Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan

Perpaduan Pendidikan Islam dan Sains

|

Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Jumlah yang begitu besar menjadikan sebuah keunggulan sekaligus masalah.

Keunggulan dapat diraih ketika, umat islam mampu menjadi frontier atau ujung tombak pembangunan negara dan perwujudan kemakmuran seluruh rakyat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman

. Sedangkan jumlah yang begitu besar juga bisa menjadi masalah, ketika umat islam tidak mampu mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dan tidak mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang muslim untuk mewujudkan kemakmuaran yang sesuai dengan tujuan penciptaan agar menjadi khalifah utusan Allah di bumi ini. Kenyataan sekarang yang terjadi adalah umat islam belum banyak berperan dalam menyelesaikan problem umat maupun bangsa.

Berbicara tentang sumber daya manusia, umat islam harusnya dapat memberikan konstribusi yang besar linier sebanding dengan jumlahnya. Akan tetapi, dengan kuantitas yang besar, ternyata belum sebanding dengan kualitasnya. Jadi sebenarnya, ada yang salah dengan sistem pendidikan yang dimiliki dan dipraktekkan oleh umat islam saat ini. 

Mengapa demikian?. Karena sistem pendidikan yang erat dengan penyaluran ilmu akan mempengaruhi pola pikir, dan pikiran akan menentukan perilaku atau perbuatan. Jika sistem pendidikan salah, bisa jadi kebaikan ilmu akan lenyap. Bila dianalisis lebih jeli selama ini, khususnya sistem pendidikan islam seakan-akan terkotak-kotak antara urusan duniawi dengan urusan ukhrowi. Ada pemisahan antara keduanya.

Sehingga dari paradigma yang salah itu, menyebabkan umat islam belum mau ikut andil dan berpasrtisipasi banyak dalam agenda-agenda yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagai permisalan, tentang sains. Sering kali umat islam fobia dan merasa sains bukan urusan agama. Jadi ada pemisahan antara urusan agama yang berorientasi akhirat dengan sains yang dianggap hanya berorientasi dunia saja.

Sejarah telah mencatat, pada awal abad VIII umat islam telah menorehkan tinta emas kemajuan iptek jauh sebelum terjadinya revolusi Industri yang diagung-agungkan bangsa Eropa . Kala itu, Ilmuwan-ilmuwan islam dapat meletakkan dasar kemajuan iptek yang tentu saja atas dasar agama.

Diantara ilmuwan seperti Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai ‘dokter Muslim terbesar', atau pakar kedokteran Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]) yang hasil pemikirannya The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb) menjadi rujukan utama ilmu kedokteran di eropa. Al Kawarijmi Jabir Ibnu Hayyan yang meninggal tahun 803 M disebut-sebut sebagai Bapak Kimia. Algoritma yang kita kenal dalam pelajaran matematik itu berasal dari nama seorang ahli matematik Muslim bernama Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi (770-840 M).

Ilmuwan islam telah diakui menjadi ”jembatan” yang menghubungkan Pra-revolusi dengan kemajuan eropa melalui revolusi industri yang sempat diklaim merubah dunia. Lantas apa yang menyebabkan Islam dapat bersinar kala itu?. Alasannya adalah peran islam dalam mengembangkan iptek sangatlah luar biasa.

Selain ilmuwan-ilmuwan yang bekerja keras, ditambah pemerintahan yang mendukung dengan rela menyewa penerjemah-penerjemah untuk menenjemahkan warisan-warisan ilmuan kuno Yunani. Sehingga nampak bahwa islam tidak hanya berorientasi pada agama, tetapi juga turut mengembangkan iptek yang sebelumnya dianggap berorientasi pada dunia.

Kondisi sekarang, memang bangsa barat khususnya Eropa dan Amerika sedang berada pada posisi roda diatas, mereka memegang peran yang siknifikan dalam menguasai dunia. Hal tersebut sesuai dengan Sunatullah yang menyebutkan bahwa pergiliran kekuasaan di antara manusia adalah sebuah kepastian.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) …” Namun pergilirian ini terjadi, selain atas izin Allah, juga bergulir sesuai dengan sunatullah yang lain yaitu usaha keras bangsa Eropa dan Amerika dalam mengusai dunia, salah satu jalan adalah penguasaan sains.

Oleh karena itu umat islam harus mengusahakan agar roda itu terus berputar hingga suatu saat nanti giliran umat islam berada pada posisi diatas dengan cara memadukan islam dan sains melalui sistem pendidikan. Sehingga Umat islam dapat menggenggam dunia dengan sistem yang lebih baik dari sekarang. 

Dan perlu dingat bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila kaum itu yang merubah keadaannya sendiri. (Sulthoni Akbar)
Sumber :
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/perpaduan-pendidikan-islam-dan-sains.htm

Izinkan Kami Menata Ulang Peradaban

|

Sejarah telah mengubur dalam-dalam puing reruntuhan Sosialisme-Komunisme. Ideologi yang diusung Karl Marx, Lenin, Stalin dan kawan-kawannya itu telah terbukti gagal menyejahterakan manusia bersamaan dengan bubarnya adidaya Uni Soviet yang pecah menjadi serpihan tak bernilai. Dan sepertinya wajar saja jika ide-ide mereka tak lagi diminati sebab memang tak bisa memberi solusi. Kalaupun ada geliat bangkitnya paham kiri ini, maka itu tak lain hanyalah riak kecil saja.

Lantas, dengan sistem apakah dunia menapaki hari-harinya? Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History menyatakan bahwa sejarah telah berakhir. Dan demokrasi dengan kapitalisme-nyalah yang menjadi pemenang. Namun, benarkah tesisnya itu? Yang jelas, Jeremy Seabrook menampik hal tersebut. Ia menganggap kapitalisme yang merupakan saudara dekat liberalisme itu sebagai biang kerok kemiskinan global. “Apakah ekonomi melayani umat manusia, ataukah kemanusiaan telah ditindas untuk melayani ekonomi?” demikian tulisnya dalam Kemiskinan Global; Kegagalan Ekonomi Model Neoliberalisme.

Pernyataannya itupun didukung begitu banyak fakta yang mengindikasikan semakin dekatnya kehancuran kapitalisme. Lihat saja begitu jauhnya jurang kesenjangan kaya-miskin. Menurut Hammer (1994: 16), pada saat ini 20% penduduk dunia (The Club of Rich) menguasai 83% kekayaan dunia, mengendalikan 81% perdagangan dunia dan mendapat 81% hasil investasi, sembari menikmati 70% energi, 85% persediaan kayu dunia dan 60% pangan. Perbandingan kekayaan 20% penduduk terkaya dunia dengan 20% penduduk termiskin dunia adalah 60 berbanding 1. Data lain mengemukakan bahwa tren kemiskinan semakin memburuk. Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dolar per hari meningkat menjadi 1,214 miliar jiwa (20% penduduk dunia). Selain itu, 1,6 miliar jiwa (25% penduduk dunia) lainnya hidup antara 1-2 dolar sehari.(The United Nations Human Development Report, 1999).

Indonesia pun tak jauh beda. Walaupun mengaku bermazhab ekonomi Pancasila, tetap saja kiblatnya adalah kapitalisme. Konglomerat tak beradab dan pihak asing dilayani dengan istimewa oleh pemerintah. Aset-aset strategis diobral murah. Termasuk yang jelas-jelas menguasai hajat hidup orang banyak-yang notabene harus dikelola negara berdasarkan UUD 1945- diprivatisasi tanpa merasa berdosa. Mungkin sebentar lagi, pemerintah juga akan menjual pulau-pulau di nusantara untuk melunasi utang berbunga ‘lunak’ dari IMF. Data Susenas yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik pada Maret 2005 menunjukkan jumlah orang miskin mencapai 39,05 juta orang atau 17,5% penduduk Indonesia. Ya wajar saja, lha wong harga-harga pada membumbung tinggi, upah nggak naik juga, celetuk seorang ibu.

