Tampilkan postingan dengan label Telaah Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaah Kitab. Tampilkan semua postingan

Kajian Islam 29 : Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan


Di antara sikap wala' dan mahabbah karena Allah antar umat Islam adalah seorang muslim harus mempedulikan urusan masyarakatnya secara umum dan mempedulikan urusan saudaranya sesama muslim secara khusus. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sa-yang dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu anggota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya itu menanggungnya, tidak tidur malam dan demam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah gambaran masyarakat muslim. Adapun gambaran antar pribadi muslim adalah seperti yang disabdakan oleh baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

"Orang mukmin satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain. Dan beliau merajutkan antara jari-jemarinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka kewajiban kaum muslimin, baik secara individu maupun kelompok adalah memperhatikan berbagai problema yang ada di antara mereka, dan problema yang ada antara mereka dengan musuh-musuh mereka, sehingga mereka mau menjalin ukhuwah Islamiyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"... sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu ..." (Al-Anfal: 1)

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antar-kedua saudaramu ..." (Al-Hujurat: 10)

Dan hendaknya mereka memperhatikan jihad melawan musuh-musuh mereka. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123)

Maksudnya ialah mempersiapkan diri sebelum berjihad dengan menyelesaikan berbagai problematika yang mengganjal, menyatukan barisan, memperbaiki kondisi dan mempersiapkan segala peralatan. Maka barangsiapa yang tidak mempedulikan problematika kaum muslimin, bahkan bersikap pasif, maka hal itu menunjukkan lemahnya iman, atau juga berarti bahwa dia itu munafik yang memberikan wala' kepada kuffar. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang munafik:

"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu'min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: 'Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: 'Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?'." (An-Nisa': 141)

Allah Subhannahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa sikap kaum munafik terhadap permasalahan umat Islam adalah pasif, menunggu dan menonton siapa yang menang akan menjadi kawan.

Adapun mukmin yang benar selalu memiliki karakter nasihat (kesetiaan), baik dalam ucapannya, amalnya dan kiprahnya dalam masya-rakatnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

"Agama itu adalah nasihat (kesetiaan)." Beliau mengucapkan tiga kali. Kami bertanya, "Untuk siapa ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya." (HR. Muslim)

Demikianlah mudah-mudahan Allah Subhannahu wa Ta'ala memperbaiki kondisi umat Islam dengan meluruskan aqidah mereka, memperbaiki bangsa dan para pemimpin mereka, dan semoga menyatukan hati mereka serta membulatkan tekad mereka.

Semoga shalawat serta salam tetap tercurah untuk Nabi kita Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam beserta keluarga dan sahabatnya. Amin


----------Selesai----------

Kajian Islam 28 : Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Yaitu melampaui batas dalam menyenangi dan menggandrungi perkara-perkara sepele yang tidak banyak artinya, dan menggelutinya sampai lupa kepada Allah, lalai dari ketaatan kepadaNya serta lalai dan meninggalkan amal usaha yang berguna bagi dunia dan agamanya. Mereka melakukan hal ini sebagai akibat dari kekosongan hidup yang dialaminya; hidup tanpa aqidah, tanpa ibadah dan tanpa kebajikan yang ditabungkan untuk akhirat. Mereka melakukan karena terpedaya dan terkecoh oleh bangsa-bangsa lain yang terus-menerus mengupayakan untuk menjauhkan mereka dari agama dan akhirat mereka. Apapun yang memalingkan dari agama dan ibadah adalah haram hukumnya, sekali pun bernilai materi yang tinggi seperti harta kekayaan. Allah telah mengharamkan perbuatan menyibukkan diri dengan materi yang jauh dari akhirat. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (Al-Munafiqun: 9)

Maka bagaimanakah dengan hal-hal yang tidak bernilai, tidak berharga dan tidak berfaedah? Di antara hal-hal ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang mereka sebut sebagai dunia seni; seni suara, seni musik, seni tari, seni drama, dunia pentas dan panggung serta gedung-gedung bioskop yang banyak didatangi oleh orang-orang yang bingung, jauh dari jalan kebenaran dan jalan yang serius dalam kehidupan.

2. Menggeluti dunia gambar, fotografi, lukisan dan pembuatan patung-patung dan lain sebagainya yang mereka sebut-sebut sebagai seni yang indah.

3. Banyak di antara pemuda yang hidupnya mati-matian demi menggeluti beberapa cabang olah raga, sampai ia lupa kepada Allah, lupa ketaatan, menelantarkan shalat dan lupa kewajiban-kewajiban lain dalam rumah maupun sekolah. Semestinya yang lebih pantas bagi mereka adalah mengarahkan perhatian pada apa yang baik bagi umat dan tanah airnya serta berjuang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.

Di antara hal-hal tersebut di atas ada yang diharamkan dalam agama, ada pula yang dibolehkan sebatas tidak mengalahkan apa yang lebih bermanfaat daripadanya. Apalagi umat Islam dewasa ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dari para musuhnya. Tentu yang lebih utama adalah menghemat waktu dan kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan ini, untuk memadamkan atau memperkecil pengaruh dan bahayanya. Orang-orang Islam sebenarnya tidak mempunyai waktu luang untuk bersantai ria dengan segala macam hiburan itu. Dan Allah-lah tempat kita meminta pertolongan.

Kajian Islam 27 : Hukum Meniru Kaum Kuffar, Macam-Macam Dan Dampaknya

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan


A. Hukumnya

Meniru kaum kuffar dalam hal-hal yang menjadi kekhasan mereka atau adat mereka adalah haram dan diancam dengan ancaman yang keras, karena itu merupakan bentuk wala' kepada mereka. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum maka ia termasuk dari mereka." (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Kemudian keharamannya berbeda-beda menurut mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkannya serta dampak-dampak yang disebabkan olehnya.

B. Macam-macamnya

Meniru dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka terbagi menjadi beberapa bagian; ada yang kufur, ada yang mengarah kepada kekufuran atau kefasikan dan ada yang makksiat biasa.

Bagian Pertama:

Meniru mereka dalam ajaran atau bagian dari agama mereka yang batil, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, atau mengkultuskan sebagian makhluk dengan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan kecil di samping Allah dengan beri'tikaf di atas kuburan mereka, atau mentaati mereka dalam penghalalan dan pengharaman, serta menghu-kumi selain apa yang diwahyukan oleh Allah, ini adalah kufur kepada Allah atau merupakan wasilah yang menghantarkan kepada kekufuran. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat ibadah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) mereka mempertuhankan Al-Masih putra Maryam ..." (At-Taubah: 31)

Maka perbuatan mereka menjadikan para pendeta sebagai tuhan selain Allah Subhannahu wa Ta'ala adalah kufur. Sedangkan mendirikan bangunan di atas kuburan adalah penghantar kepada kekufuran.

Bagian Kedua:

Meniru mereka dalam bid'ah-bid'ah yang mereka adakan dalam agama mereka dalam hari-hari raya yang batil, ini hukumnya adalah haram.

Bagian Ketiga:

Meniru mereka dalam adat istiadat dan akhlak mereka yang buruk serta budaya mereka yang kotor, juga penampilan mereka yang tercela, seperti mencukur jenggot, mengumbar aurat dan lain sebagainya. Ini adalah permasalahan yang sangat luas dan semua itu adalah haram hukumnya, termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, "Siapa yang bertasyabbuh dengan suatu kaum maka ia termasuk golongannya."

