang mendengarkan penjelasannya mengangguk-anggukkan kepala tanda ingat kembali, “Ya, ya. Aku ingat.”

“Kak, semua pembeli majalah Bintang telah membacaku. Kata mereka isiku bagus. Mereka bilang aku berbobot. Asal Kakak tahu, tidak sedikit dari mereka yang bersegera mengeluarkan zakat untuk mendapatkan keberkahan dalam harta mereka, sebagaimana yang Kakak maksud. Melihat itu, aku bangga sekali karena ternyata diriku bisa memberikan pencerahan bagi orang lain. Ta.. tapi, Kak, siang tadi mereka malah mengejekku, mencerca diriku. Hik... hik...” tangis itu pecah kembali.

Sekarang Andi tak bisa menyuruhnya berhenti menangis seperti tadi. Ia yakin ini berkaitan dengannya. Bahkan, semua ini gara-gara dirinya sendiri.

“Aku tanya mengapa mereka melakukan itu? Mereka menjawab ‘Hei, Sedek, penulismu itu agak kikir tahu!’ Malu sekali aku mendengar jawaban itu. Tak bisa kubayangkan merahnya wajahku waktu itu. Malu, Kak! Makanya, sekarang aku datang ke sini untuk mengadu.” Buliran air itu terus merayap di pipi, membuatnya semakin sesenggukan.

Sementara itu, ndi semakin menekuk dalam wajahnya. Mukanya merah padam, malu pada mereka berdua. Dia sekarang sadar bahwa tulisan yang ia karang selama ini masih banyak yang tidak sesuai dengan kelakuan dan sifatnya. Bayangan anak kecil yang diabaikannya di lampu merah beberapa hari lalu, berkelebat kembali dalam memorinya.

Keadaan hening beberapa saat. Andi hanyut dalam renungan. Terbetik di dasar hatinya untuk segera bertaubat dengan memperbaiki kelakuannya selama ini. Ya! Aku harus bertaubat. Aku harus berubah, mumpung Dia masih memberikanku kesempatan. Tekadnya dalam hati.

“Tok... tok... tok...”

“Ya, silakan masuk.” dia masih menekukkan wajah. Suasana masih kaku. Hening... hampa.

“Dbrakkkk!”

Andi mendongak, terperanjat. Suasana berubah tegang. Ia segera bangkit menuju asal suara itu datang dan kaget bukan main mendapati pintu rumahnya sudah bercerai dari engselnya. Sesosok hitam berdiri kokoh di balik pintu yang hancur karena tendangannya.

“Siapa kamu? Berani-beraninya merusak rumah orang.” Suara Andi terdengar penuh emosi. Pintu itu merupakan kenang-kenangan yang sangat berarti baginya. Benda itu ia beli dari hasil honor tulisannya yang pertama kali dimuat di media massa beberapa tahun silam.

“Hei, Andi! Masa kamu lupa? Aku si Silat, hasil tulisan tanganmu sendiri.”

“Nama panjangmu?” tanya Andi penuh selidik.

“Sudah kuduga, pasti kamu sudah lupa denganku,” lalu ia memandang tuan rumah dengan mata menyipit, “Panjangnya si Silaturahmi Membawa Berkah.”

“Apa maksudmu melakukan semua ini?” tanya Andi sambil menunjuk pintu yang sudah rebah di ujung jari kakinya.

“Ha... ha... ha...” sosok itu tertawa lepas.

Geraham Andi menggeretakkan giginya. Emosi pun tak tertahankan, dan akhirnya...

“Chiattttt!” refleks Andi mundur beberapa langkah.

Andi memasang kuda-kuda, mencoba menyerang kembali. Tetapi, sosok itu terlalu tangguh bagi pria itu yang sama sekali tidak punya latar belakang sebagai seorang pesilat. Berkali-kali bogem mentah mendarat di tubuhnya. Pria itu pun lemas menahan sakit. Kini tubuhnya bersender pasrah di dinding. Tamu terakhir itu pun mendekatinya. Lalu, diambilnya pot bunga yang terbuat dari kaca, dan....

“Ctarrrrr!”

Pot itu hancur-lebur setelah beradu kuat dengan kepala Andi. Serpihan kaca berhamburan di mana-mana. Andi merasakan sakit yang tiada tara. Ia meraung-raung sambil memegang kepalanya. Darah segar yang mengalir di wajahnya dibiarkannya begitu saja. Dia benar-benar kehabisan tenaga. Ia pasrah, hanya erangan kesakitan yang terucap dari lisannya.

“Andi! Aku sudah muak denganmu. Tulisanmu banyak yang tidak sesuai dengan perilakumu sehari-hari. Kau menulis hanya karena honor yang kau terima. Dasar mata duitan!”

Tanpa diduga....

Sosok hitam itu mengeluarkan sebilah belati dari balik pakaian. Mata Andi hanya bisa terbelalak mengetahui apa yang ia lihat. Tangan kekar itu menjambak rambut lawannya.

“Rasakan akibatnya!” ujarnya sambil menempelkan belati itu di leher Andi.

“Tapi, aku ingin taubat.” suara Andi mengiba.

“Terlambat, Andi!”

Benda itu berjalan perlahan. Lalu....

 “Tida....kkk!” teriak Andi sekuat tenaga.

Ia berusaha menghindar. Ditolehkan kepala ke kanan. Ia tergeragap. Tangannya menyentuh sesuatu. Mouse. Sekejap matanya menangkap monitor komputer di hadapannya. 

Terburu Andi memperhatikan sekelilingnya. Mencari-cari sosok-sosok hitam. Ia berusaha mengingat kembali apa yang baru dialami. Mengusap mata, saat matanya kembali membuka, ia tatap monitor komputer. Masih terpampang sebuah tulisan dengan judul... Ikhlas. ***

 

Jogjakarta, 21 April ‘06

 [Dimuat di Annida nomor 10/XVI/Juni 2006]
Karya : Nadi Asfari

GADIS BERGAUN HIJAU TOSKA

|

Senja membias temaram. Gerimis tuntas di dahan pakis. Serombongan sriti terbang rendah dari langit utara. mencicit ribut, lantas hinggap beramai-ramai di pohon asam jawa di belakang rumah.

Nini menutup jendela. Seutas senyum meretas bibir, menyirat rasa lega di paras senjanya, persis seorang ibu mendapati anak-anaknya kembali pulang usai pengembaraan sepanjang siang.

“Burung-burung itu salah satu kearifan alam yang tak pernah kering untuk diteladani. Mereka bertebaran di siang hari untuk mencari rezeki Tuhan. Di malam hari mereka menghening cipta, tenggelam dalam pemujaan pada-Nya. Begitulah seharusnya Muslim menjalani kehidupan, senantiasa berkaca pada konsep tawazun, neraca keseimbangan...” Nini menerawang, sementara aku merasa berkewajiban melongo dengan harapan suatu saat kelak memahami bahasanya yang terlalu ‘tua’.

