Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

TAFSIR SURAT AL-LAHAB

|

Bismillahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman.

Artinya :
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” [Al-Lahab : 1]
“Tidaklah berpelajaran kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” [Al-lahab : 2]
“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” [Al-Lahab : 3]
“Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar” [Al-Lahab : 4]
“Yang di lehernya ada tali dari sabut” [Al-Lahab : 5]

Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya.

Dalam surat ini terdapat bukti-bukti yang sangat banyak dan jelas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kebenaran. Beliau tidak mengajak demi mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan jabatan di kalangan kaummnya. Dalam mensikapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para paman beliau terbagi menjadi tiga kelompok.

[a]. Kelompok yang beriman, berjihad bersama beliau dan tunduk kepada Allah Rabb sekalian alam.
[b]. Kelompok yang mendukung dan menolong beliau, namun tetap kafir.
[c]. Kelompok yang ingkar dan berpaling. Mereka ini kafir terhadap agama beliau.

Adapun kelompok pertama, seperti Al-Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah lebih afdhal dari pada Abbas, karena beliau dijuluki sebagai syuhada yang terbaik disisi Allah Azza wa Jalla, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya gelar asadullah dan asudarasuluhu (singa Allah dan rasulNya) [1]. Beliau terbunuh pada perang Uhud di tahun kedua hijrah.[2]

Adapun yang mendukung serta menolong tetapi masih tetap dalam kekafiran, seperti Abu Thalib. Dia telah bersikap baik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membela dan mendukung beliau, namun –wal ‘iyaadzu billah- Allah telah menentukan adzab untuknya, tidak memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya. Di detik-detik akhir kehidupannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam tetapi ia tetap enggan dan meninggal dengan pernyataannya bahwa ia berada di atas agamanya Abdul Muthalib [3]. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya syafaat untuknya (untuk meringankan adzab) hingga diadzab di naar dengan cara dipakaikan sandal lalu menggelegak isi otaknya.[4].

Ketiga yaitu yang ingkar dan berpaling, seperti Abu Lahab. Allah menurunkan satu surat penuh, yang dibaca di dalam shalat wajib dan sunnah, shalt sir (yang bacaannya pelan) dan jahar (yang bacaannya terang) diberi pahala orang yang membacanya, setiap huruf sepuluh kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” [Al-Lahab : 1]

Ini merupakan bantahan terhadap Abu Lahab, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka ke jalan Allah, mengingatkan dan memberi mereka kabar gembira. Berkata Abu Lahab : “Celakalah engkau! Hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami?[5] Perkataan “hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami” adalah untuk meremehkan. Artinya, ini adalah perkara sepele, sehingga tidak perlu mengumpulkan para pemimpin Quraisy. Yang demikian ini sama seperti firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Apakah ini orang yang mencela ilah-ilah kalian?” [Al-Anbiyaa: 36]

Yaitu meremehkannya. Tidak acuh dan tidak peduli. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan mengapa mereka berkata : “Mengapa Al-Qut’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah danThaif) ini?’ [Az-Zukhruf : 31]

Wal hasil, Abu Lahab berkata : “Celakalah engkau, hanya untuk inikah engkau kumpulkan kami?” Maka Allah Ta’ala membantah dengan menurunkan surat ini “Tabbat yadaa abii lahabiw watabb”, Al-Tabaab artinya Al-Khasaar yaitu kerugian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : … Dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian” [Al-Mu’min : 37]

Yaitu kerugian. Dan Allah memulai dengan menyebutkan tangan sebelum yang lainnya, karena kedua tanganlah yang sering bekerja dan bergerak, mengambil dan memberi dan lain-lain. Dan gelar Abu Lahab adalah gelar yang pantas dan sesuai dengan kondisi dan tempat kembalinya. Gelar ini pantas untuknya karena ia akan dimasukkan ke dalam naar yang menyala-nyala yang mengeluarkan lidah api yang dahsyat. Berkata seorang penyair.

Katakan, tidaklah matamu melihat seorang yang punya gelar
Kecuali kamu akan berfikir makna dari gelarnya

Ketika Suhail bin Amr datang pada perang Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ini adalah Suhail bin Amr, aku tidak melihat kecuali ia telah mudahkan urusan kalian” [6]

Karena nama tersebut sesuai dengan perbuatannya.