Karena menyerupai mereka secara lahir menunjukkan wala' mereka secara batin.
Adapun hal-hal yang bukan menjadi ciri khas mereka, bahkan merupakan hal-hal milik bersama semua manusia, seperti mempelajari industri yang sangat bermanfaat, membangun kekuatan, memanfaatkan apa yang dibolehkan Allah, semisal perhiasan yang telah dikeluarkan untuk para hambaNya, memakan hasil-hasil bumi yang baik; maka semua ini tidak disebut taqlid (meniru), bahkan termasuk ajaran agama kita. Dan pada dasarnya ia adalah milik kita, sedangkan mereka dalam hal ini hanya mengikuti kita.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat'." (Al-A'raf: 32)

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi ..." (Al-Anfal: 60)

"Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Hadid: 25)

Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa besi mengandung banyak daya guna untuk manusia secara umum.

C. Beberapa dampak negatif taqlid

1. Taqlid kepada kuffar mengandung wala' kepada mereka, karena menyerupai mereka dalam lahirnya menunjukkan rasa kecintaan kepada mereka dalam batinnya. Seandainya membenci mereka, tentu tidak mau menirunya.

2. Taqlid kepada kuffar menunjukkan kekagumannya kepada mereka dan apa yang ada pada mereka serta ketidaksenangannya kepada ajaran Islam dan penghinaannya kepada orang-orang Islam.

3. Taqlid kepada kuffar mengandung makna pengekoran kepada mereka dan peleburan syakhshiyah (kepribadian) umat Islam serta penghancuran eksistensi mereka.

4. Taqlid kepada kuffar melemahkan kaum muslimin dan menjadi-kan mereka bergantung kepada musuh-musuh mereka serta menjadikan mereka malas berproduksi, dan pada akhirnya senang meminta balas kasihan kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.

5. Taqlid kepada kuffar berarti ikut membantu mereka dalam menghidupkan dan mengembangkan bid'ah serta kemusyrikan mereka.

6. Taqlid kepada kuffar merusak agama kaum muslimin dengan terciptanya berbagai bid'ah dengan khurafat yang diambil dari agama kaum kuffar.

Kajian Islam 26 : Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Iqamah atau bertempat tinggal terus-menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan. Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari negara kafir menuju negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa uzdur syar'i. Juga mengharamkan seorang muslim bepergian ke negara kafir kecuali karena alasan syar'i dan mampu menunjukkan ke-Islamannya, kemudian jika selesai tujuannya maka ia harus segera kembali ke negara Islam.

Adapun pekerjaan seorang muslim kepada orang kafir yang tidak bersifat melayani seperti menjahit atau membangun tembok dan lain sebagainya dari setiap pekerjaan yang ada dalam tanggungannya, maka hal ini diperbolehkan, karena tidak ada unsur penghinaan. Hal ini berdasarkan riwayat Ali Radhiallaahu anhu, ia berkata:

عَمِلْتُ لِيَهُوْدِيَّةٍ بِاْلأُجْرَةِ كُلَّ ذَنُوْبٍ بِتَمْرَةٍ وَأَخْبَرْتُ النَّبِيُّ بِذلِكَ وَجِئْتُهُ بِالتَّمْرَاتِ فََأَكَلَ مَعِيَ مِنْهَا

"Saya bekerja untuk seorang perempuan Yahudi dengan upah setiap timba air ditukar dengan sebutir kurma. Kemudian saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan aku bawakan beberapa butir kurma lalu beliau pun memakan sebagian kurma tersebut bersama saya." (HR. Al-Bukhari)

وَعَمِلَ خَبَّابٌ لِلْعَاصِ بْنِ وَائِلِ بِمَكَّةَ وَاطَّلَعَ النَّبِيُّ عَلَى ذلِكَ وَ أَقَرَّهُ

"Dan Khabbab bekerja untuk Al-'Ash bin Wa'il di Makkah sedang Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengetahuinya dan beliau pun menyetujuinya." (HR. Al-Bukhari)

Hal ini menunjukkan dibolehkannya pekerjaan serupa ini, karena ia merupakan akad tukar-menukar seperti halnya jual beli, tidak mengandung penghinaan terhadap muslim, tidak menjadikannya sebagai abdi dan tidak bertentangan dengan sifat bara'-nya dari mereka dan dari agama mereka.

Adapun yang mengutamakan bekerja pada orang-orang kafir dan bertempat tinggal (menetap) bersama mereka daripada bekerja dan beriqamah di tengah-tengah kaum muslimin, ia memandang kebolehan wala' kepada mereka dan ridha terhadap agama mereka maka tidak syak lagi bahwa hal itu adalah murtad, keluar dari Islam. Apabila ia melakukan hal yang demikian itu karena tamak terhadap dunia atau kekayaan yang melimpah di negara mereka dengan perasaan benci kepada agama mereka dan tetap menjaga agamanya, maka hal itu diharamkan dan dikhawatirkan membawa dampak buruk terhadap dirinya, yang akhirnya menjadikannya ridha dengan agama mereka.

Kajian Islam 25 : Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
A. Dalam bidang bisnis atau pekerjaan

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi." (Ali Imran: 118)

Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, "Janganlah engkau menjadikan orang-orang non muslim sebagai wali, orang kepercayaan atau orang-orang pilihan, karena mereka tidak segan-segan melakukan apa-apa yang membahayakanmu."

Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan, "Para peneliti telah mengetahui bahwa orang-orang ahli dzimmah dari Yahudi dan Nashrani mengirim berita kepada saudara-saudara seagamanya tentang rahasia-rahasia orang Islam. Di antara bait-bait yang terkenal adalah:

"Setiap permusuhan dapat diharapkan kasih sayangnya, kecuali permusuhan orang yang memusuhi karena agama."

Karena itulah mereka dilarang memegang jabatan yang membawahi orang-orang Islam dalam bidang pekerjaan, bahkan mempekerjakan orang Islam yang kemampuannya masih di bawah orang kafir itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi umat Islam dalam agama dan dunia mereka. Sedikit tapi dari yang halal diberkati Allah, sedangkan banyak tapi dari yang haram dimurkai Allah."

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan:

Tidak boleh mengangkat orang kafir untuk kedudukan yang membawahi orang-orang Islam, atau yang memungkinkan dia mengetahui rahasia-rahasia umat Islam; misalnya para menteri atau para penasihat, karena Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu." (Ali Imran: 118). Atau juga diangkat menjadi pegawai pemerintahan di daerah negara Islam.

Diperbolehkan mengupah orang-orang kafir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan yang tidak menimbulkan suatu bahaya dalam politik negara Islam, umpamanya menjadi guide (penunjuk jalan), pemborong konstruksi bangunan, proyek perbaikan jalan, dan sejenisnya dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu untuk itu. Karena baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah mengupah seorang laki-laki musyrik dari Bani Ad-Diil sebagai penunjuk jalan ketika berhijrah ke Madinah. (HR. Al-Bukhari)

B. Dalam urusan perang

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dan yang benar adalah diperbolehkan, apabila diperlukan dalam keadaan darurat, juga bila orang yang dimintai pertolongan dari mereka itu dapat dipercaya dalam masalah jihad. Ibnul Qayyim berkata tentang manfaat perjanjian Hudaibiyah: "Di antaranya, bahwa meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya dalam hal jihad adalah diperbolehkan ketika benar-benar diperlukan, dan pada orang (musyrik) itu juga terdapat maslahah yaitu dia dekat dan mudah untuk bercampur dengan musuh dan dapat mengambil kabar dan rahasia mereka.