Kini Nini melempar sebatang ampas kopi ke perapian, lantas menuju bale-bale tempatku melongo. Sebentar lagi harmoni kwartet dimulai. Ya, aroma arabika, harum tanah basah, irama jangkrik, dan dongeng Nini adalah sinergi favorit yang senantiasa menghadirkan damai di sekujur jiwaku, memberi ruh pada setiap kata yang mengalir penuh ajaran. Bahkan aku seolah-olah bisa menyentuh gaun gadis hijau toska yang menjadi tokoh utama dongeng sang Nini.

Gadis itu cantik seperti tanah tempat ia tinggal. Terik menyisakan rona merah di pipinya. Ia bergaun hijau toska milik ibunya dulu. Gaun itu hanya diwariskan pada gadis kecil yang berwawasan lingkungan. Topinya lebar terbuat dari anyaman pandan dengan hiasan bunga-bunga liar.

Saat matahari berada di atas kepala dia berlari kecil menuruni bukit. Serombongan domba mengikutinya dengan suka cita. Dia bertemu dengan kawan-kawannya; gembala kerbau yang meliuk dengan seruling, gadis-gadis kecil sepertinya, dan gembala bebek yang berjingkrak-jingkrak ribut, tanda bebeknya bertelur dalam penggembalaan. Ibu bilang dia boleh memiliki telur itu sebagai hadiah.

Mereka segera merencanakan pesta. Gadis hijau toska membongkar ‘harta karunnya’ berupa 5 buah mangga udang yang ditimbun 3 hari lalu di tempat rahasia. Gadis-gadis lain mencari wuni, mede, dan jamur. Gembala kerbau mengeluarkan belalang kayu dari sakunya, dan gembala bebek menyumbangkan telurnya. Perapian dibuat dari kayu dan ranting. Sungguh pesta yang sempurna. Aroma pepes jamur dan mede terbawa angin hingga jauh ke balik bukit, bersinergi dengan wangi anggrek bulan yang memeluk pohon-pohon perawan. Jalinan umbinya adalah hunian yang nyaman bagi anak-anak burung. Sementara air tanah terlindung akar bahar nan kokoh.

Hmm… ya, hidangan yang lezat, perut yang kenyang, dan tiupan angin yang nyaman melenakan anak-anak. Mereka tertidur di tengah padang dan tanpa disadari ternak mereka menuju huma. Terdengar suara keras pemilik huma mendendangkan ultimatum. Syairnya yang universal berlaku untuk gembala ceroboh di mana pun berada.

“Letho... letho... gebuki kayu mbako, upahi mentholoro, sing angon hola... holo...!”

Wajah anak-anak pias. Mereka ketakutan dan lari sembunyi. Dari tempat persembunyian mereka melihat ternak-ternak mengembik kesakitan dilempari tanah keras. Anak-anak itu hampir menangis.

Ah, betapa Muhammad kecil tak pernah lalai menjaga ternaknya. Kini mereka tahu, Tuhan menetapkan sebagian besar profesi para calon rasul adalah penggembala. Rupanya Tuhan ingin mendidik kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab sebagai bekal memimpin kaumnya kelak.

Ya, anak-anak menyesal. Ternyata menggembala tidak boleh lalai. Menjelang sore anak-anak membawa ternaknya turun ke sungai dan menggiringnya ke kandang. Tak satu pun berani bercerita pada ibu.

Kini senja telah turun, asap ubi jalar membumbung di atap rumah, saatnya menyalakan obor dan pergi ke surau. Pak Imam telah menanti untuk mengajarkan ayat-ayat kauniyah, bahwa urusan lingkungan hidup adalah bagian dari keberagamaan.

Bagaimana Al-Qur’an bercerita tentang penciptaan bumi dalam enam masa, pertemuan dua arus dengan suhu berbeda yang keduanya dipisahkan penampang. Bagaimana Tuhan menciptakan ozon dan gas-gas pelindung bumi dalam takaran yang pas. Tentang yakut dan marjan, buah tin dan zaitun. Dan betapa Al-Qur’an juga sudah mengingatkan tentang tamatnya dunia yang ditandai dengan ketidakseimbangan ekosistem, keluarnya reptil raksasa dari perut bumi, matahari digulung, bintang berjatuhan, binatang-binatang liar dikumpulkan, laut dipanaskan...

Aku menahan napas seperti anak-anak di surau itu. Sementara malam di luar kian merenta. Nini memberi tahuku bahwa semesta senantiasa bertasbih, baik daun-daun, embun, atau burung-burung di pohon asam jawa di belakang rumah.

***

Nini menyelesaikan rakaat akhir subuhnya dan mulai mengusikku. ”Cepat kau shalat subuh, lalu ambil wijen untuk sarapan burung-burung.” 

Dingin seolah-olah mencapai ubun-ubun ketika kakiku menyentuh batu ceper di bawah pancuran. Aku heran, tulang tua Nini bisa kuat menahan dingin ini. Bahkan di sepertiga malam terakhir tadi kupastikan Nini berwudhu di sini.

”Berapa umurmu sekarang, Audi?”

”Tujuh tahun, Ni.”

”Kau lebih jangkung dari Nini dulu. Gaunmu hampir mencapai lutut. Ganti dengan yang ini saja.”

Aku menatap gaun hijau toska itu dengan tampang setengah tak percaya. Ada motif bunga-bunga pala di lingkar leher, lengan, dan pinggang. Saat kusentuh, aku merasakan sensasi halus sekaligus kuat. Dadaku hampir meledak oleh takjub. Apakah ini artinya aku beruntung menjadi gadis hijau toska berikutnya? Inikah gaun legendaris itu?

”Tapi kau harus janji untuk tidak memakai deodoran yang dapat membolongi ozon, harus rajin menanam pohon, tidak buang sampah sembarangan, tidak membunuh binatang tanpa alasan yang benar, tidak menyakiti atau mempermainkan binatang, menolak sabung ayam, karapan sapi, topeng monyet, dan mengutuk iklan obat nyamuk yang kodoknya terlalu ceking...” Aku meringis, menyetujui kalimat ’pembaiatan’ yang menurutku sedikit aneh. 

Kupakai gaun itu dengan semangat. Rasanya aku baru dilantik menjadi anggota Green Peace. Pundakku serasa memikul misi mahapenting. Aku kini, si gadis hijau toska penyelamat lingkungan hidup. Yeah!

Cepat kusambar semangkuk wijen dan berlari ke halaman. Matahari hampir muncul menepis sisa-sisa embun. Burung-burung sudah bangun sedari tadi. Gelatik, sriti, merpati juga srigunting. Mereka mengelilingiku berebut wijen. Sekilas mereka tampak jinak. 

Tiba-tiba muncul niatku untuk iseng. Aku berbaring di rumput dengan kaki bertabur wijen. Aku tak bergerak untuk beberapa saat. Burung-burung bereaksi, mereka mendekat perlahan, memastikan aku benar-benar tak bergerak. Setelah yakin, mereka mulai mematuki kakiku. Makin lama makin banyak. Rasanya geli, tapi demi sempurnanya misi kutahan saja. Setelah mereka terlena, whuaaa.... aku bangun dengan sangat mengejutkan. Untuk mendukung peran kukenakan topeng semar yang sempat kusembunyikan di rumpun anthurium. Kini aku menandak-nandak. Burung-burung memekik ribut, gugup, dan saling tabrak. Tampang mereka lucu sekali, aku sampai tertawa bergulingan.