Allah berfirman.

“Artinya : Tidaklah berpelajaran kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” [Al-Lahab : 2]

-Ma- berkemungkinan mempunyai makna istifham (pertanyaan) yang berarti : Manfaat apa yang ia dapatkan dari hartanya dan apa yang ia usahakan? Jawabnya : Tidak ada sama sekali. Atau bermakna naïf (penolakan), berarti maknanya : Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kedua makna tersebut saling berkaitan, yaitu ; bahwa harta dan apa yang ia usahakan tidak bermanfaat sedikitpun untuknya ? Padahal menurut kebiasaan, harta itu bermanfaat. Harta dapat dijadikan alat penebus jika seseorang ditawan musuh. Ia katakana : “Jika engkau membebaskanku maka aku akan memberimu uang sekian-sekian”. Dengan meminta harta sedikit atau banyak, musuhnya akan membebaskannya. Jika seseorang, sakit atau lapar dapat memanfaatkan hartanya. Harta sangatlah bermanfaat, namun dikatakan tidak bermanfaat jika tidak dapat menyelamatkan pemiliknya dari naar. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman “ Maa agnaa anhu maaluhu” yakni hartanya tidak dapat menyelamatkannya dari siksaan Allah Ta’ala. FirmanNya “Wamaa kasab” dikatakan maknanya adalah anaknya. Yakni, tidak bermanfaat baginya harta dan anaknya. Sebagaimana yang dikatakan Nabi Nuh ‘Alaihis salam

“Artinya : …. Dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka…” [Al-Ma’aarij : 21]

Maka mereka artikan “wamaa kasab” ialah anak. Pendapat ini juga didukung dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sebaik-baik hasil yang kamu makan adalah hasil dari jerih payahmu, dan anak-anakmu tersebut termasuk dari hasil jerih payahmu” [7]

Pendapat yang benar adalah ayat tersebut lebih umum dari yang demikian. Ayat di atas mencakup anak. Juga mencakup harta yang sedang ia usahakan untuk ia dapatkan, juga mencakup apa yang ia usahakan untuk meraih kemuliaan dan kehormatan. Setiap usaha yang dilakukan untuk menambah kemualian dan kehormatan, tidak bermanfaat untuknya sedikitpun “ Maa agnaa anhu maaluhu wamaa kasab” = Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”

Firman Allah.

“Artinya : Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” [Al-Lahab : 3]

Huruf –sin- pada “sayashla” untuk ‘at-tanfis’ yang menunjukkan ‘al-haqiqah’ (hakiki) dan al-qurb (waktu dekat). Yakni, Allah Ta’ala mengancamnya dalam waktu dekat dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Karena kemewahan dunia, dan bagaimanapun lamanya tinggal di dunia, tetap saja dikatakan akhirat itu dekat. Sehingga manusia yang ada di alam barzakh merasa sebentar walaupun tahun demi tahun yang panjang telah berlalu.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : … mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”[Al-Ahqaaf : 35]

Sesaat yang ada di siang hari tentunya waktu yang sangat singkat.

Firman Allah
“Artinya : Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar” [Al-Lahab : 4]

Yaitu wanita (istri) yang yang ada bersamanya. Dia adalah wanita terhormat di kalangan suku Quraisy, namun kehormatan tersebut tidak bermanfaat untuknya karena ikut membantu suaminya dalam permusuhan dan dosa serta tetap di dalam kekafiran. Firman Allah : “Hammaa latal hathab” = pembawa kayu bakar, dibaca nashab (fathah) atau rafa (dhamah). Adapun jika dibaca nasab, maka menunjukkan keadaan istrinya. Yaitu, keadaan istrinya membawa kayu bakar. Atau manshub dengan arti celaan. Karena na’at yang terputus boleh dinashabkan dengan maksud pencelaan. Artinya, Aku mencela si pembawa kayu bakar. Adapun jika dibaca rafa’ menunjukan sifat si wanita tersebut, -Hammaalah- bentuk mubalaghah, artinya banyak membawa. Disebutkan bahwa ia membawa kayu yang berduri kemudian ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Firman Allah.