Juga diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat, Imam Zuhry meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW meminta pertolongan kepada orang-orang Yahudi dalam perang Khaibar (tahun 7 H), dan Sofwan bin Umaiyah ikut serta dalam perang Hunain padahal ia pada saat itu musyrik. Termasuk darurat misalnya jumlah orang-orang kafir lebih banyak dan sangat ditakutkan, dengan syarat dia berpandangan baik terhadap kaum muslimin. Adapun jika tidak diperlukan maka tidak diperbolehkan meminta bantuan kepada mereka, karena orang kafir itu sangatlah dimungkinkan berkhianat dan bisa jadi menjadi senjata makan tuan, oleh karena buruknya hati mereka. Tapi yang tampak dari ucapan Syaikh Ibnu Taimiyah adalah boleh meminta pertolongan kepada mereka secara mutlak.

Kajian Islam 24 : Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dalam Hari Duka Mereka

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan


A. Hukum Menyambut dan Bergembira dengan Hari Raya Mereka

Sesungguhnya di antara konsekuensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan kepadanya;

"Apakah di sana ada berhala dari berhala-hala orang Jahiliyah yang disembah?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari-hari raya mereka?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatilah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam." (HR. Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan, tidak boleh menyembelih untuk Allah di tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam menga-gungkan syi'ar-syi'ar mereka atau menjadi wasilah yang menghantarkan kepada syirik. Begitupula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka. Dan di antaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para sahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan:

Pertama: Bersifat umum, sepertti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti Ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiasaan salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketepatan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihinya telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apa pun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan kedua: karena hal itu adalah bid'ah yang diada-adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu." Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin bertasyabbuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, me-liburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah atau pun yang lain-nya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak atau pun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan. Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bah-kan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran. Segolongan ulama mengatakan, "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi." Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negara-negara 'ajam (non-Islam) dan melakukan perayaan Nairuz dan Mihrajan serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat."

B. Hukum Ikut Merayakan Pesta, Walimah, Hari Bahagia atau Hari Duka Mereka Dengan Hal-hal yang Mubah serta Berta'ziyah pada Musibah Mereka

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahni'ah) atau ucapan belasungkawa (ta'ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala' dan mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti pengagungan (penghormatan) terhadap mereka. Maka hal itu diharamkan berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaimana haram mengucapkan salam terlebih dahulu atau membuka jalan bagi mereka.

Ibnul Qayyim berkata, "Hendaklah berhati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, "Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu", atau "memberkatimu dalam agamamu", atau berkata, "Semoga Allah memuliakanmu". Kecuali jika berkata, "Semoga Allah memuliakanmu dengan Islam", atau yang senada dengan itu. Itu semua tahni'ah dengan perkara-perkara umum. Tetapi jika tahni'ah dengan syi'ar-syi'ar kufur yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, "Selamat hari raya Natal" umpamanya atau "Berbahagialah dengan hari raya ini" atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman. Sebab itu sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka kepada salib; bahkan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada memberikan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina atau yang sebangsanya.

Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang yang melakukan bid'ah, maksiat atau pun kekufuran maka dia telah menantang murka Allah. Para ulama wira'i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang haram), mereka senantiasa menghindari tahni'ah kepada para pemimpin zhalim atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen atau mufti; demi untuk menghindari murka Allah dan laknatNya."

Dari uraian tersebut jelaslah, memberi tahni'ah kepada orang-orang kafir atas hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandung makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni'ah atas hari-hari raya mereka atau syi'ar-syi'ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhawatirkan pelakunya jatuh pada kekufuran.

Kajian Islam 23 : Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Penjelasan di atas adalah tentang pemberian wala' kepada sesama mukmin sejati dan permusuhan kepada kafir sejati. Adapun golongan ketiga yaitu orang mukmin yang banyak melakukan dosa besar, pada dirinya terdapat iman dan kefasikan, atau iman dan kufur kecil yang tidak sampai pada tingkat murtad. Bagaimana hukumnya dalam hal ini?!

Jawabannya adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi wala') dan mu'adah (dimusuhi). Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada kebaikan, melarangnya dari kemungkaran dan mengucilkannya bilamana pengucilan itu memang membuatnya jera dan malu.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Apabila berkumpul pada diri seseorang kebaikan dan kejahatan, ketakutan dan kemaksiatan, atau sunnah dan bid'ah, maka dia berhak mendapatkan permusuhan dan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang ada padanya. Maka berkumpullah pada diri orang tersebut hal-hal yang mewajibkan pemuliaan dan mengharuskan penghinaan. Maka dia berhak mendapatkan ini dan itu. Seperti pencuri miskin; dia dipotong tangannya karena mencuri, lalu ia diberi harta dari baitul mal yang bisa mencukupinya. Inilah hukum asal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah, berbeda dengan Khawarij, Mu'tazilah dan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Mereka hanya mengelompokkan manusia dalam dua golongan: orang-orang yang dapat pahala saja atau mendapat siksa saja." Ini sangatlah jelas bagi masalah yang sangat penting ini.

Kajian Islam 22 : Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Sikap Nabi Ibrahim Alaihissalam dan pengikutnya terhadap kaumnya yang kafir

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'." (Al-Mutahanah: 4)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Allah Subhannahu wa Ta'ala berkata kepada hamba-hambaNya yang mukmin yang diperintahkanNya untuk memerangi, memusuhi dan menjauhi orang-orang kafir, "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia", maksudnya adalah pengikut-pengikutnya yang mukmin.

"Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, kami melepaskan diri dari kalian dan dari tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah.

"Kami ingkari (kekafiran) mu", maksudnya dien-mu dan jalanmu.
"Dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya", maksudnya telah disyari'atkan permusuhan dan kebencian -mulai dari sekarang- antara kami dan kalian selama kalian tetap kafir. Maka selamanya kami berlepas diri dari kalian serta membenci kalian.

"Sampai kamu beriman kepada Allah saja", maksudnya sampai kalian mentauhidkan Allah semata, tanpa syirik dan membuang semua tuhan yang kalian sembah bersamaNya.

Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa al-wala' wal bara' ada-lah ajaran Nabi Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah menceritakan hal tersebut agar kita mencontohnya. Dia berfirman, "Telah terdapat bagimu teladan yang baik." Dan pada penutup ayat, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada tela-dan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi terpuji." (Al-Mumtahanah: 6)

Sikap orang-orang Anshar Terhadap Saudara-saudaranya dari Kaum Muhajirin

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan te-lah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)

Maksudnya, orang-orang yang tinggal di Darul Hijrah, yaitu Madinah, sebelum kaum Muhajirin, dan kebanyakan mereka beriman sebelum Muhajirin, mereka mencintai dan menyayangi orang-orang yang berhijrah kepada mereka, karena kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, dengan membagikan harta benda mereka tanpa merasa iri terhadap keutamaan yang diberikan kepada Muhajirin daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri juga sangat membutuhkan.

Ini adalah puncak itsar (mengutamakan saudara) dan wala' kepada Allah terhadap para penolong Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap kemunafikan ayahnya

Ayahnya berkata dalam salah satu pertempuran yang diabadikan dalam firman Allah SWT:

"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya." (Al-Munafiqun: 8)

Dia menginginkan al-a'azzu (orang yang kuat) adalah dirinya sedangkan al-adzallu (yang lemah) adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Ia mengancam akan mengusir Rasulullah dari Madinah. Maka ketika hal itu didengar oleh anaknya, Abdullah, seorang mukmin yang taat dan jujur, dan dia mendengar bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ingin membunuh ayahnya yang mengucapkan kata-kata penghinaan tersebut, juga kata-kata lainnya, maka Abdullah menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, saya mendengar bahwa anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay, ayah saya. Jika anda benar-benar ingin melakukannya, maka saya bersedia membawa kepalanya kepada anda". Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, "Bahkan kita akan bergaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal bersama kita."