Belum lagi jika kita melihat tingkat pengangguran yang selalu meningkat tajam, kelaparan yang menjadi tradisi rutin dan pendidikan yang selalu diagungkan tapi tak pernah dipedulikan. Masalah buruh belum selesai, lebih sedih lagi menyapa generasi muda yang terkena bias budaya ekstravaganza. Sikap hedonis yang didesain pemahaman liberal membuat mereka menjadi free thinker dan telah menuai hasil. Hasil penelitian LSCK PUSBIH di Yogyakarta memperlihatkan bahwa 97,05% mahasiswi di kota pelajar itu telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Parahnya, semua responden mengaku semua itu dilakukan tanpa ada paksaan alias atas dasar suka sama suka. So, have fun aja. Begitu mungkin pikir mereka. Dalam sebuah seminar yang diadakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur di FISIP Universitas Airlangga, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ketika itu Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan angka aborsi saat ini mencapai 2,3 juta dan setiap tahun ada trend meningkat. Tetapi peningkatan itu bukan disebabkan oleh pemerkosaan melainkan karena suka sama suka alias free sex. Bahkan di Surabaya ada 6 dari 10 gadis yang sudah tidak perawan lagi.

Peredaran narkoba pun tak terbendung. Pada tahun 2000 lalu, tercatat ada 4 juta pengguna narkoba di seantero Indonesia. Dari jumlah itu, 70% di antaranya adalah anak usia sekolah, 14-20 tahun. Na’udzubillah.

Islam, Sebuah Solusi

Kalau Anda seorang muslim, maka tak perlu pusing mencari solusi. Sebab, dien ini sudah sempurna dan mengatur segenap aspek hidup. Tak percaya? Simak saja surah Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Masalahnya, kita belum konsisten melaksanakan syariah. Mayoritas umat Islam hanya mau mengambil Islam setengah-setengah. Yang mahdhah (ritual) saja, tidak yang muamalah (sosial). Mereka mengikuti langkah syaithan dengan tidak menjalankan Islam dengan kaffah (menyeluruh) sebagaimana diinstruksikan Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah:208. Padahal Rasulullah Muhammad Saw. telah membuktikan bagaimana ia membangun kegemilangan peradaban dengan tuntunan wahyu (Al-Qur’an). Mendirikan sebuah Imperium besar tak tertandingi yang diteruskan khulafa al rasyidin hingga akhirnya diruntuhkan dengan kepicikan Mustafa Kemal Pasha di masa Daulah Utsmaniyyah pada tahun 1924.

Lihatlah sistem ekonomi non-ribawi yang menentramkan dan memberdayakan. Semuanya untuk kemaslahatan rakyat. Mulai dari konsep zakat, infaq, shadaqah, fidyah, dam, wakaf dan sejenisnya. Sampai-sampai di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, amil-amil zakat berkeliling benua Afrika untuk mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat, namun tak ditemukan. Sistem politik Islam juga begitu mengagumkan. Sistem yang jujur tak pernah menipu seperti demokrasi lipstiknya barat. Demokrasi barat tak pernah meridhai kemenangan kelompok Islam meskipun demokratis seperti FIS di Aljazair dan HAMAS di Palestina karena dianggap akan menghancurkan demokrasi itu sendiri, tetapi Islam sesungguhnya tak pernah memusingkan bentuk negara. Yang penting, apakah negara tersebut dapat berperan sebagai instrumen penegak syariah Allah atau tidak. Demikian Anis Matta dalam pandangan Suherman, M.Si (Rekonstruksi Politik Kaum Muslim: Studi Interpretatif atas Pemikiran H.M. Anis Matta).

Bukti lain jayanya Islam di masa lampau adalah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Pencapaian prestasi gemilang itu tercermin dari lahirnya par ilmuwan semisal Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al-Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Ibnu Khaldun (politik, sosiologi), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu Rusyd (filsafat) dan masih banyak nama lain lagi. Bahkan bangsa Eropa mengenal kebiasaan mandi dan membuat jamban setelah belajar dari umat Islam yang kala itu persebarannya sudah sampai ke Andalusia.

Ilmuwan barat sendiri mengakui secara jujur kebenaran hal itu. “Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmi, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durrant, Story of Civillization). Sekarang, tinggal kita ubah paradigma berpikir. Kita harus kaffah berIslam. Juga meninggalkan hukum thagut yang menjauhkan umat ini dari rahmat Allah dan menggantinya dengan Islam yang jelas-jelas merupakan rahmat bagi semesta. “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumya selain Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Maidah:50) Al-Ghuraba’, Generasi Perubah

Saat mayoritas anak muda shopping di mall atau mejeng di jalanan, mereka asyik beraktivitas di sudut-sudut masjid. Ketika sudah banyak muda-mudi yang terjerumus ke lembah hitam seks bebas, mereka bahkan mengharamkan pacaran, karena merupakan bentuk lain dari mendekati zina. Di kala kaum hawa zaman kiwari ini berbusana begitu terbuka tanpa batas, mereka menutup rapat-rapat auratnya dengan jilbab rapi hingga seluruh tubuh. Kalau kebanyakan anak lelaki sudah biasa nyabu, maka mereka merokok pun tidak.

Muhammad Fathi menuliskan, “Merekalah generasi yang keislamannya tidak hanya sebatas shalat, shaum dan dzikir. Namun, generasi yang dadanya bergejolak saat kesucian agama dihinakan. Hatinya meleleh, bersedih dengan setiap kelemahan jiwa padahal ia masih bisa bernafas. Generasi yang tidak menyia-nyiakan usianya begitu saja, namun mengubahnya menjadi kekuatan dahsyat untuk sebuah karya.”(The Power of Youth)

Merekalah yang Allah janjikan dalam QS. Al-Maidah:54, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” Merekalah generasi baru (jiilun jadid) yang dinubuwatkan Rasulullah, “Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba’). Merekalah orang-orang yang berbuat baik selagi manusia berbuat kerusakan.”(HR. Ahmad)

Merekalah yang akan mengubah dunia dengan tuntunan wahyu, berakidah salim, beribadah shahih, berakhlak kokoh. Dengan tarbiyah (pembinaan) dan tashfiyah (pemurnian) mereka akan memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari adzab ketika berpaling dari syariah, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124).

Kalian tidak percaya? Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu, ku tak akan berpaling karena hinaan itu. (Anugrah Roby Syahputra)
Sumber :
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/izinkan-kami-menata-ulang-peradaban.htm

Karakter Bangsa yang Terkikis

|

Indonesia dikenal sebagai negara besar didunia dan memiliki posisi strategis secara geopolitik dan geoekonomi. Indonesia kaya dengan potensi demografi dan geografi, memiliki ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, kepulauan Indonesia dipenuhi dengan beraneka ragam potensi alam di permukaan maupun dalam perut bumi. Namun terkikisnya identitas dan jati diri bangsa yang dimulai dari pemimpin membuat martabat sebagai sebuah bangsa berdaulat berkurang maknanya. Bangsa besar dan jaya sebagaimana cita-cita kemerdekaan sepertinya akan terus mengalami degradasi makna.

Kepercayaan dan penghargaan dunia terhadap bangsa Indonesia semakin berkurang karena lemahnya karakter para pemimpin dalam mengedepankan nilai kebangsaan. Elit bangsa justru sebagiannya menjadi pelaku kejahatan terhadap negara seperti korupsi dan berbagai perilaku moral hazard. Di saat yang sama, kebijakan menerima liberalisasi ekonomi menurut hukum pasar (free market) tanpa proteksi, membuat Indonesia kembali harus terjebak dalam permainan bangsa-bangsa pemilik modal.

Negara-negara maju bebas mengintervensi kebijakan ekonomi bangsa-bangsa lemah (third countries) dengan kekuatan modal dan kebijakan melalui lembaga ekonomi dunia seperti World Bank (WB), Internatonal Moneter Fund (IMF) dan World Trade Organization (WTO), atas nama globalisasi dan liberalisme. Kuatnya hegemoni dan cengkeraman kapitalisme global dalam dunia politik dan ekonomi membuat Indonesia yang memang masih lemah tidak mampu keluar dari ketergantungan terhadap utang luar negeri.