“Artinya : Yang di lehernya ada tali dari sabut” [Al-Lahab : 5]

Al-jid ialah al-‘unuq artinya leher. Habl ialah tali, al-masad : sabut. Yakni, ia pergi ke gurun dengan membawa tali untuk mengikat kayu-kayu berduri yang akan ia letakkan di jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, na’udzubillah min dzalik. Hal ini mengisyaratkan rendahnya cara berfikir, karena ia menghinakan dirinya sendiri. Seorang wanita dari kabilah yang terkemuka dari kalangan suku Quraisy pergi ke gurun dengan melilitkan tali sabut di lehernya. Tetapi demi untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia rela melakukannya.

Nas alullah al’afiyah. Sampai di sini selesailah penjelasan surat ini dengan kemudahan dari Allah Azza wa jalla.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Tarikh Kabir (VIII/438) dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab Jihad no. 249
[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Peperangan, bab : Terbunuhnya Hamzah Radhiyallahu ‘anha no. 4072
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, bab : Firman Allah : “Innaka laa tahdii man ahbabta”, no. 472. Dan Muslim dalam kitab Al-Iman, bab : Dalil sahnya keislaman orang yang menhadapi sekarat, dan dalil bahwa orang yang tetap syirik hingga mati akan menjadi penghuni naar, no. 24, 39
[4]. Telah disebutkan takhrijnya. Lihat hal.382
[5]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, bab : FirmanNya “Sayashla naaran dzaata lahab” no. 4973
[6]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Syarat-Syarat, bab : Syarat-syarat dalam Jihad, no. 2731
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi dalam kitab Hukum-hukum, bab : Si bapak boleh mengambil harta anaknya, no. 1358. Ia berkata : “hadits hasan shahih

TAFSIR SURAT AL-IKHLASH

|

Bismillahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan” [Al-Ikhlash : 3]
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya.

Sebab turunnya surat ini adalah, ketika orang musyrik atau orang Yahudi berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Beritakan kepada kami sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini [1]

Qul = “Katakanlah”. Pernyataan ini ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. “Huwa Allahu ahad” = “Dialah Allah Yang Maha Esa”. Menurut ahli I’rab, huwa adalah dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah Allah khabar mubtada dan “Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu Ash-Shomad’ kalimat tersendiri. “Allahu Ahadun” Yakni, Dia adalah Allah yang selalu kamu bicarakan dan yang selalu kamu memohon kepada-Nya. “Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan-Nya, yang tiada bandingan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan. “Allahu Ash-Shomad” adalah kalimat tersendiri Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dia Ash-Shomad. Makna yang paling mencakup iallah Dia mempunyai sifat yang sempurna yang berbeda dengan semua mahkhluk-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ash-Shomad ialah yang sempurna Keilmuan-Nya, Yang sempurna Kesantunan-Nya, Yang sempurna Keagungan-Nya, Yang sempurna Kekuasaan-Nya. Sampai akhir perkatan-Nya [2]. Ini artinya bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan makhluk karena Dia Maha Sempurna. Dan juga tertera dalam tafsir bahwasanya As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa seluruh makhluk sangat bergantung kepada Allah Ta’ala. Jadi, arti yang paling lengkap ialah : Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya dan seluruh makhluk sangat bergantung kepada-Nya.

“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak mempunyai anak karena Dia adalah Dzat Yang Maha Muali dan Maha Agung, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Ia adalah bahagian dari diriku” [3]

Allah Azza wa Jalla tidak ada yang serupa dengan-Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan dunia maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Allah Azzan wa Jalla tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak memerlukan seorang dari makhluk-Nya. Allah telah mengisyaratkan bahwa mustahil bagi-Nya mempunyai anak, seperti dalam firman-Nya.

“Artinya : Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menciptakan segala sesuatu ‘ dan Dia mengetahui segala sesuatu” [Al-An’am : 101]

Seorang anak membutuhkan orang yang melahirkannya.

Demikianlah, Allah adalah Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu. Jika Allah menciptakan segala sesuatu berarti Dia terpisah dari makhluk-Nya.

Dalam firman-Nya : Lam yaalid” = “tidak beranak” merupakan bantahan terhadap tiga kelompok anak Adam yang menyimpang. Mereka adalah orang Musyrik, orang Yahudi dan orang Nasrani. Orang musyrik meyakini bahwa malaikat yang mereka itu ‘Ibadur Rahman’ berjenis perempuan. Mereka mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah anak perempuan Allah. Orang Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah anak Allah, dan orang Nasrani mengatakan Al-masih adalah anak Allah. Kemudian Allah mengingkari mereka semua dengan firman-Nya “Lam yaalid wa lam yuu lad” = “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan”, karena Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Pertama, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Dia dilahirkan.