”Berhenti menakuti burung, gadis badung! Gadis hijau toska tak pernah mempermainkan binatang!” Jemari basah beraroma lerak memijit hidungku keras-keras. Aku meringis kesakitan, tapi yang lebih membuatku takut adalah jika Nini mengambil gaun itu kembali berikut predikatnya.

”Ampun, Ni. Aku janji tidak begitu lagi...”

Nini melepaskan jemarinya setelah yakin aku kapok.

***

Siang di beranda rumah. Mulutku sibuk mengunyah onde-onde, sambil menunggui Nini yang sibuk memaket burung hantu.

”Burung hantu predator yang hebat, Nini akan menghadiahkan burung-burung ini untuk sahabat-sahabat petani Nini.”

Diam-diam aku memuji Nini. Dia memiliki pengetahuan dan kearifan yang indah tentang alam. Ibu guru bilang ‘kearifan naturalis’. Setiap waktu bersama Nini, jiwaku semakin kaya dengan ajaran-ajaran. Seperti siang ini, di sela-sela kunyahan kapur sirihnya Nini memberitahuku, bahwa orang-orang zaman dahulu jauh lebih memiliki kearifan alam daripada orang-orang modern. Mereka berusaha mengendalikan ketamakan dengan menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan dengan kelangsungan hidup lingkungan.

Suku Ammatoa hanya mengambil buah dan umbi tanpa boleh memotong dahan atau ranting. Jika butuh ranting mereka memungut yang sudah jatuh. Orang Jawa pantang memotong pupus daun pisang karena akan berakibat fatal bagi pohon itu. Orang Minang hanya memotong pohon yang benar-benar tua, karena selain tidak lagi produktif, jika pohon tumbang akan menimpa pohon-pohon kecil di sekitarnya. 

Mereka juga jenius dengan melakukan pembangunan berwawasan lingkungan. Syair mereka yang terkenal berbunyi, ‘Tanah miring ditanami tebu, tanah tunggang ditanami bambu, tanah gurun dibuat ladang, tanah rawa dibuat sawah, tanah munggu untuk kuburan kaum, tanah berlonang untuk kolam ikan, tanah lembah untuk kubangan kerbau, tanah keras untuk perumahan’.

Rumah Gadang mereka juga mencerminkan kebaikan hati, atap rumah yang tinggi menjadi tempat hidup binatang bebas seperti burung pipit, tawon madu, dan kumbang, mereka boleh tinggal di sana dan tidak diusir.

Tuhan meletakkan petunjuk pada bintang-bintang dan mereka melihat langit untuk membacanya. Mereka tandai, dan menjadi waktu untuk bercocok tanam dan memanen. Kita perlu menjaga alam, karena ayat-ayat Tuhan ada di sana, diliput misteri dan hikmah tiada tara.

Kau tahu, Audi, lebah adalah binatang yang manis yang menjadi pengejawantahan orang beriman, selalu makan dari makanan yang baik dan senantiasa menghasilkan manfaat.

Semut selalu ramah pada saudaranya dan senang bergotong royong. Sedang ketam berjalan miring tapi ingin anaknya berjalan lurus. Rupanya Tuhan menyindir ibu-ibu yang menjemput anak-anaknya pulang dari TPA sambil bergosip di sela waktu-waktu menunggu atau para koruptor yang ramai-ramai memasukkan anaknya ke pesantren.

Kata-kata Nini tak sepenuhnya terpahami otak kanak-kanakku, tapi aku membingkainya di hatiku, sambil sekali lagi berjanji akan memahaminya kelak.

***

Suatu senja di Pulau Galang. Aku melepas burung-burung yang bermigrasi ke utara. Angin bulan Juni menyentuh ujung sanubariku, membawa segala kenanganku tentang Nini. Aku merindukannya. Ini tahun kedua aku ke Pulau Galang tanpa Nini. Dia pergi dua tahun lalu, darahnya yang tak tercemar MSG membuatnya mampu bertahan hingga 112 tahun.

Kerinduanku akan Nini sempurna dengan kehadiran seseorang yang memberitahuku bahwa burung-burung telah menginspirasi manusia sejak ratusan tahun silam. Pedagang Gujarat dan Parsi berlayar merentas samudera mencari rezeki Tuhan sambil menyebarkan agama Muhammad. Maka terbentuklah peradaban baru yang sarat cahaya. Mereka seperti burung-burung yang menelan biji dari tanah selatan, lalu terbang ke utara dan mengeluarkan biji itu di sana. Maka bertambahlah koleksi alam utara. Demikianlah keragaman hayati terbentuk. Sungguh Tuhan adalah pengatur terbaik.

Seseorang itu bernama Pemberani. Kisahnya membawaku pada simfoni kwartet yang terjalin saat kebersamaanku dengan Nini. Kearifannya yang mirip Nini membuatku memutuskan untuk menerima pinangannya. Maka hari ini aku menikah di usiaku yang ke-19. Nini berpesan ada sesuatu yang ditinggalkan gadis hijau toska di bawah pohon mangga udang untukku, sebagai kado pernikahan.

Dan hari ini pula kutelusuri halaman pondok Nini. Hampir tak ada yang berubah. Masih ada pohon pakis, beragam spesies lili dan rumpun-rumpun anthurium. Pancuran bambu dan pohon asam jawa. Hanya saja aku tak mendengar nyanyian burung. Hanya ada beberapa gelatik mematuki ujung gaun pengantinku. Aku hampir menangis. Nini pasti terluka jika tahu akhir-akhir ini burung-burung selalu membawa kabar buruk. Bahwa manusia menyakiti alam sampai perut bumi. Tiap menit hutan hilang enam kali luas lapangan bola, teluk dan telaga tercemar logam berat, generasi terancam autisme, gagal tumbuh dan mutasi sel. Sungai berwarna-warni dan beraroma busuk, kutub mencair, laut meluap, negeri ini jadi punya empat musim, hujan, banjir, kemarau dan kekeringan. Global warming menjadi isu paling serius.

Kearifan lupa singgah di hati manusia, karena semesta tempat Tuhan meletakkan pelajaran-pelajaran telah dirusak, hingga nyaris tak ada lagi yang dapat dibaca manusia. Entah apa yang terjadi, tapi manusia berlomba menghabiskan semuanya hari ini, hingga tak ada lagi yang tersisa esok. Apa yang dikhawatirkan malaikat hampir terjadi. Bagaimana bisa para perusak itu menjadi khalifah yang harusnya memakmurkan bumi? 

Dan burung-burung itu, Ni... adalah mahluk manis paling malang. Senandung mereka pupus didera H5N1.