Menurut Francis Fukuyama (2003) istilah liberalisme adalah aktivitas ekonomi bebas dan pertukaran ekonomi berdasarkan kepemilikan pribadi dan pasar. Tetapi istilah William K.Tabb (2003) menyebutkan globalisasi membentuk kembali rezim perdagangan dan keuangan dunia serta mendefinisikan ulang kesadaran pada tingkat yang paling dekat dan lokal, mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya sendiri, ruang gerak anak-anak mereka dan entitas mereka. Beragam identitas mengalami perubahan akibat kekuatan globalisasi. Realitas ini menunjukan bangsa menghadapi tantangan yang sangat besar, sehingga diperlukan upaya pembangunan karakter dan identitas bangsa dalam berbagai aspek. Pemimpin negeri perlu menyadari tugas pembangunan karakter bangsa ini sebagai bagian penting dalam menanamkan spirit nasionalisme menuju amanah besar membangun kedaulatan dan kejayaan bangsa.

Sejarah Terus Berulang
Jika tidak belajar dari sejarah maka keburukan sejarah itu akan berulang pada setiap generasi. Prof. Amien Rais dalam bukunya Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia (2008) mengungkapkan berulangnya sejarah jatuh bangun negeri ini justru dipicu oleh kebodohan dan mental inlander sebagian elit yang memegang kekuasaan pada masanya. Dahulu negeri kita dijajah oleh VOC dengan dukungan politik, kekuatan militer, lembaga keuangan, media, bahkan dukungan kaum intelektual para orientalis seperti misionaris Snouck Hurgronje.

Kenyataannya yang sama kita saksikan saat ini, walaupun tidak ada penjajahan politik dan militer lagi, kita telah kehilangan kedaulatan ekonomi sampai pada titik yang sangat mencemaskan. Kekuatan korporasi asing (Multinational Corporate) telah menguasai dan mendikte perekonomian nasional hampir secara keseluruhan di berbagai bidang seperti perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, bahkan hingga pada kebijakan politik dan pertahanan.

Maka sejarah berulang, kita kembali terjajah dan mungkin akan terus terjajah, jika tidak ada inisiatif bangkit bergerak! Harus muncul kesadaran untuk belajar dari kejatuhan bangsa dan mengubahnya menjadi cambuk pelecut meraih kemerdekaan dan kedaulatan sejati. Mendidik pemuda agar berjiwa patriot dan tidak bermentalitas inlander. Ini rupanya alasan pemerintah negara-negara macan Asia seperti Jepang, China dan India mendidik anak muda mereka di bawah kesadaran nasionalisme yang tinggi, agar tidak menjadi pemimpin murahan pada saatnya meraih kekuasaan. Indonesia bisa jadi terpojok dengan kesuksesan semu membangun nasionalisme lewat program penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di seluruh kelompok masyarakat. Namun seterusnya gagal mendefinisikan model pembangunan karakter bangsa pada para pemudanya justru pada era reformasi yang penuh kebebasan. Akibatnya justru pada era reformasilah kita melihat penjualan aset negara BUMN secara instan dan besar-besaran terjadi. Saat oposisi elit bangsa meneriakkan kemerdekaan dan demokrasi, lalu ketika berkuasa mereka bebas menjual aset negara.

Maka, membaca ulang dan mempelajari sejarah amat penting untuk tidak mengulang kejatuhan bangsa akibat kesalahan elit-elitnya. Those who don't learn from history, are doomed to repeat it. Siapa pun yang tidak belajar dari sejarah, mereka pasti mengulanginya. (Taufiq Amrullah)

Sumber Daya yang Terlupakan

|

Berbicara mengenai sumber pendanaan perekonomian Negara, kerap kali kita terjebak pada kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Pemerintah seringkali terpukau akan kekayaan SDA Indonesia sehingga kebijakan-kebijakan yang diluncurkan juga jarang menyentuh aspek-aspek SDM yang potensial. Kita lupa, bahwa selain SDA yang melimpah kita juga memiliki sumber daya manusia yang sangat potensial jika diberdayakan dengan maksimal.
 
Pertama, Sumber Daya Manusia Wajib Zakat. Tidak akan ada rakyat miskin di Indonesia jika seluruh umat muslim membayar zakat!! Yang terpenting, Instrumen zakat sangat bermanfaat dalam memutus rantai birokrasi (baca:korupsi). Jika seseorang membayar zakat, dia tidak perlu berhubungan dengan institusi pemerintah, dia dapat menyalurkannya secara langsung atau melalui badan amil zakat terdekat. Dengan jalur distribusi yang ringkas tersebut, alur distribusi bantuan dapat berjalan dengan efisien dan maksimal.

Bandingkan dengan program BLT. Zakat juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan antar warga masyarakat. Sekali lagi, bandingkan dengan program BLT yang kerap kali memancing konflik horizontal. Satu hal lagi, penyaluran zakat minim perhatian media, hal ini jauh lebih baik daripada mempertontonkan sekumpulan orang yang mengantri menunggu pembagian uang yang tidak seberapa itu.

Dengan segala kelebihan-kelebihan tersebut, seharusnya pemerintah jeli melihat peluang yang sederhana namun efektif seperti ini. Alangkah baiknya jika pemerintah mampu mengajak dan mengkampanyekan zakat sebagaimana pemerintah mengkampanyekan pajak, toh zakat itu juga hukumnya wajib bagi umat muslim, Pemerintah bisa melibatkan MUI dan ulama-ulama kharismatik dalam hal ini.

Kedua, Sumber Daya Manusia Pedagang Kecil. Pedagang-pedagang kecil seperti Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah asset yang potensial jika diberdayakan dengan baik. Sungguh tidak dapat dimengerti jalan pikiran pemerintah yang selalu mengkampanyekan anti kemiskinan, sementara disaat yang bersamaan orang-orang yang sedang berusaha untuk bangkit dari kemiskinan malah dihalang-halangi dan ditumpas seperti pelaku kriminal. Sebenarnya, mereka PKL adalah orang-orang yang luar biasa. Bayangkan, dalam keadaan Negara yang ekonomi sulit seperti ini, mereka berani mengambil resiko untuk berwirausaha dengan modal seadanya. Hanya orang-orang yang bermental tangguh dan mandiri yang mampu melakukannya.

Jika bukan karena mental tangguh dan wirausaha, tentu mereka sudah menjadi pengemis, penjahat, atau sakit jiwa karena stress. Bandingkan dengan sarjana-sarjana yang melamar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), apakah mereka ngelamar PNS niatnya untuk mengabdi pada Negara? Belum tentu, mayoritas niatnya tidak lain karena alasan-alasan seperti tidak ada pilihan lain, pelarian akhir setelah gagal ditempat lain, ada uang pensiun, bisa santai-santai, atau bahkan mudah korupsi. Kiranya akan sangat bermanfaat jika ada lembaga survey yang bersedia mensurvey para CPNS, tanyakan kepada mereka apa niat mereka menjadi PNS dan kita lihat bersama apa hasilnya.

Yang sebaiknya dilakukan pemerintah adalah mengakomodir dan memfasilitasi para insan pengusaha tangguh tersebut dengan sarana dan prasarana yang lebih baik. Dengan tersalurkannya hasrat dagang mereka maka dengan sendirinya akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia dengan signifikan. Lebih dari itu, keberhasilan mereka nantinya akan memancing pengangguran-pengangguran lainnya untuk ikut melakukan hal yang sama.

Ketiga, Sumber Daya Manusia Cendekiawan Muda. sungguh miris hati ini melihat banyak sekali sarjana-sarjana Indonesia yang cerdas dan potensial memilih bekerja di luar negeri atau perusahaan asing. Mereka adalah asset Negara yang sangat berharga, sudah selayaknya pemerintah memutar otak bagaimana caranya bisa menggali potensi mereka dengan memberikan “pelayanan” khusus kepada mereka karena memang mereka layak mendapatkannya. Mereka adalah ujung tombak kemajuan negeri ini, akan sangat mubazir berat jika pemerintah tidak mampu memberdayakan potensi ini. (Muhammad Iqbal Hasan)
Sumber :
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/sumber-daya-yang-terlupakan.htm

Antara Syariah, Fikih dan Negara Islam

|

“ Kebijakan seorang pemimpin negara atau wakilnya mengenai hal-hal yang tidak ada nashnya dan beberapa perkara yang mengandung kebaikan untuk kemaslahatan bersama, wajib dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan apa yang telah berlaku dalam kaidah syariat. Biasanya sebuah perubahan terjadi sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebiasaan setempat. Kalau yang berhubungan ibadah haruslah sesuai nash, tidak boleh diartikan secara ma’nawi. Berbeda dengan adat (kebiasaan), diperbolehkan menerjemahkannya sejalan dengan ruh Islam dan substansi maslahat yang terkandung di dalamnya.” (Hasan Al Banna)

Kerapkali syariah yang diusung sebagai agenda politik beberapa parpol Islam mendapat rival yang kuat. Realitanya, perlawanan yang muncul terhadap pemberlakuan syariah Islam dalam skala nasional bukan hanya dari kalangan non-muslim saja. Sebagian umat Islam malah menginterpretasikannya dalam lingkup yang beda.