Firman Allah.

“Artinya : Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyamai seluruh sifat-sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan Dirinya mempunyai ayah atau Dia dilahirkan atau ada yang semisal dengan-Nya.

Sureat ini mempunyai keistimewaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bahwa ia (surat Al-Ikhlash) menyamai sepertiga Al-Qur’an” [4]

Surat ini menyamai sepertiga Al-Qur’an tetapi tidak dapat menggantikan sepertiga Al-Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau seorang membaca surat ini sebanyak tiga kali di dalam shalat, masih belum mencukupi sebelum ia membaca surat Al-Fatihah. Padahal jika ia membacanya tiga kali, seolah-olah ia membaca semua Al-Qur’an, tetapi tidak dapat mencukupinya. Jadi, kamu jangan heran ada sesuatu yang sebanding tetapi tidak mencukupi. Misalnya sabda Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa membaca :

“Artinya : Tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”

Seakan-akan ia telah membebaskan empat orang budak dari keuturunan Isma’il atau dari anak Ismail” [5]

Padahal jika ia berkewajiban untuk membebaskan empat orang hamba, dengan mengatakan dzikir ini saja tidak cukup untuk membebaskan dirinya dari kewajiban membebaskan hamba tersebut. Oleh karena itu, sam bandingnya sesuatu belum tentu dapat menggantikan posisi yang dibandingkan.

Surat ini dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raka’at kedua shalat sunnah Fajr, shalat sunnah Maghrib dan shalat sunnah Thawaf [6]. Begitu juga beliau membacanya dalam shalat witir [7], karena surat ini merupakan landasan keikhlasan yang sempurna kepada Allah, inilah sebabnya dinamai dengan surat Al-Ikhlash.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad (5/133), At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-Ikhlash, no. (3364)
[2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany dalam Tafsirnya (30/346). Dan Al-Baihaqy dalam Asma Wash Shiafat hal. 58-59
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Budi pekerti kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Fatimah Radhiyallahu ‘anha no. (3714). Dan Muslim dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, no (2449) (93).
[4]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an, bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu Ahad” no. (5015) Dan Muslim dalam kitab Shalat Para Musafir, bab : Fadhilah membaca “Qul Huwa Allahu Ahad”, no. (811) (30)
[5]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil, no. (2693) (30)
[6] Telah disebutkan takhrijnya.
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi, dalam Bab-bab Witir, bab : Bacaan yang dibaca dalam shalat witir, no. (463). Ia berkata : “hadits ini hasan gharib”.

TAFSIR SURAT AL-FALAQ

|

Bismillahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman.

Artinya :
“Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh” [Al-Falaq : 1]
“Dari kejahatan makhluk-Nya” [Al-Falaq : 2]
“Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita” [Al-Falaq : 3]
“Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” [Al-Falaq : 4]
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” [Al-Falaq : 5]

Mengenai ‘basmalah” telah berlalu penjelasannya

Firman Allah.

“Artinya : Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh” [Al-Falaq : 1]

Rabb Falaq adalah Allah. Al-Falaq maknanya subuh. Boleh juga dengan makna lebih umum, yaitu setiap apa yang dimunculkan Allah pada pagi hari, seperti subuh, biji buah-buahan dan biji tumbuh-tumbuhan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan” [Al-An’am : 95]

Dan firmanNya.

“Artinya : Dia menyingsingkan pagi” [Al-An’am : 96]

Firman Allah

“Artinya : Dari kejahatan makhluknya” [Al-Falaq : 2]

Yaitu dari kejahatan seluruh makhlukNya hingga kejahatan dirinya sendiri. Karena nafsu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat. Jika engkau katakan, dari kajahatan makhluk-Nya, maka engkau adalah orang pertama yang termasuk di dalamnya. Sebagaimana yang tertera dalam khutbah hajah.

“Artinya : Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami” [1]

FirmanNya “ Min syarri maa kholaq” mencakup setan dari golongan jin dan manusia dan kejahatan lain-lain.