Tak terasa langkahku menyentuh akar pohon mangga udang yang teramat renta hingga nyaris roboh. Aku merendah dan mulai menggali, sementara jiwaku dipenuhi rasa haru, sedih, sekaligus ingin tahu.

Sekian menit menggali, tanganku menyentuh sesuatu yang ternyata sebuah kotak kayu hitam. Aku berharap ini bukan kitab Jumanji yang melarikanku dari keputusasaan menuju petualangan yang mengerikan. Apapun yang disimpan kotak ini, aku berharap menemukan semangat.

Tanganku gemetar membukanya. Dan ini kali kedua aku merasa takjub secara total. Perasaanku sama persis seperti ketika menyentuh gaun hijau toska dulu. Berpuluh-puluh botol kecil tersusun rapi, berisi aneka biji-bijian dari berbagai kelas dan spesies. Ini seperti dongeng! Adakah salah satunya adalah biji pohon ajaib yang bisa membawaku ke langit dan membawa pulang telur angsa emas?

Selembar kertas terselip di antara botol, berisi tulisan tangan Nini.

Sayangku Audi,

Ini warisanku untukmu. Seluruhnya adalah biji pohon ajaib yang akan membawamu membuka sebuah rahasia langit dalam titah Sang Gusti; bahwa mengapa Allah memilih manusia untuk jadi khalifah dan memakmurkan bumi.

Allah meletakkan kearifan di hati manusia, jauh di sudut nuraninya. Tapi Allah Mahakreatif. Barangsiapa yang senantiasa membersihkan hati, maka nuraninya akan membias segenap inderanya, memberi pencerahan hingga dia dapat membaca setiap tanda dan pelajaran yang diletakkan Tuhan di alam semesta.

Dan pencerahan itu akan membawanya pada kesadaran hakiki tentang tugas penciptaanya di bumi.

Maka dari itu, Audi...

Terbanglah seperti burung-burung. Sebarkan biji-biji ini ke segenap penjuru bumi Allah. Jadikan bumi kembali hijau, racun-racun diserap stomata. Air terjaga di bawah akar yang kokoh. Burung kembali bernyanyi, kearifan membunuh ketamakan. Pemikiran akan kehidupan masa depan mengalahkan keserakahan hari ini. Generasi lebih peduli, langit kembali biru, laut kembali tenang, bumi menjadi hunian yang nyaman bagi para makhluk, dan malaikat menyetujui keputusan Tuhan yang telah menunjuk manusia sebagai khalifah sebab manusia memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih untuk memakmurkan bumi.

Mataku membasah embun. Serombongan gelatik kembali mematuki ujung gaunku. Jauh di sudut hatiku terpatri sebuah janji pengantin, bahwa aku dan Pemberani akan terbang menyemaikan biji-biji kearifan ini ke segenap penjuru bumi, agar semesta kembali hijau dan burung-burung kembali bernyanyi.

“Tiadalah bagi seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman yang kemudian dimakan burung, manusia atau binatang, kecuali baginya termasuk sedekah.” (Al-Hadist).***

 

 

Untuk Audi & Haidar: Sayangi bumi, Nak.

[Dimuat di Annida No. 06/Februari 2008]
Karya : Annisa Fathanmubina


Seputih Melati

|


Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya. 

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk. 

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan? 

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih? 

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih. 

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang. 

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam. 

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya. 

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati. 

Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.


Karya : Bayu Gautama

Sajadah-sajadah

|

Siapa sih yang tak tahu sajadah. Barang yang hanya berupa lembaran kain dengan berbagai motif dan bahan itu sangat mudah kita jumpai. Bagi kebanyakan orang sajadah adalah sebuah kemestian ketika hendak melakukan shalat, terutama shalat jamaah. Walaupun sebagian masjid telah menyediakan karpet yang bagus dan mahal, tapi tetap saja sajadah seolah menjadi kebutuhan tersendiri.

Husna tidak menyalahkan keberadaan sajadah. Ia pun juga memiliki sajadah kesayangan. Adakalanya Husna sangat terbantu dengan sajadah, karena dapat menjadi alas ketika shalat, saat menyetrika, maupun saat ingin selonjor tanpa harus kedinginan. Tetapi kali ini Husna memang harus berpikir puluhan kali ketika akan menyertakan sajadah untuk shalat jamaah Maghrib di masjid dekat tempat kosnya. Kebiasaan barunya ini cukup menjengkelkan teman kosnya. Ke masjid selalu terlambat.

“Husnaaaa! Cepetan, ntar telat lagi, lho,” teriak Nina dari luar kamar. Tak ada jawaban.

Klek! Pintu kamar terbuka dan wajah bulat Nina menyembul dengan balutan mukena dari balik pintu.

“Lagi ngapain, sih? Cepet!”

Husna menoleh sekilas. Pandangannya kembali tertuju pada sajadah biru yang terlipat rapi di tepi dipan. Membawanya berarti menyertakan beban berat berton-ton ke masjid. Tapi kalaupun ditinggal bukan berarti masalah akan selesai.

“Bawa… nggak... bawa… nggak… bawa…” Husna menghitung kancing bajunya dengan serius.

“Kamu tuh, mau shalat jamaah apa nggak, sih? Atau mau berangkat sendiri?”

“Sebentar, dong. Lagi pusing, nih. Cerewet amat.”

Husna ragu-ragu menyentuh sajadahnya. Saat jemarinya hampir menyentuh bahan beludru itu, buru-buru ia menariknya. Nina berdecak sebal.

“Ya Allah, Husna. Kalau mau bawa ya bawa. Kalau nggak, ya nggak. Pusing amat!” Husna hanya membisu. “Udahlah aku berangkat duluan aja. Daripada menyaksikan orang yang sajadah-phobinya kumat.”

“Kalau kamu berangkat duluan, aku akan shalat sendiri aja di rumah.”

“Eh, masa gara-gara sajadah sampai nggak ke masjid? Ingat setelah shalat nanti ada rapat terakhir membahas persiapan pesantren adik-adik TPA yang tinggal tiga hari lagi.” Nina memperhatikan tetangga kamarnya dengan seksama. Wajah Husna benar-benar tampak bingung. Dengan sabar yang dipaksakan, akhirnya Nina menjajarinya di dipan. Ia tak lagi peduli dengan jarum jam yang terus bergerak ke arah angka tujuh.

“Sebenarnya ada apa sih?” Husna menatap mata Nina sesaat. Kepalanya lurus lagi.

“Aku, malu...”

“Malu? Malu dengan siapa? Dan kenapa? Tumben kamu yang biasanya cuek bisa malu. Lebih sering kamu itu bersikap yang malu-maluin.”

“Aku serius, Nin!”

“Oke, oke. Tapi kenapa?”

“Yang pasti aku malu gara-gara sajadah itu.”

“Eh, ingat tujuan kita. Kemarin kita bersepakat bahwa akan sering-sering shalat jamaah di masjid. Bukan hanya itu, kita pun tidak boleh mengambil tempat di shaf yang sama. Agar kita bisa membaur dengan remaja dan ibu-ibu yang lain. Katanya ingin membuat forum kajian untuk remaja dan ibu-ibu. Belum-belum sudah mutung. Kapan berhasil dakwah kita kalau seperti ini?”