Apa yang dipikirkan sebagian kalangan mengenai syariah selalu bernuansa sadisme, diskriminatif sebenarnya tidak beralasan. Kekhawatiran mereka akan terbentuknya daulah Islamiyah menjadi ancaman etnis lain yang non-islam justeru muncul dan diperkuat oleh propaganda kalangan Islam sendiri yang tidak ingin diberlakukan hukum Islam.

Sebenarnya, membumikan syariah di tanah tercinta Indonesia adalah langkah penerapan hukum kembali seperti apa yang pernah berlaku sebelumnya. Sejak sekian lama, masuknya penjajah telah memporak-porandakan sistem kemasyarakatan di nusantara. Hal itu ditandai dengan pergantian tatanan hukum yang berlaku pada dulu masa kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan nusantara.

Lodewejik Willem Cristian Van Den Berg (1857-1927) dalam teorinya “receptio in complexu” menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah menerima hukum Islam sebagai hukum yang mereka anut. Dalam hal ini juga Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) melihat hukum adat yang berlaku pada masyarakat Indonesia dahulu tidak terlepas dari pengaruh hukum Islam. Transformasi hukum inilah yang kemudian dijadikan sampel pemerintah Hindia-Belanda ketika itu untuk mengambil alih hukum adat dan dibentuk kesatuan pradilan yang dikukuhkan dalam Indische Staatsregeling (I.S) tahun 1929.  

Usaha sentralisasi peradilan tersebut merupakan langkah akhir dari keinginan Belanda untuk menjajah Indonesia lebih leluasa. Oleh karenanya pada abad ke-19, Belanda begitu gencar melaksanakan kristenisasi. Mereka berasusmsi, semakin banyak pribumi yang memeluk agama kristen maka mereka akan semakin loyal terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dan apa yang dikatakan Snouck dalam teori resepsinya adalah semata untuk mematikan semangat juang masyarakat terhadap pemerintah kolonial yang dijiwai oleh hukum Islam.

Mereka pun berhasil, dalam kurun tiga setengah abad lamanya, hukum belanda telah mendarah daging dalam diri bangsa Indonesia. Warisan inilah yang terus dipelihara dan menjadi acuan baku dalam tata peradilan yang ada sekarang.

Lalu masalahnya sekarang, ketika sebagian hukum Islam telah diundang-undangkan melalui UU NO.14 Tahun 1970, akan tetapi sifatnya hanya parsial. Hukum yang berlaku hanya sebatas hukum perdata yang meliputi nikah, waris, hibah dan lainnya. Sementara lingkup fikih tidak membedakan antara hukum perdata dan pidana sebagaimna yang telah dibahas oleh ulama dahulu.

Inilah realitas yang berlaku. Walau mayoritas masyarakat indonesia menganut agama Islam, tapi masih tidak memiliki kesatuan kata untuk menjadikan fikih sebagai sumber rujukan. Hukum pidana indonesia yang masih konvensional terkesan sebagai bapak dari hukum perdata di peradilan agama.

Belum lagi, sebagian kalangan Islam yang menilai sinis terhadap penerapan syariah Islam ini. Mereka menilai hukum warisan Belanda itu sudah lebih sempurna dan tidak perlu ada perubahan. Sementara hukum ibarat kebutuhan. Dan lazimnya kebutuhan akan menyesuaikan dengan tntutan orang yang akan memakainya. Jadi, sangat aneh pihak yang terusikmelihat syariah Islam seperti di beberapa daerah otonom.

Mereka keliru memandang hukum Islam,hanya sebatas ruh dan maqashid (tujuan) yang terkandung di dalamnya saja. Dan sangat keliru jika menilai hukum Islam, adalah syariah. Dengan anggapan hukum Islam tak ubahnya seperti syariah (jalan) mereka lebih mementingkan substansi. Padahal selama masih ada nash (quran dan hadis) tentang satu perkara, maka harus diputuskan sesuai dengan yang digariskan nash. Sebab syariah itu umum, dan aplikasinya adalah fikih.

Dari sini, istilah Negara Islam tidaklah sesulit apa yang dibayangkan. Tidak harus mengganti Pancasila sebagai dasar negara, karena memang apa yang termaktub dalam lima sila tersebut sejalan dengan ruh Islam. Atau negara Islam harus sibuk ngurusin orang bisa baca quran atau wanitanya harus pakai jilbab, karena kaidahnya tahtimmul aham minal muhim (harus ada fikih perioritas). Namun bukan berarti, landasan hukum yang telah digariskan syari’ (Allah) bisa ditukar oleh undang-undang buatan yang tidak dijamin keadilannya. Kecuali, bagi permasalahan-permasalahan yang tidak ada nashnya, sepanjang bukan ibadah formal, maka apa yang dibuat pemerintah demi kemaslahatan umum wajib dilaksanakan.

Intinya, syariah merupakan ide dan inspirasi pembentukan hukum. Kemudian fikih menjadi rujukan undang-undang yang berlaku. Dan jika telah diterapkan dalam skala nasional, maka jadilah negara Islam. (Fery Ramadhansyah)
Sumber :
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/antara-syariah-fikih-dan-negara-islam.htm

Membaca Ulang Sejarah, Meretas Kebangkitan Modern

|

Sejarah kejayaan dan kejatuhan peradaban bangsa-bangsa dipergilirkan. Peradaban besar menemui masa keemasan masing-masing. Satu sama lain saling menyerang dan memperluas wilayah pengaruh, penaklukan bangsa lain adalah bagian dari kejayaan itu sendiri. Kejayaan dan kekuasaan itu tidak given melainkan harus diperjuangkan. Zero Sum Game, hasrat saling mengalahkan menjadi hukum dasar kekuasaan.

Dalam kitab suci Al Qur'an banyak dikisahkan jatuh bangunnya peradaban, yang menandakan ketidakberdayaan manusia mempertahankan keabadian kekuasaan. Kejatuhan peradaban terbaik sekalipun adalah kepastian yang sudah menjadi sunnatullah pergiliran kekuasaan. Penyebab keruntuhan peradaban terjadi karena berbagai sebab, misalnya karena ditaklukkan musuh, kejadian alam seperti perubahan iklim, bencana banjir, wabah penyakit dan lainnya, maupun oleh perilaku menyimpang kaum dan penguasanya sendiri.

Sejarah nabi-nabi pun diwarnai dengan perjuangan meraih kekuasaan dan penaklukan. Kita paham bahwa motifnya adalah untuk lebih memperluas ruang menyebarkan kebajikan kepada umat berdasarkan pesan Tuhan. Kisah Daud as., Musa as., Yusuf as., dan Muhammad SAW memberikan yang berbeda dalam metode perjuangan meraih kekuasaan menurut tuntutan keadaan saat itu.

Kita membaca sejarah kejayaan peradaban Yunani, Romawi, Islam, Persi, Tiongkok, Asia Timur, India, Eropa, lalu saat ini Amerika yang disebut-sebut sebagai imperium abad modern. Samuel Huntington sendiri sebagai seorang intelektual Barat menceritakan dalam bukunya The Clash of Civilization tentang pertarungan tujuh peradaban besar yang akhirnya dimenangkan oleh kapitalisme global yang diwakili Amerika dan negara-negara Eropa. Hipotesa Huntington menyebutkan penantang sengit peradaban kapitalisme di Barat adalah Islam. Analisis benturan antar peradaban juga diwakili peradaban Konfusianisme (China), peradaban Hindu (India), peradaban Asia Timur (Jepang dan Korea), maupun peradaban Animisme (sebagian Afrika), dan lainnya. Barangkali Huntington lupa menghitung peradaban Persi (yang kini diwakili Iran) yang pernah berjaya selama lebih dari 30 abad.