Maka tatkala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan para sahabat kembali pulang ke Madinah, Abdullah bin Abdullah berdiri menghadang di pintu kota Madinah dengan menghunus pedangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya. Maka ketika ayahnya lewat, ia berkata kepada ayahnya, "Mundur!" Ayahnya bertanya keheranan, "Ada apa ini, jangan kurang ajar kamu!" Maka ia menjawab, "Demi Allah, jangan melewati tempat ini sebelum Rasulullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz (yang mulia) dan engkau adalah adz-dzalil (yang hina)." Maka ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam datang padahal beliau berada di pasukan bagian bela-kang, Abdullah bin Ubay mengadukan anaknya kepada beliau. Anaknya, Abdullah berkata, "Demi Allah wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , dia tidak boleh memasuki kota sebelum Anda mengizinkannya." Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pun mengizinkannya, lalu Abdullah berkata, "Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengizinkan maka lewatlah sekarang."

Kajian Islam 21 : Mudahanah dan kaitannya dengan al-wala' wal bara'

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 

Mudahanah artinya berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, bermurah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah.

Kaitan mudahanah dengan al-wala'wal bara' tampak dari arti dan definisi yang kita paparkan tersebut, yaitu meninggalkan pengingkaran terhadap orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya. Bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka dan berpura-pura baik kepada mereka. Hal ini berarti meninggalkan cinta karena Allah dan permusuhan karena Allah. Bahkan ia semakin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak. Maka orang penjilat atau mudahin seperti ini termasuk dalam firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik)." (Al-Ma'idah: 78-80)

Mudarah serta pengaruhnya terhadap al-wala' wal bara'

Mudarah adalah menghindari mafsadah (kerusakan) dan kejahatan dengan ucapan yang lembut atau meninggalkan kekerasan dan sikap kasar, atau berpaling dari orang jahat jika ditakutkan kejahatannya atau terjadinya hal yang lebih besar dari kejahatan yang sedang dilakukan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

شَرُّكُمْ مَنِ اتَّقَاهُ النَّاسُ خَشْيَةً مِنْ شَرِّهِ

"Sejahat-jahat kamu adalah orang-orang yang ditakuti manusia karena mereka khawatir akan kejahatannya." (HR. Ibnu Abu Dunya dengan redaksi senada)

Dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwasanya seorang laki-laki meminta izin masuk menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, seraya berkata, "Dia saudara yang jelek dalam keluarga". Kemudian ketika orang itu masuk dan menghadap Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau berkata kepadanya dengan ucapan yang lembut. Maka Aisyah berkata, "Engkau tadi berkata tentang dia seperti apa yang engkau katakan". Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,

إِنَّ اللَّـهَ يُبْغِضُ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ

"Sesungguhnya Allah membenci ‘fuhsy’ (ucapan keji) dan ‘tafahuhusy' (berbuat keji)." (HR. Ahmad dalam Musnad)

Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah berbuat mudarah dengan orang tadi ketika dia menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam -padahal orang itu jahat- karena beliau menginginkan kemaslahatan agama. Maka hal itu menunjukkan bahwa mudarah tidak bertentangan dengan al-wala' wal bara', kalau memang mengandung kemaslahatan lebih banyak dalam bentuk menolak kejahatan atau menundukkan hatinya atau memperkecil dan memeperingan kejahatan.

Ini adalah salah satu metode dalam berdawah kepada Allah. Termasuk di dalamnya adalah mudarah Nabi terhadap orang-orang munafik karena khawatir akan kejahatan mereka dan untuk menundukkan hati mereka dan orang lain.

Kajian Islam 19 : Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan


Sesungguhnya iman dengan asma' dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu'amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.

A. Pengaruhnya Dalam Bermu'amalah Dengan Allah

1. Jika seseorang mengetahui asma' dan sifatNya, juga menge-tahui madlul (arti dan maksud)nya secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu' kepadaNya, takut dan mengharapkanNya, tunduk dan memohon kepadaNya serta bertawassul kepadaNya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya. Sebagaimana Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Hanya milik Allah asma'ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu ..." (Al-A'raf: 180)

2. Jika ia mengetahui bahwa Rabb-nya sangat dahsyat adzabNya, Dia bisa murka, Mahakuat, Mahaperkasa dan Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia kehendaki, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak satu pun terlepas dari ilmuNya, maka hal itu akan membuatnya ber-muraqabah (merasa diawasai Allah), takut dan menjauhi maksiat terhadapNya.

3. Jika ia mengetahui Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang, Mahakaya, Mahamulia, senang pada taubat hambaNya, mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat, maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabb-nya dan tidak akan berputus asa dari rahmatNya.

4. Jika ia mengetahui Allah adalah yang memberi nikmat, yang menganugerahi, dan yang hanya di tanganNya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segalanya, Dia yang memberi rizki, membalas dengan kebaikan, dan memuliakan hambaNya yang mukmin, maka hal itu akan membawanya pada mahabbah kepada Allah dan ber-taqarrub kepadaNya serta mencari apa yang ada di sisiNya dan akan berbuat baik kepada sesamanya.

B. Pengaruhnya Dalam Bermu'alah Dengan Makhluk

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah adalah Hakim yang Mahaadil, tidak menyukai kezhaliman, kecurangan, dosa dan permu-suhan; dan Dia Maha Membalas dendam terhadap orang-orang zhalim atau orang-orang yang melampaui batas atau orang-orang yang berbuat kerusakan, maka ia pasti akan menahan diri dari kezhaliman, dosa, kerusakan dan khianat. Dan dia akan berbuat adil atau obyektif sekali pun terhadap dirinya sendiri, juga akan bergaul dengan teman-temannya dengan akhlak yang baik. Dan masih banyak lagi pengaruh-pengaruh terpuji lainnya karena mengetahui nama-nama Allah dan beriman kepadaNya.

Demikianlah, Allah memperkenalkan DiriNya dengan nama-nama itu agar hambaNya mengenalNya dan memohon kepadaNya sesuai dengan isi kandungannya dan agar berbuat baik kepada hamba-Nya yang lain. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"... dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,

ارْحَمُوْا مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء

"Sayangilah orang yang ada di bumi, maka engkau akan disayangi oleh yang ada di langit."

Kajian Islam 18 : Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan, Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 

Pertama: Asma' Husna

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Hanya milik Allah asma'ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180)

Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:
a. Menetapkan nama-nama (asma') untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala, maka siapa yang menafikannya berarti ia telah menafikan apa yang telah ditetapkan Allah dan juga berarti dia telah menentang Allah Subhannahu wa Ta'ala.
b. Bahwasanya asma' Allah Subhannahu wa Ta'ala semuanya adalah husna. Maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekedar nama-nama kosong yang tak bermakna atau tak mengandung arti.
c. Sesungguhnya Allah memerintahkan berdo'a dan bertawassul kepadaNya dengan nama-namaNya. Maka hal ini menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada do'a yang disertai nama-namaNya.
d. Bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta'ala mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma'-Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk itu.