Husna tersenyum dalam hati melihat Nina berkata sebijak itu. Dalam hati ia senang punya teman yang ceria dan baik seperti Nina. Yah, meskipun sering iseng dan jail.

“Katanya kita ini sodara. Kalau ada masalah kan harus dipecahkan bersama. Apalagi kalau ternyata masalahnya bisa menghambat tujuan mulia kita.”

“Baiklah, tapi kamu harus berjanji satu hal.”

“Oke.”

“Kamu harus serius.” Nina mengangguk mantap.

***

Awalnya Husna begitu senang membawa sajadah birunya ke masjid untuk shalat jamaah. Itu memang sajadah kesayangannya karena ia membeli dari hasil tabungannya. Ia pun berharap sajadahnya bisa membawa berkah. Siapa tahu ada orang yang juga membutuhkan alas shalat. Kalau hal itu terjadi peluang mendapat pahala semakin banyak. Dan ternyata impiannya tidak percuma.

“Terima kasih, Dek. Tadi saya buru-buru ke masjid. Jadi lupa nggak bawa sajadah.” Seorang ibu setengah baya tersenyum ramah ketika Husna membagi sajadah dengannya. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama. Saat shalat mulai tampaklah sebuah permasalahan yang bagi Husna tidak bisa diremehkan. Shaf shalat tidak rapat. Padahal Umar bin Khattab pernah merapikan shaf dengan pedangnya karena begitu pentingnya shaf yang rapat dan lurus agar tidak ada celah bagi setan untuk mengganggu.

Saat shalat, manusia harus melepaskan semua atribut dunianya. Tak ada lagi perbedaan pangkat, golongan dan kekayaan. Semua jamaah shalat bersatu dan taat kepada sang imam. Tak ada lagi sekat sosial. Yang ada, hanya ketundukan pada Sang Khalik.

Husna meyakini bahwa penyebab utama dari fenomena yang ada di depannya bisa jadi karena mereka tidak tahu betapa pentingnya shaf shalat yang rapat dan rapi. Dan kondisi itu diperparah dengan sajadah. Para jamaah shalat lebih memilih posisi di tengah sajadah masing-masing. Mereka tidak peduli adanya ruang kosong akibat sajadah yang digelar. Bahkan ada beberapa orang yang tanpa beban meletakkan sajadahnya sehasta di sebelah sajadah lainnya. Padahal kalau mau, tempat itu masih bisa diisi satu orang lagi. Tapi entahlah, sepertinya telah menjadi sebuah kesepakatan jika kesalahan dilakukan bersama maka statusnya kan berubah menjadi benar.

Sebenarnya sang imam selalu mengingatkan agar merapatkan dan meluruskan shaf sebelum shalat. Tapi seruan imam itu seperti angin yang berlalu begitu saja. Buktinya setiap hari kondisinya selalu sama. Dan Husna bertekad akan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan yang ada. Baginya ini adalah peluang amal yang harus dimanfaatkan.

***

Husna membalas tatapan sinis seorang ibu muda dengan senyum termanisnya. Ibu muda itu kelihatan dari orang yang cukup berada. Mukenanya jelas tergolong mahal, tapi sayang wajahnya tidak ramah. Kalau ia mau tersenyum sedikit saja, pasti kelihatan sangat cantik. Merasa senyumnya tak terbalas, Husna menjadi jengah.

“Ehm… maaf, Tante. Apa ada yang salah dengan saya?” Husna bertanya dengan hati-hati. Suaranya dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu yang lain.

“Lho, nggak nyadar juga. Tampangnya, sih mahasiswa tapi nggak tahu sopan santun!” jawabnya pedas. Meskipun suara si Tante pelan tapi cukup membuat wajah-wajah di sekitar mereka menoleh.

“Mbak, kenapa nempel-nempel dekat saya? Seenaknya saja menumpuki sajadah saya dengan sajadah murahan! Ini sajadah mahal, saya beli dari Arab saat umrah seminggu yang lalu. Harganya satu juta lebih. Emang kalau lecek dan rusak bisa ngganti?”

Muka Husna seperti disiram lahar Merapi yang baru keluar dari kawah. Wajahnya memerah, telinganya memanas dan kelopak matanya membasah pelan. Pandangannya segera terpaku pada sajadah biru yang menutupi sebagian sajadah si Tante. Dia melakukan semua itu karena ingin shaf shalat menjadi rapat. Apalagi posisinya yang ada di ujung paling kiri barisan membuatnya harus mendekat ke arah kanan. Tapi Husna benar-benar tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.

“Maaf Tante, saya hanya tidak ingin shaf-nya renggang.” Husna berkata sehalus mungkin.

“Tidak usah menggurui, saya sudah pernah naik haji dan umrah dua kali.”

Dengan cepat si Tante berdiri dan menyambar sajadah mahalnya. Ia bergegas ke barisan belakang. Tinggallah Husna yang menjadi sorotan berpuluh pasang mata dengan berjuta ekspresi. Ada ekspresi simpati karena kasihan, ekspresi gemes dan gregetan, ekspresi geli karena menahan tawa sampai yang cuek seolah tak terjadi apa-apa. Husna tidak lagi peduli dengan tatapan mata yang tertuju kepadanya. Yang ia rasakan cuma satu: malu!

***

Husna mulai hati-hati bersikap, karena tak semua niat baik berbuntut manis. Kali lain ia duduk di sebelah seorang gadis sebaya. Sajadah gadis itu cukup lebar hampir dua kali sajadahnya.

“Maaf, Mbak. Boleh saya letakkan sajadah saya di bawah sajadah Mbak?”

“Tapi, apa Mbak nggak takut sajadahnya kotor?” Si Gadis agak ragu.

“Insya Allah, nggak apa-apa. Saya cuma ingin shaf shalat kita rapat. Kan setiap mau shalat kita selalu diingatkan imam untuk meluruskan dan merapikan shaf.”

“Oo, begitu, ya. Silakan kalau begitu.”

Setelah mendapat izin, Husna meletakkan sajadahnya di bawah sajadah merah si Gadis.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa sih Mbak kita harus rapat shafnya?”

Husna merasa mendapat respon positif. Dia tidak ingin menyiakan kesempatan baik itu.

“Dalam shalat berjamaah, kerapatan shaf merupakan salah satu syarat diterimanya shalat. Kita adalah umat yang satu dan harus tunduk dengan setiap perintah imam. Tak ada lagi perbedaan pejabat dan rakyat biasa, orang kaya dan miskin. Semua menjadi sama di hadapan Allah. Shaf yang rapat juga mencerminkan eratnya hubungan orang muslim, sehingga tidak mudah dipecah belah. Jadi siapapun yang shalat di sebelah kita, kita harus merapatkan shaf dengannya. Shaf yang tidak rapat berarti menyediakan tempat untuk setan yang akan selalu mengganggu kita. Jadi dengan shaf yang rapi, akan membantu kita khusyu’ dalam shalat. Kalau saat kita menghadap Allah saja masih tidak dapat bersatu dan bersama dengan yang lain, bagaimana kita bisa rukun dalam kehidupan sehari-hari?”