Diabad modern yang ditandai dengan penggunaan teknologi dan sistem informasi dalam merebut dominasi peradaban, hasrat mendominasi semakin tinggi. Perang Dunia I dan II membunuh jutaan umat manusia, puluhan juta lainnya diperbudak dan terusir dari negerinya. Ujung perang dunia kedua mendorong penggunaan teknologi nuklir dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang.

Perang terus berlanjut dalam bentuk perang dingin (cold war) yang ditandai dengan perlombaan senjata dan nuklir, penguatan intelijen, penguasaan energi dunia, proteksi pangan. Lalu dunia dijebak dalam pembagian blok antara Amerika dan sekutunya di Barat dan Uni Soviet bersama sekutunya di blok Timur. Siapakah yang mengatakan Uni Soviet mewakili Timur?

Sejarah ekonomi politik merupakan sejarah panjang jatuh bangun dan pertarungan antar bangsa merebut kekuasaan dunia dan merebut sumber kekayaannya. Sejak model kuno merkantilisme hingga model mutakhir neoliberalisme. Spanyol dan Inggris di abad pertengahan berlomba mencari benua baru untuk mencari kekayaan alam, seperti batu mulia dan rempah-rempah, serta lahan baru untuk pangan dan sandang, yang kemudian ini disebut Merkantilisme. Adam Smith yang memulai teori kapital dan kemudian menjadi rujukan kapitalisme hingga mencapai kejayaannya yang ditandai lahirnya revolusi industri di Inggris. Karl Marx membantah kapitalisme dengan teori sosialis komunisme, yang kemudian menjadi pedoman awal ekonomi sosialis hingga kemudian menemukan kebesarannya ditandai terjadinya revolusi Bolsevijk yang mendorong lahirnya negara Uni Soviet.

Saat terjadi depresi global yang meluas di Amerika dan negara-negara Eropa (The Great Depression) barulah disadari bahwa perlu suatu pandangan makro atas berbagai peristiwa sosial ekonomi, yang kemudian mendorong lahirnya ekonomi makro, pelopor pemikirannya adalah Maynard Keynes yang melahirkan aliran Keynesian. Pemikiran ekonomi politik terus mengalami evolusi dan saling melengkapi dalam tataran pengambilan kebijakan ekonomi dan politik suatu negara (mix policy).

Hanya saja, hasrat mendominasi dan berkuasa adalah kebutuhan tersendiri dari bangsa-bangsa di dunia. Atas nama ideologi, agama, faktor sejarah, suku bangsa, dan budaya, para penguasa bangsa sering mengobarkan semangat agresi menginvasi bangsa lain, yang dengan mudah diterima mentah-mentah oleh rakyatnya. Padahal itu semua dilandasi oleh keserakahan menguasai bangsa yang lemah tetapi kaya dengan energi, pangan dan kekayaan alam lainnya. Persis kembali ke zaman merkantilisme, ketika kerajaan Eropa seperti Spanyol, Inggris dan Portugal mengirim pasukannya mencari rempah-rempah dan sumber alam di benua Asia dan Afrika sambil menjajah rakyat setempat.

Meskipun kita juga memahami, sejarah Asia sendiri bukanlah sepenuhnya sebagai objek penjajahan dan perbudakan, kita tahu bagaimana kejayaan peradaban yang indah dari Delhi, Beijing hingga Istanbul. Selepas kejatuhan Roma, peradaban di Asia menemukan masa kejayaan ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan penyebaran pandangan keagamaan, seperti gerakan penyebaran Budhisme di Tibet maupun Islam di Asia Tenggara.

Indonesia adalah salah satu negeri objek merkantilisme sejak dulu. Malapetaka sejarah dimulai saat VOC (Vereenigde Oost-Indishe Compagnie) Belanda menjajah Indonesia selama kurang lebih 350 tahun sejak abad ke-17. Mereka menjarah kekayaan alam dan melakukan politik adu domba antara raja-raja setempat (devide et impera), dengan berpura-pura membela yang satu dan memusuhi yang lain, dan hasilnya penjajah tetap keluar sebagai pemenang. VOC kemudian bangkrut dan meninggalkan utang dalam jumlah besar. Seiring bergulirnya perang dunia kedua, pasukan Belanda meninggalkan Indonesia digantikan penjajahan Jepang.

Berakhirnya Perang Dunia II akibat kekalahan Jepang dari sekutu pada 1945 mendorong pemuda mendesak elit politik agar memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dengan wilayah yang meliputi semua bekas jajahan Belanda. Bahkan di saat sudah merdeka pun Belanda masih tetap ingin kembali menjajah negeri ini dengan melakukan agresi hingga terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan hingga 1949, bahkan Irian Barat hingga tetap dicaplok dan baru direbut pada 1964.

Presiden Soekarno memulai pemerintahan dengan utang yang ditinggalkan Belanda milyaran dollar AS. Padahal penjajah yang seharusnya memberikan kompensasi atas penindasan yang dilakukan selama ratusan tahun pada rakyat Indonesia. Akibatnya pemerintah tidak memiliki cukup sumber daya untuk membangun, dan rakyat kekurangan pangan. Pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk pembangunan infrastruktur seperti gedung parlemen (DPR) dan gelanggang olahraga di senayan, monas dan masjid Istiqlal, akibatnya inflasi tidak terkendali mencapai 700 persen. Soekarno melakukan mobilisasi nasionalisme dengan slogan 'Ganyang Malaysia'. Namun situasi tetap tidak terkendali, rakyat tidak puas dan pemberontakan terjadi di berbagai daerah. hingga terjadilah peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru pada 1965 berdasarkan Supersemar.

Orde Baru dengan harapan baru rakyat tentu juga semangat baru. Pembangunan di setiap sektor, terutama infrastruktur dan ketahanan pangan (swasembada pangan). Situasi yang kemudian dimanfaatkan asing untuk mencengkeram perekonomian Indonesia. Pada tahun 1974 dan 1978 terjadi gerakan mahasiswa dan amuk massa menolak barang-barang asing terutama milik Jepang di Indonesia, mobil dan alat elektronik buatan Jepang dibakar. Pada tahun '80-an terjadi kontrak karya jangka panjang antara pemerintah dan pihak Freeport untuk mengelola tambang emas di Papua, selanjutnya perusahaan tambang dan korporasi internasional (Multinational Corporate) menguasai sektor migas dan non migas negeri ini. Penjajahan ekonomi kembali terjadi, rakyat tidak merasakan kesejahteraan dinegerinya yang berlimpah kekayaan alam.

Kenyataannya, tidak hanya di zaman Orde Baru, di Orde Reformasi kita menyaksikan aset negara (BUMN) seperti Indosat dijual, bank-bank dijual, tambang dikuasai asing bahkan kontraknya diperpanjang, kejahatan besar perbankan terjadi lewat BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), sehingga negeri kita mengalami krisis yang amat parah dalam berbagai dimensi seperti krisis energi, krisis pangan, krisis infrastruktur, krisis finansial dan krisis fiskal. Pemimpin berkuasa lupa bahwa penjajah akan terus melakukan segala cara untuk menguasai kekayaan alam yang berlimpah, agar dapat disedot ke negeri mereka. (Taufiq Amrullah)
Sumber :
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/membaca-ulang-sejarah-meretas-kebangkitan-modern.htm

Gerhana Bulan Sebagian di Malam Tahun Baru

|


Mengawali tahun 2010 nanti berdasarkan perhitungan astronomis akan terjadi lagi peristiwa musiman yaitu Gerhana Bulan. Seperti sudah diketahui gerhana Bulan terjadi akibat posisi Matahari-Bumi-Bulan segaris, saat itu bayangan Bumi yang seharusnya sampai di permukaan Bulan akan terhalang sebagian atau seluruhnya sehingga permukaan Bulan terlihat gelap. Saat Bulan tertutup seluruhnya disebut Gerhana Bulan Total (GBT) dan saat Bulan hanya tertutup sebagian disebut Gerhana Bulan Sebagian (GBS).

Gerhana kali ini juga mengawali purnama pertama di tahun 1431 H. ini berupa Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau dalam istilah asingnya disebut Partial Lunar Eclipse. Kabar baiknya peristiwa ini adalah ia dapat diamati dari seluruh kawasan Indonesia sambili merayakan datangnya pergantian tahun baru 2009/2010. 