Ilhad menurut bahasa berarti “ الْمَيْلُ ” yakni condong. Ilhad di dalam asma’ Allah berarti menyelewengkannya dari makna-makna agung yang dikandungnya kepada makna-makna batil yang tidak dikandungnya. Sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang men-ta'wil-kannya dari makna-makna sebenarnya kepada makna yang mereka ada-adakan.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang terbaik) ..." (Al-Isra': 110)

Diriwayatkan, bahwa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam sedang mengucapkan dalam sujudnya, "Ya Allah, ya Rahman". Maka ia berkata, "Sesungguhnya Muhammad mengaku bahwa dirinya hanya menyembah satu tuhan, sedangkan ia memohon kepada dua tuhan." Maka Allah menurunkan ayat ini. Demikian seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir. Maka Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk memanjatkan do'a kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya sesuai dengan keinginannya. Jika mereka mau, mereka memanggil, "Ya Allah", dan jika mereka menghendaki boleh memanggil, "Ya Rahman" dan seterusnya. Hal ini menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahwasanya masing-masing dari namaNya bisa digunakan untuk berdo'a sesuai dengan maqam dan suasananya, karena semuanya adalah husna.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang baik)." (Thaha: 8) "... Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Hasyr: 24)

Maka barangsiapa menafikan asma' Allah berarti ia berada di atas jalan orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang', mereka menjawab: 'Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?', dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 60)

Dan termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala : "... padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: 'Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia ...'." (Ar-Ra'd: 30)

Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah, uluhiyah, asma' dan sifatNya. Maka hal ini menunjukkan bahwa rububiyah dan uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma' dan sifat Allah Subhannahu wa Ta'ala. Dan juga, bahwasanya sesuatu yang tidak memiliki asma' dan sifat tidaklah layak menjadi Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).

Kedua: Kandungan Asma' Husna Allah

Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmah; As-Sami' dan Al-Bashir menunjukkan sifat mendengar dan melihat; Al-'Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas; Al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); Al-Khaliq menunjukkan Dia menciptakan; dan Ar-Razzaq menunjukkan Dia memberi rizki dengan jumlah yang banyak sekali. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan sifat dari sifat-sifatNya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti Al-'Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat."

Ibnul Qayyim berkata, "Nama-nama Rabb Subhannahu wa Ta'ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaanNya, karena ia diambil dari sifat-sifatNya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempur-naan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, "Ya Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, karena se-sungguhnya Engkau adalah Al-Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al-Mani' (Yang Menolak) ..." dan yang semacamnya. Lagi pula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang DiriNya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk DiriNya dan telah ditetapkan oleh RasulNya untukNya, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzariyat: 58)

Dari sini diketahui bahwa Al-Qawiy adalah salah satu nama-namaNya yang bermakna "Dia Yang Mempunyai Kekuatan". Begitu pula firman Allah:
"... Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya ..." (Fathir: 10) “ الْعَزِيْزُ ” adalah "Yang Memiliki Izzah (kemuliaan)". Seandainya tidak memiliki kekuatan dan izzah maka tidak boleh dinamakan “ الْعَزِيْزُ ” dan “ الْقَوِيُّ ”. Sampai akhirnya Ibnu Qoyyim berkata: "... juga seandainya asmaNya tidak mengandung makna dan sifat maka tidak boleh mengabari tentang Allah dengan fi'il (kata kerja)nya. Maka tidak boleh dikatakan “ يَسْمَعُ ” (Dia mendengar), “ يَرَى ” (Dia melihat), “ يَعْلَمُ ” (Dia mengetahui), “ يَقْدِرُ ” (Dia berkuasa) dan “ يُرِيْدُ ” (Dia ber-kehendak). Karena tetapnya hukum-hukum sifat adalah satu cabang dari ketetapan sifat-sifat itu. Jika pangkal sifat tidak ada maka musta-hil adanya ketetapan hukumya”.

Ketiga: Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah

Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah sifat dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya. Seperti “ الْعِلْمُ ” (ilmu), “ الْقُدْرَةُ ” (kekuasan), “ السَّمْعُ ” (mendengar), “ الْبَصَرُ ” (melihat), “ الْعِزَّةُ ” (kemuliaan), “ الْحِكْمَةُ ” (hikmah), “ الْعُلُوَّ ” (ketinggian), “ الْعَظَمَةُ ” (keagungan), “ الْوَجْهُ ” (wajah), “ الْيَدَيْنِ ” (dua tangan), “ الْعَيْنَيْنِ ” (dua mata).

Bagian kedua, adalah sifat fi'liyah. Yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas 'Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari Kiamat.

Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi'liy?!

1. Al-Qudrah (berkuasa)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Maidah: 120) "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 20) "Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Kahfi: 45) "Katakanlah: 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu'." (Al-An'am: 65) "Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-kannya (hidup sesudah mati)." (Ath-Thariq: 8)

Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja, sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat 'ajz (lemah) dan lughub (letih).
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Fathir: 44) "Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan." (Qaf: 38)

Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja. "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan penglihatannya, mencipta-kan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjuk-kan keagunganNya.

2. Al-Iradah (berkehendak)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya." (Al-Maidah: 1) "Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 14) "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya." (Al-Buruj: 16) "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala yakni di antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ahlus-Sunnah wal Jama'ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

a. Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat dalam ayat: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit ..." (Al-An'am: 125)
Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi'ah (kehendak Allah), tidak ada bedanya antara masyi'ah dan iradah kauniyah.

b. Iradah Syar'iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (Al-Baqarah: 185)

Perbedaan antara keduanya ialah:
* Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar'iyah tidak harus terjadi; bisa terjadi bisa pula tidak.
* Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar'iyah hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.
* Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat lainnya un-tuk ujian dan cobaan. Adapun iradah syar'iyah maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahala.

3. Al-'Ilmu (Ilmu)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata ..." (Al-Hasyr: 22) "... Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi ..." (Saba': 3) "Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi." (Al-Hujurat: 18)

Yang dimaksud dengan ghaib adalah yang tidak diketahui oleh manusia, tetapi Allah mengetahuinya. "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (Ali Imran: 5)

Yang dimaksud dengan syahadah adalah apa yang disaksikan dan dilihat oleh manusia. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah ..." (Al-Baqarah: 255) "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak menge-tahui." (An-Nahl: 74)

Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "... agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 12)

Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)...?" (Al-Mulk: 14)

Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini de-ngan sangat teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu, seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) ..." (Al-An'am: 59) "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 4)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Kaum Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci. Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri. "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14)

4. Al-Hayat (Hidup)

Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat dengan 'ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) ..." (Al-Baqarah: 255) "Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia ..." (Ghafir: 65) "Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati ..." (Al-Furqan: 58)

Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah "Al-Ismul A'zham" (nama yang paling agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menun-jukkan kepada seluruh sifat-sifat fi'liyah. Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian, tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab kelangsungan dan kebaikan.

5. As-Sam'u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11) "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (An-Nisa': 58) "... Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 46)

Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta'ala menangkap semua suara, baik yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pen-dengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Mujadalah: 1) "Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?" (Az-Zukhruf: 80)

Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Al-'Alaq: 14) "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud." (Asy-Syu'ara: 218-219) "Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu ...'." (At-Taubah: 105) Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Ali Imran: 5)

Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta'ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka terhadap berhala. "Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat." (Maryam: 42) "Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)?" (Asy-Syu'ara: 72)

6. Al-Kalam (Berbicara)

Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma' salaf dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa didengar. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) dari-pada Allah.” (An-Nisa': 87) "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (An-Nisa': 122) "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (An-Nisa': 164) "... Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) ..." (Al-Baqarah: 253) "(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai Isa ..." (Ali Imran: 55) "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami)." (Maryam: 52) "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa ..." (Asy-Syu'ara: 10) "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka ..." (Al-Qashash: 62) "...supaya ia sempat mendengar firman Allah..." (At-Taubah: 6) “… padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, …” (Al-Baqarah: 75)

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkata-an), kalam (pembicaraan), nida' (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya.

Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi'liyah, karena berkaitan dengan masyi'ah dan qudrah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" (Al-A'raf: 148)

Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

7. Al-Istiwa' 'Alal-'Arsy (Bersemayam Di Atas 'Arsy)

Ia adalah termasuk sifat fi'liyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa Dia bersemayam di atas 'Arsy, pada tujuh tempat di dalam kitabNya.
* Pertama, pada surat Al-A'raf: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-A'raf: 54)
* Kedua, pada surat Yunus: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Yunus: 3)
* Ketiga, pada surat Ar-Ra'd: "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Ar-Ra'd: 2)
* Keempat, pada surat Thaha: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy ..." (Thaha: 5)
* Kelima, pada surat Al-Furqan: "... kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah ..." (Al-Furqan: 59)
* Keenam, pada surat As-Sajdah: "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersema-yam di atas `arsy." (As-Sajdah: 4)
* Ketujuh, pada surat Al-Hadid: "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-Hadid: 4)

Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa' datang dalam bentuk dan lafazh yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta'wil, yaitu ke-tinggian dan keluhuranNya di atas 'Arsy.

'Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Se-dangkan yang dimaksud dengan 'Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk. Sedangkan bersemayamnya Allah di atas-nya ialah yang sesuai dengan keagunganNya. Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara)nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab.

8. Al-'Uluw (Tinggi) Dan Al-Fawqiyyah (Di Atas)

Dua sifat Allah yang termasuk dzatiyah adalah ketinggianNya di atas makhluk dan Dia di atas mereka. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Baqarah: 255) "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." (Al-A'la: 1) "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit." (Al-Mulk: 16)

Maksudnya "Dzat yang ada di atas langit" apabila yang dimaksud dengan sama' (dalam ayat tersebut) adalah langit, atau "Dzat yang di atas" jika yang dimaksud dengan sama' adalah sesuatu yang ada di atas. Sebagaimana Dia menggambarkan tentang diangkatnya apa-apa kepadaNya: "... sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu ..." (Ali Imran: 55) "Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya." (An-Nisa': 158)

Dan tentang shu'ud (naik)nya sesuatu kepadaNya: "... KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya." (Fathir: 10)

Dan tentang 'uruj (naik)nya sesuatu kepadaNya: "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan ..." (Al-Ma'arij: 4)

'Uruj dan shu'ud adalah naik. Dalil-dalil semacam ini menunjukkan kepada 'uluw (ketinggian) Allah di atas makhlukNya. Begitu pula fawqiyah-Nya ditetapkan oleh berbagai dalil, di antaranya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya ..." (Al-An'am: 18) Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka." (An-Nahl: 50)

Perbedaan antara 'uluw dan istiwa' adalah bahwasanya 'uluw ada-lah sifat dzat, sedangkan istiwa' adalah sifat fi'il. 'Uluw mempunyai tiga makna:
- 'Uluwudz-Dzat (DzatNya di atas makhluk)
- 'Uluwudz-Qahr (kekuatanNya di atas makhluk)
- 'Uluwul-Qahr (kekuasaanNya di atas makhluk)
Kesemuanya itu adalah sifat yang benar untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala .

9. Al-Ma'iyyah (Kebersamaan)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah berdasarkan dalil yang banyak sekali. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

* "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (At-Taubah: 40)
* "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (Al-Hadid: 4)
* "... sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (Thaha: 46)

Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala selalu bersama hambaNya, di mana pun mereka berada.

Arti ma'iyah:

Ma'iyah Allah terhadap makhlukNya ada dua macam:
* Ma'iyah umum bagi semua makhlukNya. Maksudnya, pengetahuan Allah terhadap amal perbuatan hamba-hambaNya, gerakan yang zhahir dan yang batin, perhitungan amal dan pengawasan ter-hadap mereka. Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada ..." (Al-Hadid: 4)
* Ma'iyah khusus untuk orang-orang mukmin. Maknanya, pengawasan dan pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan dan penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuh mereka. "... Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 46) "... Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita ..." (At-Taubah: 40)
Catatan Penting:

Dari uraian di atas, jelaslah makna Ma'iyah Allah terhadap hambaNya bukan berarti "Allah bercampur dengan mereka melalui DzatNya", Mahasuci Allah dari hal tersebut, karena hal itu adalah "madzhab hululiyah" yang sesat, batil dan kufur.

Karena Allah di atas para hambaNya dan Maha tinggi di atas mereka, tidak bercampur DzatNya dengan mereka, bersemayam di atas 'Arsy-Nya dan Dia bersama mereka dengan ilmuNya, mengetahui segala hal ihwal mere-ka, mengawasi mereka dan mereka tidak sedikit pun bisa menghilang dari pandangan Allah.

Ma'iyah dapat digunakan untuk kebersamaan yang mutlak, sekali pun tidak ada sentuhan atau percampuran. Anda mengatakan, “ مَتَاعِى مَعِى ” (barang/harta saya ada bersama saya). Padahal harta tersebut ada di atas kepala anda atau di atas kendaraan anda atau di atas kuda anda. Anda mengatakan, "Kami terus saja berjalan, dan rembulan bersama kami", padahal dia ada di langit, akan tetapi ia tetap menerangi dan tidak hilang dari pandangan anda, sedang yang sampai hanyalah cahaya dan penerangannya saja.

10. Al-Hubb (Cinta) Dan Ar-Ridha (Ridha)

Ia adalah dua sifat yang tetap bagi Allah dan termasuk sifat fi'liyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
* "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ..." (Al-Fath: 18)
* "... Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terha-dapNya ..." (Al-Maidah: 119)
* "Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa`at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)." (An-Najm: 26)
* "... maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya ..." (Al-Maidah: 54)
* "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (Al-Baqarah: 222)
* "... sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

Dalam ayat-ayat ini terdapat ketetapan adanya sifat mahabbah dan ridha bagi Allah. Bahwasanya Dia mencintai sebagian manusia dan meridhai mereka. Dan Dia mencintai sebagian amal dan akhlak, yaitu cinta dan ridha yang hakiki yang sesuai dengan keagunganNya Yang Mahasuci. Tidak seperti cintanya makhluk untuk makhluk atau ridhanya. Di antara buah cinta dan ridha ini ialah terwujudnya taufiq dan pemuliaan serta pemberian nikmat kepada hamba-hambaNya yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan bahwa terwujudnya cinta dan ridha dari Allah untuk hambaNya adalah dikarenakan amal shalih yang di antaranya adalah takwa, ihsan dan ittiba' kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi ..." (Ali Imran: 31)

(( وَلاَ يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ))
"Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan melaksanakan ibadah-ibadah 'sunnah' sehingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhari)

11. As-Sukhtu (Murka) Dan Al-Karahiyah (Benci)

Sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang mukmin dan meri-dhainya, maka Dia juga memurkai orang-orang kafir dan munafik, membenci mereka dan membenci amal perbuatan mereka.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ..." (Al-Ma'idah: 80) "... tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka ..." (At-Taubah: 46)

Murka dan benci adalah dua sifat yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Di antara dampak dari keduanya adalah terja-dinya berbagai musibah dan siksaan terhadap orang-orang yang di-murkaiNya dan dibenci perbuatannya.

12. Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadaani (Dua Tangan) Dan Al-'Ainaani (Dua Mata)

Ini adalah sifat-sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagunganNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 27) "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah." (Al-Qashash: 88)

Dua ayat tersebut menekankan wajah untuk Allah. Kita mene-tapkannya untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan keagunganNya sebagaimana Dia sendiri menetapkan untukNya. Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki." (Al-Ma'idah: 64) "... apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. ...". (Shaad: 75)

Dua ayat tersebut menetapkan dua tangan untuk Allah I. Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, ..." (Ath-Thur: 48)

Maksudnya adalah "berada dalam penglihatan dan penjagaan Kami". "Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami ..." (Al-Qamar: 14)

Maksudnya adalah "dalam penglihatan Kami dan di bawah peme-liharaan Kami". "... dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu." (Thaha: 39)

Disebutkan lafazh 'ain (mata) dan a'yun (beberapa mata) sesuai dengan apa yang disandarkan kepadanya, berbentuk tunggal atau ja-mak sesuai dengan ketentuan bahasa Arab.