Si Gadis mengangguk-angguk dan menyambut hangat seruan Husna. Tapi sambutan hangat itu segera lenyap ketika seorang nenek menghampiri mereka.

“Neng, kenapa sajadah saya dipake? Nenek itu baru belajar shalat dan harus pake sajadah biar nggak kedinginan. Masa baru ditinggal wudhu sebentar sajadah sudah lenyap. Di tempat suci begini kok masih sempat ngembat barang orang.”

Husna berusaha tersenyum dengan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

“Maaf, Nek, saya dari tadi di sini. Dan ini sajadah saya. Mungkin Nenek lupa menaruh sajadah Nenek.” Husna menjaga kalimatnya dengan hati-hati. Gadis di sebelahnya meliriknya curiga.

“Kalau itu memang sajadah Neng, kenapa mesti disembunyikan di bawah sajadah orang lain?” tangan si Nenek menunjuk sajadahnya yang tertutup oleh sajadah si Gadis.

Tiba-tiba si Gadis berdiri.

“Maaf, Mbak. Saya setuju dengan shaf yang rapat, tapi saya nggak mau sajadah saya dijadikan tempat menyembunyikan barang curian. Apalagi dengan kedok merapatkan shaf.” Husna ingin menjelaskan lebih jauh tapi si Gadis terlanjur pergi.

***

Tawa Nina hampir meledak. Ia tutup mulutnya agar tidak bersuara karena teringat pesan Husna. Setelah berhasil menguasai diri ia mulai bersuara .

“Kok nasibmu sial banget. Trus, si Nenek gimana?”

“Pas si Gadis pergi, si Nenek baru sadar bahwa sajadahku memang berbeda, hanya mirip saja. Dia baru ingat bahwa sajadahnya dititipkan ke cucunya.”

“Ya udah, mending nggak usah bawa saja.”

“Sudah kucoba kemarin.”

“Trus hasilnya?”

“Aku harus mencuci mukenaku.”

“Apa hubungannya?”

“Kemarin aku kan telat, terpaksa shalat di teras yang basah karena hujan. Dan tidak ada seorang pun yang membagi sajadahnya untukku. Malah mereka memandang aneh padaku.” Nina mendengus prihatin sekaligus salut dengan upaya keras Husna untuk mengubah budaya shaf yang tidak rapat.

“Ya, sudah. Kesepakatan untuk berpencar selama shalat jamaah kita cabut saja dulu. Untuk shaf yang rapat sepertinya kita harus memberi contoh.”

“Maksudnya?”

“Kita shalat bersebelahan saja. Biar orang-orang melihat kelurusan dan kerapian shaf kita. Sekalian kita mencoba memahamkan tentang pentingnya shaf yang rapat dan lurus. Mungkin perlu kita sosialisasikan lebih gencar. Bisa lewat mading, atau buletin.”

“Sepertinya itu ide yang bagus. Tapi sekarang aku bawa sajadah nggak?”

“Aduuuh! Sajadah lagi, sajadah lagi. Nggak usah bawa aja dulu. Ntar bermasalah lagi.”

Berdua, mereka segera bergegas ke Masjid As Syuhada.. Sampai di masjid, suasana begitu lengang. Shaat Isya telah dimulai. Mereka segera mencari tempat. Shaf shalat memang banyak yang tidak rapat, tapi sepertinya tidak muat kalau diisi, apalagi untuk dua orang sekaligus.

“Sudah, kamu di sini aja. Aku akan mencari tempat lain. Ntar keburu habis shaat Isyanya. Sepertinya ini rakaat terakhir.”

“Tapi kamu kan, nggak bawa sajadah.”

“Nggak apa-apa. Hari ini kan, tidak hujan jadi lantainya nggak basah.”

Setelah bersusah payah akhirnya Husna menemukan tempat yang berada di sela-sela shaf. Sekilas Husna melirik ke kiri, dan dia agak terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang sudah shalat di sebelahnya adalah nenek yang menuduhnya mencuri beberapa hari lalu. Sebenarnya Husna ingin mencari tempat lain. Tapi selain susah, juga akan menyita banyak waktu. Husna hampir saja melakukan takbiratul ikram ketika si Nenek menoleh dan tersenyum ke arahnya. Belum hilang rasa kagetnya, si Nenek malah membungkuk dan mengambil sajadahnya. Si Nenek berbagi sajadah dengannya. Reflek Husna menolak.

“Lho, Nek nggak usah. Nenek shalat saja.” Spontan Husna bicara pada Nenek yang seharusnya masih shalat. Ia tidak sadar berbuat salah dengan mengajak bicara orang yang sedang shalat.

“Nggak apa-apa. Maaf ya, kejadian kemarin.” Dengan santai si Nenek melanjutkan shalatnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tinggal Husna yang kebingungan dengan semua yang terjadi. Ah, kalau saja aku tadi membawa sajadah pasti pasti Nenek tidak perlu berbuat begitu. Pe-er shaf belum selesai sudah ditambah pe-er Nenek yang harus diajari tentang tata cara shalat yang benar. Semoga ini adalah ladang amal baru yang bisa menjadi pendulang pahala.

Karya : Retno Wi

Jember, Ramadhan 1425 H
Saat tarawih di Masjid As Syuhada BTN Mastrip

Saudara Serumpun

|


I hate Indon!

Malingsia!

I hate Indon!

Malingsia!

 

  Begitu tukar sapa Agung dan Rashid apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok. Agung adalah mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa pemerintah Thailand untuk studi Master bidang Thai Studies. Sedang Rashid penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dari Johor, Malaysia. Agung dan Rashid ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik Tintin. Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua ke mana-mana. Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi.

  Tapi, itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesia digebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia.

  Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia. Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon.com dan www.malingsia.com yang tak jelas siapa webmaster-nya. Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi. Ia tak suka disebut ‘Indon’ yang konon berkonotasi budak. “Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi ‘Indo’ atau ‘Indon’.” ujar Agus penuh emosi. Rashid juga terprovokasi. “Jangan awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan,” tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental.

  Maka ‘perceraian’ pun terjadi. Agung dan Rashid ‘pisah ranjang’.’ Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga. Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi shalat Jum’at bersama di Soi Jet Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi. Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathom Thai road. Pusat penghargaan IT dan Komputer di Panthip Plaza juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan. 

 

Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok.

  “Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,” ujar Ajarn Surichai pada saat awal kuliah. Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu Kyoto di Jepang. Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia, dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas. 

“Puji Tuhan,” ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura. 

“Alhamdulillah,” ujar Rashid.

“Mantap, jalan-jalan euy!” teriak Agung pelan.

  Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya. Agung sudah menginterupsinya. “Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah.” 

Rashid tak mau kalah. “Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa.” 

“Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter,” tutur Anita Chan polos.

  “Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Michiko-san, karena anda orang Jepang, saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, saya kirim ke Istanbul. Naufal karena asli Yaman, silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama, silakan saling bertukar tempat. Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung,” Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang. 

  Agung bagai tertimpa meteor dari Jupiter. “Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia,” protes Agung. 

“Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia, “ protes Rashid. 

Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis. 

  “Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun Warapom di kantor International Students untuk pengaturan tiket dan akomodasi,” jawab Ajarn Sunchai. 

“I hate Indon!” sungut Rashid kepada Agung.

“Malingsia!” balas Agung tak mau kalah. 

 

Bandara Bayan Lepas, Penang.

  Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki konter imigrasi bandara. Ia mengenakan dasi dan jas. Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir dianggap TKI. 

“Apa pekerjaan Encik?” tanya petugas imigrasi ramah. 

“I am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master degree in Thailand.” Agung menjawab dalam bahasa Inggris. Sengaja, biar dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati. Tapi sejatinya ia bukan asisten profesor, mana ada asisten profesor masih bergelar S1? 

“Nak berapa lama Encik Agung duduk di Malaysia, untuk tujuan apa, sila dikemukakan?” tanya sang petugas lagi. 

“Cik, this actually not your business to ask me such questions, anyway, let me tell you that I am an honorable guest to give speech at University Sains Malaysia workshop tomorrow,” jawab Agung sombong, juga bohong. Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa. 

Sang petugas hanya tersenyum simpul. “Oke, Cik, ini paspor anda. Sebagai ASEAN citizen anda boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai tarikh sekarang.” Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

 

Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

  Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia. Penuh dengan kebanggaan ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milik Malaysia ini. Rasain kamu, Agung, katanya dalam hati. Kamu ke Penang dengan Air Asia. Keduanya pesawat Malaysia. Mana ada pesawat Indonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja dilarang. 

  Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct flight menuju Bandung. Kesan pertamanya mendarat di Bandung adalah… berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmm, mereka harus melihat KLIA. BAndara internasional yang super megah dan kota baru Putrajaya yang sangat multimedia-oriented, ujar Rashid dalam hati.

  ‘Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?” tanya petugas imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di depannya adalah warganegara Malaysia. 

Sebenarnya Rashid ingin menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. “I am an assistant professor. I was invited to speech at a workshop organized by Padjajaran University.” Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu saja bohong. Kata siapa ia asisten profesor. Memang di Universitas Teknologi Malaysia Skudal-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan asisten profesor. 

  “Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport,” lanjut petugas imigrasi lagi. 

“Thank you!” jawab Rashid penuh kemenangan. Sebenarnya ia bia asaja menjawab ‘terima kasih’, namun egonya menahan untuk mengucapkan kalimat tersebut. 

   

Di dalam taksi menuju USM Penang.

  “Friend, please take me to USM!” ujar Agung kepada supir taksi yang menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris. Biar terkesan intelek.

“Oh sila Bang, nak conference-kah?” supir taksi menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini tampang Melayu. 

“Yes, I am an honorable professor from Indonesia. I was here to give speech at USM,” jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap bohong. 

“Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina. Tapi saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” ujar sang supir tanpa ditanya. 

Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati. 

  Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap. Ia baru sadar bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu Ada Apa Denganmu dari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan. Usai hits Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia bersiul-siulmengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi Mesra. 

“Hey friend, why are you singing Indpnesian Songs, because of me?” tanya Agung penasaran. 

“Tak lah, Cik, lagu Indonesia sangat famous di sini. Ramai budak-budak belia Malaysia senang dengan grup musik daripada Indonesia. Lebih kreatif dan energjik. Tak samalah dengan lagu Malaysia. Tarikh 17 Desember nanti di menara KOMTAR (Komplek Tunku Abdul Razak Penang akan ada performance dari Dewa 19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa.”  

Hah! Agung kaget sendiri. 

 

Di dalam taksi menuju Unpad, Bandung. 

  “Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur,” ujar Rashid sesegera setelah keluar dari Bandara Husein Sastranegara. 

“Apa, Tuan? Maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia? Kok wajah Tuan mirip orang Sunda?” tanya supir taksi polos. 

Dasar Indon, bahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati. Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang kosmonot. Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

  “Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati Ukur!” jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan betul kalimat “Saya orang Malaysia.” 

“Oh orang Malaysia. Apa kabar, Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di rumah orang Cina.” tambah supir taksi. 

“Oh ya?” hanya itu respon Rashid. Datar. Tak heranlah kalau Indon jadi maid. Ramai Indon jadi maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

  Selepas dari Bandara Husein Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw berduet dengan Ari Lasso. Usai itu, Siti berduet dengan Ariel Peterpan dalam tembang Mungkin Nanti. Supir Sunda ini menikmati betul suara Siti. 

“Heh, Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan lagu Siti Nurhaliza!” kata Rashid geram. 

“Nggak lah, Cik. Sebelum Encik masuk taksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat Siti. Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti Nurhaliza. Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala Melayu,” sergah supir taksi. “Dan asal Encik tahu saja, apabila nanti Encik jumpa dengan mahasiswa Unpad, tanya saja siapa muslimah idola mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim yang cantik namun nampak shalihah itu.” lanjut supir taksi.

Hah! Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah lebih populer di Indonesia daripada di Malaysia. 

 

Conference Room, USM Penang.

  Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia. 

“Dari mana, Cik? Oh dari Indonesia, apa kabar? Saya juga pernah studi di ITB Bandung ketika studi sarjana mechanical engineering dulu,” ujar Dosen I. 

“Ah dari Indonesia, piye kabare, Mas? Saya punya famili di Kebumen dan Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap bahasa Jawa,” ujar Dosen II. 

“Dari mana, Bang? Oh, Indonesia. Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senang movie dan sinetron Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!” tambah Dosen III. 

“Dari mana, Pak? Ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang. Saya punya dua anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di pesantren putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi,” ujar Dosen IV penuh kebanggaan. 

“Dari mana Bang? Ah, Indonesia. Saya kagum betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security Act (ISA),” ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

 

Ruang Konferensi UNPAD, Bandung.

  Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD. Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib. 

“Dari mana Kang? Oh, Malaysia. Apa kabar? Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di University Sains Malaysian Penang untuk Master, dan International Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor,” ujar Dosen I. 

“Dari mana, Mas? Oh, Malaysia. Wilujeng Sumping. Saya juga alumni Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical. Satu angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, Kosmonot Malaysia pertama yang terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia. Hebat sekali Malaysia, sudah bisa mengirim orang ke langit luar. Indonesia sudah dua puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan NASA,” ujar Dosen II. 

“Dari mana, Pak? Ah, Malaysia. Selamat datang. “Terus terang…” dosen itu berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan kalimatnya. ”Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia muda.” ujar Dosen III. 

Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati. Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puan Malaysia ini. 

“Dari mana Pak? Ah, Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA, Menara Petronas-KLCC, dan MRT di KL. Dahsyat!” ujar Dosen IV. 