Menurut keterangan dari NASA, gerhana kali ini merupaka gerhana seri Saros yang ke-115 anggota ke-57 dari 72 rentetan gerhana dalam seri tersebut. Kontak umbra yang merupakan kontak dimana dapat diamati dengan mata telanjang ini hanya menutup sedikit sisi Selatan Bulan ini hanya berlangsung sekitar 1 jam dengan maksimum gerhana terjadi pada sekitar pukul 02:23 WIB. Sehingga para pengamat gerhana hanya akan menyaksikan wajah Bulan yang sedang purnama pagi itu sedikit gelap pada sisi sebelah Selatannya. Penampilan Bulan malam itu di Langit Barat juga akan bertambah menarik karena ditemani oleh konstelasi atau rasi Orion yang orang Jawa menyebutnya sebagai "Lintang Waluku" berada tepat di sebelah Selatan Bulan dengan bintangnya yang paling terang yaitu Rigel dan Betegeuse. Bintang Sirius, Procyon dan Capella juga akan terlihat pagi itu.

Tahapan Kontak Gerhana :
P1 (Kontak Penumba Mulai) = 00:17:08 WIB 
U1 (Kontak Umbra Mulai) = 01:52:43 WIB
Maksimum Gerhana = 02:22:39 WIB
U4 (Kontak Umbra Selesai) = 02:52:41 WIB
P4 (Kontak Penumbra Selesai) = 04:28:11 WIB

Kecuali Indonesia, sebagian besar wilayah Asia dan Afrika juga dapat penyaksikan peristiwa astronomis ini. Jadi tunggu apa lagi segera rencanakan malam Tahun Baru 2010 anda untuk juga menyaksikan peristiwa yang cukup langka dan jarang terjadi ini. Teleskop dan binokuler adalah pilihan terbaik untuk dapat mengamati peristiwa ini dengan baik. Untuk itu bergabunglah dengan klub-klub astronomi yang menyediakan sarana pengamatan menggunakan perlengkapan astronomi.

Gerhana, baik itu Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan merupakan peristiwa alam biasa yang secara astronomis dapat dihitung kapan akan terjadi. Peristiwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian seseorang namun gerhana merupakan momen untuk merenungkan kembali tanda Kemahabesaran Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta. Maka dari itu umat Islam dihimbau untuk memberikan makna akan kehadiran gerhana dengan memperbanyak doa, takbir dan sedekah seperti yang diajarkan Rasulullah serta disunahkan melaksanakan shalat khusuf atau shalat gerhana sesuai tuntunan yang berlaku.

Sumber :

Mutoha Arkanuddin (http://rukyatulhilal.org/)

Cermin

|

"Ternyata, aku cakep!" ujarnya setelah memastikan kalau bayangan itu memang benar-benar diri kancil sendiri. Dan, kancil pun melompat-lompat kegirangan. Tiap kumpulan hewan yang ia lalui seolah tersenyum memandangi dirinya. Bisikan yang selalu ia yakini pun mengatakan, "Kancil cakep, Ya! Kancil cakep!"

Begitu seterusnya hingga hewan periang ini menemukan genangan air yang lain. Warna air itu agak kusam. Beberapa dahan pohon yang mulai membusuk dalam air seperti memberi warna hijau pekat. Dan bayang-bayang yang dipantulkan genangan itu pun akan menjadi kusam.

"Hei, kenapa wajahku seperti ini?" teriak kancil sesaat setelah memandangi bayangan wajahnya dari permukaan genangan air itu. Ia jadi kian penasaran. Terus ia pandangi genangan itu seolah mencari detil-detil kesalahan. Tapi, bayangan itu tak juga berubah. Ia terlihat kusam, kumuh. Bulu-bulu coklatnya yang bersih tak lagi tampak seperti apa adanya. "Ternyata aku salah! Aku tidak cakep!" keluh kancil sambil beranjak meninggalkan genangan air.

Berjalan agak lunglai, kancil membayangkan sesuatu yang tak nyaman. Sapaan manis hewan-hewan yang ia lalui, terasa agak lain. Tiap sapaan seperti sebuah hinaan: "Kancil jelek! Sok cakep!" Itulah kenapa kancil selalu menunduk ketika berpapasan dengan siapa pun yang ia jumpai. Mulai dari kuda, kerbau, rusa, zebra, dan kambing. Ia merasa begitu rendah dibanding yang lain. Keriangannya pun berganti kesedihan. Pelan tapi pasti, bayang-bayang itu pun menjadi sebuah pengakuan. "Aku memang sok cakep!"

***

Hidup dalam sebuah kebersamaan adalah sama dengan memandangi diri dalam seribu satu cermin sosial. Masing-masing cermin punya sudut pandang sendiri. Bayangan yang ditampilkannya pun sangat bergantung pada mutu cermin. Tentu akan beda antara bayangan cermin jernih dengan yang kusam. Terlebih jika cermin itu sudah retak.

Memahami keanekaragaman cermin ini akan membuat seseorang seperti berjalan pada bentangan tambang di sebuah ketinggian. Ia mesti merawat keseimbangan: antara percaya diri yang berlebihan dengan rendah diri yang kebablasan. Percaya diri yang berlebihan, membuat langkah menjadi tidak hati-hati. Dan rendah diri yang kebablasan, membuat langkah tak pernah memulai.

Andai keseimbangan percaya diri ini yang dipahami kancil, tentu ia tak terlalu bangga dengan bayangan yang terasa begitu membuai. Karena di cermin yang lain, bayangan dirinya menjadi buruk. Sangat buruk. Andai keseimbangan ini yang dipegang kancil, insya Allah, ia tak akan jatuh.


Sumber:
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/cermin.htm

Bayangan

|

Di sebuah daerah nan jauh dari kota, seorang pemuda terhinggap penyakit aneh. Ia begitu gusar dengan keadaannya. Selalu gelisah. Karena penyakit itu, sang pemuda tak berani keluar rumah siang hari. Takut. Sangat takut.

Sebenarnya, penyakit itu tampak sederhana. Sang pemuda begitu merinding ketakutan ketika melihat bayangan hitam dirinya akibat sorotan cahaya. Tiap kali menemukan bayangan hitam yang mengikuti geraknya, si pemuda berteriak histeris. "Takut! Takut!" Mungkin, bayangan itu terlihat lain olehnya. Seperti sosok hitam misterius yang terus membayangi ke mana pun ia bergerak.

Beberapa tabib telah didatangkan. Ada yang ahli gangguan setan. Ada yang ahli jiwa. Ada juru nasihat. Dan seterusnya. Tapi, semua belum menggembirakan. Sang pemuda masih saja takut. Ia seperti tak akan pernah sembuh.

Hingga suatu kali, seorang guru berkunjung. Dari balik rumahnya nan gelap, sang pemuda mempersilakan kakek tua itu masuk. "Silakan masuk, Guru!" ucapnya pelan. Kakek dan pemuda itu pun duduk dalam ruang gelap. Nyaris, tak seberkas sinar pun bisa menelusup dari celah bilik rumah itu. Ruang-ruang di situ begitu rapat. Gelap dan pengap.

"Ada apa, anakku? Kenapa kau mengurung diri seperti ini?" suara sang kakek memulai pembicaraan. Wajahnya nan teduh bisa terasa jelas oleh sang pemuda. Pertanyaan itu seperti mengungkit-ungkit rasa kesadarannya yang tertimbun takut.

"Aku takut, Guru! Takut!" jawabnya singkat. "Takut apa?" tanya sang guru lagi. "Aku takut dengan bayangan hitam yang terus membuntutiku. Ia seperti menunggu saat aku lengah. Mungkin, sosok hitam itu akan membunuhku!" ungkapnya sambil sesekali menahan tangis.

"Anakku. Tahukah kamu kalau bayangan hitamlah yang mengantarku ke sini. Kini, ia tak dapat masuk bersamaku di ruang ini. Padahal, ia sahabat terbaikku. Kemana pun aku pergi, ia selalu menemani," ucap sang guru tenang.