Firman Allah.

“Artinya : Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita” [Al-Falaq : 3]

Dikatakan arti ‘al-ghasiq’ ialah malam, dan dikatakan juga artinya bulan. Yang shahih adalah bahwa ‘al-ghasiq’ mencakup kedua makna. Adapun ‘al-ghasiq’ artinya malam karena Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dirikan shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” [Al-Israa : 78]

Pada malam hari banyak kejahatan dan binatang buas berkeliaran. Oleh karena itu, dipinta perlindungan dari kejahatan al-ghasiq, yaitu malam.

Al-ghasiq dengan arti bulan terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu ketika beliau menunjukkan bulan kepada ‘Aisyah seraya bersabda.

“Artinya : Inilah yang disebut al-ghasiq” [2]

Bulan dikatakan ghasiq karena cahayanya muncul di malam hari.

“Wa min syarri ghasiqin idzaa wa qab” athaf kepada “ min syarri maa kholaq” yang termasuk dalam bab, athaf khusus kepada yang umum. Karena ghasiq termasuk makhluk Allah Azza wa Jalla. Adapun firman Allah “ Idza wa qab” yakni, jika menjelang. Malam jika datang menjelang disebut ghasiq begitu juga bulan jika bersinar cerah disebut ghasiq. Ini semua terjadi pada malam hari.

Firman Allah.

“Artinya : Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” [Al-Falaq : 4]

“An-Naffaatsaati fii al-uqad” yaitu para tukang sihir yang mangikat tali dan lain-lain, kemudian menghembusnya sambil membacakan mantera-mantera yang terdiri dari nama-nama syetan. Ia menghembus setiap buhul yang ia ikat. Demikianlah ia lakukan berulang-ulang. Tukang sihir yang tercela ini menginginkan orang tertentu agar sihirnya mengenai orang tersebut. Allah menyebut ‘naffaatsaat’ (bentuk perempuan) tidak ‘naffaatsiin’ (bentuk lelaki). Karena kebanyakan yang melakukan jenis sihir ini adalah wanita. Oleh karena itu, Allah menyebutkan“An-Naffaatsaati fii al-uqad” . Dan kemungkinan juga maksud dari An-Naffaatsat ialah hembusannya, yang berarti mencakup pria dan wanita.

Firman Allah

“Artinya : Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” [Al-Falaq : 5]

Al-Hasid ialah seorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah. Jika seseorang mendapat nikmat berupa harta, kedudukan, ilmu dan lain-lain, dada mereka terasa sesak sehingga muncul sikap iri tersebut. Al-Hassad (orang-orang yang mempunyai sifat dengki) ini terbagi menjadi dua :

Seseorang yang benci terhadap orang lain karena mendapat nikmat Allah, tetapi ia tidak berbuat apa-apa terhadap orang tersebut. Kamu akan lihat dia seperti orang yang terkena demam panas jika melihat orang lain mendapat nikmat, tetapi ia tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap orang tersebut.

Kejahatan dan bala’ ada pada orang yang dengki bila ia bertindak. Oleh karena itu, Allah berfirman “idzaa hasad” artinya jika ia dengki.

Di antara tindakan orang yang dengki ialah ‘Ain yang mengenai seseorang . yaitu, orang ini benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah, ia merasakan sesuatu terjadi pada dirinya jika si fulan mendapat nikmat, pada saat itu keluar dari dirinya sesuatu yang jelek (yang sulit untuk diungkapkan), kemudian ia kenai si fulan dengan ‘ain tersebut. Akibatnya, bisa menyebabkan kematian, sakit atau gila. Terkadang orang hasid ini dapat menghentikan mesin, atau merusak kendaraan atau tiba-tiba mogok, dapat merusak pompa air atau penjaga kebun. ‘Ain itu benar adanya dapat menimpa orang lain dengan izin Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla menyebutkan : Jika malam telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul, orang yang dengki apabila ia dengki, katiga bencana ini terjadi secara tersembunyi.

Malam adalah tirai atau penutup ‘wa al-alayli idzaa yagsyaa”., “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”. Kejahatan yang tidak diketahui terjadi pada saat ini.