“Where are you from, Sir? Ah, Malaysia. Ahlan wa sahlan! Saya pengguna setia mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!” lanjut Dosen V.

 

Masjid Negeri Penang, Air Itam.

  Usai workshop. Agung menunaikan shalat jama’ qashar di Masjid UNPAD, Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya. Demi Masa, Ashabul Kahfi, Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya. Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr Al Arqam. Juga dengan lancar. Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua grup nasyid dari Malaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh mahasiswa Malaysia. Rashid jadi ragu sendiri, benarkah aku sekarang sedang di Bandung?

 

Flight Air Asia Penang-Bangkok

  Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok, tiba-tiba Agung merasa malu jadi orang Indonesia. Pesawat yang membawanya di-delay take off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya pada siapa pun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari pembakaran hutan di Sumatera. Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil di tandas (toilet) bandara. Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas. Menyediakan cewek lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta dan juga khas Medan. 

Ia semakin malu ketika membaca kepingan berita di Koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. “Banjir besar terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia. Kerajaan Malaysia mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa banjir di Jakarta dan sekitarnya.”

 

Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok.

  Di dalam Airbus A320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid jadi malu sebagai orang Malaysia. Shame on me! Ia baru saja membaca Koran Republika bahwa ada banyak TKW Indonesia yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang. Razia pasukan RELA (polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas. Mereka tak segan menangkap dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap. Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia. Dan Rashid menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita, “Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia mengirimkan tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk menolong korban banjir.”

 

Bandara Suvarnabhumi, Bangkok.

  Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi. Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat Rashid dari Kuala Lumpur. Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat. Akhirnya mereka sama-sama berucap, “Assalamualaikum, sawasdee khap, sabay dee may?”

  Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan. Selanjutnya mereka berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya Agung berkata jujur.

“Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku bertemu banyak orang baik di Penang . Malaysia memang Truly Asia.” 

“Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika,” Rashid berkata sama jujurnya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita “pacaran” lagi nih?” tantang Agus. 

“Siapa takut?” jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok bahu sahabatnya itu.

“I hate Indon!” teriak Agung.

“Malingsia!” balas Rashid.

Tak jelas, siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia.***

 

Salaya-Putthamonthon, 20 Desember 2007

Salam hangat untuk teman-teman Malaysia di Penang

 

Keterangan:

Ajarn: Profesor

Khun: Tuan/Nyonya

Duduk: Tinggal/tidur

Tarikh: Tanggal

Budak belia: Anak-anak muda

Tak boleh cakap: Tak bisa berbahasa

Internal Security Act: Undang-undang Anti Teroris/ Keamanan Nasional Malaysia

KLIA: Kuala Lumpur International Airport

Mangsa: Korban

Sawasdee khap, sabay dee may: Hallo, apa kabar?

[Dimuat di Annida edisi Maret 2008]
Karya : Heru Susetyo

Dicintai Anak Yatim

|


"Kalau Ibu sudah nggak ada, tetap santuni anak yatim ya". Kalimat tersebut terucap belasan tahun lalu dari bibir tipis nan berkerut nenek saya kepada ibu. Wajar bila nenek berpesan demikian, sebab terhitung sejak tahun 1970an bersama sang suami ia rajin menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Setidaknya, setiap tahun di bulan Muharam acara santunan anak yatim digelar di rumahnya.

Ketika kakek meninggal tahun 1984, ratusan pasang mata anak yatim menangis. Saya yakin mereka mencintai kakek dan khawatir kehilangan orang yang selama ini menyantuninya. Ternyata kekhawatiran mereka tak berlangsung lama, karena nenek berjanji untuk tetap melanjutkan tradisi keluarga itu. Sayangnya, sejak seluruh keluarga nenek pindah dari Jakarta ke Tangerang, entah siapa yang melanjutkan menyantuni anak-anak yatim di Jakarta itu. Nenek tetap menyantuni anak yatim, tentu anak-anak yatim di Tangerang, di sekitar rumahnya.

Puluhan pasang mata anak yatim pun menangis sedih saat nenek meninggal di tahun 1998. Sebelumnya, nenek berpesan kepada semua anak-anaknya agar tetap menyantuni anak yatim. “Jika kita tak punya uang, ajak orang lain untuk menyantuni anak yatim. Dicintai anak yatim itu salah satu kunci pintu surga,” salah satu pesan terakhirnya. Tentu saja, tak satupun anak-anak nenek berani mengabaikan pesan tersebut. Dan hingga kini, tradisi ini masih terus berlangsung meski kami sering tak tahu harus mendapat bantuan dari mana untuk menyantuni anak-anak yatim, janda tua dan kaum dhuafa di sekitar rumah.

Tahun lalu, menjelang bulan Muharram tiba, biasanya ibu mulai direpotkan dengan meminta anak-anaknya membuat proposal permohonan bantuan. Semakin dekat bulan Muharram ibu semakin panik, terlebih jika belum satu pun permohonan mendapat jawaban. Saya tahu persis kekhawatiran ibu, ia tak ingin malu kepada anak-anak yatim dan janda tua itu jika mereka datang ke rumah dan tak mendapatkan apa pun. Karena tanpa diundang pun, mereka sudah tahu jadwal pemberian santunan itu, yakni tepat tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. “Ibu tak ingin membuat mereka kecewa. Biar sedikit yang penting tetap ada,” harapnya.

Muharram tahun ini sudah tiba. Seperti biasa, ibu pun tetap sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Memang tidak pernah ada seremoni dan adegan foto pemberian santunan. Anak-anak yatim itu hanya datang untuk mengambil “haknya”, sudah itu pulang. Namun ibu masih terlihat resah, belum banyak bantuan yang didapatnya untuk membeli sembako dan sedikit untuk mengisi amplop kosong. Semua anak-anak ibu sudah membantu, bahkan membawa proposal permohonan bantuan itu ke kantor masing-masing.

Dalam keresahannya itu, ibu berujar, “Cuma satu keinginan ibu, yakni dicintai anak-anak yatim. Ibu ingin saat meninggal nanti ada anak-anak yatim yang menangis. Itu berarti mereka mencintai ibu”. Dan sambil menghitung dana yang ada ia pun berpesan persis seperti dulu nenek berpesan kepadanya, “Jangan putus amal keluarga, tetap santuni anak yatim”.

Saya bisa menangkap kekhawatiran ibu dalam dua hal. Pertama, ibu khawatir tahun ini tidak banyak bantuan yang didapat, sehingga tidak banyak pula yang bisa diberikan kepada anak-anak yatim. Kedua, nampaknya ibu pun khawatir anak-anaknya tak melanjutkan tradisi ini. Ah ibu, doakan anakmu ini diberikan rezeki yang cukup, agar ada yang terbagi untuk mereka. Tentu saya juga punya keinginan yang sama, mendapatkan salah satu kunci surga karena dicintai anak yatim.

Karya : Bayu Gautama

 

©2009 risma jatibening satu | Design by risma jatibening satu