"Tapi guru, ia begitu menyeramkan!" sergah sang pemuda bersemangat. Sang kakek pun tersenyum. Ia memegang pundak pemuda itu, lembut. "Anakku. Jangan terpengaruh dengan bayangan hitam. Karena itu pertanda kalau seseorang sedang tersorot cahaya," suara sang kakek sambil menahan nafas.

"Anakku," suaranya lagi agak lebih berat. "Songsonglah sumber cahaya, kau akan bahagia. Jangan terus menatap bayangan gelapnya. Karena kau akan takut melangkah!" ucap sang guru meyakinkan.

***

Dinamika hidup kerap menawarkan dua sisi. Satu sisi menawarkan peluang, dan sisi lain memunculkan ancaman. Ibarat cahaya, peluang selalu memberikan harapan. Dan cahaya yang menyorot sebuah benda, pasti akan membentuk bayangan. Itulah sisi gelap sebuah ancaman.

Persoalannya, orang kadang lebih sering melihat sisi gelap ancaman daripada harapan. Mau nikah, takut cerai. Mau bisnis, takut rugi. Mau jadi pejabat, takut kena hujat. Dan seterusnya. Orang pun terkungkung pada rasa takut bayangan hitam yang sebenarnya sisi lain dari sebuah peluang.

Menarik apa yang pernah diajarkan seorang ulama seperti Ibnu Qayyim soal cahaya harap dan ancaman takut. Beliau mengatakan, "Harap dan takut tak ubahnya seperti dua sayap pada seekor burung." Kepakan keduanya akan menerbangkan burung kemana pun ia pergi.

Mungkin benar apa yang dikatakan kakek guru di atas. Songsonglah cahaya harap, dan jadikan bayangan ancaman sebagai teman pengawas. Insya Allah, kita bisa terbang ke puncak cita-cita.

Sumber :
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/bayangan.htm

Gunung

|

Seorang anak mengungkapkan rasa penasarannya kepada ayahnya. “Yah, seperti apa sih rupa gunung itu?” Sang ayah tidak menjawab. Ia hanya bilang, “Baiklah, kita berangkat menuju gunung. Akan kamu lihat seperti apa wajah gunung itu.”

Berangkatlah mereka berdua dengan mengendarai mobil. Perjalanan lumayan lama, karena jarak antara tempat tinggal mereka dengan gunung terdekat bisa menghabiskan waktu empat jam dengan mobil. Jarak yang lumayan jauh. Bahkan sangat jauh untuk ukuran seorang anak usia enam tahun.

Ketika perjalanan sudah menempuh hampir separuh jarak, anak itu berteriak, “Hore, gunungnya sudah kelihatan.” Dari balik kaca mobil, sebuah gunung membiru terlihat begitu anggun. Puncaknya menjulang ke langit nan biru dan menembus awan putih. “Oh, indahnya gunung itu,” ucap sang anak. Ia benar-benar kagum.

Mobil pun terus melaju. Jalan yang ditempuh tidak lagi lurus dan datar, tapi sudah berkelok dan naik turun. Wajah gunung pun terlihat hijau karena dedaunan pohon mulai tampak walaupun cuma didominasi warna. Anak itu berujar lagi, “Oh, ternyata gunung itu berwarna hijau. Ada pohon-pohon kecil yang berjajar.”

Sambil menikmati pemandangan sekitar, anak itu pun menyanyikan lagu: “Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…” Hingga, perjalanan berhenti pada sebuah dataran yang sangat tinggi. Dari situlah mereka bukan hanya bisa melihat wajah gunung yang asli, tapi juga bisa memegang dan menginjak gunung. Mereka sudah berada di puncak gunung.

“Gunungnya mana, Yah?” tanya anak itu keheranan. “Inilah wajah gunung yang kamu cari, tanah yang sedang kita injak,” jawab sang ayah sambil menunjuk ke tanah yang menanjak dan menurun. Anak itu agak heran. “Ini? Tanah yang gersang ini? Tanah yang cuma berisi batu dan pohon-pohon kecil dengan air sungainya yang keruh?”

Sang ayah mengangguk pelan. Ia menangkap warna kekecewaan yang begitu dalam pada diri anaknya. “Anakku, mari kita pulang. Mari kita nikmati wajah gunung dari kejauhan. Mungkin, dari sanalah kita bisa mengatakan bahwa gunung itu indah…”

***

Ketika seseorang sudah menjadi ‘gunung-gunung’ di masyarakatnya. Di mana, wajahnya bisa dilihat orang banyak, suaranya didengar banyak orang; akan muncul penasaran orang-orang yang melihat dan mendengar tokoh baru itu. Mereka ingin tahu, seperti apakah wajah sang tokoh ketika dilihat dari dekat: perilakunya, kehidupan rumah tangganya, dan hal-hal detil lain.

Sayangnya, tidak semua ‘gunung’ yang terlihat indah ketika jauh, benar-benar indah di saat dekat. Para peminat yang ingin dekat dengan ‘gunung’ itu pun pasti kecewa. Ternyata, ‘gunung’ yang dari jauh indah itu, menyimpan banyak cacat. Keindahannya semu.

Mari, kita bangun ‘gunung-gunung’ diri yang benar-benar indah: baik dari jauh, apalagi dekat. Jangan biarkan mereka yang semula kagum, menjadi kecewa. Jangan sampai ada orang-orang yang berujar persis seperti sang ayah bilang, “Anakku, mari kita menjauh. Mungkin hanya dari kejauhanlah, kita bisa mengatakan bahwa ‘gunung’ itu indah…”

Sumber :
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/gunung.htm

Gula

|

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti.

Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.

Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirop." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, " dan seterusnya.

Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, "Andai aku seperti kamu."

***

Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.

Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirop!"

Karya : Muhammad Nuh

Sumber :
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/gula.htm

MUI Minta Ulama Jombang Turun Tangan Menghindari Kemusyrikan

|

Majelis Ulama Indonesia meminta MUI dan ulama Jombang, Jawa Timur untuk turun tangan menyikapi aksi yang dilakukan oleh Ponari, dukun kecil yang disebut-sebut memiliki kemampuan mengobati penyakit. Keahlian dukun kecil ini, telah menimbulkan kekacauan karena menyebabkan orang yang menjadi pasiennya harus antri berdesak-desakan, bahkan hingga memakan korban jiwa.

"Ulama setempat, misalnya di Jombang harus bisa mengambil sikap dukun cilik Ponari ini. Dan memberikan pengertian kepada warga bahwa kepercayaan yang luar biasa itu seolah-olah ada kekuatan diluar Allah SWT itu adalah syirik, dan syirik itu dosa sangat besar," kata Ketua MUI Amidhan Shaberah kepada pers, di Sekretariat MUI, Jakarta, Kamis (19/2).

Meski diakuinya, fenomena yang terjadi di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang bagaikan lingkaran setan, dan mudah berkembang di tempat-tempat lain. Hal itu, terjadi sebagai akibat keterbelakangan pengetahuan terutama pengetahuan agama, dan himpitan ekonomi.

Disamping diperlukan peran ulama untuk menyadarkan masyarakat, lanjut Amidhan, aparat keamanan harus benar-benar serius menangani masalah tersebut." Karena kalau tidak ditangani secara baik. Bisa saja berkembang, semacam Ponari ini ditempat lain," ujarnya.

Ditegaskannya, mempercayai atau menyakini benda dalam kasus Ponari adalah batu memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit, termasuk dosa besar karena menyakini ada kekuatan lain selain Allah.

Sementara dari sisi hukum, Amidhan menyatakan, hal itu termasuk pelanggaran terhadap hak asasi dan perlindungan terhadap anak, karena telah melakukan eksploitasi terhadap anak.(novel)

Sumber :
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/mui-minta-ulama-jombang-turun-tangan-menghindari-kemusyrikan.htm

KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]

|

AHMAD DAN BENCANA TSUNAMI

Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004M, ia pun membaca berita berita tentang para korban dari koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Di antara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum'at adalah tentang bencana Tsunami. Dia sangat interes untuk mendengar berita dari saya, dan juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.

Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah, selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.

Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Balik Musibah, saya mendapat sedikit kesulitan dalam penutisan hadits-hadits Nabi. Saat itu kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya untuk membantu saya mengetik haditshadits Nabi berkenaan dengan musibah. Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga seperti berenang; menunggang kuda dan bela diri, maka Ahmad akhirnya minta bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya. Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor, ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : "Ustadz, saya mengetiknya sekian halaman, dan adik saya sekian halaman".

Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya sebutkan saat perpisahan.

BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG BAIK

Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan yang ti.dak baik.

Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan silaturahmi mengunjungi adik-adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan, sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya. Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat berangkat atau tidak.

Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : "Saya rasa kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menumbuhkan minat anak".

PERPISAHAN

Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H, atau akhir Maret 2005M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.

Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan : "Seharusnya kami yang mengundang Anda makan di rumah, karena anda adatah tamu. Tetapi karena suami saya sedang keluar kota, maka Ahmadlah yang akan mentraktir Anda makan di rumah makan". Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di sana selama dua bulan di Jeddah.

Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.

Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad, meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk mengunjungi universitasuniversitas di Malaysia guna mengetahui sistem pendidikannya, dan yang kedua . untuk melihat kemegahan bangunan dan arsitektur di Malaysia.

Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan mendatangi pameranpameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah, bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.

Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.

Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya pancing Ahmad dengan pertanyaan : "Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke Malaysia?" Ahmad menjawab dengan mantap : "Saya tidak kecewa". Saya tanya,"Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana." Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang tuanya untuk pihak sekolah.

Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad mengatakan kepada saya : "Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh". Saya katakan kepadanya, yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa? Dia menjawab,"Saya pilih air putih saja." Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.

Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya:"Apakah Anda sudah membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?" Ahmad menjawab,"Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur."

Setetah kami selesai makan, ada di antara pelayan restoran yang berasal dari Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak, dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepadaAhmad untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.

Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata : "Ustadz akan pulang ke Indonesia, ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh." Terharu saya mendengar ucapannya yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut saya terima, dan saya katakan : "Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini kepada orang yang berhak menerimanya".

Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan, bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan mengantarkan saya ke air port. "Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda".

Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ahmad dan keluarganya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-anak kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih.

Rabbana laatuzikhquluubanaa ba’da idzhadaitanaa wahablanaa milladunkarahmah innaka antalwahhab.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.

Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz


[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]

KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]

|

]MENDAFTARKAN DIRI MENJADI RELAWAN

Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da'wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu. menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan neneknya menunggu di mobilnya.

Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan : "Saya ingin menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan agama Islam".

Saya dibuat kagum dengannya. Saya sambut dengan baik dan saya katakan : "Kirakira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?"

Dia katakan, "Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa lnggris."

Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris; maka saya minta rekan saya untuk berbicara dengannya dengan bahasa Inggris. Setelah terjadi komunikasi antara teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya : "Bagus sekali anak ini bahasa Inggrisnya".

Saya katakan, "Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis, kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah," lalu saya minta nomor teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya. Lalu saya katakan : "Saya sendiri, insya Altah ada acara dakwah untuk jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan membagikan kaset atau buku di air port haji di madinatu( hujjaj (asrama haji) di Jeddah, bagaimana?"

Anak itu menjawab, "Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu."

Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami mencari saya dan menanyakan : "Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke air port haji untuk berdakwah?"

Saya katakan, "Betul, kalau dia berminat."

Orang tuanya mengatakan : "Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia ikut bergembira jika umat Islam bergembira; ikut sedih jika umat Islam sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak membedakan orang menurut suku dan kebangsaannya, karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?"

Saya katakan,"Itu lebih baik..

Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya. Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: "Apa yang memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?" Dia menjawab, "Ajru ‘Indallaah" Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.

Kemudian saya tanya lagi : "Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?"

Dia menjawab,"Saya hafal."

"Coba saya mau mendengar," tanya saya lagi.

Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai kami pulang dari air port.

Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum'at saat sekolah libur.

MUDAH MENERIMA NASIHAT

Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap, dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.

Suatu hari, pada hari Jum'at, saat kami dan Ahmad berada di kantor, datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang dibicarakan.

Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan, karena belum izin orang tuanya. Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepadanya : "Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?" Ahmad menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu : "Ingin menjadi pedagang".

Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.

Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Di antara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum'at yang lalu -saat itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Ada di antara rekan yang masih muda merasa jengkel kepada Ahmad.

Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad, tetapi belum bisa secara langsung.

Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat sesama muslim. Di antaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah, setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa terasa suka memotong pembicaraan orang lain.

BERDAKWAH DENGAN CARA MENGINFAKKAN HARTANYA

Pada Jum'at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang istikbal (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti : bahasa Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah), lalu ia mengatakan kepada kami": "Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah".

Saya menjawab,"Kami percaya, bahwa Anda adatah orang yang jujur."

Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi. Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9 real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.

Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis "Untuk Non Muslim", maka saya tanya kepada pengunjung tersebut : "Anda membeli buku bebahasa Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?" Saya khawatir ia salah beli.

Dia menjawab,"Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!"

Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor. Saya katakan, "Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman sekerjanya yang kafir?"

Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan, jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba, secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan kepada sekretaris sambil berkata: "Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real saja".

Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang membayar 5 real, Ahmad cukup 4 real saja. Dia bilang,"Ustadz saja yang 4 real, saya yang 5 real," kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1real. Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis, dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.

MEMBERIKAN CERAMAH DI DEPAN JAMAAH HAJI INDONESIA

Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di hadapan jamaah haji Indonesia di madinatu( hujjaj di air port lama, Jeddah. Dia pun menyanggupi: Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak ukhuwah.

Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya : "Bagaimana Ustadz, kalau saya sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah sebelum ini".

Saya katakan, "Tidak apa-apa, walaupun kalau bisa tidak dengan teks itu lebih bagus."

Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan ibunya berangkat ke madinatul hujjaj untuk berceramah di hadapan jamaah haji Indonesia. Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula Ahmad berkeberatan dengan mengatakan:"Saya tidak mempunyai wewenang untuk berfatwa". Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta'aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.

Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da'wah Center mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana. Saya ceritakan tentang perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris. Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab (keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat memperkuat ukhuwah Istamiyah, seperti : menyebarkan salam, saling mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun. Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti : ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), menyebar luaskan rahasia.

Di antara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad menjawab pertanyaan dengan lancar. Jamaah haji itu bertanya, "Mungkin Anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?" Ahmad menjawab,"Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia, dan tidak pernah pergi ke luar negeri." Jamaah haji bertanya,"Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?" Ahmad menjawab,"Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun." Ahmad juga sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.

Oleh :
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]

Jakarta Terancam Banjir pada Januari 2008

|

Jakarta (ANTARA News) - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan memasuki Januari dan Februari 2008, sejumlah wilayah di Jakarta terancam banjir mengingat curah hujannya yang semakin tinggi.

Kepala Pusat Data dan Informasi Meteorologi BMG, Tuwamin Mulyono, di Jakarta, Selasa, mengatakan, perkiraan tersebut terkait dengan curah hujan untuk wilayah Jakarta pada Januari dan Februari 2008, tinggi.

"Kemudian memasuki Maret 2008, diperkirakan curah hujannya menurun," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, sejumlah warga yang tinggal di daerah rawan musibah banjir harus waspada, terlebih lagi bagi mereka yang tinggal di sepanjang bantaran kali.

Kondisi tersebut, ia menambahkan semakin diperparah dengan banyaknya pengalihan fungsi waduk hingga daerah resapan air yang ada di Jakarta semakin berkurang.

"Memang pada awal musim hujan, air yang ada masih bisa tertampung, namun lama kelamaan tidak bisa tertampung hingga menimbulkan genangan air," katanya.

Berdasarkan data BMG, sejumlah daerah di Jakarta yang memiliki potensi banjir tinggi, seperti, Cengkareng, Kalideres, Kedoya dan Ciledug (Jakarta Barat).

Selanjutnya, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, Kebayoran Baru dan Tebet (Jakarta Selatan), dan Cipayung, Kramat Jati, Makassar dan Ciracas (Jakarta Timur).

Sedangkan daerah yang memiliki potensi rawan banjir menengah, yakni, Kemayoran, Senen, Menteng dan Tanah Abang (Jakarta Pusat), Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, dan Tanjung Priok (Jakarta Utara).(*)

Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2008/1/1/jakarta-terancam-banjir-pada-januari-2008/

 

©2009 risma jatibening satu | Design by risma jatibening satu