Dan disebutkan dalam sunnah yang suci sesuatu yang menun-jukkan makna tatsniyah (dua). Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda ketika menyifati Dajjal yang mengaku sebagai tuhan,

(( أَنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ ))
"Sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta sebelah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini jelas, bahwa maksudnya bukanlah menetapkan satu mata, karena mata yang sebelah jelas cacat (buta). Mahasuci dari hal yang demikian. Maka dalam ayat-ayat dan hadits tersebut terdapat penetapan terhadap dua mata bagi Allah, sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain.

13. Al-'Ajab (Heran)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya, sebagaimana yang ada dalam beberapa nash-nash shahih dan sharih (jelas). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

(( عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ قُنُوْطِ عِبَادِهِ وَقُرْبِ غِيَرِهِ يَنْظُرُ إِلَيْكُمْ أَزِلِيْنَ قَنِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَكُمْ قَرِيْبٌ ))

"Tuhan kita merasa heran terhadap keputus asaan hamba-ham-baNya padahal telah dekat perubahan (keadaan dari kesulitan kepada kemudahan) olehNya. Dia melihat kepadamu yang dalam keadaan sempit (susah) dan berputus asa. Dia pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolonganNya untukmu adalah dekat." (HR. Ahmad dan lainnya)

Dalam hadits ini terdapat sifat heran dan tertawa, yaitu dua sifat Allah dari sifat-sifat fi'liyah-Nya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain. Tidaklah keherananNya sama dengan keheranan makhluk, dan tidaklah pula tertawaNya sama dengan tertawanya makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya.

14. Al-Ityan Dan Al-Maji' (Datang)

Keduanya adalah sifat fi'liyah Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia berfirman:
* "Janganlah (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan ber-turut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris." (Al-Fajr: 21-22)
* "Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, ..." (Al-Baqarah: 210)
* "Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malai-kat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedata-ngan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. ..." (Al-An'am: 158)

Ayat-ayat tersebut menetapkan sifat ityan dan maji' bagi Allah I yaitu datang dengan DzatNya secara sebenarnya untuk memutuskan hukum antara hamba-hambaNya pada hari Kiamat, sesuai dengan ke-agunganNya. Sifat datang dan mendatangi itu tidak sama dengan sifat makhluk. Mahasuci Allah dengan hal itu.

15. Al-Farah (Gembira)

Al-Farah adalah sifat yang tetap bagi Allah. Ia merupakan salah satu dari sifat fi'liyah-Nya sesuai dengan keagunganNya. Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwasanya Allah sangat bergembira karena taubat seorang hambaNya. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

(( اللَّـهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِرَاحِلَتِهِ ))

“Allah amat gembira karena taubat hamba melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian karena (telah menemukan) kendaraannya (kembali)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kegembiraan Allah ini adalah kegembiraan berbuat baik dan sayang, bukan kegembiraan seorang yang membutuhkan kepada taubat hambaNya yang bisa diambil manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ketaatan hambaNya. Akan teta-pi Dia bergembira untuk itu karena kebaikanNya, sayangNya dan anugerahNya kepada pada hambaNya yang mukmin; sebab Dia mencintai dan menginginkan kebaikan serta keselamatan hamba dari siksaan-Nya.

Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya

Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu'tazilah dan Asy'ariyah menyalahi AhlusSunnah wal Jama'ah dalam hal sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta'wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta'wil yang batil. Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lainNya). Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut mereka- atau harus di-ta'wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.

Bantahan Terhadap Mereka

1. Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah.
* Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ..." (Al-A'raf: 3)
* Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَقَاءِ الرَّاسِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ ))
* "Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa' Rasyidin se-sudahku." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)
* Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; ..." (Al-Hasyr: 7)

Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang Allah dan RasulNya.

2. Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi'in dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak berselisih sedikit pun di dalamnya.

Imam Ibnul Qayyim berkata: "Manusia banyak berselisih penda-pat dalam banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan para sahabat dan tabi'in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan imrar (membiarkan apa adanya) di-sertai dengan pemahaman makna-makna lafazh-nya bahwa hal terse-but telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah I dan RasulNya menjelaskan de-ngan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa ahlul ilmi."

Sedangkan Rasulullah telah bersabda, "Kewajiban kalian adalah mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin." Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.

3. Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta'wil-nya (penyerahan makna kepa-da Allah), tentu Allah dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang kita tidak paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah Mahasuci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam RasulNya adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.

4. Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Se-sungguhnya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma'dum (sesuatu yang tidak ada). Maka barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan untuk diriNya, berarti ia telah mencam-pakkan sifat-sifat Allah, telah membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.

5. Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya. Makhluk mempunyai sifat-sifat khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.

Jika dikatakan, "Sesungguhnya 'Arsy itu adalah sesuatu yang wujud" dan "sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud", ini tidak mengharuskan keduanya sama dalam "sesuatu dan wujud", juga dalam hakikat dan kaifiyat. Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.

6. Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.

7. Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah kesempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.

8. Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu. Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?

9. Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi keempat syarat berikut ini:

* Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan dita'wilkan kepadanya.
* Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahirnya kepada makna yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahirnya.
* Menjawab dalil-dalil yang bertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya mendakwakan ta'wil.
* Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya. Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat tersebut.asma' Allah dan ayat-ayatNya"

Kajian Islam 17 : Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan


A. Makna Tauhid Asma' Wa Sifat

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta'ala , tanpa ta'wil dan ta'thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11)

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada -sesudah Allah- orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya. Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta'wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15)

B. Manhaj Salaf (Para Sahabat, Tabi'in dan Ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal Asma' dan Sifat Allah

Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta'thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur'an dan Al-Hadits. Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta'thil, takyif dan tamtsil.

Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak. Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma' dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatan-Nya. Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala mempunyai Dzat, juga af'al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts maka Allah Subhannahu wa Ta'ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut. Sesung-guhnya Allah adalah yang memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada batas di atasNya. Dan mustahil baginya mengalami huduts, karena mustahil bagiNya sifat 'adam (tidak ada); sebab huduts mengharuskan adanya sifat 'adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

Madzhab salaf adalah antara ta'thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma' husna dan sifat-sifatNya yang 'ulya (luhur), dan berarti mengu-bah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma' Allah dan ayat-ayatNya"

Kajian Islam 16 : Tingkatan Dien

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
A. Definisi Tingkatan Dien

Dien adalah keta'atan. Dalam bahasa Arab “ دَانَ لَهُ يَدِيْنُ دِيْنًا ” maksudnya “ أَطَاعَهُ ” menta'atinya). Dien juga disebut millah, dilihat dari segi keta'atan dan kepatuhan kepada syari'at. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imran: 19)

Sedangkan tingkatan dien itu adalah:

1. Islam
Menurut bahasa, Islam berarti masuk dalam kedamaian. Dikatakan “ أَسْلَمَ أَمْرَهُ إِلَى الله ” artinya menyerahkan perkaranya kepada Allah. Dikatakan “ أَسْلَمَ ” artinya masuk dalam agama Islam. Sedangkan menurut syara’ Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadaNya, ta'at dan membebaskan diri dari syirik dan para pengikutnya.