“An-naffaatsaati fii al-uqad” ialah sihir yang tersembunyi yang tidak diketahui. “haasidin idzaa hasad” ialah ‘ain yang juga tersembunyi. Boleh jadi ‘ain itu berasal dari orang yang menurut perkiraanmu dialah orang yang paling kamu cintai dan kamulah orang yang paling kamu cintai. Namun ternyata, ia sendiri yang telah menimpakan ‘ain kepadamu. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan tiga hal ini, mala jika telah tiba, tukang sihir yang menghembus buhul-buhul dan orang yang dengki apabila ia dengki. Kesemuanya itu termasuk dalam firmanNya “ min syarri maa kholaq”. “dari kejahatan makhlukNya”.

Jika seseorang berkata : Bagaimana cara menanggulangi tiga kejahatan tersebut ? Kita katakana : Cara menanggulanginya dengan menjadikan hati selalu bergantung kepada Allah Ta’ala. Menyerahkan semua perkara kepadaNya, bertawakkal kepadaNya, selalu membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk membentengi dan menjaga dirinya dari kejahatan mereka.

Akhir-akhir ini, banyak yang menjadi korban ilmu-ilmu sihir, pendengki-pendengki dan yang semisalnya. Karena manusia lalai dari mengingat Allah, melemahnya rasa tawakkal, terlalu sedikit membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagai pembenteng diri. Sementara kita sudah ketahui bahwa dzikir tersebut merupakan benteng diri yang sangat kokoh, lebih kokoh dari tembok Ya’juj dan Ma’juj. Akan tetapi sangat disayangkan, banyak yang tidak mengetahui dzikir tersebut ; ada yang mengetahuinya tetapi tidak melaksanakannya, dan ada yang membaca tetapi dengan hati yang lalai. Semua ini adalah suatu kekurangan. Jika orang-orang membaca dzikir-dzikir yang ada dasarnya di dalam syari’at, niscaya akan selamat dari kejahatan tersebut. Kita memohon kepada Allah agar diberi kesehatan dan keselamatan.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
_______
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad I/302
[2] Hadits riwayat At-Tirmidzi, dalam Kitab Tafsir, bab : Tentang surat Al-Mu’awwidzatain, no. (3366). Ia berkata : “Ini hadits hasan shahih”.

TAFSIR SURAT AN-NAAS

|

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman:

Artinya :
“Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb manusia” [An-Naas : 1]
“Raja Manusia” [An-Naas : 2]
“Sembahan manusia” [An-Naas : 3]
“Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi” [An-Naas : 4]
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia” [An-Naas : 5]
“Dari jin dam manusia” [An-Naas : 6]

Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya

Allah berfirman :

“Artinya : Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia” [An-Naas : 1]

Dia adalah Allah Azza wa Jalla. Dia adalah Rabb manusia dan yang lainnya. Rabb manusia, malaikat, jin, langit, bumi, matahari, bulan dan Rabb segala sesuatu. Tetapi pada surat ini, dikhususkan pada manusia.

“Maliki an-naas” yaitu Raja yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi terhadap manusia, kekuasaanNya sangat sempurna, Dia-lah Allah Azza wa Jalla.

“Ilaahi an-naas” adalah tuhan dan sembahan mereka. Sesembahan yang hak yaitu yang dituhankan oleh hati, dicintai dan diagungkanNya, Dialah Allah Azza wa Jalla.

“Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi” [An-Naas : 4]
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia” [An-Naas : 5]
“Dari jin dam maunusia” [An-Naas : 6]

Berkata para ulama : “al-waswas” ialah masdar (kata dasar) yang berarti isim fa’il. Yaitu, “al-waswas” atau “al-waswasah”, maksudnya : apa yang terlintas dalam hati berupa fikiran, sangkaan, khayalan, yang tidak ada kebenarannya.

“Al-khannaas” ialah yang memerpdayakan, mengganggu, yang pergi dan datang ketika seseorang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dia adalah syetan. Oleh karena itu, jika adzan berkumandang syetan akan lari terkentut-kentut sehngga tidak lagi terdengar adzan tersebut. Ia akan kembali jika adzan selesai. Dan akan kembali lari jika mendengar iqamah. Jika iqamah selesai, ia akan kembali untuk mengganggu orang yang sedang shalat. Ia akan katakan : ingatlah ini, ingatlah ini. Orang itu terus diganggu sehingga ia tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia kerjakan. [1] Oleh karena itu, terdapat dalam sebuah atsar.