2. Iman
Menurut bahasa, iman berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut syara', berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan perbuatan dengan anggota badan.

3. Ihsan
Menurut bahasa, ihsan berarti berbuat kebaikan, yakni segala se-suatu yang menyenangkan dan terpuji. Dan kata-kata ihsan mempunyai dua sisi:

Pertama, Memberikan kebaikan kepada orang lain. Dalam bahasa Arab dikatakan “ أَحْسَنَ إِلَى فُلاَنٍ ” ia telah berbuat baik kepada si fulan.

Kedua, Memperbaiki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikkannya. Dikatakan “ أَحْسَنَ عَمَلَهُ ” jika ia telah menyempurnakannya.

Sedangkan ihsan menurut syara' adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dalam sabdanya:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّـهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak bisa melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar)

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Ihsan itu mengandung kesem-purnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh Allah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 112)

Agama Islam mencakup ketiga istilah ini, yaitu: Islam, iman dan ihsan. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ketika datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam di hadapan para sahabatnya dan bertanya tentang Islam, kemudian tentang iman dan ihsan. Lalu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan setiap dari pertanyaan tersebut. Kemudian beliau bersabda: "Inilah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan dien kalian." Jadi Rasulullah menjadikan dien itu adalah Islam, iman dan ihsan. Maka jelaslah agama kita ini mencakup ketiga-tiganya.

Dengan demikian Islam mempunyai tiga tingkatan: Pertama adalah Islam, kedua iman dan ketiga adalah ihsan (Lihat Majmu' Fatawa, 8/10 dan 622).

B. Keumuman dan Kekhususan dari Ketiga Tingkatan Tersebut

Islam dan iman apabila disebut salah satunya secara terpisah maka yang lain termasuk di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara keduanya ketika itu. Tetapi jika disebut keduanya secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri, sebagai-mana yang ada dalam hadits Jibril. Di mana Islam ditafsiri dengan amalan-amalan lahiriah atau amalan-amalan badan seperti shalat dan zakat. Sedangkan iman ditafsiri dengan amalan-amalan hati atau amalan-amalan batin seperti membenarkan dengan lisan, percaya dan ma'rifat kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan seterusnya.

Adapun keumuman dan kekhususan antara ketiganya ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah sebagai berikut: "Ihsan itu lebih umum dari sisi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada iman. Iman itu lebih umum dari segi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada Islam. Ihsan mencakup iman, dan iman mencakup Islam. Para muhsinin lebih khusus daripada mukminin, dan para mukmin lebih khusus dari para muslimin." (Lihat Majmu' Fatawa, 7/10 )

Oleh karena itu para ulama muhaqqiq mengatakan, "Setiap mukmin adalah muslim, karena sesungguhnya siapa yang telah mewujudkan iman dan ia tertancap di dalam sanubarinya maka dia pasti melaksanakan amalan-amalan Islam sebagaimana yang telah disabda-kan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ingatlah. sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal darah, jika ia baik maka menjadi baiklah jasad itu semuanya, dan jika ia rusak maka rusaklah jasad itu semuanya. Ingatlah, dia itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tidak setiap muslim itu mukmin, karena bisa jadi imannya sangat lemah, sehingga tidak bisa mewujudkan iman dengan bentuk yang sempurna, tetapi ia tetap menjalankan amalan-amalan Islam, maka menjadilah ia seorang muslim, bukan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"Orang-orang Arab Badwi itu berkata: 'Kami telah beriman'. Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: 'Kami telah tunduk', ..." (Al-Hujurat: 14)

Mereka bukanlah orang munafik secara keseluruhan, demikian menurut yang paling benar dari dua penafsiran yang ada, yakni perkataan Ibnu Abbas dan lainnya, tetapi iman mereka lemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"... dan jika kamu ta`at kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; .." (Al-Hujurat: 14)

Maksudnya tidaklah pahala mereka dikurangi berdasarkan iman yang ada pada diri mereka yang cukup sebagai syarat untuk diterimanya amalam mereka dan diberi balasan pahala. Seandainya mereka tidak memiliki iman, tentu mereka tidak akan diberi pahala apa-apa (Syarah Arba'in, Ibnu Rajab, hal. 25-26.).

Maka jelaslah bahwa dien itu bertingkat, dan sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lain. Pertama adalah Islam, kemudian naik lagi menjadi iman, dan yang paling tinggi adalah ihsan.

Kajian Islam 15 : Syarat Diterimanya Ibadah

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan ada syarat:

1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
2. Sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam .

Syarat pertama adalah konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepadaNya.

Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya ta'at kepada Rasul, mengikuti syari'atnya dan meninggalkan bid'ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 112)

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahuwa muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam.

Syaikhul Islam mengatakan: "Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, tidak dengan bid'ah." Sebagaimana Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110)

Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah.

Pada yang pertama, kita tidak menyembah kecuali kepadaNya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad adalah utusanNya yang menyampaikan ajaranNya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta menta'ati perintahnya. Beliau telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau melarang kita dari hal-hal baru atau bid'ah. Beliau mengatakan bahwa bid'ah itu sesat.

Kajian Islam 14 : Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar

|

Kitab Tauhid 1
oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

 
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja' (harapan).

Rasa cinta harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja'. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:

"Dia mencintai mereka dan mereka mencintaiNya." (Al-Ma'idah: 54)

"Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Dia Subhannahu wa Ta'ala berfirman menyifati para rasul dan nabi-Nya:

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami." (Al-Anbiya': 90)

Sebagian salaf berkata: "Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb (cinta) saja maka ia zindiq. Zindiq adalah istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid (pen).[1] Siapa yang menyembahNya dengan raja' (harapan) saja maka ia adalah murji'. Murji' adalah orang Murji'ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman. Iman hanya dengan hati (pen.).[2] Dan siapa yang menyembahNya hanya dengan khauf (takut) saja, maka ia adalah haruriy. Haruriy adalah orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro', dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir (pen).[3] Siapa yang menyembahNya dengan hubb, khauf dan raja' maka ia adalah mukmin muwahhid." Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Risalah Ubudiyah. Beliau juga berkata:

"Dien Allah adalah menyembahNya, ta'at dan tunduk kepadaNya. Asal makna ibadah adalah adz-dzull (hina). Dikatakan “ طَرِيْقٌ مُعَبَّدٌ ” jika jalan itu dihinakan dan diinjak-injak oleh kaki manusia. Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna dzull dan hubb. Yakni mengandung makna dzull yang paling dalam dengan hubb yang paling tinggi kepadanya. Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya, maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya. Dan jika ia menyukai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya, maka ia pun tidak menghamba (menyembah) kepadanya. Sebagaimana seorang ayah mencintai anak atau rekannya. Karena itu tidak cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi hendaknya Allah lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah lebih diagungkan dari segala sesuatu. Tidak ada yang berhak mendapat mahabbah (cinta) dan khudhu' (ketundukan) yang sempurna selain Allah. Majmu'ah Tauhid Najdiyah, 542.[4] Inilah pilar-pilar kehambaan yang merupakan poros segala amal ibadah.

Ibnu Qayyim berkata dalam Nuniyah-nya:

"Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepada-Nya, beserta kepatuhan penyembahNya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah, perintah rasulNya. Bukan hawa nafsu dan syetan."

Ibnu Qayyim menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari'atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari'atkan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam itulah yang memutar orbit ibadah. Ia tidak diputar oleh bid'ah, nafsu dan khurafat.

 

©2009 risma jatibening satu | Design by risma jatibening satu