“Artinya : Jika syaithan datang mengganggu maka segeralah kumandangkan adzan” [2]

“Al-ghilan” ialah syetan yang dikhayalkan seorang musafir seolah-olah sesuatu yang menakutkan, atau kedatangan musuh atau yang seumpamanya. Jika seseorang takbir, syetan itu akan lari.

“Min al-jannati wa an-naas” was-was (bisikan) ini bisa dari jin ataupun dari manusia. Adapun was-was yang datang dari jin, adalah hal yang nyata, sebab ia mengalir di aliran darah manusia. Adapun was-was dari manusia yaitu dengan membisikkan kepada orang lain suatu kejahatan dan menghiasinya, sehingga orang itu menerima kejahatan tersebut, kemudian ia pun pergi meninggalkan orang tersebut.

Ketiga surat ini (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas) dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau hendak pergi keperaduan ; beliau menghembuskan ke telapak tangannya kemudian mengusapkannya ke wajah dan anggota badannya yang dapat ia usap, [3] dan terkadang beliau membacanya setiap selesai shalat fardhu. [4]

Maka sudah sepantasnya bagi seorang insan melaksanakan sunnah ini dengan membaca tiga surat tersebut pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan ini, berakhirlah juz terkahir dari Al-Qur’an, yaitu juz An-Naba’.

Wallahu A’lam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Nabi kita Muhammad dan seluruh shabat beliau.


[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Adzan, bab : Fadhilah adzan, no. 607. Muslim dalam kitab Shalat, bab ; Fadhilah adzan dan larinya syetan ketika mendengarnya, no. 389, 83
[2]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad, no. 14277
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Fadhilah Al-Qur’an, bab : Fadhilah Mu’awwidzaat, no. 5017
[4] Hadits riwayat Abu Daud dalam Kitab Witir, bab : Istighfar, no. 1523. An-Nasa’i dalam Kitab As-Sahwi (lupa), bab : Perintah membaca Al-Mu’awwidzzat setelelah salam, no. 1337. Al-Hakim I/253 dan ia menshahihkan hadits ini karena sesuai dengan syarat Muslim

TAFSIR BASMALAH

|

Firman Allah

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : “Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla.

Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘ami’l kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”, karena lebih tepat kepada yang dimaksud. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “[1] Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah” [2]

Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (Allah).

Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah tidak boleh diberi nama denganNya. Nama ‘Allah’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya).

Ar-Rahmaan

Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim

Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.

Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat. Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali. Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita.

Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini. Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat. Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang. Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan. Dan semua itu tidak layak bagi Allah”.

Bantahan terhadap mereka dari dua sisi.

Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan. Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua.

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk. Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya. Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali.

Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah. Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna. Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna. Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar daripada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah. Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”. Tidak syak lagi hal itu benar. Akan tetapi hal tersebut lebih samar disbanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah. Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar. Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam. Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya”

MASALAH

Apakah basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah ataukah bukan ?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, harus dibaca jahr (dikeraskan bacaannya) dalam shalat dan berpendapat tidak sah shalat tanpa membaca basmalah, sebab masih termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Sebagian ulama lain berpendapat, basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah. Namun ayat yang berdiri sendiri dalam Al-Qur’an.

Inilah pendapat yang benar. Pendapat ini berdasarkan nash dan rangkaian ayat dalam surat ini.

Adapun dasar di dalam nash, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Apabila ia membaca : “Segala puji bagi Allah”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Apabila ia membaca : “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maka Allah menjawab: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Apabila ia membaca : “Penguasa hari pembalasan”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Apabila ia membaca : “ Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Maka Allah menjawab : “Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”. Apabila ia membaca : “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Maka Allah menjawab : “Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta” [3]

Ini semacam penegasan bahwa basmalah bukan termasuk dalam surat Al-Fatihah. Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat malam bermakmum di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca : “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin” dan tidak membaca ; ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim” di awal bacaan maupun di akhirnya. [4]

Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya. Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960)
[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960)
[3]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Kewajiban membaca Al-Fatihah di setiap raka’at no. (38) (395)
[4]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Argumentasi orang-orang yang berpendapat bacaan basmalah tidak dikeraskan, no. (52) (399).

 

©2009 risma jatibening satu | Design by risma jatibening satu